(0 votes)
(0 votes)
Read 3807 times | Diposting pada

Jason Connoy: AKA adalah Pintu Gerbang ke Musik Indonesia

 

Saya termasuk orang yang sering sebal dengan komentar “Wah sekali lagi kita kecolongan, lagi-lagi bule—yang menulis tentang dangdut, yang merilis musik Indonesia lama" —ketika ada rekan kita dari negara maju yang dengan profesional melakukan upaya penyelamatan dan katalogisasi  musik Indonesia lama maupun musik mutakhir (orang seperti Philip Yampolsky atau Andrew Weintraub). Pertanyaan mereka kemudian sangat khas, “Anda (dengan bahasa mereka para “bule”) dituduh mencari keuntungan dari musik Indonesia lama, apakah ini benar?


Ini adalah pola pikir usang chauvinistis yang menganggap bahwa nasionalisme dan kepemilikan pribumi atas musik itu sendiri akan menyelamatkan musik Indonesia. Tentu saja jawabannya tidak, karena masalah terbesar kita selama ini adalah kita berhenti dengan menjadi bangga dan tidak melakukan apapun untuk memelihara warisan budaya kita sendiri. (Bahkan master tape dari album legendaris dekade 1990-an saja sudah banyak yang gaib).

Para skeptis itu mungkin tidak sadar bahwa bule-bule itu sudah bekerja keras melakukan riset dengan tekun, membersihkan ulang, dan mengeluarkan banyak uang untuk merilis musik Indonesia lama sebelum diedarkan kepada khalayak ramai dunia. Dan di era online seperti sekarang berbicara tentang musik sebagai kepemilikan nasional adalah anakronisme. Jadi saya termasuk orang yang mendukung upaya siapapun, orang Barat atau pribumi, dari manapun tempatnya, asal mereka bersedia menyelamatkan warisan musik kita.

Setelah Eothen “Egon” Alapatt dituduh mencari keuntungan dari musik Indonesia dengan rilis Those Shocking, Shaking Days yang memang sangat laku itu, saya kini tidak mau mengulangi pertanyaan bodoh yang sama kepada Jason “Moss” Connoy, produser hip-hop Canada yang mendirikan label Strawberry Rain sebagai kendaraan hanya untuk merilis ulang musik-musik AKA (mungkin anda perlu tahu kalau LP AKA Hard Beat punya nomer seri SR 001).

Apalagi setelah saya tahu bahwa dia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun, mengeluarkan uang, dan berkomitmen untuk hanya menggunakan peralatan kelas satu untuk mereproduksi musik AKA sebelum dirilis dengan kualitas sound kelas satu pula.

Saya sudah mendapat album Hard Beat ini dalam versi piringan hitam dan saya bisa tahu bahwa kerja keras itu telah terbayar dengan kualitas rilisan hi-fi yang berkelas. Melalui komunikasi e-mail, saya juga menanyakan perannya di Those Shocking, Shaking Days dan kenapa AKA punya dua komposisi di album kompilasi tersebut. Berikut ini adalah perbincangan dengan Jason "Moss" Connoy:

 

Mengapa AKA? Album-album mereka bahkan tidak masuk ketika sebuah majalah musik di sini membuat daftar album terbaik Indonesia sepanjang masa?

AKA sangat luar biasa di telinga saya. Ketika saya pertama kali mempelajari skena musik Indonesia, AKA adalah pintu masuk yang baik karena saya terbiasa mendengarkan musik rock dari Barat. Ketika anda mendengar sesuatu yang nyambung dengan anda, maka anda akan membuka mata dan telinga ke band-band yang lain juga. Ketika saya membuat proyek re-issue, saya harus ingat bahwa pendengar saya pasti tidak pernah tahu musik Indonesia jadi saya harus memulai dengan band-band yang bisa nyambung dengan mereka. Ini mengapa musik Those Shocking, Shaking Days dan AKA dipilih karena sebagian besar memiliki pengaruh musik Barat yang mendasar. Saya harap akan ada cara bagi lebih banyak orang yang akan menemukan harta-karun musik Indonesia yang lain.

 

Apa pencapain artistik AKA?

Well, sebagai seorang fan dari Barat, adalah sangat menarik buat saya bahwa AKA bisa merekam musik yang begitu kuat warna progresifnya namun dengan pengaruh funk yang juga sangat kental, dan mereka bisa melakukannya di dalam album major label, di mana waktu itu didominasi oleh lagu-lagu balada. Hanya dengan melihat penampilan AKA dari sampul album mereka dan potret mereka di majalah-majalah musik kita bisa tahu mereka sangat unik dalam skena musik Indonesia. Ucok adalah figur yang sangat mudah dikenali. Anda tidak akan pernah salah mengenali dia atau musik dan sound AKA.

 

Di mana tempat mereka di skena musik Indonesia dan apa warisan mereka?

Saya pikir sebagai pengamat musik Indonesia, anda sendiri bisa memberi gambaran tentang di mana tempat mereka di skena musik Indonesia. Namun saya berharap bahwa seiring berjalannya waktu, baik orang Indonesia dan fans di luar negeri akan menyadari betapa sulitnya bagi AKA untuk tetap melakukan apa yang telah mereka lakukan. Mereka punya sound dan penampilan yang sangat unik dan bahkan sampai saat ini peninggalan terbesar mereka adalah terhadap skena musik rock ketimbang kepada masyarakat umum.

Saya pikir sampai pada taraf tertentu orang di luar Indonesia akan mulai mengeksplorasi lebih jauh tentang skena musik Indonesia di karenakan oleh AKA. Salah satu reaksi terbesar yang saya peroleh untuk album TSSD adalah tentang AKA, tentang bagaimana kuatnya sound mereka. Tanggapan terhadap kopi promosional CD AKA juga sangat luar biasa. Orang-orang yang belum pernah mendengar AKA sebelumnya bilang bahwa mereka begitu tercengang dan kagum dengan apa yang mereka dengar di CD yang saya berikan.

 

Saya dengar kalau album favorit anda adalah Ariesta Bhirawa Vol. 1, yang saya setuju sangat berwarna Asia Tenggara. Apakah AKA memiliki kualitas yang sama dan bagaimana pendapat anda terhadap Ucok Harahap?

Bohong kalau saya bilang kalau saya tertarik dengan mereka karena lagu-lagu balada mereka. Saya penggemar berat musik Indonesia dan saya sudah mengkoleksi musik mulai dari Gamelan, Pop, Qasidah sampai musik Jawa. Saya bisa mengatakan bahwa album favorit saya sama sekali tidak dipengaruhi oleh musik Barat. Saya cinta Ariesta Birawa, namun sulit untuk memilih satu album yang paling saya sukai. Tentang AKA, lagu-lagu rock adalah kekuatan terbaik mereka di mana mereka bisa paling baik melakukannya. Saya mengerti kalau orang-orang menganggapnya sebagai “lagu-lagu berbahasa Inggris,” namun terus terang yang penting adalah musiknya. Bahkan jika lagu-lagu balada mereka ditulis dalam bahasa Inggris dan lagu-lagu rock keras mereka dalam bahasa Indonesia, kompilasi AKA tetap adalah yang berbahasa Indonesia. Saya tidak terlalu menggemari lagu-lagu balada AKA, meski saya harus akui bahwa kalau saja saya punya banyak waktu untuk Hard Beat saya ingin memasukkan beberapa Qasidah maupun beberapa balada dari album Reflection.

 

Bagaimana dengan upaya AKA untuk lebih “menjual” dengan lagu semacam "Badai Bulan Desember"?

Saya tidak tinggal di Indonesia pada dekade 1970-an, namun saya bisa mengerti bahwa siapapun harus bermain sesuai aturan waktu itu atau ditendang keluar. Dengan kata lain, jika AKA tidak mencoba membuat musik pop, CD Hard Beat tidak mungkin ada di tangan anda. Mereka hanya menggunakan lagu pop mendayu-dayu mereka untuk menunjukkan kepada dunia betapa baik sebenarnya mereka bisa memainkan musik rock.

 

Apakah masalah terbesar yang di hadapi dalam proyek AKA ini?

Sampai saat ini masalah terbesar yang saya hadapi untuk band-band Indonesia secara umum adalah fakta bahwa master tape sudah lama hilang, atau paling tidak itu yang selalu dikatakan kepada saya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah duduk dan menunggu sampai copy yang sangat bersih muncul. Saya mulai membeli LP AKA 12 tahun lalu seharga 20 ribu rupiah. Beberapa bersih dan yang lain tidak. Butuh waktu untuk bisa menemukan kopi tanpa suara baret dan kemresek. Jika saya ingin membayar sebuah band dan menyempatkan waktu untuk sebuah re-issue, saya ingin suara yang lebih baik dari aslinya sebagai wujud rasa hormat saya pada band tersebut. Saya sebanarnya me-remaster Shark Move dengan Eothen “Egon” Alapatt di Now-Again untuk Benny Soebardja sebagai hadiah. Kami melakukannya sebagai fans.

Tentu saja kami tidak bisa merilisnya karena Shadoks telah merilisnya, namun Benny bilang kalau Shark Move tidak pernah sebagus itu secara sound. “My Life” sekarang terdengar luar biasa. Sangat tidak adil untuk band-nya jika kami menggunakan bahan yang murah atau audio yang jelek hanya untuk dapat mendapat tambahan sedikit keuntungan. Ini bukan alasan saya melakukannya, ini akan menghina band yang dimaksud.

Saya sendiri seorang musisi, saya tahu rasanya jika orang lain merusak musik saya. Saya juga menemukan bahwa ada orang di Eropa yang merencanakan untuk membajak musik AKA dengan bootleg, namun saya berhasil menghentikannya. Sangat menyenangkan untuk tahu bahwa saya bisa membuat kontrak yang memungkinkan AKA dibayar untuk musik mereka, dibandingkan jika musik mereka hanya dibajak oleh orang lain.

 

Perlakuan seperti apa yang anda berikan, dalam hal kualitas suara, apakah anda menggunakan master tape atau pressing pertama dari LP? Dari mana anda dapatkan?

Saya sudah lama sekali membeli musik dari Indonesia, saya bahkan tidak tahu lagi berapa banyak yang telah saya beli. Saya harus menunggu bertahun-tahun sampai bisa mendapatkan beberapa LP AKA yang tersisa yang dalam keadaan bersih dari seorang kolektor di Indonesia. Saya hanya melakukan transfer musik dari LP tersebut dengan peralatan kualitas tinggi. Saya tidak ingin kehilangan sedikitpun dalam proses transfer dan restorasi itu.

Adalah orang-orang dari Atlantic dan Virgin Records yang saya kenal langsung, yang saya kontrak untuk melakukan restorasi musik AKA. Kami tidak menggunakan plugs-in, kami menghapus suara kemresek itu dengan tangan. Kami menggunakan outboard gear untuk menghilangkan noise, dan tidak pernah menggunakan software computer. Kami butuh waktu lama memang tapi hasil akhirnya bisa dibanggakan. Versi LP dari Hard Beat yang kita rilis hampir sama dengan suara asli LP AKA, hanya tanpa suara kemresek saja.

 

Track di album ini semua nampak lagu-lagu keras saja, kenapa?

Ini hanya masalah selera pelanggan musik saya. Mayoritas musik yang saya rilis adalah progresif, psikedelik, atau folk rock.  Pada kondisi ideal, mungkin saya akan merilis sesuatu yang terdengar sangat Asia Tenggara di masa depan, namun untuk menarik perhatian semua orang, saya perlu menunjukkan musik dari Indonesia yang nyambung dengan mereka. Setelah saya berhasil membuka telinga mereka, mereka akan lebih mudah mendengar musik lain dari Indonesia. Saya perlu menarik perhatian orang dengan lagu-lagu keras sebelum saya bisa membawa balada yang kebanyakan tidak mereka mengerti.

Di liner notes TSSD disebutkan bahwa anda telah lama memperhatikan musik-musik dari Asia Tengara (termasuk Indonesia). Mengapa Asia Tenggara? Mungkin ada pengalaman pribadi?

Saya telah mengumpulkan musik Indonesia selama bertahun-tahun demikian juga dengan musik dari Iran, Zambia, Korea, Eropa, Kanada dan belahan dunia yang lain.  Saya pikir dunia menawarkan begitu banyak perbedaan budaya dan musik bisa membantu orang untuk saling belajar tanpa memberikan batasan-batasan. Saya selalu tertarik dengan budaya, termasuk budaya saya sendiri. Saya lebih banyak belajar tentang Indonesia selama bertahun-tahun dengan berbicara dengan sesama kolektor, fans dan mendengarkan musik dibandingkan dengan belajar dari buku atau sekolah.

 

Tentang kompilasi TSSD mengapa yang masuk adalah "Hear Me" dan bukan "Hilang" dari Golden Wing, "Dunia Yang Lain" dan bukan Si Ompong by Ariesta Bhirawa?

Saya pribadi sebenarnya ingin “Hilang” yang masuk, “Dunia Yang Lain” saya pilih juga karena ini sangat unik dibandingkan lagu lain di kompilasi tersebut. Saya menyediakan lagu buat Now-Again untuk dipilih dalam kompilasi ini. Saya bisa menyarankan lagu-lagu mana saja yang bisa masuk, namun Egon-lah yang pada akhirnya memutuskan. Saya sempat berfikir bahwa sebuah lagu dari Gembells akan masuk, namun mengingat karena mereka kadang memiliki sound yang hampir sama dengan Ariesta Birawa, saya ingin mencoba tidak memilih lagu Ariesta yang memiliki warna Santana atau pop sound. Kami pada akhirnya tidak memasukkan Gembells, jadi pada akhirnya saya juga yang kalah.

Sebenarnya saya juga ingin memasukkan lagu SAS. Kita sudah mendapat lisensi untuk lagu SAS, judulnya “Space Ride”, namun pada menit-menit terakhir kami memasukkan “Shake Me”. Ini terjadi karena kami harus membatalkan sebuah lagu lain yang tidak bisa kami dapatkan lisensinya, demikian pula sebuah lagu dari sebuah band yang harus kami batalkan karena master-nya kurang bersih. Namun tidak sengaja ini malah membuat kompilasi ini menjadi sedikir funky dan kami akhirnya memilih “Hear Me”dibanding “Hilang” untuk semakin mendorong aspek funk dari TSSD. Hilang adalah track favorit saya dari album Best of Golden Wing, terutama juga karena saya adalah penyuka musik rock sejati.

 

Di liner notes TSSD juga disebutkan bahwa Egon mengetahui semua lagu-lagu itu dari anda. Jadi saya pikir andalah yang bertanggung jawab untuk semua lagu itu, apakah benar?

Tanggung jawab saya adalah menawarkan banyak lagu untuk dipilih dan membantu dia untuk mengetahui tentang beberapa band. Namun sayang sekali, band-band seperti De Hands, Fantastique Group, Gembells, Mercy's, Benyamin S. dan lain-lain tidak bisa masuk. Saya yakin orang-orang akan lebih terkejut dengan band-band yang sempat kami calonkan untuk masuk.

Ada beberapa yang terkenal namun sebagian lain sangat langka. Beberapa kami tidak bisa temukan lagi personel-nya, beberapa lagi yang lain kami rasa tidak cocok dengan sound dari kompilasi pada saat itu. Saya pikir ini adalah penghargaan terhadap begitu banyaknya band dari Indonesia termasuk juga sampai saat ini. Saya sangat ingin sebuah lagu dari Dara Puspita misalnya bisa masuk kompilasi, atau bahkan kelompok Singers. Namun Sublime Frequencies telah melakukan pekerjaan yang sangat baik untuk Dara Puspita, jadi saya pikir tidak perlu untuk melangkahi apa yang Sublime lakukan. Lebih baik kami memberi kesempatan kepada band lain untuk lebih dikenal.

 

Untuk proyek selanjutnya, kenapa Superkid?

Saya belum yakin dengan rilis selanjutnya dari Indonesia. Tergantung juga band-band mana yang mau bekerja sama dengan saya. Saya sama sekali belum berbicara dengan Superkid tentang proyek reissue apapun.

 

Tulisan lama di Jakartabeat.net (Desember 2009) bisa dibaca ulang disini

Last modified on: 6 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni