(3 votes)
(3 votes)
Read 7570 times | Diposting pada

Kineforum Misbar: Tradisi Menonton Bioskop Bukan Milik Kelas Atas Saja

Opening Kineforum Misbar 22 November 2014 Opening Kineforum Misbar 22 November 2014 Kredit foto oleh Kineforum DKJ

 

Membuka bulan Desember ini, Jakarta seperti tak kehabisan aktivitas ruang publik yang menarik. Salah satunya adalah Bioskop Kineforum Misbar. Digelar sejak 22 November sampai 6 Desember 2014, konsep 'gerimis bubar ala layar tancap' ini pertama kali diselenggarakan oleh Kineforum saat penutupan Jakarta Biennale 2013 yang lalu. Dengan program ini, Kineforum memberikan bentuk tontonan alternatif nan gratis untuk memperkenalkan lebih lanjut sejarah dan perkembangan industri film Indonesia yang telah sekian lama tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Menonton bioskop bersama di ruang publik terbuka sebagai open air cinema, kegiatan tahun ini mengetengahkan tema "Lawan" yang menghasilkan kurasi apik 24 film layar lebar dan 13 film pendek. Berkerjasama dengan dua arsitek lokal, Bioskop Kineforum Misbar didirikan di dua lokasi pemutaran, yakni Lapangan Basket Blok S di Jakarta Selatan, dan Lapangan Futsal Taman Menteng di Jakarta Pusat. Hal itu bertujuan untuk mempersembahkan tontonan yang menarik bagi sebuah tradisi menonton di publik kota Jakarta.

Berikut ini wawancara dengan Nyoman Vidhyasuri Utami Koordinator Publikasi yang kami temui di venue Taman Menteng saat pertunjukan berlangsung pada Rabu malam (03/12):

Apa term alternatif disini yang hendak ditawarkan Kineforum lewat kegiatan ini?

Kami ingin menumbuhkan tradisi menonton di Jakarta. Menonton sebenarnya tidak sekedar entertaiment saja, namun juga merupakan kebutuhan psikologis untuk menghargai sesuatu yang secara visual baik dan secara cerita menarik. Selain itu, tradisi menonton kita saat ini menjadi tergerus karena bioskop-bioskop hanya ada di mal. Tradisi menonton harus bersaing dengan lifestyle, sehingga posisi menonton hanya menjadi prioritas ke sekian. Sementara, kami percaya menonton itu sendiri merupakan kebutuhan batin setiap manusia.

Dengan Misbar inilah, kami menawarkan alternatif hiburan dengan gratis di tengah bioskop-bioskop yang hanya bagian dari lifestyle dan sinetron-sinetron. Ada perlawanan yang ingin diciptakan. Kami melawan hegemoni kuasa yang menentukan tradisi menonton di Indonesia harus di dalam pusat perbelanjaan saja. Ini merupakan alternatif untuk publik. Ini bentuk perlawanannya.

Mengapa memilih format misbar ala layar tancap?

Sebenarnya ini adalah konsep bioskop terbuka. Kalau layar tancap itu kan identik dengan tontonan dengan layar di tengah lapangan, kalau gerimis, bubar. Sementara kami ingin konsepnya seperti memindahkan bioskop ke ruang publik. Jadi tetap ada standard kenyamanan menonton di bioskop yang kami penuhi, desain arsitektur ruangannya, juga perizinan filmnya sampai hak cipta kepada produsernya. 

Kendala paling berat apa saja ketika mewujudkan format Kineforum Misbar ini?

Kineforum sudah tahun ke dua mengadakan Misbar. Kalau tahun kemarin, kendalanya lebih kepada waktu yang terlalu singkat. Kami hanya punya waktu kurang dari sepuluh hari untuk membangun bioskop dan menyedikan seluruh peralatannya. Kalau tahun ini, kami jauh lebih siap. 

Meski warga umumnya memang sepertinya belum terlalu familiar dengan acara seperti ini. Ada diantara mereka seperti terlihat agak sungkan ketika melewati venue, mendekat ke lokasi dan ikut menonton. Padahal bioskop ini gratis, tidak memungut bayaran penontonnya.

Tapi dengan dukungan banyak pihak dan basis publik Kineforum, apresiasi dari penonton cukup baik. Di minggu pertama kegiatan, Misbar menembus angka 2000 penonton di dua tempat.

Lantas, target penonton seperti apa yang ingin disasar oleh Kineforum?

Kami tidak memasang target khusus, kami ingin semua kelas masyarakat bisa menikmati. Tradisi menonton bioskop itu bukan hanya milik kelas atas saja. Secara kuantitas, target kami angka 4500 penonton bisa tembus dalam dua minggu pemutaran di dua tempat. Secara kualitas, kami mau sebanyak mungkin orang ikut menonton dan sadar akan tradisi menonton yang baik. Kalau ada film bukan untuk anak-anak, tapi ada anak-anak yang ingin menonton, kami tolak anak-anak itu. Jadi merupakan bentuk edukasi juga.

Untuk ke depannya, akan seperti apa Kineforum Misbar ini dikembangkan?

Mudah-mudahan setiap tahun akan diadakan. Pengembangannya, kami masih terbuka dengan banyak ide-ide, perluasan, atau lokasi pemutarannya. Sebenarnya kan acara seperti ini gak harus ada di Jakarta. Bisa juga ke daerah-daerah lain di Jakarta, yang tentunya juga butuh alternatif hiburan seperti ini.

Last modified on: 10 Desember 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni