(3 votes)
(3 votes)
Read 3391 times | Diposting pada

Putu Oka Sukanta: Keberpihakan pada yang Terpinggirkan

Lina PW
Oleh:
Lina PW
Putu Oka Sukanta Putu Oka Sukanta Rio Simatupang

 

Desember 2012 lalu, saya merasa mendapat berbagai pandangan baru saat mewawancarai Putu Oka Sukanta, penulis yang karya-karyanya lantang bersuara tentang tragedi di tahun 1965. Dalam wawancara ini, tidak hanya pikirannya, tapi juga kisah hidupnya membuat saya terkadang menahan napas atau mendelikkan mata dengan kaget. Ya, kisah hidupnya yang sarat peristiwa baik maupun pedih menyayat hati membuat saya berpikir banyak hal kosong yang terlewatkan oleh generasi saya. Sebut saya tiba-tiba menjadi romantis, tapi saya benar-benar merasa demikian, bahkan saya merasa mata saya terbuka lebih lebar setelah berbincang dengannya.

Di bulan yang sama saat ia berbincang tentang buku barunya di Bali, ia baru saja mendapatkan penghargaan dari Organisasi Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) terkemuka dunia, Human Right Watch (HRW). Penulis kelahiran Singaraja tahun 1939 ini menjadi salah satu dari dua sastrawan Indonesia penerima hibah dari total 41 sastrawan, penulis, jurnalis, dan blogger di seluruh dunia.

Hibah bertajuk Hellman/Hammett ini merupakan dukungan HRW terhadap penulis yang memperjuangkan kebebasan berekspresi di masing-masing negara. Para penulis dipilih karena telah mengalami pelanggaran HAM, seperti dipenjara, disiksa, diancam dan seterusnya akibat aktifitas mereka dalam kepenulisan. Putu Oka Sukanta, sejak tragedi 1965, adalah salah satu di antara mereka.

Ketika masih muda, selain menulis berbagai cerita baik ke surat kabar ataupun majalah, dia juga aktif dalam gerakan kiri pada masa Orde Lama. Ia ditangkap tanpa pengadilan dan dipenjara selama sepuluh tahun tanpa kejelasan hidup sejak 1966. Pengalaman itulah yang amat kuat memengaruhi karya-karya penulis yang kini membuka praktik akupuntur dan mengembangkan tanaman herbal di Bogor tersebut. Obrolan ini merupakan sekilas saja cukilan kisah lain dalam hidupnya.

Mengapa tertarik dengan dunia tulis-menulis?

Saya mulai menulis sejak 16 tahun. Di kampung saya ada kebiasaan kalau libur sekolah main sandiwara, setiap tahun. Itu salah satu faktor pendorong mengenal dunia seni. Saat SMP, diajak belajar mengarang, itu juga salah satu pendorong saya menulis. Saat di SMA, saya memimpin siaran di RRI Singaraja jadi harus menulis terus dan mendorong kawan-kawan lain untuk menulis. Kemudian saya juga bergaul dengan seniman-seniman yang ada di Singaraja. Banyak faktor yang memberi peluang pada saya untuk menggemari sastra.

Awal berkarya bagaimana?

Awalnya mengirimkan tulisan ke surat kabar lokal tahun 1950-an. Kirim tulisan ke majalah remaja anak-anak kemudian nulis di majalah kebudayaan. Ada yang tidak masuk, tapi pada umumnya masuk jadi saya terdorong untuk menulis lebih banyak lagi.

Bagaimana hingga anda dipenjara di tahun 1966?

Saya aktif di sekitar lingkaran LEKRA. LEKRA ini sendiri adalah gerakan kebudayaan yang sangat longgar, tempat diskusi dengan seniman, bukan merupakan organisasi ketat seperti orang harus mendaftar dengan administrasi. Orang masuk LEKRA karena berkesenian. Hingga akhirnya identik dengan perlawanan karena memang beberapa seniman di LEKRA sendiri menciptakan tarian-tarian serta lagu-lagu yang sangat merakyat dan bernafaskan revolusi.

Bagaimana detail peristiwa penangkapan tersebut?

Saya ingat betul, 21 Oktober 1966 setahun setelah peristiwa, saya ditangkap. Tidak menanyakan apapun tentang LEKRA atau PKI pada saya. Tidak ada surat penangkapan atau penahanan, tidak ada pengadilan, selama sepuluh tahun. Tidak  boleh menulis, tidak ada pensil, kertas, atau buku. Siksaan luar biasa pada intelektual selain kurang makan dan penyakit. Kami tidak tahu kapan dibebaskan, kapan dibunuh, jangankan tahu apa yang terjadi besok, lima menit ke depan saja kami tidak tahu masih hidup atau tidak.

Apa yang anda lakukan di dalam penjara?

Kalau di Tangerang kami disuruh kerja rodi, cari pasir. Salah sedikit dipukul dipopor pake senjata dimaki-maki dengan nama binatang di kebun binatang.  Kalo melawan mati ditembak atau diinjak-injak sampai pingsan. Tidak bisa melarikan diri. Mau lari kemana? Kalau lari tidak ada yang menampung, semua warga melapor dan tak lama masuk lagi, digebukin dulu. Ada beberapa orang yang mati karena melarikan diri.

Dari saat bebas hingga kini, berapa buku yang sudah dihasilkan?

14 judul sastra, 13 buku non-sastra. Buku saya terbit pertama kali tahun 1982, kumpulan puisi. Oleh penerbit dijual, ditaruh di toko buku, saat dicek habis terjual, kami tentu gembira tapi si toko buku tak mau terima lagi. Ternyata karena buku saya dibeli satu orang dengan pemberitahuan untuk tidak menjual lagi. Di beberapa media cerpen saya dimuat tapi hanya sekali setelah itu tidak diterima lagi, saya sudah tau apa artinya, kala itu tema yang saya angkat masih rawan, tentang peristiwa ’65 dan masalah pariwisata.

Beberapa buku malah beredar di luar negri, bagaimana itu mungkin?

Sejak tahun 1984 saya punya hubungan dengan Goethe institute di Jakarta. Satu-satunya lembaga kebudayaan yang memberi ruang pada saya untuk mengekpresikan karya saya, membaca cerita saya. Media di Indonesia tidak berani memberi ruang pada saya. Syukurnya Goethe ini kebal hukum karena kedutaan Jerman. Mereka juga yang akhirnya menerjemahkan karya-karya saya dan menerbitkannya.

Bapak juga berpraktek akupuntur dan pengobatan herbal?

Para tahanan dalam penjara sebagai salah satu upaya untuk sehat belajar akupuntur tanpa jarum dari dokter yang ditahan tapi pernah belajar di Korea, juga kawan Tionghoa yang pernah belajar. Dulu diperkenalkan sebagai pijat, karena tidak boleh ada jarum, jarum kami buat dari senar gitar. Para tahanan menciptakan apapun untuk bisa bertahan hidup. Setelah bebas ada yang ikut ujian Negara untuk akupuntur, ada yang tidak. Boleh dibilang para tahanan sangat berkontribusi dengan perkembangan akupuntur dan acupressure di Indonesia. Saya dengar di setiap penjara ada pengobatan macam itu. Pengobatan alternatif macam ini sangat penting saat kami di penjara. Kini praktek akupuntur menjadi profesi legal dan formal saya.

Apa kesibukan anda sekarang ?

Saya sekarang praktik akupuntur di Jakarta seminggu 3 kali, memimpin sebuah lembaga pengembangan kesehatan tradisional bersama istri. Aktif dalam program HIV/AIDS, memberdayakan teman-teman positif HIV dalam penjara. Saya mendampingi masyarakat yang belum beruntung, tidak punya informasi kesehatan yang baik. Saya aktif dalam koalisi kebenaran, juga menulis dan mengajar.

Bapak mendapatkan penghargaan Hellman/Hammett 2012 untuk hak asasi manusia. Bagaimana ceritanya?

Iya saya sendiri tidak menyangka. Awal tahun lalu ada kawan minta ijin pada saya untuk menominasikan saya, ya saya persilakan saja. November kemarin saya diberitahu bahwa saya salah satu penerima penghargaannya.

Mengapa anda memilih berkecimpung dengan tanaman herbal dan komunitas HIV/AIDS?

Karena saya lihat perlakuan yang sama dengan pesakitan tahanan di tahun ‘65. Didiskriminasikan, stigma terjadi dimana-mana, padahal banyak informasi yang tidak benar. Kebenaran sudah diplintir. Orang dengan HIV/AIDS tidak serta merta berbahaya bagi kehidupan. Begitu juga dengan obat-obatan tradisional yang sekarang dinomorduakan. Saya merasa kewajiban saya untuk memihak hal-hal yang didiskriminasi oleh banyak orang yang tidak tahu informasi yang jelas.

Bagaimana mengombinasikan kepengarangan dan kesehatan?

Bagi saya itu sangat berkaitan. Pengarang harus bereksplorasi segala hal yang ada di balik fenomena sehingga pembaca mendapat hal baru. Begitu juga dengan dokter. Tugasnya adalah memfasilitasi pasien untuk memahami kenapa dia sakit. Artinya kita menggali apa penyebab keluhan dia. Bukan hanya sodorkan obat. Baru tawarkan apa solusi yang bisa dilakukan.

Bagaimana menurut anda perkembangan sastra mutakhir?

Menurut saya penulis sekarang tidak tajam analisisnya terhadap kondisi masyarakat. Mereka lebih glamour dalam melihat permasalahan yang seringnya berkutat dalam hal cinta. Cinta penting, tapi mereka seringnya menulis dengan populer tema itu, masalah yang diangkat biasanya fenomena, bukan esensi.

Adakah hal yang masih mengganjal saat ini?

Banyaknya undang-undang diskriminatif dan masih sedikitnya orang-orang yang peduli. Seharusnya kita bisa hidup lebih makmur dan setara, masih kecewa dengan pemerintah yang masih sedikit sekali perhatiannya terhadap rakyat, mereka sibuk dengan dirinya, dengan tempat mencari nafkah tapi rakyat begitu miskin. Ada pembiaran dari pemerintah terhadap proses pemiskinan yang terus menerus terjadi.

Last modified on: 10 November 2013

    Baca Juga

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni