(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2325 times | Diposting pada
Wawancara dengan Iman Fattah

Eksperimentasi Musik dan Bisik-bisik di Pementasan 'Mencari Nurani'

Eksperimentasi Musik dan Bisik-bisik di Pementasan 'Mencari Nurani' Sumber Foto: Wikipedia

 

Tiap seniman punya banyak cara untuk mengekspresikan kreativitasnya. Terlebih lagi bila berhadapan dengan kenyataan faktual sekitar yang timpang dan menyimpan problematika yang tak cukup dilawan dengan aktivisme intelektual. Berbekal keresahan dan eksperimentasi, seniman mampu bicara lewat bahasa seninya menyentuh sisi subtil manusia yang tak bisa dijangkau dengan paparan rasionalitas semata.

Dalam rangka inilah kami menyimak sebuah pertunjukkan teater bertajuk 'Mencari Nurani' garapan Teater Sastra UI yang dihelat pada 26 Mei kemarin mampu bicara lewat penciptaan estetika dan simbolnya yang khas demi mengangkat wacana kekerasan seksual yang kian hangat sejak kasus pemerkosaan sadis terhadap Yuyun menyeruak ke permukaan publik.

Khususnya dari segi penggarapan musik, kami mewawancarai Iman Fattah, sosok musisi-cum-produser multitalenta yang terlibat dalam project kolaboratif tersebut. Profil Iman sendiri yang sebelumnya telah banyak terlibat dalam berbagai scoring film, tergabung dalam LAIN dan Zeke and the Popo, serta kini aktif menelurkan karya bersama Raksasa.

Simak petikan wawancara kami berikut ini.


Bisa diceritakan bagaimana awalnya bisa terlibat di proyek teater ini?

Awalnya saya diajak oleh Ikhaputri Widiantini (Upi), dosen kajian gender di jurusan Filsafat UI untuk menggarap musik dan sound untuk ambiens latar pameran, pembacaan puisi dan prosesi menyalakan lilin di pementasan teater ini. Saya sangat bersemangat.

Acara ini adalah sebuah reaksi atas berbagai kasus kekerasan seksual yang mulai marak di media semenjak Komunitas Betina dan sahabat saya yang juga seorang penyanyi Kartika Jahja mengekspos kasus Yuyun, remaja yang diperkosa 14 orang sampai meninggal dunia di Bengkulu.

Kasus Yuyun menjadi pemicu media untuk memberitakan kasus-kasus kekerasan seksual lain, yang sayangnya seringkali malah penuh dengan bias patriarki yang mengeksploitasi tubuh perempuan dan menyalahkan korban.


Selain hal itu, apa alasan utama yang membuat Iman tergerak untuk terlibat dalam pementasan ini?

Teater sendiri adalah karya seni yang tidak mudah. Memerlukan proses yang sangat panjang dan dedikasi yang besar untuk keberhasilan suatu pementasan. Ditambah lagi dengan waktu, tenaga dan pikiran yang terkuras habis dengan segala hambatan eksternal maupun internal dengan tingkat stress yang tinggi.

Dedikasi dan passion yang ditunjukkan Teater Sastra UI selama ini membuat saya merasa cocok karena saya bisa bereksperimen dan melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan dengan commissioned work dari klien. Eksperimen yang membuahkan tehnik serta ilmu-ilmu baru dan pengalaman yang bisa diimplementasikan pada karya-karya ke depannya.


Dari segi tematik, pementasan 'Mencari Nurani' membawa pesan tegas sebagai kritik budaya kekerasan terhadap perempuan. Bagaimana Iman sendiri memandangnya?

Apa yang kita dengar dan kita lihat sehari-hari menentukan kepribadian dan perilaku kita. Ketika, misalnya, ada empat belas pemuda memperkosa dan membunuh Yuyun, seorang gadis di bawah umur secara beramai-ramai dengan alasan mabuk dan pornografi, sangatlah naif kalau kita menyalahkan mabuk dan pornografi semata. Hidup manusia kompleks dengan aturan sosial, norma-norma, serta sistem dan struktur di dalamnya. Satu pemuda memperkosa bisa jadi anomali, tapi empat belas artinya sudah masalah sosial yang besar.

Terlebih lagi, setelah kasus Yuyun terbukti ‘laku dijual’, media mulai memberitakan banyak sekali kasus-kasus perkosaan dan kekerasan seksual yang seringkali mengeksploitasi korbannya, mengekspos ‘keanehan’ atau ‘kekejaman’ terhadap tubuh perempuan, dari diperkosa di dapur sampai ditusuk cangkul, tapi jarang menyinggung masalah sebenarnya: pikiran sakit kebanyakan manusia Indonesia soal seksualitas dan tubuh perempuan yang dihasilkan dari pengalaman sehari-hari mereka, dari yang mereka lihat dan mereka dengar. Serta dari lemahnya aturan hukum baik dari negara dan masyarakat lokal dalam membela korban perkosaan, yang membuat kasus-kasus ini terus terulang.


Bisa disebutkan sajian utama yang ditampilkan Teater Sastra UI dalam pementasan ini?

Rangkaian acaranya sendiri meliputi pembacaan puisi dan pameran dengan tema kekerasan seksual yang meliputi lukisan, ilustrasi, fotografi dan cuplikan-cuplikan berita serta hasil-hasil riset dan data yang mendukung. Konsep ini sebetulnya sudah ada di kepala Upi sejak kejadian Yuyun mulai mencuat diberitakan media. Sebagai akademisi, Upi merasa harus berbuat sesuatu. Di tengah-tengah penggodokan ide, ternyata I. Yudhi Soenarto selaku pendiri Teater Sastra UI juga berencana membuat pementasan Multi-Monolog 'Namaku Yuyun, Aku Korban Kebodohan' sebagai respon dari kejadian tersebut, jadilah akhirnya kedua konsep ini digabung dan berjalan bersamaan. Lalu acara ditutup dengan prosesi menyalakan lilin dan renungan.




Lantas mengingat project ini bersifat reaksi terhadap wacana yang berkembang di tengah publik, hal apa saja yang menjadi kendala?

Pagelaran reaktif seperti ini punya halangan besar: waktu persiapan yang terbatas karena isunya time sensitive. Kami harus mengambil momentum agar imbas acaranya bisa bergaung keras, akibatnya semua harus dilakukan dengan sangat cepat dan efektif. Keterbatasan waktu ini juga mempengaruhi konsep pagelaran. Bagaimana cara membuat pagelaran dan pementasan dalam waktu singkat, namun tidak sembarangan, punya kedalaman dan kompleksitas seperti kenyataan yang terjadi di masyarakat saat ini? Di sinilah konsep multi-monolog, dimana beberapa orang aktor bermonolog dengan tema yang sama, berperan.


Bagaimana peran dan keterlibatan para aktornya sendiri?

Metodologi teater yang digunakan mas Yudhi memang tidak membutuhkan banyak interaksi, tata panggung dan blocking. Namun, konsep ini berpusat pada aktor, sehingga dibutuhkan aktor-aktor yang berpengalaman di bidangnya.

Mas Yudhi sendiri berperan sebagai budayawan, Topo Santoso (Dekan Fakultas Hukum UI) yang berperan sebagai pakar hukum, Niniek L. Karim (aktor senior, Psikolog) yang berperan sebagai psikolog, dan Maftuh Ihsan (wartawan) yang juga berperan sebagai wartawan.

Karenanya dari efektivitas dan kedalaman pengertian bisa dicapai, berhubung empat aktor itu menguasai bidangnya masing-masing secara fasih. Sementara itu, ada tiga aktor Tesas UI yang dilatih sebagai tokoh fiksi berdasarkan kisah nyata: Rasikh Fuadi (Tomi Kuntet, Pemerkosa), Denia Oktaviani (Yuyun, Korban), dan Rendy Septiadi (Guru SMA).


Lalu dari segi penggarapan musiknya seperti apa?

Untuk musik pementasan multi monolog “Namaku Yuyun, aku Korban Kebodohan” dipegang oleh Asep Rachman, musisi yang juga aktif sebagai pemain bass band Wonderbra dan merupakan music director utama Teater Sastra UI. Saya sendiri berperan di stage luar sebagai latar pameran, pembacaan puisi dan prosesi menyalakan lilin. Di sini memang terasa sekali pentingnya pengetahuan soal konteks sosial kita dalam memilih gaya dan menyusun komposisi musik. Terlebih lagi setelah pementasan yang penuh dengan ceramah serta emosi, acara ditutup dengan menyalakan lilin dan perenungan dimana hal ini membutuhkan nuansa dan ambiens yang tepat. Biasanya acara-acara semacam ini akan diiringi dengan gitar akustik melankolis dalam komposisi nada minor yang populer untuk membuatnya dramatis dan sedih seperti acara-acara reality show di televisi.

Namun buat saya pribadi, komposisi musik populer semacam itu kurang tepat karena dapat mengganggu jalannya acara dengan merebut fokus dan konsentrasi pengunjung dari pembacaan puisi, apalagi prosesi menyalakan lilin.


Kurang tepatnya bagaimana?

'Mencari Nurani' bukan hanya masalah marah atau sedih, tapi masalah proses pencarian dan pemikiran lewat pengalaman. Dari sini, instrumentasi yang tepat untuk membangun emosi tanpa kehilangan kompleksitas pikiran dan fokus adalah dengan teknik bernama generative music. Istilah ini dipopulerkan Brian Eno untuk menggambarkan musik yang selalu berbeda dan berubah, dan diciptakan dengan sebuah sistem.




Berarti teknik generative music inilah yang menjadi wahana ekperimentasi?

Untuk membuat generative music memang diperlukan sedikit pengetahuan melakukan programming dengan komputer dan software. Untuk software, saya menggunakan Ableton Live yang diprogram untuk mengeluarkan suara-suara instrumen yang saya desain sebelumnya.

Saya melakukan program dengan setting time dan Velocity, kapan instrumen ini berbunyi dan dengan volume berapa dB. Terkadang, saya juga mengubah skala nada dan chord supaya nuansanya berbeda-beda. Tetapi, karena generative ambience ini bersifat avoidable, penonton tidak sadar bahwa progresinya berubah namun bisa mempengaruhi emosi dan nuansa, dan memang itu tujuannya. Program ini seolah membuat komputer berpikir sendiri dan mengeluarkan bebunyian dari argumen-argumen logis yang kita sematkan pada mesin.


Bisa lebih spesifik tentang alasan penggunaan teknik generative music ini?

Selain demi konteks pagelaran yang sudah saya paparkan tadi, saya menolak menggunakan komposisi musik populer karena beberapa hal. Pertama karena tidak mungkin player stand-by bermain musik selama berjam-jam di satu tempat tanpa istirahat, lagipula yang kedua akan mengganggu fokus dan konsentrasi pengunjung apabila ada band yang bermain di satu lokasi, dengan suara akan terdengar berasal dari satu titik. Alasan ketiga, komposisi musik populer didasari dengan tempo yang konstan, tempo membentuk ritme, ritme terjadi karena repetisi, dan dalam konteks ini, repetisi bisa diasosiasikan dengan doktrin, suatu hal yang sangat saya hindari.


Elemen utama apa yang ingin ditonjolkan dari hal tersebut?

Selain memainkan bunyi-bunyi non-populer, saya juga memasukkan samar-samar suara bisik-bisik dengan volume yang rendah. Penonton tidak harus mengerti apa yang dibicarakan karena bisik-bisik adalah simbolisasi dari sesuatu yang perlu diucapkan tetapi tidak mau atau tidak berani diungkapkan ke publik karena alasan-alasan tertentu.


Bisa lebih spesifik bisik-bisik yang seperti apa?

Bisik-bisik sebagai simbolisasi ini bisa di dengar pada pada menit pertama sampai sekitar menit 1:04 di sampling berjudul “Namaku Yuyun, Aku Korban Kebodohan.” berikut:



Memasuki menit 1:06, terjadi perubahan instrumen dan nada untuk mengiringi prosesi menyalakan lilin. Kali ini, tidak ada suara bisik-bisik lagi, biarlah para pengunjung menyalakan lilin dan merenung serta berpikir.


Berarti secara kontekstual, simbol 'bisik-bisik' itulah yang menjadi titik temu antara eksperimentasi musik dan tema yang diusung?

Betul. Dalam konteks acara ini, mungkin bisa diasosiasikan dengan kekerasan seksual, dimana banyak korban yang enggan mengadu karena takut atau malu. Nada minor dari instrumen untuk mewakili kesedihan adalah sebuah klise yang seharusnya kita tinggalkan atau kembangkan.

Sebab yang kita butuhkan dalam sebuah prosesi kekerasan seksual bukan hanya perasaan, tapi juga kelindan emosi dan pikiran yang jernih dalam memandang masalah –sesuatu yang jarang ditemukan di Indonesia ketika bicara soal kekerasan seksual.



Last modified on: 10 Juni 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni