(0 votes)
(0 votes)
Read 3923 times | Diposting pada

Wawancara Menolak Bahagia Dengan Eric G. Wilson

 

Entah karena tidak bahagia atau terlalu bahagia (atau karena tinggal di negara yang tidak bahagia), setahun yang lalu saya agak terobsesi dengan konsep kebahagiaan. Saya rajin mencari dan membaca buku dengan kata “bahagia” atau “kebahagiaan” sebagai judul. (Saya juga sempat bertanya kepada guru Yoga terkenal yang kini ditahan polisi).


Dari beberapa buku, ada dua buku yang berkesan buat saya. Pertama, tulisan wartawan National Public Radio (NPR) Eric Weiner berjudul Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World—yang menemukan bahwa Indonesia adalah tempat yang tidak bahagia.

Kedua, Against Happiness: In Praise of Melancholy, tulisan profesor Sastra Inggris dari Universitas Wake Forest di North Carolina. Buku kedua ini—yang lebih prosaik—lebih menarik. Oleh The New York Times buku ini disebut sebagai “good old-fashioned broadside against American optimism”.

Lebih dari sekedar buku inspirasional biasa, buku ini mengajak pembaca untuk mendalami makna kesedihan untuk merasakan kebahagiaan. Menurut Professor Wilson, Beethoven, Bruce Springsteen, John Keats—dalam versi saya Morrissey, Jeff Buckley, Kurt Cobain dan The Walkmen—adalah penyedih yang justru menciptakan mahakarya dari kesedihan dan melankolia yang mereka derita. Lantas apakah kita semua mesti menjadi penyedih untuk menjadi bahagia, saya menanyakannya pada Profesor Wilson:

 

Bagaimana anda pertama kali tertarik mempelajari tentang kebahagiaan?

Sampai sekarang, saya adalah orang yang melankolik, bahkan bisa dikatakan sering mengalami depresi. Keluarga dan teman saya tentu saja menganggapnya sebagai penyakit kronis yang mesti disembuhkan. Tidak benar, karena saya menganggap jika kesedihan adalah bagian integral dari saya, sumber dari kontemplasi, pandangan hidup dan kreativitas.

Saya mulai berani terbuka dengan depresi saya setelah saya baca hasil riset enam tahun lalu yang menemukan bahwa 85 persen orang Amerika mengaku mereka sangat bahagia atau paling tidak bahagia.

Mengingat bahwa pada dasarnya dunia ini adalah tempat yang tragis, temuan ini tentu mengejutkan dan saya mulai berfikir kalau orang Amerika hanya berpura-pura bahagia semata-mata karena demikianlah konsep yang mereka terima sejak kecil, bahwa tujuan utama dalam hidup adalah kebahagiaan dan sentimen lain menjadi tidak penting.

Setelah membaca studi ini saya memutuskan menulis Against Happiness, sebuah buku yang mempertanyakan kecanduan Amerika akan kebahagiaan dan mencoba menggali sisi baik dari melankolia. Di buku itu saya menyimpulkan bahwa penekanan berlebih kepada kebahagiaan dengan menafikan kesedihan bisa menjadikan hidup menjadi dangkal, satu dimensi dan menerima kesedihan bisa menjadikan hidup anda lebih berwarna.

Namun yang ingin saya tekankan di sini adalah  melankoli, bukan depresi. Melankoli saya definisikan sebagai sebuah sikap aktif untuk selalu mencari hubungan yang lebih mendalam dengan dunia.

 

Mungkinkah agama menjadi sumber kebahagiaan?

Tentu saja, tergantung bagaimana anda memandang agama. Dalam pengalaman saya, agama-agama yang ada kadang terlalu memusatkan perhatian kepada ketenangan dan suasana batin yang seimbang dengan mengesampingkan kesedihan dan kesulitan.

Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen Baptis and gereja saya sangat serius menanamkan pemikiran bahwa Kristen yang baik adalah yang bahagia. Asumsinya adalah sebagai berikut: Jika anda percaya kepada Tuhan dan mengikuti aturannya, anda pasti akan menjalani hidup tenang, dan tidak tenang jika tidak percaya kepada Tuhan dan rencana-rencananya.

Jadi menjadi bahagia adalah dengan menjadi taat, karena dosa sama dengan ketidak-bahagiaan. Sekali lagi ini pengalaman saya dan tidak bisa saya pukul rata untuk semua agama. Sekarang, berkebalikan dengan pertemuan saya dengan agama, saya mengalami apa yang bisa disebut sebagai pengalaman beragama—mungkin pengalaman spiritual lebih tepat—yang terkait erat dengan melankolia. Saat ketika saya merasa kosong, suwung, ketika saya merasa ada yang kurang, saya seperti ditantang untuk mencari pemahaman lebih mendalam tentang tempat saya di dunia ini.

Pencarian ini kadang berujung pada meditasi akan arti sesungguhnya dari arti hidup yang penuh, apa arti dari mencoba mengisi kekosongan itu, mengalami berkah hidup. Bagi saya, hasrat untul mencari keutuhan tidak selalu harus selalu berakhir kepada Tuhan. C.S. Lewis, novelis dan ahli agama Kristen menulis bahwa pengalaman bertemu Tuhan dia yang pertama kali dimulai dari perasaan kosong, dan kekosongan itu kemudian diisi oleh Tuhan.

Hasrat ini, melankoli dalam kekosongan, kemudian berujung kepada suka cita, sebuah intuisi dari energi cair yang bisa mengisi ruang kosong. Jadi bagi saya, kehidupan beragama, kehidupan spiritual, yang tidak terikat oleh agama yang ada, secara mutlak tergantung kepada melankoli—bahwa perasaan kosong pada akhirnya menghasilkan visi tentang keterpenuhan.

 

Di negara saya, sebagian besar penduduk tidak memiliki akses ke kebutuhan dasar, namun banyak yang mengatakan bahwa mereka bahagia. Apakah ini bisa dijadikan alasan buat pemerintah untuk tidak menyediakan kebutuhan dasar buat mereka?

Tentu saja tidak. Ada perbedaan mendasar antara penderitaan batin dan penderitaan raga. Penderitaan raga, paling tidak seperti apa yang saya rasakan, tidak pernah berakhir kepada kreativitas dan wawasan baru seperti yang kita dapatkan kita mengalami siksaan batin. Saya percaya bahwa pemerintah harus mengambil segala cara untuk meringankan penderitaan raga.

Dalam pikiran saya, dunia adalah tempat yang tragis, tempat di mana manusia lebih menderita daripada yang seharusnya mereka bisa terima, dan menjadi kewajiban kita semua untuk meringankan beban itu semampu kita.

Bahkan saya percaya kalau melankolia bisa menanamkan kepada kita sebuah nilai moral: Ketika kita menderita secara psikologis, kita kadang berfikir tentang penderitaan secara umum and pemikiran seperti ini akan memaksa kita untuk memikirkan penderitaan orang lain, bersimpati bahkan berempati terhadap rasa sakit mereka. Empati, kemampuan untuk membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain, bagi saya ini adalah saat dimana moralitas dimulai.

 

Apakah ada kebahagiaan tanpa rasa bersalah?

Tentu saja ada. Tergantung bagaimana anda mendefinisikan kebagiaan. Di buku saya, saya mendefiniskan kebahagiaan, paling tidak jenis kebahagiaan a la Amerika, sebagai hidup tanpa kesusahan, eksistensi tanpa rasa sakit.

Tentu saja orang Amerika percaya dengan kemungkinan tersebut; bedah plastik, misalnya, membuat orang percaya bahwa mereka bisa lari dari proses penuaan. Buat saya ini adalah pemikiran yang salah, karena hanya memberi penekanan kepada satu sisi saja dari hidup. Menginginkan hanya kesenangan dengan menolak ketidaknyamanan seperti hanya mau naik tanpa mau turun, hanya cahaya tanpa kegelapan.

Saya ingin membandingkan kebahagiaan dengan rasa senang. Bagi saya, rasa senang lahir dari pemikiran bahwa kita tidak bisa naik tanpa turun, cahaya tanpa gelap. Rasa senang melengkapi melankoli, kita tidak bisa merasa senang tanpa duka, duka tanpa senang. Ini adalah hubungan timbal balik yang mendorong kita untuk menerima hidup apa adanya, jatuh atau bangun dan pada akhirnya memahami bahwa hidup menjadi lebih hidup hanya ketika senang dan melankolik berdampingan, ketika kita menangis karena bahagia dan tertawa ketika sedih.

 

Apakah melankoli selalu menjadi sumber inspirasi?

Tentu saja tidak semua seniman besar melankolik dan melankoli tentu saja bukan satu-satunya sumber inspirasi. Namun menurut saya, melankoli, yang saya definiskan di atas (hasrat untuk menggali hubungan lebih mendalam dengan dunia, kekurangan yang berujung kepada pencarian keutuhan) lebih sering menjadi pemicu ide dan kebiasaan baru bahkan ketika kita tidak jenius.

Last modified on: 8 Januari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni