(3 votes)
(3 votes)
Read 9777 times | Diposting pada

Wendi & Dethu: Kita Kekurangan Stok Artis Berkesadaran Politik

Penampilan Koil di Rock The Vote #MelawanLupa 11 Juni 2014 Penampilan Koil di Rock The Vote #MelawanLupa 11 Juni 2014 Kredit Foto: Vitra Apriyanto

 

Oleh: Fakhri Zakaria dan Nuran Wibisono

 

Riuh kampanye Pilpres 2014 diwarnai dengan kemunculan musisi-musisi yang saling mendukung calon presiden pilihannya. Beberapa nama yang dulu terkenal apolitis kini sudah tidak malu-malu menunjukkan afiliasi politiknya.

Sinyal ini ditangkap oleh sekumpulan anak muda dari beragam profesi seperi jurnalis musik, karyawan swasta, aktivis LSM, sampai sarjana yang baru saja lulus, yang tergabung dalam Komite Rock The Vote #MelawanLupa.

Berangkat dari kekhawatiran akan kembalinya sosok cacat sejarah yang potensial bakal memimpin kehidupan bernegara, Rock The Vote #MelawanLupa menggelar serangkaian konser yang dimulai pada 11 Juni lalu di Rolling Stone Café, Jakarta Selatan.

Di hari yang sama, acara serupa juga diadakan di Jember dan Bali. Khusus untuk Bali tajuknya adalah Musik untuk Bhineka dengan headliner Navicula dan Superman Is Dead. Purwokerto menyusul pada 22 Juni kemarin dengan mengundang Koil dan /rif. Dan Bandung menjadi gong pada Jum’at (27/6) lalu lewat penampilan Koil, Homogenic, /rif, dan Pure Saturday.

Jakartabeat berkesempatan mewawancarai Rudolf Dethu dan Wendi Putranto dari Komite Rock The Vote: #MelawanLupa.  Dethu adalah salah satu sumbu energi kreatif di Bali. Jurnalis musik, penulis, cum aktivis ini adalah sosok yang mengantarkan Superman Is Dead dan Navicula ke ranah industri musik nasional.

Sedangkan Wendi Putranto adalah Executive Editor majalah Rolling Stone Indonesia. Otak dibalik Brainwashed, salah satu pionir zine di Indonesia, ini menjadi salah satu dari 20 mahasiswa pertama yang menduduki gedung DPR/MPR saat usaha penggulingan rezim Soeharto pada Mei 1998 silam. Simak wawancaranya.

***

Siapa yang jadi sasaran utama Rock The Vote #MelawanLupa?

Wendi: Anak-anak muda, pemilih pemula, yang mungkin saat reformasi pecah tahun 98 masih kecil atau belum lahir atau tidak tahu apa-apa dan malas baca sejarah. Ini hal berbahaya kalau mereka tidak diberikan informasi sejarah masa lalu. Apa yang mereka pilih, mereka idolakan, mereka agung-agungkan sekarang  ternyata di masa lalu jadi salah satu instrumen pelanggaran HAM Orde Baru yang paling kejam. Itu yang ingin kita sampaikan tapi dengan cara musik, humor, dan testimoni aktivis. Bukan cara yang ruwet. Suasananya harus menyenangkan, gembira. Bukan seperti Perang Badar yang diagung-agungkan Amien Rais (tertawa).

Anda melihat musik sebagai elemen perubahan sosial masih relevan?

Dethu: Buat saya musik itu abadi. Akan selalu efektif menembus batas ras, agama, dan suku. Sangat efektif merangkul anak muda karena identik. Punya efek langsung ke tubuh.

Wendi: Jelas. Mungkin tak seperti yang diharapkan rocker era 70an bahwa rock ‘n roll can change the world. Saya gak setuju karena gak ada perubahan karena musik. Tapi saya percaya musik sebagai elemen terpenting yang menggerakkan perubahan. Banyak contohnya dan salah satu bukti konkritnya hari ini. Bahwa musik bisa mempersatukan orang. Gak cuma tujuan bersenang-senang tapi juga sangat politis. Apa yang terjadi malam ini sangat politis. Bukan konser biasa. Tapi punya muatan politik jelas. Musik pop, rock, masih memainkan peranan penting. Musik bisa jadi elemen perubahan, tapi yang jelas kebijakan politik pro rakyat jadi unsur utama perubahan sosial. Makanya kita mengajak elemen anak muda lain untuk bersatu tapi bukan dalam nuansa Perang Badar (tertawa).

Untuk bisa mencapai tujuan tadi apa musisi harus ikut terlibat dalam aktivitas politik, terutama politik praktis?

Dethu: Itu tergantung masing-masing orang. Kalau di Indonesia belum bisa karena hanya sedikit yang concern. Kecuali memang yang terlibat langsung dalam aksi-aksi tertentu. Di luar negeri bisa karena terkait faktor pendidikan juga. Seperti Rage Against The Machine, mereka paham dengan aktivitas politik karena dari pendidikan sudah diajarkan tentang hak dan kewajiban. Yang menarik terjadi di Bali. Musisi dan aktivis ada kerjasama. Saling memberi kesempatan jadi paham apa yang sedang jadi social concern. Jadi tahu apa yang sedang terjadi, apa yang salah, apa yang harus diprotes.

Wendi: Tidak harus selalu begitu karena yang biasanya terjadi politik praktis sangat membosankan. Politik dalam kapital P adalah politik yang basi. Tapi kita gak bisa lepas dari politik. Segala aktivitas kita gak jauh dari politik. Jadi menurut saya musik dengan politik kalau memang dia dipersatukan bahkan ledakannya bisa lebih besar dari gerakan politik yang klandestin. Dari zaman revolusi fisik musik memainkan peran penting mengobarkan semangat. Tidak ada yang salah sebenarnya kalau musik akhirnya jadi energi, alat untuk semangat perubahan.

Jika akhirnya masuk ke politik praktis, bagaimana pola interaksi yang ideal antara musik dan politik agar musisi punya posisi tawar tinggi, tidak sekedar vote getter tapi juga berperan aktif sebagai decision maker?

Dethu: Musisi-musisi sekarang sebagian besar saya lihat sudah lebih pintar kok. Tak mudah digiring-giring lagi, sudah tak gampang cuma diiming-imingi duit saja. Dengan lalu lintas informasi yang sedemikian masif di medsos, transfer knowledge terjadi setiap saat, pertukaran pikiran dalam skala kecil mau pun besar berlangsung terus menerus sehingga para musisi menjadi mayoritas tercerahkan. Beberapa gelintir tergelapkan, kurang tepat memilih langkah. Coba saja perhatikan apa yang terjadi sekarang, musisi-musisi yang keren dan lebih cerdas dengan sukarela memilih pro ke kandidat yang satu, sebaliknya yang kualitas bermusiknya kurang baik ramai-ramai condong ke satunya lagi. Semoga langkah ini karena mereka mengikuti hati nurani, bukan karena hal yang lain.

Wendi: Salah satunya musisi itu harus terjun ke politik praktis. Bisa dengan gabung ke partai politik memegang posisi strategis atau menembus parlemen dan jadi ketua fraksi.

Apa modal yang harus dimilki musisi untuk itu?

Wendi: Modal idealnya konstituen, kemampuan komunikasi politik, pengetahuan politik praktis, dukungan partai politik, kemampuan menyerap aspirasi masyarakat, track record pengabdian masyarakat, dan terakhir dukungan logistik yang besar.

Musisi yang dulu apolitis sekarang ambil bagian. Sudah mulai ada kecenderungan musisi untuk berani menunjukkan afiliasi politik?

Dethu: Saya pikir musisi yang dulu apolitis di negeri ini sekarang satu demi satu mulai pro aktif ambil bagian karena menganggap sedang tumbuh harapan, hati nuraninya tergugah, lalu merasa dengan kemampuan yang mereka punya yaitu mempengaruhi penggemar, bisa digunakan untuk memuluskan jalan menggapai harapan. Saya pribadi senang dengan perubahan ini. Saya pikir ini positif melihat mereka bahu-membahu menanggalkan perbedaan untuk sementara lalu berkolaborasi demi gol yang lebih besar.

Wendi: Ini kemajuan besar bagi demokrasi. Mereka merasa sebelumnya dibuang, tidak diperhatikan, tapi sekarang melihat ada harapan baru. Anak muda saat ini apolitis, tidak peduli, apatis pada politik praktis. Pemilu, mereka anggap hanya retorika. Menurut saya baru 2014 ini ada sebuah acara politik seperti debat capres bisa dijadikan nonton bareng. Mungkin ini sepanjang sejarah pemilu yang bisa jadi magnet. Musik bisa jadi elemen penting mempengaruhi opini publik, persepsi pada pilihan politik. Anak-anak muda mulai tertarik lagi isu seperti ini.

Beberapa waktu lalu ada pengamat musik senior menulis musisi seyogyanya independen tidak berpihak kesana kemari. Anda setuju?

Dethu: Musisi seyogianya independen alias netral, tidak berpihak sana-sini, saya sepakat dengan pendapat itu. Maksudnya sang musisi, istilahnya, “tak bisa dibeli”. Namun, dalam konteks berbeda, musisi sebaiknya memihak, tidak netral alias lepas tangan. Musisi harus terus memihak kepada kebenaran, atau kepada apa atau siapa yang dianggapnya merepresentasikan kebenaran. Justru peran musisi di sini penting dalam menyampaikan pesan sebab musisi dan musik itu lintas suku, agama, ras. Publik juga lebih tipis curiga terhadap musisi dibanding terhadap politikus. Jadi ketika hendak menyampaikan pesan tertentu salah satu caranya ya dengan melibatkan musisi. Sekarang tinggal pintar-pintar musisinya saja memilah-milah, kapan dia mengiyakan ajakan berpartisipasi, kapan menolak. Artinya musisinya harus cerdas dalam membaca keadaan. Jangan justru di saat genting malah netral atau lepas tangan dan membiarkan penggemarnya terombang-ambing bingung harus berbuat apa. Kecuali karena memang tak percaya dengan sistem demokrasi yang sedang dijalankan di NKRI ini, silakan deh netral. Karena itu sudah berbeda konteks lagi.

Wendi: Artis, anak band mereka punya hak politik. Mereka dijamin sama konstitusi. Yang belum dimainkan maksimal adalah menyampaikannya. Gak harfiah tapi harus penuh strategi. Kalau kita lihat Slank karakter mereka memang kritis, politis. Kalau Trio Lestari ini fenomena baru. Kelas menengahnya bukan kelas menengah ngehe tapi yang kritis dan sadar hak sipil dan hak politik. Tapi selama ini gak terjamah karena pendidikan dan seni di sini sangat banal. Musik ya cuma menghibur saja. Ada kredo musik ya musik politik ya politik. Saya gak setuju. Musik bisa punya pengaruh besar memainkan perubahan sosial. Di Indonesia kita kekurangan stok artis yang punya kesadaran politik tinggi. Apalagi masa Orba. Diharamkan bicara politik dalam musik, aktor-aktornya gak banyak. Akhirnya yang kita kenal Iwan Fals, Harry Roesli. Tapi sejak Soeharto tumbang akhirnya banyak. Seperti punk rock. Punk rock ini sebetulnya gerakan kultural yang sangat politik. Negara babak belur, pemerintahan korup sampai tingkat religius, bobrok. Kalau kemudian anak-anak muda mengekspresikan kemuakan mereka pada politik praktis ya sudah seperti itu. Makanya kita kenal band-band seperti Komunal, Seringai, Superman Is Dead. Dan yang paling lucu buat saya Trio Lestari, yang menurut saya gila. Ada band pop trio punya fanbase jutaan, lagu-lagu tidak ada protes sosial sama sekali tapi justru yang pertama memberikan dukungan politik pada salah satu capres. Ini kemajuan besar buat band-band Indonesia. Makanya mereka menggulirkan Revolusi Wangi. Membawa obrolan warung kopi dalam tuksedo. Bayangkan ada jutaan fanbase Glenn, Tompi, Sandhy Sondoro dididik berpikir kritis itu keren banget. Lagu-lagu banyak orang bilang menye-menye tapi punya pesan politis yang menghibur, bukan mengerikan. Itu pesannya nyampe dan lebih tepat sasaran.

Kita lihat saat Orde Baru pemanfaatan musisi sebagai mesin pendulang suara oleh partai politik sangat terlihat jelas, terutama oleh Golkar. Apakah ini menimbulkan semacam trauma dari musisi saat harus menunjukkan afiliasi politiknya?

Dethu: Masih ada karena kita tidak dibiasakan mengekspresikan pikiran oleh rezim Orde Baru yang represif sehingga jarang terlihat musisi yang menunjukkan sikap politik kecuali Iwan Fals atau Harry Roesli. Akhirnya hari ini saat pertarungan antara figus baik dengan figur yang rata-rata tidak baik banyak yang akhirnya memilih netral karena faktor periuk nasi. Padahal mungkin periuk nasi mereka akan lebih panjang asapnya kalau memilih calon presiden yang tepat.

Wendi: Era musisi mainstream Indonesia terjun ke isu politik ini baru mulai. Tapi kalau di underground udah lama. Dulu dominasinya Iwan Fals atau Slank. Sekarang kita lihat seperti di Revolusi Harmoni ada Slank, /rif, Ian Antono, sampai J-Flow. Hampir beragam jenis musik. Ini sesuatu yang baru belum pernah terjadi sebelumnya. Kita bersyukur ada kesadaran politik. Mereka merasa ada harapan baru setelah dulu mereka ditinggalkan. Industri musik gak pernah diurus pemerintah tapi tiap Pemilu selalu jadi vote getter. Waktu pemilihan legislatif berapa ribu grup dangdut diajak keliling Indonesia. Tapi sayangnya tujuannya bukan untuk pendidikan politik. Ini karena partai politik gak punya kader yang bisa menarik massa. Waktu juru kampanye ngomong massa gak peduli, tapi begitu musik main mereka joget. Fungsi seni untuk edukasi politik gak jalan, cuma nyanyi aja. Mungkin kita menantikan kehadiran kelompok dangdut yang progresif, memainkan peran dalam perubahan politik seperti rock atau pop (tertawa).

Berarti titik berat Rock The Vote ini adalah di edukasi publik ya?

Dethu: Musisi-musisi non mainstream rata-rata yang paling vokal, sedikit emosional (tertawa). Tapi ini perkembangan yang baik. Sekarang kita diajarkan untuk berpolitik, bagaimana mengemukakan opini. Dan ini efektif karena langsung dari idola anak-anak muda. Karena fans menganggap idola mereka tidak ada kepentingan.

Wendi: Iya kita coba mempengaruhi opini publik, mempengaruhi proses penilaian personal pada calon-calon presiden. Dan mudah-mudahan bisa menginspirasi di kota-kota lain. Kita tidak membicarakan program politik calon, namun pakai cara peer pressure. Wah temen-temen gua pada milih nih kok gua masih golput. Demonstrasi bukan satu-satunya cara mempercepat perubahan. Tapi dengan cara populis seperti musik. Kita gak jadi pendukung fanatik. Di Komite Rock The Vote sepakat masih ada bajingan-bajingan, penjahat-penjahat HAM yang mendompleng calon nomer 2, yang sama buruknya dengan capres nomer satu. Kita dukung secara kritis. Hari itu dilantik jadi presiden, kita sepakat jadi bersikap oposan terhadap kekuasaan. Bukan memberikan cek kosong.

Jadi tidak ada transaksi politik antara Komite dan musisi yang berpartisipasi di Rock The Vote #MelawanLupa dengan salah satu capres?

Wendi: Gak mungkin. Waktu ngajak koalisi saja yang dapat suara tidak dijanjikan apa-apa. Bagaimana musisi yang tidak tergabung di partai. Tujuannya memang bukan untuk itu. Tujuannya adalah kesamaan visi, pandangan bahwa mengantarkan orang-orang baik memimpin negara ini dan menjauhkan orang jahat dari kekauasaan. Ini sudah kelihatan jelas. Tinggal bagaimana meyakinkan masyarakat.

Dulu saya aktivis. Namun saat di lingkungan profesional, saat saya sudah bekerja saya menginventarisir kekuatan. Mengumpulkan teman-teman yang punya kesamaan visi. Dan di Komite Rock The Vote #MelawanLupa ini ada yang baru lulus, karyawan, LSM,  tapi semuanya dipersatukan kegelisahan yang sama. Mungkin kita tidak pakai cara demonstrasi, tapi dengan cara populis untuk mempengaruhi publik.

Last modified on: 3 Juli 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni