(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2262 times | Diposting pada

Lightcraft: 'Love Songs & Lullabies' Dirilis Karena Kecocokan Visi Misi Kami dengan Nanaba Records

 

Lightcraft, merupakan band lintas negara, yakni Indonesia dan Malaysia, tempat para anggota bandnya pernah berkuliah. Lightcraft telah merilis EP The Modern Seasons di tahun 2006 dan debut album penuh Losing Northern Lights di tahun 2008, kemudian album Colour Of Joy tahun 2013 dan terakhir Love Song & Lullabies rilis baru-baru ini di bawah naungan Nanaba Records sebagai album rangkuman dari semua rilisan yang pernah mereka produksi.

Lighcraft sendiri terdiri dari Imam Mbudz (vokal), Enrico (piano, keyboards), Fari (gitar), Kiki (bass) dan Yovie (drum). Memasuki pertengahan tahun 2015, mereka dipastikan bakal mewakili Indonesia di Canadian Music Week 2015, Toronto, Kanada yang bakal diadakan 1 hingga 10 Mei 2015 mendatang.

Lightcraft bakal tampil Canadian Music Week edisi ke-33 bersama musisi dan band lainnya yang sudah dipastikan tampil, diantaranya The Dune Rats, Redway, Daytrip dan band asal Singapura Pleasantry. Tahun lalu, Canadian Music Week juga diramaikan Ellie Goulding, The 1975, Television, M.I.A., Tegan and Sara.

Skena lokal Indonesia memang belum banyak yang mengenal apa siapa dan bagaimana Lightcraft. Lewat wawancara elektronik, kami berbincang-bincang dengan para personilnya perihal band ini terbentuk, skena musik Negeri Jiran, videoklip yang baru rilis dan rencana keberangkatan mereka ke Canadian Music Week. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan awal mula Lightcraft terbentuk?

Imam: Lightcraft terbentuk sewaktu kami sedang menjalankan studi di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada saat itu, saya dan drummer kami yang dulu sudah bermain musik dari masa-masa SMA di Kuala Lumpur, dan kebetulan kami berdua pada akhirnya memilih untuk melanjutkan studi di universitas yang sama dan tinggal di apartemen yang sama. Nah, disana kami bertemu dengan Fari, dan karena kami ingin memulai main musik lagi, maka kami rekrut lah Fari. Bassis pertama kami menyusul tak lama setelah itu, diikuti dengan sang kibordis/pianis Enrico beberapa bulan sesudah itu.

Nama Lightcraft sendiri punya makna khusus apa bagi para personil hingga dipilih sebagai nama band?

Enrico: Pertanyaan makna khusus sepertinya agak berat soalnya penentuan nama Lightcraft cukup simple: nama Lightcraft diambil dari sebuah nama toko di Malaysia yang sering kita lewati pada saat kuliah. Sebelumnya nama band kami adalah Tenterhooks, tetapi karena sepertinya nama tersebut sulit disebut oleh banyak orang, jadinya kita coba cari nama lain, dan ada beberapa nama yang sempat jadi calon tapi sepertinya pilihan kami jatuh ke Lightcraft. Seingat saya itu juga kita tentukan dengan melempar koin! Jadi sebenarnya tidak ada pertimbangan khusus. Tapi setelah lama menjadi Lightcraft, barulah kami terpikir kalau sebenarnya nama tersebut cukup cocok dengan musik yang kami mainkan: lagu-lagu yang lumayan ringan untuk dicerna, tetapi setiap lagu adalah sebuah karya seni yang kami harap dapat memberikan cahaya harapan dan kebahagiaan di dalam kehidupan para pendengar.

Bila berbicara genre, jenis musik pop alternatif yang bagaimana yang kalian eksplor dalam berkarya?

Yopi: Jika ditanyakan mengenai genre kami, musik kami dibentuk dengan balutan unsur-unsur kesedihan dan cenderung gelap dan melankolis, mengedepankan sound yang anthemic. Ada yang bilang indie-rock, rock, rock-pop dan ada juga yang menyebutnya dream-pop. Tetapi mungkin kami lebih senang untuk mengembaikan kepada para pendengar untuk menilai musik kami. Referensi kami dalam menciptakan lagu terdiri dari berbagai macam band-band, seperti Coldplay, Snow Patrol, Keane, A Silent Film, Mew, Feeder dan Bloc Party, hingga mereka yang mungkin pengaruh musiknya tidak terlalu terdengar di musik kami, seperti Portishead, Boards Of Canada dan banyak lagi.

Sejauh ini seperti bagaimana proses kreatif para personil Lightcraft mulai pemilihan lirik, sampai aransemen lagu?

Imam: Biasanya saya akan menciptakan tulang dasar dari lagu –beserta dengan liriknya– lalu dilempar ke anggota Lightcraft yang lain untuk didengar. Bila semua merasa lagu tersebut ada potensi, barulah kami lanjutkan dengan mengaransemen lagu tersebut sampai menjadi satu lagu yang komplit. Akhir-akhir ini, kami sedang menelusuri proses kreatif yang berbeda, dan ternyata hasilnya masih cukup memuaskan, jadi mungkin di album berikut akan terdengar sedikit perbedaan dari yang sebelumnya.

Bisa diceritakan pengalaman kalian yang sebelumnya telah merilis 2 album di Malaysia?

Imam: Karena dulu kami tinggal di Malaysia, jadi kami tidak ada pilihan selain merilis EP pertama dan album debut kami disana. Prosesnya cukup panjang dan rumit, tetapi disitu kami jadi belajar banyak mengenai seluk-beluk dunia musik dan mengenai merilis sebua album, dari proses rekaman ke bertemu dengan pihak pencetak, sampai mengurus sticker pajak. Hitung-hitung menjadi bekal lah buat kami.

Kenapa akhirnya memutuskan merilis album ke 3 di Indonesia? Ada pertimbangan khusus?

Fari: Pada awalnya kita berpikir bahwa sudah saatnya Lightcraft mengeluarkan album baru dikarenakan umur album pertama kita yang dirilis di Malaysia sudah cukup lama. Dan dikarenakan mayoritas personil Lightcraft sudah menetap di Jakarta (Hanya Imam yang masih berada di Kuala Lumpur menyelesaikan program S2 nya), kita berketetapan dengan apa yang sudah kita capai di Malaysia untuk dapat dilanjutkan di Indonesia dengan menawarkan satu album baru sebagai langkah awal sekaligus memperkenalkan Lightcraft ke skena musik tanah air. Akan tetapi, album ini dirancang tidak hanya untuk konsumsi pasar dalam negeri, tetapi agar dapat menembus kancah permusikan dunia dimana pemasaran album ini tersedia juga secara global dalam bentuk digital. Dikarenakan posisi Imam yang masih berada di Malaysia, proses pembuatan album “Colours of Joy” sendiri memakan waktu yang cukup lama, sekitar satu setengah tahun.

Bagaimana suasana scene di Malaysia yang kalian alami selama ini? Bagaimana perbandingannya menurut kalian dengan scene di Indonesia?

Imam: Saya rasa kami cukup beruntung sewaktu kami di Malaysia, karena pada awal-awal terbentuknya Lightcraft, kami bertemu dan berteman dengan musisi-musisi lokal yang sangat amat baik dan saling membantu sesama lain. Dimulai dari mendapat gig resmi perdana kami sebagai Lightcraft, sampai di masa kami meluncurkan album pertama, kami mendapatkan banyak nasihat dan panduan dari kawan-kawan kami di sana. Tetapi secara kesuluruhan, saya rasa skena di Malaysia pada zaman kami cukup maju; banyak band-band dan artis-artis bertalenta, dan banyak acara musik. Sekarang, yang saya dengar dari teman-teman saya di sana, dunianya sudah sedikit berubah. Kalau mau dibandingkan dengan Indonesia, saya rasa sedikit susah ya, karena melihat banyaknya jumlah band dan artis-artis yang ada di Indonesia –di Jakarta saja sudah ada banyak sekali. Kalau dari segi kualitas musik, saya bisa bilang kalau Malaysia sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Bagaimana proses awal kerjasama yang terjalin antara kalian dengan Nanaba Records?

Rizky: Ide kerja sama dengan Nanaba Records awalnya dicetuskan oleh teman baik kami Reino dari DFA Records. Karena kaset populer kembali, disarankan kalau mungkin merilis sebuah kaset dapat membantu dari segi promosi dan juga penyampaian musik Lightcraft ke masyarakat. Kami berjumpa dengan “ayah” dari Nanaba Records, Jodi Setiawan, dan kami merasakan adanya kecocokan dalam visi dan misi. Dari situlah kami memutuskan untuk merilis kaset tersebut. Pada awalnya, kami bertujuan untuk mengeluarkan album kedua kami Colours Of Joy dalam bentuk kaset, tetapi setelah berdiskusi dengan Nanaba Records, pada akhirnya kami memilih untuk menggabungkan lagu-lagu dari Colours Of Joy dan album perdana kami yang sudah sold-out, Losing Northern Lights, ditambah dengan satu lagu berbahasa Indonesia yang sebelumnya tidak pernah kami rilis selain dalam bentuk video klip di YouTube. Dengan kesepakatan satu band, kami memberi nama kaset kompilasi tersebut Love Songs & Lullabies, yang kami rasa cukup sesuai dengan lagu-lagu di dalamnya: sebuah kumpulan lagu-lagu yang dapat menemani pendengar di saat sedang jatuh cinta dan di saat menutup mata sebelum tidur.

Pada versi kaset yang dirils Nanaba, ada satu lagu berbahasa Indonesia. Ada alasan khusus mengapa liriknya ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris seperti karya Lightcraft lainnnya?

Imam: Sebenarnya lagu tersebut, yang berjudul Lupa, bukanlah satu-satunya lagu kami yang berlirik bahasa Indonesia. Di album pertama kami, “Losing Northern Lights”, ada satu lagu yang berjudul Tanpa Jawaban, yang sempat menjadi favorit pada masa kami masih di Malaysia. Jadi alasan khusus kenapa “Lupa” itu berbahasa Indonesia hanyalah karena saya ingin mencoba keluar dari comfort zone saya, dan mencoba untuk menulis lirik dengan bahasa Indonesia. Dan ini suatu hal yang saya pikir akan kami coba lagi ke depannya.

Bisa diceritakan perihal videoklip yang telah kalian garap, mulai dari konsep, artistik maupun orang-orang yang terlibat dalam pengerjaan video klip ini?

Imam: Dari konsep artistik, sebenarnya tidak ada yang terlalu berliku-liku ya. Pada intinya, sutradara dari video tersebut adalah teman dari teman kami yang akhirnya menjadi teman kami juga. Dia memberikan beberapa ide untuk video tersebut, kami berdiskusi, dan akhirnya setelah waktu yang cukup lama, ditentukanlah konsep video tersebut. Kami melakukan syuting di dalam sebuah gudang, dan hanya memakan waktu satu hari. Hasilnya cukup sederhana, tetapi mood yang kami inginkan sepertinya terpenuhi. Tidak adegan cinta-cintaan ataupun penampilan dari model-model video klip; isinya hanyalah Lightcraft bermain musik, intinya sebagai tanda perkenalan kami dengan skena musik Indonesia.

Bisa diceritakan tentang rencana tur kalian ke Kanada?

Imam: Sebenarnya yang kami lakukan ke Kanada ini bukan lah sebuah tur, melainkan kami diundang untuk tampil di Canadian Music Week 2015. Memang tadinya kami ingin melakukan tur juga selagi di sana, akan tetapi keadaan moneter memaksa kami untuk melupakan mengadakan tur. Jadinya kami akan tampil di beberapa acara hanya di Toronto. Buat kami, ini sudah lebih dari cukup. Mungkin di masa depan, kami dapat memenuhi impian kami mengadakan tur di luar negeri.

Last modified on: 28 April 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni