(0 votes)
(0 votes)
Read 4367 times | Diposting pada

Wawancara Chandra Drews: Peneliti untuk Album Those Shocking, Shaking Days

 

Penggunaan kata “orientalism” di dalam ulasan saya tentang album kompilasi Those Shocking, Shaking Days di harian The Jakarta Post seperti saya perkirakan mendapat komentar pedas dari pembaca.


Ada yang menulis di kolom komentar bahwa saya hipokrit, seorang hipster wannabe yang menyerang selera anak muda hipster Jakarta yang mencoba mencintai lagi musik Indonesia lama yang mencoba mengapropriasi musik tersebut sebagai penanda hipsterdom baru.

Namun di antara cercaan itu, ada komentar sangat sopan yang hanya mengkritik saya karena salah mengeja nama Chandra Drews tanpa “s” dan untuk kealpaan saya menyebut bahwa label Now-Again yang merilis album tersebut adalah subsidiary dari label hip Stones Throw. Di luar itu, sang pemberi komentar setuju dengan penggunaan kata “orientalism”, karena memang rilis Those Shocking ditujukan untuk penikmat musik di Barat.

Komentar tersebut ditulis oleh Chandra Drews, periset yang menulis liner notes untuk sekujur album bersejarah tersebut. Hanya komentar Chandra ini yang saya tanggapi dengan mengirim pesan pribadi di Facebook.

Setelah beberapa kali gagal membuat janji akhirnya saya bisa bertemu—beberapa hari setelah acara pernikahan dia di Bali—dan saya bisa menanyakan beberapa hal di bawah ini tentang kenapa Those Shocking tidak bisa dirilis secara resmi di Jakarta, kenapa “Hear Me” dan bukan “Hilang” dari band prog-rock legendaris kota Palembang Golden Wing, yang masuk di kompilasi tersebut serta rencana rilis ulang album-album keroncong Lilies Surjani.

 

Pertanyaan: Bagaimana awalnya terlibat dengan proyek Those Shocking, Shaking Days?

Jawaban: Agak lucu sebenarnya. Saya penggemar Stones Throw Records sebagai label besar. Waktu itu saya datang ke show mereka di Amsterdam. Pertunjukan Stones Throw benar-benar eklektik; ada hip-hop, funk dan soul semua di campur. Eothen “Egon” Alapatt sebagai kepala label memiliki set dia sangat psychedelic, bahkan rilis dari Korea Selatan pun dia pasang. Saya pikir, gila juga ini orang, iseng saja saya e-mail dia, soal records ini dan itu. Dia jawab sendiri dan tanya saya dari mana. Dan begitu tahu saya dari Indonesia, dia kemudian tanya apakah saya kenal Shark Move tidak. Saya jawab tidak tahu. Untungnya, housemate saya waktu itu bilang dia pernah kerja sama Benny Soebardja dan dari situ mulainya, saya menghubungkan Egon dan Benny Soebardja dan saya diminta menulis liner notes untuk semua komposisi di album Those Shocking dan tentu saja saya mau. Itu tahun 2009, jadi prosesnya lumayan lama kita mengerjakan semua itu. Butuh waktu lama di masalah licensing.

 

Major label mana yang dimaksud?

Lagu dari Duo Kribo, “Uang”, labelnya Musica. Dan gara-gara lagu ini kita memang tidak jadi buat release party. Intinya memang susah masalah licensing ini. Saya memang pernah mendengar soal band-band Indonesia yang pernah mengalami masalah soal licensing dengan label-label asing. Soalnya, biasanya yang di approach untuk licensing itu cuma satu orang dan bilangnya untuk semua. Kita ngeri untuk hal-hal begituan. Tujuan kita 100 persen dengan good intention jadi tidak mau ada masalah dengan licensing dan kita mau bayar semua. Untuk soal licensing ini cuma satu yang saya urus, lagu The Black Brothers, “Saman Doye”.

 

Bagaimana reaksi The Black Brothers, "Saman Doye" masuk kompilasi ini?

Andi sangat antusias dan kita asumsikan dia mewakili the Black Brothers, karena yang lain sudah mustahil untuk ditemui karena tinggal di pulau-pulau terpencar. Mereka sudah lama pergi dari Belanda, pertengahan 1980-an sudah meninggalkan Belanda karena memang harus keluar, kalau tidak salah mereka pernah di Australia. Sekarang tidak jelas mereka di mana. Ada yang bilang di Canberra, Canada dan tempat lain. Di masa lalu mereka sangat populer bahkan di Eropa. Ini juga berlaku untuk rilis-rilis Indonesia yang lain. Shadoks misalnya merilis ulang Ghede Chokra’s Shark Move.

 

Bagaimana soal Duo Kribo dengan Musica?

Ini negosiasi masih on-going. Egon sendiri tidak terlalu khawatir soal uang karena dia sudah sisihkan semuanya, dia cuma tidak mau punya hubungan buruk saja dengan band-band yang ada di kompilasi itu. Sampai sekarang saya masih belum tahu soal sisanya. Kita sudah menugaskan itu ke Benny Soebardja.

 

Selama masalah dengan Musica belum selesai berarti Those Shocking belum bisa beredar di sini?

Ya kurang lebih begitu. Gara-gara kasus ini sponsor juga pada takut. Di sini kita belum bisa secara resmi rilis. Dan kalau Aksara mau merilis ya bagus kalau kita sendiri ngeri. Secara resmi ngeri, kalau belum 100 persen jelas. Scheme untuk ikut dalam komplilasi ini adalah para artis bersedia menerima down payment dan itu sudah kita kirim lewat Benny, meski untuk royalti itu lain soal lagi. Tapi bisa juga saya tambahkan bahwa Stones Throw memang sama sekali tidak berencana merilis album ini di Indonesia. Orang Indonesia juga sudah tahu semua lagu di album ini. Tapi saya berkeras bahwa album ini harus dipromosikan di Indonesia. Ternyata banyak yang tertarik. Meskipun begitu album ini memang untuk western collectors.

 

Bagaimana preferensi western collectors?

Di Belanda pasti minat terhadap musik Indonesia begitu besar. Di Belanda banyak musisi yang punya darah Indonesia. Di sana koleksi musik dari Indonesia bisa terjual sampai 100 Euro padahal tidak susah juga di cari. Waktu Those Shocking pertama kali di rilis saya pernah diundang siaran radio untuk mempromosikan album ini.

 

Bagaimana proses kurasi lagu-lagu di album ini?

Dulu sebenarnya komposisi lain dari Golden Wing berjudul “Hilang” masuk di daftar awal, tapi diganti dengan “Hear Me”. “Hilang” ada, lagu “Space Ride” dari SAS juga masuk. Nah, saya juga bertanya-tanya kenapa SAS tidak masuk. Waktu siaran di radio di Belanda saya juga sempat memutar lagu-lagu yang gagal masuk ke album. Lagu SAS saya putar dan “Hilang” juga saya pasang. Lagu grup Ternchem dan Benny Subardja and the Lizard itu tambahan di menit menit terakhir. Hampir 30 track disiapkan untuk kompilasi ini. Proposal saya yang tidak masuk adalah “Huembello” yang menurut saya lebih funky dari “Saman Doye”.

Dengan proyek ini justru saya lebih banyak belajar tentang musik Indonesia untuk menulis liner notesnya. Perlu riset gila-gilaan. Yang sebelumnya saya tahu hampir nol tentang musik Indonesia kini saya banyak tahu. Dan memang agak disayangkan bahwa hal seperti ini harus dilakukan oleh label asing dan bukan dari Indonesia sendiri.

 

Kenapa Now Again yang harus merilis album ini?

Semua berasal dari hip-hop culture dimana budaya sampling adalah segalanya. Mulai 2008 sudah banyak album psych rock dari segala penjuru dunia yang dipakai sample-nya oleh Stones Throw lagu lagu dari Turki dan Italia. Mereka sudah mencapai begitu banyak belahan dunia dan akhirnya sampai juga di Indonesia. Banyak juga label-label lain yang merilis musik-musik seperti ini. Saya ingin dengan rilis ini bisa memicu yang dari sini untuk menggali musik masa lalu Indonesia.

Meski begitu untuk rilis mainstream era sekarang mungkin 30 tahun lagi akan ada minat dari dunia luar. Untuk Those Shocking sendiri sebenarnya hanya ada beberapa lagu yang terdengar benar-benar sangat Indonesia, yang lain adalah sound universal musik rock. Kalau musik Indonesia dengan segala ciri khasnya pasti akan lebih menarik orang luar dibandingkan cuma musik modern yang dimainkan oleh orang Indonesia.

Kalau itu di mana saja orang juga bisa memainkannya. Ariesta Birawa adalah bentuk ideal dari musik asli Indonesia dan kebetulan itu adalah album favorit dari Jason “Moss” Connoy (salah seorang kurator album Those Shocking), karena juga terdengar sangat Indonesia. Dan ini juga yang menjelaskan kenapa musik Indonesia dari masa kini tidak terlalu banyak dicari. Ini kembali ke Belanda saya membawa musik keroncong, dangdut untuk teman-teman produser di sana. Mereka ingin sound seperti ini yang akan mereka gabung dengan sound mereka sendiri. Untuk keroncong sendiri, Whiteboard (jurnal online tempat Chandra bekerja-red) sendiri tahun ini tertarik, walaupun ini masih ide kasar, untuk merilis ulang musik-musik keroncong,  dari Lilies Surjani misalnya.

 

Bagaimana soal rencana rilis ulang AKA?

Ini sebenarnya saya tidak terlalu terlibat. Tiba-tiba Jason bilang ini kita dapat AKA, semua rights sudah selesai diurus dengan band-nya dan dia menawarkan kepada saya untuk menulis liner notes sekali lagi. Digarap mulai 2011 dan cepat karena cuma satu band juga.

 

Apa track favorit dari AKA, selain track yang di Those Shocking?

“Crazy Joe”. Setelah AKA ini di rilis mungkin ada di susul dengan Superkid dan masih banyak lagi setelah itu.

Last modified on: 20 Desember 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni