(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2687 times | Diposting pada

Keteraturan dalam Chaos Roman Catholic Skulls

 

Cassette Store Day adalah saat untuk merayakan yang berbeda. Sangat tidak lucu jika perayaan itu adalah dengan merilis ulang Random Access Memories—dengan sound mewah dan sempurna--ke dalam medium yang penuh keterbatasan itu. Salah satu rilis yang mungkin paling tepat di rilis untuk merayakan kebangkitan kaset adalah Weathered album pertama kolektif Roman Catholic Skulls (RCS), duo Marcel Thee dan Dhanif Pradana. Noise, drone atau keheningan yang menggerus pasti akan terdengar berbeda untuk setiap pendengar, tergantung berapa banyak kotoran yang tertinggal di head, kapstan atau roda pemutar di tape deck masing-masing. Jadi segera demagnetize head tape deck anda dan jangan pernah tekan tombol FF. Kami mewawancarai Marcel and Dhanif khusus untuk perayaan Cassette Store Day hari ini, saat di mana anda bisa mendapat rilis istimewa ini.

Kami selalu suka kata-kata, "there's pattern in this chaos." Adakah pola untuk RCS?

Marcel : Untuk "Weathered" memang ucapan "Pattern in Chaos" sangat cocok. Disitu kita menawarkan sebuah keindahan didalam apa-yang-mungkin terlihat sebagai sebuah kebisingan yang tidak beraturan. Tapi benang merah-nya antara lagu sangat ada - baik dengan dengungan yang konstan ataupun gemuruh yang lebih ekstrim.

Apa yang mempengaruhi musik di RCS?

Danif : Saya adalah penggemar berat David Lynch dan Angelo Badalamenti. Jadi harus saya katakan jika justru dunia perfilmanlah yang menjadi pengaruh besar saya di RCS.

Marcel : Secara musikal, semua dari Devo, Whitehouse, Evergreen, Guy Reibel, Luc Ferarri, dan The Fall, adalah inspirasi - meskipun mungkin tidak selalu terdengar secara langsung. Tentu saja juga banyak pengaruh dari musik-musik Kristiani kuno melalui medium-medium yang kita gunakan.

Bicara soal teknis, bagaimana sebuah komposisi muncul, misalnya bagaimana menyelesaikan sebuah komposisi sepanjang 30 menit? Apakah perlu latihan?

Danif : Saya harus katakan bahwa prosesnya justru sangat sederhana. Sama seperti menggambar atau mencoret-coret hanya saja kami menggunakan suara sebagai mediumnya. Kami hanya bermain-main dengan satu jenis suara dan mencoba menemukan sesuatu yang belum pernah terdengar sebelumnya dengan beragam sarana audio plug-ins. Itu langkah awalnya. Selebihnya kami menambahkan lapisan-lapisan baru sampai kami bisa mendapatkan suasana atau warna suara yang kami sukai. Saya tidak bisa bilang ini sebagai pencapaian teknis, namun lebih sebagai penyelidikan atas bunyi.

Marcel : Kita sama sekali tidak pernah latihan. Lebih banyak proses men-jamming secara virtual. Ini lebih karena kesibukkan kita berdua dan masih jauh dari proses ideal. Untuk lagu-lagu yang berdurasi panjang, kami membagi-nya menjadi beberapa bagian. jadi seperti "Adventurers...", kita melihatnya dalam beberapa seksi - lembut, ricuh, apokaliptik, dan seterusnya. Begitu juga album baru kita "Gospels", yang tadinya adalah sebuah 1 lagu panjang berdurasi hampir 50 menit.

Bagaimana pembagian kerja di antara kalian?

Marcel : Tidak ada pembagian kerja yang resmi kita lakukan, tapi mungkin Danif lebih fokus kepada "sound design", jadi pengarahan nuansa dan atmosfir akhir. Dia yang menentukan apakah sebuah lagu terdengar seperti soundtrack malam hari atau siang.

Dhanif : Saya pikir tidak ada pembagian kerja yang berarti di antara kami. Semua terjadi dengan sendirinya, saling memahami saja..

Pada awalnya album ini hanya rilis download-only, namun kemudian pasti berfikir juga soal format fisik. Format apa yang paling baik dan apakah kaset sudah cukup memuaskan?

Marcel : Yang utama tentu saja vinyl; namun belakangan kami juga melihat hubungan personal antara pendengar dan pemusik juga tumbuh lagi di kaset. Pita yang mulai memuai dan kualitas suara yang tidak sempurna, juga keharusan untuk mendengarkan album dari awal sampai akhir tanpa jeda, sangat sesuai dengan apa yang kita tawarkan.

Dhanif : Bagi sebagian orang, kaset adalah semacam fetishisme yang anda tidak akan bisa dapatkan dari CD. Saya pikir masalahnya bukan lagi soal kualitas audionya namun lebih sebagai sebuah pernyataan sikap.

Untuk  Marcel, apa yang anda hendak katakan dengan musik yang berbeda-beda di RCS, SC, Strange Mountain atau proyek solo?

Gue melihat Roman Catholic Skulls sebagai proses rekoleksi dari pengalaman-pengalaman pergi ke gereja tua di Eropa sebagai turis (bukan bagian dari kongregasi karena gue tidak relijius). RCS adalah pengalaman musik dalam arti "Seharusnya", yaitu musik yang - meskipun sering dibilang "ambient" - menyodorkan mukanya di depan muka anda, dan tidak akan menerima dijadikan musik latar belakang. Untuk Strange Mountain, rekoleksinya lebih ke masa kanak-kanak, meskipun dilihat dengan mata yang sedikit lebih ideal; melupakan kekurangan-kekurangan yang kita milki saat itu. Strange Mountain adalah selebrasi kenaifan. Sajama Cut adalah diri gue. Semua pandangan, pertumbuhan, dan hati gue ada disini. Karya-karya solo gue adalah bentuk pendekatan yang sedikit lebih non-konfrontatif dari RCS. Ada juga pengaruh-pengaruh musik lebih konvesional seperti Country dan Folk disana, namun ini lebih tentang menangkap suasana keseharian secara spiritual.

Apa rencana ke depan RC sebagai sebuah kolektif? Apakah kita akan sering melihat Dhanif lagi?

Marcel : Kita akan berkarya terus. Jika angin meniup tepat, tahun ini kita juga akan merilis album ketiga kita via label Crash Symbols.

Dhanif : Saya biarkan saja semua mengalir tanpa berfikir terlalu banyak. Ini bukan karir namun kecintaan dan gairah. Jika kita bisa jaga gairah ini saya pikir kita akan bisa banyak melakukan banyak hal termasuk untuk RCS.


Last modified on: 10 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni