(23 votes)
(23 votes)
Read 8081 times | Diposting pada

'We Wreck Anything That Sucks'

 

Herry Sutresna a.k.a. Morgue Vanguard tidak perlu perkenalan lagi (mohon maaf untuk memakai ungkapan ini sekali lagi). Musik yang dia hasilkan bersama kolektif Homicide masih tetap bergema di banyak sudut-sudut gelap kamar seniman, mahasiswa dan aktivis sosial yang masih percaya akan keniscayaan perlawanan. Rima pedas hyper-literate-nya juga masih tetap -jika bukan semakin- relevan untuk menjelaskan suasana pasca-liberalisasi politik, lima tahun setelah kolektif ini membubarkan diri. Homicide memang bubar, tapi Ucok tetap relevan. Kita beruntung, Ucok adalah penulis yang produktif. Jika tidak sedang kami minta, tulisan yang anda sering baca di website ini adalah yang kami bajak dari website pribadinya gutterspit.com. Beberapa bulan lalu, Ucok sedikit bercerita tentang proyek rahasianya kepada kami. Kini proyek itu hampir selesai dan dia sedikit berbagi cerita dengan kami.

Ini semacam breaking the news. Kenapa reissue EP? Saya berpikir justru anda termasuk iconoclast tulen yg tidak terlalu suka menengok ke belakang?

Iconoclast tulen? Ow em ji, mahluk apa itu, Bung? Well, asumsi bung keliru, saya orang biasa-biasa yang sering nengok ke belakang, bukan untuk balik ke belakang, tapi untuk banyak hal lain di depan. EP ini punya banyak arti buat saya baik itu personal atau sebagai bagian dari memori kolektif. Bukan hanya ini rekaman resmi pertama kami setelah menahun tak pernah punya duit untuk rekaman dan merilis sesuatu. Satu-satunya rilisan dimana Homicide masih dalam format 2 MC 1 DJ. Di EP ini saya dan Aszi (Sarkasz) mematangkan gaya rima kami, flow, cadence, struktur metafor, delivery dan berusaha setengah mampus untuk melahirkan sesuatu yang belum pernah satupun MC buat di tanah air, terutama dengan Bahasa Indonesia. We tried to bring it to the next level. Juga di departemen musik, kami mencoba membuat musik hiphop dengan rujukan hiphop yang membesarkan kami; The Boom Bap. EP ini cetak biru musik kami yang di kemudian hari lebih banyak bereksperimen. Banyak hal yang kami rekam kala EP ini dibuat, bukan hanya rekaman secara literal, tapi memori kondisi sosial, politik, personal dan kolektif ketika kami menulis dan merekam lagu-lagu itu. Those stuffs are written during a series of wicked years. Saya tidak bilang tahun-tahun berikutnya nyaman, tapi setiap EP kami merepresentasikan rentang waktu yang berbeda. Rasanya tidak pernah salah untuk menengok ke belakang untuk sekedar melihat sudah sampai di mana kami sekarang, atau untuk mempertanyakan hal sederhana kemana perginya kewarasan yang dulu pernah kita miliki secara kolektif, ke mana perginya beberapa kawan, atau ada di mana saya sekarang. Hal-hal seperti ini melampaui romantisme, saya tidak ingin hanya duduk mengingat masa lampau "oooh, indahnya masa lalu, dulu kami begini-kami begitu". House of Pain said it best, I’m the same motherfucker as it ever was. Masih melakukan banyak hal yang dulu kami lakukan adalah sesuatu yang saya syukuri, dan justru me-reissue EP ini untuk mengingatkan jangan terjebak pada repetisi. Di sisi lain, merilis ulang EP ini salah satu cara saya untuk mencari finansial bagi label kami, Grimloc Records. Kami ingin lebih produktif lagi di hari-hari ke depan dan tentu membutuhkan amunisi lebih banyak lagi.

Nah baru sekarang soal teknis, apakah ada proses remastering untuk peningkatan kualitas suara. Proyek ini mengingatkan saya dg Dopesmoker "Sleep" karena ada artwork baru? Ada apa dengan artwork lama?

Ya ada, dan itu sisi paling menyebalkan dari proses merilis ulang EP ini, karena harus memungut dari sana sini materi yang terpencar-pencar. Dalam rentang waktu 10 tahun kami mengalami kehancuran hardisk beberapa kali. Terlebih lagi, ada yang sudah tidak ada, hilang atau rusak. Beberapa channel track lagu 'From Ashes Rise' ada di sebuah DAT yang sudah berjamur. Sound gitarnya dulu di-take oleh sahabat kami Jojon (gitaris Balcony) dan entah ada di mana mentahannya. Terpaksa saya konstruksi ulang beberapa channel-nya. Yang paling parah adalah lagu 'Semiotika Rajatega' yang mentahan musiknya sama sekali tak ada. Soal artwork, ini kesempatan saya melakukan hal yang dulu seharusnya dilakukan, memberinya artwork yang layak, saya pikir yang saya dulu buat tidak cukup layak. Kali ini saya mempercayakannya ke beberapa kawan yang saya kagumi karya-karya visualnya. Untuk EP ini, artwork-nya dikerjakan oleh sahabat saya Riyandi, ia seorang artist yang karyanya mengerikan dan selalu saya kagumi. Ia membuat lukisan di atas kanvas dengan cat minyak berukuran 60x60. Saya hanya memberi rujukan artwork EP lama dan beberapa latar belakang, dan melihat hasilnya, sungguh di luar ekspektasi. Nih, silahkan liat sendiri jika tak percaya. Ini foto Riyandi berpose dengan karyanya itu. Hahahahaha. (Lihat foto artikel di atas - Red)

Hip hop memang selayaknya on vinyl, tapi untuk reissue ini apakah ada unsur join the vinyl hype, walaupun saya tahu split LP anda mendahului hype itu?

Mmmm, saya bahkan tak tahu kalo vinyl jadi hype, apa iya gitu? Saya selalu ingin merilis materi dalam bentuk vinyl, bahkan sejak dahulu sekali. Dulu kami berharap bisa ikut di beberapa kompilasi lokal yang dibikin vinyl, (Injak Balik misalnya) tapi untuk sekedar masuk studio rekaman pun tak punya uang, hahahahaha. Ketika beberapa kawan di scene Bandung mulai dibantu rilis dalam vinyl oleh beberapa label HC/Punk luar kami cemburu setengah mampus. Domestik Doktrin oleh 625 Thrashcore atau End32 oleh Coalition Records misalnya. Karena bagaimana pun rilisan hiphop paling baik dirilis dalam bentuk vinyl, apalagi dahulu sebelum ada Serato, di mana hanya dalam format vinyl kalian bisa memainkan scratch dengan menggunakan rekaman kalian sendiri. Baru terealisasi setelah Diseased Records menawarkan rilisan split dengan MC Homeless asal Oregon, Amrik lima tahun lalu. Tak banyak pikir langsung saya sambut, apalagi memang saya penggemar MC Homeless, it’s an honor to share the side. Dan rencananya, saya akan merilis semua EP Homicide dalam bentuk vinyl, pengennya sekaligus, tapi mana tahan biayanya. Dan jika ini bertepatan dengan 10 tahun dirilisnya EP ini, itu hanya kebetulan saja Ini pun untungnya Uri (kawan saya di Ghaust / Grieve Records) menawarkan diri bergabung mendanai. Jadi bisa terlaksana lebih cepat. Habis ini 'Barisan Nisan', lalu 'Illsurrekshun', merilis vinyl semua EP kami adalah hutang terakhir saya untuk Homicide.

Setelah 10 tahun apa yang bisa dikatakan legacy Homicide?

Entahlah, saya tidak terlalu memikirkannya.

Dan apa yang sudah terjadi dengan scene hip hop lokal, saya amati makin banyak varian lokal dan sudah masuk televisi pula?

Ya persis seperti yang Bung bilang, variannya semakin beragam. Di Bandung ada event Kamisan yang diprakarsai Gaya dan kawan-kawan Eyefeelsix bersama kawan-kawan di RUN BDG, saya suka menengok sekali dua kali, sungguh beragam MC MC hari ini. Hanya saja produktivitasnya masih kurang, di Bandung sendiri album hiphop yang dirilis tahun 2011 hanya Eyefeelsix. Di kota-kota lain pun sama, paling hanya satu dua album. Entah kenapa, anak-anak sekarang lebih tertarik membuat single yang disebar-sebarkan di social media, atau dibikin visualnya lalu upload ke youtube. Saya sendiri lebih tertarik mendengar album, meski demo EP sekalipun, dimana bobot dan kualitas MC/DJ-nya teruji dalam proses pembuatannya. Dalam hal kualitas pun saya rasa masih kalah jauh dengan negara-negara seperti Filipina atau Australia misalnya. Saya belum melihat lagi MC lokal yang memakai Bahasa Indonesia dan menaikkan alis ketika mendengarnya, seperti mendengar Iwa K pertama kali atau Doyz di album solonya dulu. Istilah sok-sokannya 'raise the bar'. Dalam hal flow masih mendingan, ada satu grup baru di Bandung namanya Deep Soul, mereka saya anggap punya flow termaut di lokal hari ini. Freestyle mereka juga mengerikan. Sedikit banyaknya mengingatkan saya pada Molothuvz grup lama Bandung yang sekarang entah ke mana. Sayang mereka belum rilis album. Saya gak suka nonton TV, jadi gak bisa komentar soal yang terakhir itu. Terakhir saya nonton hiphop di TV itu pas Eyefeelsix maen di RadioshowTVone, hanya untuk menagih taruhan apa bisa bilang 'ngentot Bakrie' di TV itu tanpa harus diperingati. Dan hasilnya seperti yang diperkirakan, Gaia dan Elmo diberi peringatan setelah freestyle dia pas saat itu menjelang lagu selanjutnya. "Mas, lagu selanjutnya agak diperhatikan ya kata-katanya". Hahahahahah.

Saya dengar ada solo project masih on-going, apakah kita bisa berharap segera?

I got tons of shit tapi minim waktu dan keseriusan. Proyek kolaborasi dengan DJ Still (ex-DJ Dalek) sudah rampung, akan dirilis dalam bentuk vinyl 7" dan kabar terakhir tinggal menunggu antrian cetak vinyl di sana, dirilis oleh Grimloc juga. Saya udah gak sabar menunggunya, terlebih artwork-nya sudah kelar digarap Arian13 dan sungguh maut. Album solo masih setengah jalan, sementara harus dipending karena DJ-E baru saja memiliki putri pertama nya dan sekarang sedang pergi umroh. Gak sabar juga untuk nyiksa dia lagi pas balik dari sana agar dia terhindar jadi saudagar obat kumis dan obat kuat. Hahahaha. Rencananya sih akhir tahun ini saya rilis, dan harus rilis. Materinya saya buat sejak tahun kemarin, saya bisa keburu bosan jika menunggu tahun depan. Apalagi Eyefeelsix sudah mulai menggarap album kedua dan mengantri dirilis Grimloc. Trigger Mortis saya pending sampai waktu saya dan Dede punya komitmen untuk menjalankannya, lagu-lagu yang sudah kami tulis saya peti es-kan dulu. Dede sedang menggarap grup barunya SLOTH yang akan kami rilis juga dalam waktu dekat.

Musik anda sangat terdengar lantang di senja orde baru, kini liberalisasi politik sudah berlaku dan oposisi lebih menyebar, apakah perlu ada strategi perlawanan budaya yang baru?

Dari dulu kami gak pernah pake strategi. We wreck anything that sucks, venom-spit anything we want. Liberalisasi politik hanya milik kelas menengah, mereka yang di akar rumput paham betul tak ada yang berubah. State still oppress people, cops and army are still violent as fuck, corporate crime is at an all-time high. Oposisi menyebar, begitu juga kebebalan dan apatisme. Jika ada yang bilang atmosfer politik berubah akan jadi bahan tertawaan di Kulon Progo, Bima, Kebumen, Takalar, Sidoarjo, Papua dan di titik-titik krisis lain yang tak pernah disambangi malaikat. Bahkan di daerah 'senyaman' Bandung kalian bisa dikriminalkan gara-gara mempertahankan tanah ulayat dan menentang perluasan pembangunan lapangan Golf atau diteror gara-gara menulis buku tentang praktek pencurian dan komersialisasi air di kota Bandung. Lagipula musik tak bisa melakukan apapun, saya bukan pengikut adagium seni untuk seni, tidak juga seni untuk rakyat. Jika ada strategi budaya yang tepat hanya strategi yang melibatkan diri kita dalam pergulatan kolektif di tengah mereka yang bergejolak. Di luar itu, omong kosong, termasuk aksi politik pasif seperti pemilu.***

Last modified on: 9 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni