(0 votes)
(0 votes)
Read 2763 times | Diposting pada

Johan Angergard: Pasar Indonesia Sama Pentingnya dengan Swedia atau Amerika Serikat

 

Selama proses penulisan artikel tentang Common People beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Arkham Kurniadi yang mendirikan Paperplane Recordings. Saat proses wawancara, ia menawari saya untuk memawancarai Johan Angergård yang terkenal karena mengotaki Club 8, The Legends, Acid House Kings, Poprace, dan baru-baru ini, Pallers.

Pallers telah merilis album penuh berjudul The Sea of Memories – sebuah album yang penuh layer dan sentuhan trip-hop yang tumpang tindih dan kaya detil soundscape nan epik. Dan kebetulan, Paperplane Recordings akan merilis album itu tahun depan.

Johan sendiri menyebut musik Pallers sebagai “dance music for the lazy” dan memang, semenjak berada di Club 8, Johan Angergård telah memukau pendengar dengan sentuhan dan aransemen yang gloomy, agak malas, dan tidak cocok didengarkan ketika hujan di pagi hari (atau malah sebaliknya?).


Johan Angergård memang bukan sembarang orang, dalam 2 dekade terakhir ia telah membawa Swedia ke kancah pop internasional. Dan selain bergabung bersama beberapa band, Johan juga berada di lini depan kancah musik pop Swedia dan dunia bersama labelnya, Labrador yang memiliki tagline “Sweden’s and the world’s finest purveyor of pop music”. Ditengah kesibukannya kini, ia menyempatkan diri menjawab interview ini bersama rekannya Henrik Mårtensson.

 

Saya sudah mendengarkan album baru Pallers. Menurut saya terdengar seperti mosaik suara yang indah. Kenapa kalian lebih memilih pendekatan elektronis daripada menggunakan instrumen konvensional?

Henrik: Terima kasih. Saat mulai berkolaborasi (2008) kami hanya memiliki sebuah computer, midi keyboard dan beberapa track vokal. Beberapa tahun belakangan saya hanya menggubah musik elektronik dan hanya itu pilihan yang masuk akal. Yang ingin kami lakukan bersama Pallers adalah memberikan melodi-melodi pop klasik sebuah sentuhan agar menjadi lebih berwarna dan emosional.

Johan: Sebenarnya kami juga memasukkan beberapa track gitar. Menurut saya pemilihan instrumen hanyalah cara untuk mencapai tujuan. Saya menginginkan sound tiga dimensi dengan instrumen atau efek apa saja yang dapat membantu kami.

 

Bagi saya sound dalam album baru Pallers terkesan gloomy dan cenderung malas, tapi disisi lain masih danceable. Ada alasan khusus tentang mood ini?

Henrik: Kebanyakan lagu kami memang pelan dan kelam, dan rasanya bagus untuk memberi beat yang mantap sebagai latar belakang. Jadi musik kami tetap memiliki energi walaupun mood-nya malas dan sedikit pelan. Saya selalu menikmati sisi pelan musik elektronik. Saya tidak pernah suka trance dan jenis musik elektronik yang terlalu cepat. Lagu-lagu yang pelan selalu menarik bagi saya. Dan saya pikir hal itu tercermin pada produksi kami.

 

Anda telah dikenal sebagai mastermind dibalik suksesnya Acid House Kings, Club 8, dan Poprace, apa ekspektasi anda bersama Pallers?

Johan: Saya tak pernah punya rencana untuk menaklukkan dunia bersama Pallers, tujuannya hanyalah dari segi artistik. Niat saya pada dasarnya membuat album pop yang tidak terdengar seperti album pop; lagu-lagu yang dibangun dengan soundscape yang bisa anda selami dan membiarkan anda didalamnya.

 

Bisa ceritakan tentang album baru kalian, ada cerita dibalik itu?

Henrik: Ceritanya seperti ini: kerja keras dan kemudian kerja keras. Album ini terdengar seperti yang kami harapkan karena kami tidak terkendala stres atau deadline saat kami membuatnya. Kami memiliki banyak waktu untuk mengerjakan detil dan keseluruhan album. Selama proses rekaman saya juga beruntung dapat bepergian dan perjalanan itu cukup menginspirasi. Melihat sesuatu yang berbeda dan melihat sesuatu dengan cara yang berbeda sungguh menginspirasi.

Bagaimana kalian bisa bekerjasama dengan Paperplane Recordings untuk merilis album baru ini di Indonesia?

Johan: Sebelumnya Paperplane Recordings ingin merilis album Acid House Kings “Music Sounds Better with You.” Tapi kami sudah memiliki label yang merilis album ini untuk Indonesia. Saat kami mencari label distribusi untuk Pallers, saya langsung teringat Paperplane Recordings. Saya mengirim tawaran melalui email dan mereka setuju.

Labrador Records turut membantu scene indie pop Swedia dalam kancah musik dunia. Menurut anda bagaimana?

Johan: Saya coba merendah tapi yeah, saya pikir Labrador adalah label penting bila dikaitkan dengan hal itu. Sejujurnya label rekaman yang paling penting. Saat kami memulai label ini tidak ada scene indie pop di Swedia. Awalnya kami hanya merangkul beberapa band dari kampung halaman saya; Acid House Kings, Club 8, Starlet, Mondial, Waltz for Debbie, Poprace, Leslies, dan lain lain. Dari awal kami sudah memiliki tujuan internasional, kami melihat dunia sebagai ladang kami. Filipina maupun Indonesia sama pentingnya dengan Swedia atau Amerika Serikat. Dan kami selalu, selalu, hanya mengikuti kata hati dan merilis musik yang benar-benar kami cintai.

Menjalankan label dan band tampaknya cukup menyibukkan, bagaimana kamu mengatur itu semua?

Johan: Biasanya saya membuat musik di malam hari dan mengurus Labrador siangnya. Tapi kadang saya menyuruh beberapa orang untuk mengurus label. Bukan yang berhubungan dengan kreatif dan artistik tentu saja. Selera dan estetika saya yang akan selalu membimbing Labrador.

Bagaimana label kamu setelah tren mp3 (terutama iTunes) mengubah wajah industri musik? Bagaimana dengan nilai penjualan?

Johan: So far so good! Tren penjualan kami positif. Internet telah memudahkan label kecil seperti kami untuk mempromosikan musik kami.

Bagaimana dengan skena di Swedia sana?

Johan: It’s a healthy one! Banyak artis fokus pada penciptaan sound mereka sendiri dan menulis lagu-lagu pop yang bagus, tidak seperti di negara-negara besar macam Amerika Serikat atau Inggris  yang mencoba membangun karir. Dan ketika banyak band mulai merekam dan memproduksi lagu-lagu mereka di rumah sekitar 2003-2004, seluruh scene berkembang. Itulah dimulainya era ketidakpatuhan dan kemandirian.

Bagaimana dengan Club 8?

Johan: kami sedang mengerjakan album baru dan rencananya akan rilis pada musim panas ini. Kami berharap bisa datang dan bermain di Indonesia.

Band-band kamu telah memiliki fanbase yang luas dan cukup berpengaruh. Apa pendapat kamu tentang scene musik pop di Indonesia?

Johan: Band-band yang saya tahu cukup sunny dan poppy! Saya bukanlah ahli dalam scene, sebenarnya saya ingin mendapat tips tentang band-band Indonesia yang bagus.

Last modified on: 6 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni