(3 votes)
(3 votes)
Read 1479 times | Diposting pada

Puti Chitara: Di Album Kedua, Saya Ingin Total Membuat Musik yang Saya Suka

Puti Chitara: Di Album Kedua, Saya Ingin Total Membuat Musik yang Saya Suka Kredit Foto: Liputan6.com/Panji Diksana

 

Nama Putri Chitara di industri musik dalam negeri tengah diperbincangkan. Selain keterlibatannya sebagai salah satu vokalis di grup musik Barasuara, Puti juga melenggang dengan project solonya. Debut albumnya bertajuk Sarsaparilla Dream (Demajors, 2014) mampu mencuri perhatian berbagai pihak, tampil dengan komposisi musik yang segar dan berbeda dengan rilisan album sejenis di tahun 2014.

Baru-baru ini Puti juga hadir dengan gubahan ulang lagu Efek Rumah Kaca yang masuk sebagai salah satu karya cover song terbaik di album Tribute to Efek Rumah Kaca (Ripstore.Asia x Creative Commons Indonesia, 2016). Sedangkan single-nya, Stratosphere hadir lebih dulu sebagai nomor perkenalan dari album kedua Puti yang bakal dirilis beberapa waktu ke depan.

Simak wawancara redaksi dengan penyanyi kelahiran Kelantan, Malaysia yang buka cerita tentang latar belakang kesenian dan mimpi-mimpinya di dunia musik ke depan.

Bisa diceritakan awal mula perkenalan dengan dunia musik yang berperan besar mengembangkan bakat bermusik kamu?

Kebetulan ibu saya bekerja sebagai musisi dan ayah saya juga seorang pecinta musik jadi sering dikenalkan dengan banyak jenis musik sejak lahir. Kemudian pada saat saya berumur 5 tahun, saya mulai belajar untuk bermain piano.

Jenis musik atau lagu/ album/ musisi apa apa saja yang lekat di masa-masa awal tersebut dan mempengaruhi kecintaan kamu selanjutnya pada dunia musik?

Pada saat itu saya sangat suka dengan musik klasikal dan instrumental, seperti karya-karya Tchaikovsky, Saint-saens, Beethoven, Vivaldi, Chopin dan lain-lain.

Bagaimana kamu mengembangkan bakat musik, apakah secara otodidak atau mengikuti kursus/ pelatihan/ sekolah musik?

Pada awalnya saya mengikuti kursus piano klasik di ABRSM, kemudian sempat kursus biola selama 2 tahun dan belajar gitar otodidak.

Kamu sempat tinggal di Malaysia. Bagaimana kondisi saat itu mempengaruhi kecintaan kamu pada musik dan perbandingannya setelah pindah ke Indonesia?

Sebenarnya tidak terlalu banyak pilihan musik ketika saya tinggal di Malaysia, apalagi susah sekali saat itu untuk mendapatkan referensi musik klasik dan juga musik luar negeri. Untungnya orang tua saya mempunyai cukup banyak kaset lagu-lagu tahun 60-80an yang bisa saya dengarkan. Tetapi saat itu saya juga sangat senang mendengarkan Pop Melayu, dangdut melayu, dan lumayan menggemari band Malaysia KRU.

Materi-materi debut album Sarsaparilla Dream dibuat ketika kamu masih SMP/ SMA. Bagaimana proses kreatifnya?

Prosesnya simpel, hanya mengandalkan gitar akustik dan piano untuk mencarikan nada-nada sedangkan lirik biasanya menyusul.

Dimas Ario dalam blognya juga sempat mengulas bagaimana album Sarsaparilla Dream merupakan pop dengan kandungan gizi berlimpah dan judul lagu yang segar. Bagaimana kamu sendiri memandang Sarsaparilla Dream baik dari segi musikalitas maupun tema kamu bawakan? Apa yang tercapai di album ini dan yang belum tercapai?

Saya melihat Sarsaparilla Dream adalah cerminan diri sendiri yang masih lugu namun ambisius, terdengar sekali sisi diri sendiri yang meluap-luap namun masih banyak detail-detail yang perlu diperhatikan. Apa yang dicapai adalah, menghasilkan karya-karya yang terpendam dan yang belum tercapai masih banyak sekali dari segi teknis produksi musik.

Kamu juga dikabarkan pernah tinggal di Jepang dalam rangka studi dan nyaris bergabung dengan label Sony dan Avex. Bisa diceritakan lebih lanjut tentang hal ini dan perjalanan bermusik kamu di sana?

Saya pernah melanjutkan studi S1 di Ritsumeikan Asia Pacific University Japan dengan mengambil jurusan sosiologi budaya pada tahun 2005-2009. Saat itu saya sudah mulai aktif mengikuti circle (seperti ekskul) piano dan orchestra, juga sering mengisi acara sebagai penyanyi/band untuk festival Indonesia, festival latin-amerika, festival Vietnam dan lain-lain. Kemudian, diam-diam saya iseng mengikuti audisi-audisi musik yang diadakan oleh Sony Japan dan Avex, sampai satu saat saya dipanggil untuk mengikuti audisi final Sony Music Japan TOBILABO di Fukuoka dan membawakan 2 lagu karya original. Tetapi karena saya harus pulang ke Indonesia (Kakak saya mengalami kecelakaan) sehingga tidak bisa mengikuti prosedur terakhir.

Di Indonesia, Eric Wiryanata (Deathrockstar) dan AMN disebut-sebut sebagai pihak yang pertama kali membuka jalur kamu ke industri musik dalam negeri sebelum akhirnya Sarsaparilla Dream dirilis dan sempat membawa kamu manggung di Singapore. Bagaimana proses yang terjadi saat itu?

Awalnya saya banyak memasukkan demo-demo di Soundcloud dan suka submit demo ke gig-gig gratisan, awalnya juga saya banyak dibukakan jalan oleh Mahdesi Iskandar dari Berisik Radio yang banyak mengenalkan musik saya melalui social media. Sehingga akhirnya bergabung dengan AMN dan mendapat ajakan-ajakan Eric untuk manggung sampai mendapatkan tawaran untuk manggung di Singapore.

Di Barasuara, kamu adalah personil paling terakhir yang melengkapi formasi band. Bisa diceritakan pertemuan kamu awalnya dengan Iga Massardi dan band hingga kamu memutuskan bergabung?

Di Barasuara saya menjadi salah satu vokalis. Saya kenal dengan Iga Massardi sewaktu sering bermain di Tokove kemudian diajak untuk terlibat dalam pembuatan album Chikita Fawzi yang juga merupakan teman dekat sejak SMA. Kemudian ketika Barasuara akan mengadakan show perdananya, dengan perkenalan oleh Asteriska (yang juga teman saya sejak SMA) akhirnya saya diajak untuk membantu bagian vocal sampai setelah 3 bulan berjalan sebagai additional, Iga mengajak saya untuk menjadi member tetap.

Bersama Barasuara, kalian juga sempat menggelar konser berkolaborasi Artwarding Night. Bagaimana rasanya berkolaborasi dengan Efek Rumah Kaca, bagaimana proses dan kendala yang dihadapi?

Rasanya luar biasa bisa berkolaborasi dengan band idola saya. Tidak ada kendala karena menurut saya ERK sangat kooperatif dan dewasa dalam menanggapi kami yang muda-muda yang sangat berapi-api pada saat itu. Mungkin kendala pribadi adalah tekanan yang dirasakan.

Kamu juga sempat merekam cover song lagu Cipta Bisa Dipasarkan ke akun soundcloudmu dan masuk dalam kompilasi Album Tribute to Efek Rumah Kaca. Kenapa memilih lagu ini untuk dijadikan cover song? Ada kesan khusus?

Pertama kali dengar lagu ini saya langsung jatuh cinta, dari segi musik, lirik, keseluruhannya! Terutama bagian vocal Mba Irma yang terdengar sangat mistis dengan vokalnya yang klasik. Entah kenapa saya merasa langsung ingin meng-cover dengan bayangan saya sendiri yaitu suasana yang lebih kalem dan gelap.

Album kedua kamu dikabarkan akan segera rilis. Dua singlenya telah dilepas. Dibandingkan dengan materi-materi Sarsaparilla Dream, kamu tampaknya tengah mengerjakan project dengan style bermusik yang berbeda. Promo artwoknya bahkan cenderung 'gelap'. Bisa diceritakan tentang konsep album terbaru ini?

Sebenarnya tidak secara spesifik mengkonsepkan, tapi lebih menampilkan diri sendiri yang lebih ‘matang’ saja. Mungkin pada saat Sarsaparilla Dream, saya masih berpikir untuk membuat musik yang orang bakal suka tapi untuk album kedua, saya ingin total membuat musik yang saya suka.

Ada bocoran kapan album ini akan rilis, musisi pendukung/ produser dan melalui label apa?

Insya Allah kalau tidak ada halangan saya berencana untuk rilis di bulan September. Sampai saat ini belum ada rencana untuk mengajak musisi pendukung/produser atau melalui label apa.

Pertanyaan terakhir, apa rencana dan mimpi kamu selanjutnya di dunia musik?

Rencana saya adalah untuk terus berkarya baik untuk diri sendiri atau untuk orang lain, mimpi saya adalah bisa menjadi penulis lagu yang bermanfaat untuk banyak orang.

Last modified on: 20 Juli 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni