(2 votes)
(2 votes)
Read 2702 times | Diposting pada

Hiburan Menurut Bin

 

Kami termasuk yang paling bahagia ketika musisi independen Jakarta Harlan Bin memutuskan untuk kembali menulis musik dan kini akan segera merilisnya. Bin adalah salah seorang kontributor paling rajin di website ini dan sangat memberi warna yang paling kental di penerbitan ini. Tulisan-tulisannya selalu ditunggu oleh pembaca. Kini kita semua sedang sedang menunggu karyanya yang lain, sebuah album musik yang meskipun diberi judul “Hiburan” jauh dari kesan main-main.

Setelah bercanda pendek di SMS tentang vokal bariton Bin di “Kanan-Kiri” yang mirip dengan Ariel Peterpan, redaksi Jakartabeat mengirim pertanyaan melalui surat elektronik —mengingat kesibukan masing-masing di Jakarta yang semakin pekat oleh macet— dan kurang dari dua jam kemudian jawaban panjang ini sudah terkirim.

Bung, album ini judulnya Hiburan, anda sepertinya tidak terlalu sreg dengan konsep musik dan hal-hal yang serius ketika dihubungkan dengan musik. Betulkah begitu?

Ini sangat menarik. Sebetulnya ketika mulai menulis lagu untuk album ini sekitar setahun lalu, tiga lagu awal yang saya bikin justru bertema “sangat serius”. Satu lagu tentang cerita letih bekerja di Jakarta karena jalanan yang selalu macet dan pekerjaannya yang tidak menyenangkan, bahkan secara penghasilan. Kerjanya tidak enak, tidak bisa berkontribusi maksimal tapi juga tidak bisa santai, sementara gajinya juga tidak besar. Riset sederhana saya menunjukkan itu dominan terjadi.

Dua lagu lainnya tentang industri musik. Saya membuat lagu tentang distribusi RBT yang menurut saya tidak beres, tentang tiga puluh detik yang sembarangan disusupkan dan gagapnya sebagian orang melakukan “unreg”. Juga tentang strategi membuat lagu yang dicocokkan dengan medium RBT yang membuat penulisan lagu jadi ketebak yang terlalu mengada-ngada. Seperti penulis jingle iklan dengan target market orang pacaran atau update status yang disediakan, tapi judulnya musisi rekaman single. RBT gagal difungsikan sebagai merchandise karena band-band label besar tersebut mayoritas memang tidak bisa dihargai, sehingga saya dan publik malas membeli merchandise-nya. Sebagai sarana update status, kompetitor mereka, yaitu Facebook, telah menyebar dan harganya jauh lebih murah.

Satu lagi tentang media massa sebagai mitra kental label besar, sehingga apa pun produk hiburan yang dipromosikan terasa mengada-ngada karena label besar terus saja memproduksi lagu-lagu yang tidak terlalu komunikatif, tidak relevan— setidaknya yang saya tahu bagi anak-anak muda di Jakarta, tempat saya tinggal. Sedahsyat apa pun promosi mereka, mayoritas band-band itu tak juga manggung di sekolah-sekolah dan kampus-kampus di Jakarta dan sekitarnya. Kecuali umumnya hanya bila terjadi kerjasama sponsorship dengan paket pengisi acara, misalnya.

Lagu-lagu awal tersebut saya pilih untuk tidak saya masukkan ke album karena alasan artistik, saya belum merasa sreg dengan beberapa bagian musik dan lirik. Untuk lagu tentang RBT, saya pikir sudah tak perlu dirilis sejak publik sudah mempertanyakannya secara terbuka di dunia maya.

Saya pikir saya serius dengan musik, termasuk untuk musik-musik saya yang tidak serius. Suatu hari di awal 2000-an saya mengobrol dengan oomleo. Istilah oomleo waktu itu adalah, seperti bermain di Dufan. Kita tidak mempertanyakan pesan moralnya bermain di Dufan, tapi pengalaman itu sangat tersendiri, tak pernah bisa dirasakan sebelumnya. Bagi saya, itu tentu bisa menginspirasi. Waktu saya menulis lirik “Detektif Flamboyan” di C’mon Lennon, misalnya; berpadu dengan musiknya, itu saya menyebutnya sebagai “lagu Dufan”.

Hal lain adalah, saya menyukai narasi-narasi kecil, kisah-kisah personal. Mungkin karena itu jadi bisa terasa kurang serius ketika dihubungkan dengan musik. Dan itu juga sesimpel bahwa saya biasanya lebih puas dengan hasil karya saya yang pendekatannya seperti itu. Saya misalnya pernah menulis lagu tentang Thukul, tapi gagal menyelesaikannya. Saya bisa merasakan apa yang ingin saya katakan, namun sulit untuk percaya diri dengan karya saya sendiri, banyak pilihan dan pertimbangan yang justru tidak berhasil saya pilih. Berbeda dengan lagu tentang Chairil (Anwar) yang pernah saya tulis dengan puas di tahun 2000 kalau tidak salah, karena saya melihat gaya hidup bohemiannya yang hidup bersama karya-karyanya. Saya memilih untuk membuat lagu-lagu yang saya puas dengan hasilnya. Biasanya, itu pada lagu-lagu keseharian yang sederhana. Itu saja sebenarnya. 

Kenapa nama albumnya "Hiburan"? Saya pikir hiburan yang terlalu dicari-cari itu menunjukkan kegelapan. Bagi saya, hiburan seharusnya sangat dekat dengan kita. Dan kita menghayatinya dengan senang.  Hiburan punya citra yang dekat dengan penanggulangan stress. Saya pikir, kenapa kita tidak usah stres saja karena setiap saat kita bersama hiburan, sehingga kita tak perlu cari-cari hiburan lagi? Sementara yang suka terjadi malah ironi: kita sedih karena produk-produk yang disebut sebagai hiburan. Kita sedih pada akting pemain sinetron yang begitu buruk, yang mereka namakan itu sebagai hiburan.

Sesungguhnya, saya sudah semakin bingung untuk menjawab pertanyaan ini he he he Tapi, intinya, semua orang saya pikir senang bila merasa tenang, riang, tentram. Itu adalah hiburan.

C'mon Lennon akan dirilis vinyl, anda mengeluarkan solo album, apakah tahun 2012 menjadi tahun kembalinya Harlan Bin? apakah ini direncanakan?

Yang saya rencanakan adalah pada 2012 saya akan rilis album solo. Tentang rilis vinyl C’mon Lennon, itu tiba-tiba Ricky (Virgana) menawarkannya kepada kami, kebetulan waktunya berdekatan. 

Kami sudah dengar Kanan Kiri dan sangat folk, laid-back meski tidak lo-fi, Saya belum dengar semua isi album, tapi seperti apa warna dan nuansa dari "Hiburan" secara keseluruhan?

Album "Hiburan" saya kerjakan dengan siasat kondisi saya hari ini. Saya sulit menemukan partner bermusik pada hari ini. Semuanya sudah berubah. Jadi, secara keseluruhan, lagu-lagu ini melibatkan instrumen gitar akustik (karena alat musik itu yang paling dekat dengan saya), tanpa bas, tanpa drum. Dan saya melakukan variasi-variasi pop dari itu —termasuk melibatkan penyanyi perempuan, biola, terompet, dan sedikit lapisan vokal— karena biasanya saya lebih menyukai album yang repertoire-nya tak terlalu mirip satu lagu dengan lagu lainnya, tapi terasa cocok berada di satu album.

Album ini akan dirilis ketika anda malah sudah memiliki day-job yang jauh dari musik dan tidak terjadi ketika masih sibuk di scene. Berarti benar tuduhan kami bahwa bermusik memang sebaiknya jangan diserahkan kepada mereka yang hanya hidup dari musik? Setuju atau tidak setuju?

Album ini mulai saya tekuni sejak band yang saya manajeri waktu itu, Efek Rumah Kaca, sempat memutuskan untuk vakum dari panggung untuk menunggu perkembangan kesehatan Adrian. Waktu, yang saya pikirkan sangat primitif: ya, saya bikin rekaman musik aja, karena itu yang saya bisa. Ketika ternyata ERK tidak jadi vakum, saya sudah tidak bisa membagi fokus antara urusan sebagai manajer dengan memproduksi album rekaman musik saya. Saya memilih untuk mundur dari ERK. Masalahnya ada di fokus sebetulnya. Buat saya, repot untuk memikirkan banyak hal.  Lalu, di saat pembuatan album, saya ngantor. Ya, saya teruskan buat lagu dan rekaman saja sambil ngantor. Bahkan ada dua lagu yang saya tulis di kantor.

Tentang bermusik sebaiknya jangan diserahkan kepada mereka yang hanya hidup di musik, saya pikir relevansinya ada pada beban karya pada materi. Musisi tidak perlu panik dengan komersialitas karyanya, karena dia punya penghasilan di tempat lain. Tapi, bagi saya, itu utamanya ada di mental. Punya pekerjaan di luar musik memang instrumen pendukung, tapi sikap dan mental juga yang menentukan.    

Bagaimana jajan vinyl dan kebangkitan musik Indonesia lama mempengaruhi karya anda?

Yang paling jelas, ya, di lagu “Jajan Rock”. Lagu itu saya buat tepat setelah membuat CV yang saya buat karena salah satunya ingin punya duit lebih untuk bisa terus beli vinyl. Tentang kebangkitan lagu Indonesia lama, saya pikir tidak terlalu berpengaruh, karena sejak kecil saya menghidupi lagu-lagu Indonesia lama. Yang berbeda hanya pilihannya. Dulu saya cuma tahu sedikit, sekarang tambah banyak. Tapi bahwa lagu-lagu Indonesia lama mempengaruhi gaya penulisan lagu saya, itu sudah terjadi mungkin sejak pertama kali menulis lagu waktu SMP dulu.

Target apa yang hendak dicapai untuk album ini? Apakah hanya untuk komunitas atau mau menyasar yang lebih luas, misalnya tur ke kota-kota di jawa, banyak yang menunggu anda di Malang atau Yogya!

Target album ini adalah untuk semua orang yang menyukai lagu-lagu saya. Saya tidak tahu berapa jumlahnya, dan berapa jumlah peningkatannya nanti. Yang jelas saya tidak ngotot bahwa jumlahnya harus besar. Sampai sekarang, saya terbiasa dengan proses pertumbuhan audiens. Kalau ada katakanlah misalnya 100 orang yang suka, saya sudah senang. Saya yakin itu pelan –pelan bisa bertambah menjadi 110 orang, kalau tidak bertambah pun tak apa. Saya tidak risau dengan modal dan segala macam, yang penting saya tahu takaran duit dan waktu yang saya keluarkan untuk hobi membuat rekaman musik ini tidak sampai menyulitkan keadaan saya sehari-hari. Saya selalu suka dengan cara-cara berpikir amatir ketimbang profesional dalam musik, bahkan ketika saya sebagai manajer band. Hiburan selalu di atas segalanya, sisanya hanya penyesuaian yang diperlukan tanpa harus berlebihan.

Last modified on: 9 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni