(3 votes)
(3 votes)
Read 4606 times | Diposting pada

Wawancara 'Pengarsipan Musik Indonesia Payah' #SaveLokananta

Wawancara 'Pengarsipan Musik Indonesia Payah' #SaveLokananta Indra Ameng

 

Tanpa banyak yang tahu, Lokananta baru saja menginjak usia ke-56 tahun. Label rekaman milik pemerintah ini telah mewarnai perjalanan industri musik Indonesia sejak 29 Oktober 1956. Sempat mengalami masa kejayaan sampai era 1980-an, Lokananta kini tak ubahnya seperti kura-kura Galapagos. Besar, tua, dan berjalan pelan di tengah perkembangan yang ada.

Dengan koleksi lengkap mulai dari lagu daerah, pidato kenegaraan, sampai rilisan dari virtuoso musik Indonesia, Lokananta adalah episentrum musik Indonesia. Sayang, kondisi Lokananta justru memprihatinkan. AC yang berfungsi menjaga kondisi koleksi piringan hitam tidak bisa difungsikan 24 jam. Alhasil beberapa koleksi terancam ganasnya jamur. Mungkin presiden kita yang begitu rajin mengeluarkan album rekaman harus diajak menengok salah satu tonggak dalam sejarah industri musik Indonesia ini.

Sebelum orang nomor satu di republik ini menyampaikan autotext “prihatin”, Aprilia Apsari (vokal); Rio Farabi (gitar akustik); Saleh Hussein (gitar elektrik); Ricky Surya Virgana (bass, cello), Aprimela Prawidyanti (keyboard) serta John Navid (drum) dari White Shoes & The Couples Company sudah lebih dulu menginjakkan kaki di studio label rekaman yang didirikan oleh tokoh olahraga dan mantan Menteri Penerangan R. Maladi ini. Mereka merekam lagu-lagu daerah seperti “Tjangkurileung” asal Jawa Barat, “Teorendango” asal Maluku, dan “Urang Lolong” dari Sumatera Barat yang akan dirilis dalam format CD dan piringan hitam tujuh inch.

Lewat surat elektronik, salah satu almamater terbaik scene musik Institut Kesenian Jakarta ini berbicara panjang lebar tentang rekaman di Lokananta, pandangan tentang pengarsipan musik di Indonesia, juga gambaran ideal mereka untuk Lokananta.

White Shoes & The Couples Company baru saja melakukan rekaman di Lokananta. Mengapa harus Lokananta?

Kami melakukan rekaman pada 23 - 27 Oktober 2012, dan sudah direncanakan sejak Juni 2012. Pada Juni 2012, kami manggung di SMAN 4 Solo dan menyempatkan diri mampir ke Lokananta. Sesudah ngobrol-ngobrol dengan Bapak Andi Kusuma (Manager Lokananta) dan melihat studio rekaman Lokananta, saat itu juga kami membuat rencana untuk mewujudkan ide lama kami, yaitu untuk bikin mini album berisi lagu-lagu daerah dengan merekamnya di Lokananta. Rekaman ini kami buat bersama sahabat kami, David Tarigan, sebagai produser rekaman.

Kami mengetahui bahwa Lokananta memiliki nilai sejarah dalam dunia musik Indonesia. Ini sebuah situs bersejarah yang punya andil besar dalam memajukan perkembangan musik dan karir para musisi di Indonesia. Tempat dimana banyak musisi legendaris Indonesia pernah merekam karya-karyanya. Lokananta juga adalah salah satu perusahaan rekaman yang paling banyak merekam dan merilis lagu-lagu daerah. Begitu pas rasanya karena yang kami rekam adalah lagu-lagu daerah. Dengan merekam lagu-lagu daerah yang kami bawakan ulang dalam versi White Shoes & The Couples Company di Lokananta, dan mengusahakan agar versi kaset dari mini album ini nanti bisa diedarkan oleh Lokananta adalah sangat cocok dengan konsep kami.

Apakah ini terkait dengan fakta Lokananta sebagai label rekaman tertua yang dimiliki pemerintah dan citra White Shoes & The Couples Company sebagai band dengan sound dan penampilan vintage?

Tentu saja kami ingin sekali merekam musik kami disana karena nilai sejarah yang dimiliki Lokananta.  Kami ingin turut merasakan pengalaman yang telah didapat para musisi kita dulu. Terlepas dari unsur “vintage” atau apapun itu namanya, menggali pengetahuan tentang sound dan proses berkarya sebuah kelompok musik dalam soal menciptakan suara adalah tanggung-jawab kami sebagai seniman. Kami juga tahu bahwa peralatan di studio Lokananta bisa menghasilkan sound yang bagus. Apalagi setelah kami melakukan survey terhadap kualitas peralatan dan fasilitas yang dimiliki studio rekaman Lokananta, ternyata studio ini memiliki spesifikasi yang cocok dengan kebutuhan kami dalam mendapatkan tata suara plus atmosfir yang kami inginkan.

Dengan merekam mini album terbaru kami di Lokananta adalah usaha untuk membuktikan secara langsung bahwa melakukan rekaman di studio Lokananta dengan peralatan yang terdapat disana dapat menghasilkan kualitas rekaman yang bagus dengan standard terbaik bagi kami. Karena memang studio Lokananta memiliki peralatan dengan standard international yang baik didukung oleh akustik studio rekamannya yang mantap.

Selain itu, saat kunjungan kami di bulan Juni 2012 lalu ke Lokananta, kami mengetahui fakta bahwa Lokananta sedang menuju kolaps secara finansial. Tidak ada lagi band yang berminat merekam musiknya disana dan Lokananta sedang mengalami kesulitan dalam memelihara arsip musik berharga mereka. Melalui rilisan mini album ini nanti, kami harap sedikitnya bisa membantu memperkenalkan lagi Lokananta kepada generasi baru dan mengabarkan kalau studio Lokananta adalah studio yang layak untuk dicoba oleh berbagai musisi untuk merekam beraneka ragam jenis musik.

Rekaman White Shoes & The Couples Company di Lokananta berisi  lagu-lagu daerah. Apa yang menjadi pertimbangan ?

Dalam beberapa kali penampilan panggung kami setahun belakangan, kami sempat membawakan cover dari lagu-lagu daerah. Kami melakukan ini karena terinspirasi oleh apa yang dibuat oleh musisi-musisi kita dulu yang hampir selalu pernah membuat rilisan rekaman lagu daerah. Kami ingin melakukan hal ini untuk mengikuti jejak mereka dan karena memang kami belum pernah merekamnya.

Sebelumnya kami beruntung mendapatkan beberapa rekaman lama, khususnya di era 1960-an, dimana kami mendapati banyak musisi Indonesia menciptakan penemuan hebat berupa hibrida musik daerah yang dicampur dengan unsur musik barat dalam paduan aransemen yang sangat keren. Pada masa itu, ketika Soekarno melarang masuknya musik barat dan melarang musisi Indonesia memainkan apa yang disebut musik “ngak-ngik-ngok”, muncul karya-karya hebat yang memadukan unsur musik daerah dengan musik barat seperti cha-cha, rock n’roll, jazz, dan bahkan psychedelic. Menyebut diantaranya adalah: Nick Mamahit, Oslan Husein, Zaenal Combo, Eka Sapta, Benyamin S, Elly Kasim & Orkes Gumarang, dan Jack Lesmana.

Kami terinspirasi dari karya-karya musik ini dan bereksperimen dengan cara kami, untuk mencoba mempopulerkan lagi lagu-lagu daerah di masa sekarang. Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk menyanyikan lagu-lagu daerah. Bagi kita semua orang Indonesia, lagu-lagu daerah ini pasti ada dalam memori kolektif kita, tersimpan dalam ingatan kita sampai sekarang. Jadi menurut kami, membuat rilisan lagu-lagu daerah adalah sesuatu yang wajar dan sudah waktunya dilakukan oleh kelompok musik seperti kami.

Sebagai band, kalian besar saat Lokananta sudah melewati masa keemasannya. Bagaimana kalian mengakses rilisan-rilisan Lokananta?

Beberapa lagu kami dengarkan dari rilisan piringan hitam dan kaset yang berhasil kami dapatkan. Diantaranya kami beli di Jl. Surabaya, Jakarta yang seperti kita tahu adalah salah satu pusat arsip musik juga. Ada juga yang kami dapat dari warisan orang tua, teman-teman kolektor musik, dan juga banyak kami dapat versi digitalnya secara file sharing dari sahabat kami; David Tarigan. Kalau rajin mencari di internet, kadang kita bisa juga dapatkan beberapa koleksi lagu rilisan Lokananta dari mereka yang berbaik hati menaruhnya di blog-bog personal.

Adakah pengalaman personal yang dimiliki masing-masing dari kalian dengan Lokananta dan karya-karyanya ?

Pada dasarnya kami mengagumi karya-karya dari musisi kita di masa lalu, dan kami selalu berminat untuk mencari tahu seperti apa karya-karya musisi Indonesia dulu. Dari sana kami mendapatkan pengalaman mendengarkan musik-musik hebat yang diciptakan musisi kita. Diantaranya adalah mereka yang pernah merekam musiknya di Lokananta, seperti; Zaenal Combo, Remadja Bahana, Saimima Bersaudara, Bing Slamet, juga maestro jazz kita, Bubi Chen. Secara personal karya-karya mereka turut menginspirasi kami dalam proses berkarya dan banyak menambah wawasan pengetahuan kami. Kami sangat beruntung bisa melakukan rekaman di tempat para idola kami dulu melakukannya juga.

Bagaimana kalian memandang pengarsipan musik Indonesia ?

Payah. Mungkin tidak ada pikiran ke arah situ, karena dianggap tidak penting dan memang tidak dihargai. Padahal musik adalah bentuk kesenian dan ekspresi yang sifatnya casual, sehingga seharusnya menjadi penting bagi kita untuk secara lebih besarnya bisa belajar mengenali kebudayaan kita sendiri.

Sebagai perbandingan, misalkan jika kita mencari beberapa rilisan dari tokoh musisi di Eropa, dari mulai tokoh musik klasik sampai yang lainnya seperti musisi: Django Reinhard, kita dapat menikmati musiknya dalam bentuk mastering ulang versi digital. Tersedia akses untuk mencari rilisan-rilisan dari musisi lama disana. Sementara di Indonesia, jika kita ingin mencari contoh musik dari masa lalu, susah sekali mendapatkannya baik di internet maupun di toko kaset/CD. Bahkan dari tokoh-tokoh terkenal sekaliber Bing Slamet. Sebagai studi sejarah musik, kita belum punya tempat sebagai pusat data yang bisa diakses untuk mendengarkan contoh hasil rekaman ataupun semacam timeline musik-musik di Indonesia sebagai bahan kajian studi.

Sekarang ini  cara untuk mendapatkan rilisan fisik karya musik dari masa lalu adalah pergi membeli ke pasar loak, meminta copy rekaman dari kolektor musik atau mungkin ke arsip stasiun radio.

Menurut kalian apa masalah besar dalam pengarsipan musik Indonesia?

Masalahnya adalah kurang adanya kesadaran akan pentingnya arsip di Indonesia ini. Hal ini tidak hanya terjadi di bidang musik, tapi juga berlaku hampir di semua lini. Serupa seperti di bidang film, kebanyakan yang bergerak di industri musik itu para pedagang yang menganggap produk musik sama saja dengan produk dagang lainnya. Musik dipandang sama dengan benda ekonomi belaka dan bukan sebagai produk budaya, apalagi sebagai bentuk produk pengetahuan. Jadi bukan sesuatu yang penting untuk diarsipkan. kalau nggak laku atau udah nggak musim lagi , ya langsung dibuang aja.

Apa pengaruhnya ke kalian sebagai musisi ?

Kami susah mendapat akses untuk mendengarkan karya-karya musik kita dari masa lalu. Jadinya kita nggak bisa belajar dari apa sudah pernah diciptakan oleh musisi kita sebelumnya dan tidak bisa mengembangkan lagi apa yang sudah pernah dihasilkan sebelumnya. Bukan karena nggak mau, tapi lebih karena kita tidak pernah tahu apa yang sudah pernah dibuat sebelumnya. Yang lebih buruk lagi kita nggak tahu asal dan identitas kita, karena susahnya menelusuri jejak dari apa yang pernah dibuat dulu. Akhirnya disini, kita seringkali kalau mau buat apa-apa harus mulai lagi dari nol.

Apakah musik perlu lembaga pengarsipan khusus seperti film lewat Sinematek Indonesia ?

Dalam konteks Negara besar seperti Indonesia yang modal besarnya adalah kekayaan aneka ragam budaya dari macam-macam etnis, tentu sangatlah penting. Tanpa arsip, kita tidak tahu inventaris kekayaan budaya kita sendiri. Apalagi untuk kepentingan kajian sejarah dan studi lainnya. Kalau hal ini nggak diurus, nantinya kalau mau belajar soal kebudayaan sendiri, kita harus pergi ke luar negeri untuk riset. Karena itu mungkin perlu adanya inisiatif personal maupun kelompok/lembaga swasta khusus yang mengurus arsip musik ini. Lebih baik lagi kalau diurus oleh Negara lewat perpustakaan nasional dan pusat arsip.

Saat menjabat sebagai walikota Solo Jokowi berencana menjadikan Lokananta sebagai museum musik. Apakah kalian setuju jika Lokananta dijadikan museum ?

Kami pikir tidak perlu jadi museum, karena sebenarnya dengan manajemen yang sekarang ini, Lokananta sudah memiliki museum kecil dan tempat arsip data. Mereka sudah memulai dengan mentransfer koleksi rekaman piringan hitam mereka ke bentuk data digital. Sampai saat ini, mereka sudah berhasil mentransfer hampir 90 persen dari total koleksinya. Itu yang paling penting sebenarnya. Menurut kami akan lebih baik jika usaha pengarsipan data ini didukung untuk dikembangkan lebih jauh lagi, dan perusahaan Lokananta diaktifkan kembali fungsinya sebagai label rekaman yang memiliki studio rekaman berstandard internasional.

Apakah Lokananta harus mempertahankan semua unsur klasiknya ditengah perkembangan industri musik Indonesia yang sedemikian pesat ?

Iya. Mempertahankan apa yang telah dimiliki Lokananta dari zaman keemasannya dulu bisa menjadi satu hal yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia sebagai asset sejarah nasional, maupun khususnya bagi kota Solo. Tapi tentunya harus bisa terus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.

Apa pandangan ideal kalian untuk Lokananta?

Bisa aktif lagi sebagai perusahaan rekaman(label) dan meningkatkan kualitas studio rekamannya agar banyak yang berminat untuk rekaman disana lagi. Jadi yang pengen rekaman disana itu bukan cuma karena faktor sejarahnya, tapi juga karena mutu dari fasilitas studio rekamannya yang memang bagus.

Selain itu, mengembangkan perusahaan ini dalam hal pengarsipan data musik Indonesia yang berguna bagi publik yang lebih luas. Zaman sekarang ini era arsip, siapa yang punya akses terhadap data akan memiliki kekayaan pengetahuan sebagai harta yang tak ternilai.

Lokananta juga dikenal sebagai pabrik piringan hitam. Bagaimana kalian memandang hal ini ditengah meningkatnya kembali pola konsumsi rekaman dalam format piringan hitam mengingat yang saya tahu dari media sosial beberapa dari kalian adalah pemadat piringan hitam ?

Piringan hitam tetap format terbaik dan paling ideal untuk rekaman musik. Silakan coba dengarkan sendiri dan rasakan pengalaman mendengarkan musik lewat piringan hitam. Buat kami yang sangat menggemari rilisan fisik, alangkah baiknya kalau format rilisan piringan hitam ini dikembangkan lagi di Indonesia. Mungkin saja Lokananta bisa diusahakan lagi jadi tempat untuk memproduksi piringan hitam di Indonesia.

Last modified on: 10 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni