(4 votes)
(4 votes)
Read 4660 times | Diposting pada

Gioia Guerzoni: Menerjemahkan Bangsa, Menyambut Pameran Buku Frankfurt 2015

Gioia Guerzoni: Menerjemahkan Bangsa, Menyambut Pameran Buku Frankfurt 2015 Kredit Foto: www.festivaletteratura.it

 

Gioia Guerzoni mengabdikan hidupnya bagi dunia penerjemahan. Dia salah satu dari segelintir orang yang ikut memperkenalkan karya-karya sastra Asia kepada khalayak pembaca Eropa melalui berbagai terjemahannya.

Hingga kini Guerzoni telah membantu penerjemahan berbagai judul buku, baik dari penulis-penulis Eropa yang sudah mahsyur namanya di dunia sastra internasional maupun dari penulis-penulis Asia yang masih bisa disebut baru, terutama dari India. Kita mengenal nama-nama besar seperti veteran Man Booker Prize asal Irlandia, Colm Tóibín; juga Ben Marcus, Teju Cole, Paula Fox, Jonathan Lethem, Siri Hustvedt, dan Cynan Jones. Kita juga mengenal penulis-penulis India yang karyanya diterjemahkan oleh Guerzoni: Lavanya Sankaran, Altaf Tyrewala, Tishani Doshi, Manjushree Thapa, Kiran Nagakar, dan Amruta Patil.

Kariernya dimulai dengan menerjemahkan buku-buku nonfiksi untuk mengasah keterampilan, kemudian perlahan beranjak ke buku-buku fiksi Eropa dan Amerika, lalu merambah ke Asia.

Dia semakin sering meninggalkan kampung halamannya di Milan, Italia, untuk menjelajahi India dengan berbekal komputer jinjing. Selain menulis bagi majalah-majalah Italia dan India mengenai sastra Asia Tenggara, dia juga telah menyunting dan menerjemahkan sebuah bunga rampai karya fiksi dan nonfiksi dari penulis-penulis India baru yang telah disebutkan di atas. Bunga rampai tersebut diterbitkan di tahun 2008 dan dicetak ulang di tahun 2013.

Kini Guerzoni berfokus ke proyek-proyeknya dalam bidang sastra Asia Tenggara. Dia bekerja sebagai konsultan bagi penerbit Italia, Il Saggiatore, dan menjadi pencari bakat sastra untuk kawasan Asia Tenggara dan Pasifik bagi Pontas International Literary Agency yang berbasis di Barcelona, juga bekerja bagi Asia Literary Review. Dia ditunjuk sebagai Ketua Komite Penerjemah bagi Penulis dan Penerjemah Asia Pasifik. Hal ini acap kali mendorongnya bekerjasama dengan festival-festival sastra, di mana dia bertugas menentukan susunan peserta dan mengerjakan proyek kolaboratif berbasis media sosial.

Kedatangannya ke Indonesia kali ini disertai sebuah misi. Diundang oleh Yayasan Lontar dan Goethe Institut, Guerzoni menjadi narasumber utama dalam lokakarya khusus bagi penulis fiksi—terutama mereka yang telah menerbitkanpaling tidak satu buku oleh penerbit komersil—sebagai salah satu usaha mempersiapkan Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015 (Pameran Buku Frankfurt 2015) yang akan datang. Lokakarya dengan tema besar “Pengarang Indonesia dalam Panggung Dunia” diadakan selama satu hari pada 12 Desember 2013 dan dihadiri 30 orang penulis. Tak ayal, peran Guerzoni sebagai penerjemah Eropa erat kaitannya dengan kesiapan Indonesia berpartisipasi di festival buku tahunan terbesar dan paling prestisius di dunia tersebut.

Cukup sederhana, untuk dapat tampil di pasar buku global, Indonesia harus diterjemahkan.

Saya sendiri tidak hadir pada lokakarya tersebut tetapi mendapat kesempatan bertatap muka dengan Gioia Guerzoni esoknya di mall besar bilangan Sudirman, Jakarta (nantinya, Guerzoni akan mengeluh mengenai mall dengan caranya yang jenaka, dan saya tidak bisa tidak setuju). Saya menemuinya sedang asyik dengan smartphone di suatu sudut kedai kopi ala Amerika.

Tak sulit menemukannya di antara begitu banyak orang meski sosoknya tergolong kurus dan tidak begitu tinggi selayaknya orang Italia pada umumnya. Ia adalah seorang pencerita yang baik, modal yang saya rasa penting bagi seorang penerjemah untuk dapat memahami pola pikir para penulis fiksi. Saya seketika bisa membayangkan Guerzoni memukau ketiga puluh penulis yang hadir di lokakarya dengan cerita-ceritanya.

Guerzoni mengusulkan untuk pindah tempat saat kami hendak memulai wawancara, karena “Saya rasanya ingin makanan khas Indonesia, apakah ada restoran Indonesia yang bagus di sekitar sini? Saya tak kepingin makan siang dengan menyantap roti lapis Amerika”. Itulah kira-kira yang dikatakannya.

Jadi saya pun menggiringnya ke sebuah restoran khas Sunda di dekat kedai kopi tadi. Kami mendapat tempat duduk strategis di sebelah jendela yang menyuplai paduan hamparan langit mendung dan pemandangan kota Jakarta sehari-hari. Guerzoni mengomentari kepadatan jalan-jalan Jakarta dan gedung-gedung kaca dengan bersemangat, tetapi memusatkan perhatian pada langitnya untuk diabadikan dengan smartphone dan diunggah ke akun Instagram-nya. “Indah sekali, bukan?” serunya kemudian. “Langit Asia sangat indah, tak ada bandingannya.”

Saya akui, sulit juga berkonsentrasi dengan wawancara ketika bersama dengan Guerzoni. Dia adalah pribadi yang sangat menarik dan senang mengobrol, dia berhasil menyeret saya ke dalam arus cerita-ceritanya. Namun, setelah makan siang kami siap, kami pun memutuskan untuk segera memulai wawancara.

SAYA: Mari kita mulai dengan membicarakan pekerjaan Anda sebagai penerjemah. Bagaimana mulanya Anda bisa menjadi penerjemah? Apakah Italia tempat yang baik bagi penerjemah untuk berkembang?

GUERZONI: Ya. Italia banyak menerjemahkan. Kini karena resesi memang agak lebih sedikit, tapi tetap saja Eropa masih menjadi kawasan yang paling banyak menerjemahkan buku. Kami juga memiliki studi khusus terjemahan yang sangat baik. Eropa merupakan tempat yang baik untuk bekerja. Meskipun di Italia—seperti halnya negara-negara lain di Eropa—bayaran untuk penerjemah tidaklah begitu memuaskan.

Setelah lulus dari studi penerjemahan, saya mulai dengan karya-karya nonfiksi. Kalau tak salah saya mulai mengerjakan karya fiksi sejak usia saya 25 tahun, jadi saya sudah berkecimpung dalam penerjemahan fiksi selama setidaknya 20 tahun. Sekarang saya sedang mengerjakan buku Iris Murdoch... saya juga pernah mengerjakan Teju Cole—saya telah mengerjakan penerjemahan selama bertahun-tahun. Jadi bagi saya ini pekerjaan yang bagus—uangnya memang tidak banyak, tapi saya jadi punya kebebasan tersendiri.

SAYA: Sebagai pencari bakat sastra, bagaimana cara Anda memilih negara tujuan?

GUERZONI: Saya menerjemahkan dari bahasa Inggris... Dulu itu, awalnya saya mulai bepergian ke India murni karena tertarik saja. Saat itu usia saya 18 tahun. Biar saya beritahu, ketika kita telah belajar untuk bepergian di India, negara-negara Asia lainnya jadi terasa relatif mudah, dan itu benar. Saat saya pergi untuk pertama kalinya itu, saya mulai membawa pulang buku-buku dari sana.

SAYA: Apa yang membuat Anda tertarik menerjemahkan karya-karya sastra India dan kini Indonesia?

GUERZONI: Di India ada sangat banyak bahasa, tapi kebanyakan orang bicara dalam bahasa Inggris dan banyak juga yang bisa menulis dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris merupakan bahasa penjembatan, misalnya jika kamu berasal dari keluarga dengan ayah berbahasa Gujarati dan ibu berbahasa Marathi, kamu akan memerlukan bahasa Inggris. Di India, jika kamu menulis dalam bahasa Inggris pun kamu akan tetap menjadi seorang penulis India.

Kemudian tiga tahun yang lalu, saya pikir India sedang booming. Di dunia penerbitan jadi muncul lebih banyak kompetisi. Lalu saya pikir, Asia Tenggara jadi lebih menarik karena belum begitu banyak orang yang tertarik tapi ada banyak masalah penerjemahan. Jadi saya pun mulai bertualang ke daerah-daerah lain di Asia. Saya pergi menyambangi festival-festival, saya bertemu dengan banyak penerbit. Sebagian perjalanan saya disponsori dan sebagian lagi tidak, tergantung situasi, yang berubah-ubah setiap tahunnya. Misalnya tahun ini, perjalanan saya disponsori oleh Festival Karachi, Pakistan, dan Goethe Institut, tahun lalu sponsornya adalah penerbit Italia. Tahun lalu saya pergi ke Singapura, Hongkong, dan Thailand. Thailand, misalnya, bukan negara yang sangat besar, tapi ada cukup banyak masalah penerjemahan. Memang ada penerjemah ke dalam bahasa Inggris, tapi jumlahnya sangat sedikit. Ada satu orang seperti John McGlynn di sini, yang menerjemahkan dari bahasa Thai ke bahasa Prancis dan Inggris, tapi selain dia, tak banyak lagi. Tidak ada lokakarya mengenai penerjemahan atau semacamnya, jadi kesadaran di sana akan hal ini luar biasa kecil.

Seperti yang tadi saya sempat katakan, di India, jika kamu menulis dalam bahasa Inggris pun kamu akan tetap menjadi seorang penulis India. Sedangkan di Indonesia sebaliknya, jika kamu menulis dalam bahasa Inggris entah bagaimana kamu akan jadi seorang ‘penulis Inggris’. Jadi memang rumit. Mengenai Indonesia, saya sedang banyak membaca dan belajar, saya sedang mencoba memahami bagaimana prosesnya di sini.

SAYA: Ada berapa banyak bahasa yang Anda kuasai?

GUERZONI: Saya menguasai bahasa Inggris dan Prancis. Saya terutama menerjemahkan dari bahasa Inggris.

SAYA: Bagaimana dengan bahasa Indonesia? Anda tertarik untuk belajar?

GUERZONI: Tidak, karena tidak ada waktu. Mungkin nanti ketika saya sudah pensiun.

SAYA: Adakah penulis tertentu yang Anda kagumi, yang karyanya sudah Anda terjemahkan?

GUERZONI: Saya menyukai Iris Murdoch, ia klasik. Saya mengagumi Teju Cole, Open City. Saya bekerja dengan penulis-penulis hebat dan saya berteman dengan mereka semua. Penulis-penulis India. Saya menerjemahkan Kiran Nagakar dan lainnya. Penulis-penulis India di buku bunga rampai saya semuanya bagus-bagus dan semuanya teman baik.

SAYA: Adakah penulis yang karyanya Anda ingin terjemahkan di masa yang akan datang?

GUERZONI: Saya ingin mengerjakan karya Tash Aw, Five Star Billionaires, tapi ia belum mendapat penerbit di Italia.

SAYA: Bagaimana cara Anda bekerja dengan penerbit dan penulis?

GUERZONI: Pada dasarnya saya bertindak sebagai penghubung antara penulis dan penerbit, atau antara penulis dan agen. Saya menulis laporan untuk agensi dan mempromosikan penulis. Saya menyertakan sinopsis, biografi, dan keterangan mengenai mengapa sebuah karya harus diterjemahkan, entah ke dalam bahasa Italia, Prancis, atau Spanyol. Hal-hal itu sangat penting. Juga bagi si penulis sendiri, adalah penting untuk mengetahui mengapa karya mereka pantas diterjemahkan.

SAYA: Bagaimana naskah yang berkualitas itu menurut Anda?

GUERZONI: Dari sudut pandang seorang penerjemah, saya menginginkan penulisan yang fantastis. Yang berkembang. Teknik penulisan itu benar-benar penting.

SAYA: Anda telah bertemu beberapa penulis Indonesia selama kunjungan Anda di sini, misalnya Leila Chudori dan Laksmi Pamuntjak, yang sama-sama menulis tentang pembantaian massal yang terjadi di Indonesia di tahun enam puluhan. Bagaimana pandangan Anda tentang karya mereka dan topik yang mereka angkat?

GUERZONI: Saya baru membaca sedikit—untuk buku Laksmi, kalau tak salah saya baru membaca sekitar lima puluhan halaman. Ia mengangkat tema horor yang terjadi belum terlalu lama berselang, cukup dekat malah, dan bukunya ditulis dengan sangat indah. Buku-bukunya membuat orang menjadi tahu soal kisah-kisah seperti itu—dan orang memang harus tahu. Khususnya di Eropa, tak banyak yang tahu apa yang terjadi di Indonesia pada tahun-tahun itu. Menurut saya, buku-buku seperti karya Laksmi harus dibaca oleh semua orang, dan tak hanya di sini saja.

SAYA: Bagaimana cara Anda memilih naskah untuk diterjemahkan?

GUERZONI: Ada dua cara: saya menerima naskah-naskah yang diusulkan oleh penerbit untuk diterjemahkan, atau penerbit mengusulkan naskah-naskah kepada saya untuk diterjemahkan.

SAYA: Bagaimana cara Anda menerjemahkan naskah-naskah tersebut?

GUERZONI: Saya tak pernah membaca buku yang nantinya akan saya terjemahkan. Saya tidak mau membacanya sebelum mulai bekerja, karena nantinya saya akan terus bersama buku itu selama setidaknya empat bulan—untuk sekitar 300 halaman, kira-kira saya membutuhkan sedikitnya empat bulan. Saya menyiapkan draf dan membacanya berkali-kali sebelum diserahkan ke penerbit. Penerjemah dibayar per halaman dan kami tidak mendapat royalti, tapi tetap saja, kami banyak menerjemahkan.

SAYA: Dalam menerjemahkan, apakah Anda berusaha menjaga originalitas karya yang Anda kerjakan?

GUERZONI: Wah, saya bisa membicarakan soal ini selama berjam-jam! Ini poin utama dalam penerjemahan. Dalam menerjemahkan, ada kendala untuk menjadi “tidak setia” demi menjadi “indah”. Menerjemahkan adalah seni kehilangan. Kita kehilangan sesuatu. Namun, pada saat yang bersamaan, kita juga memberikan sesuatu sebagai gantinya. Bagi orang-orang seperti John McGlynn yang sudah melakukan ini selama bertahun-tahun, kita tahu bagaimana menciptakan penyeimbang bagi hal-hal yang hilang tersebut. Ada seorang penulis Sisilia yang pernah berpendapat: kritikus adalah badan karya, penulis adalah ayah dari teks, dan penerjemah adalah kekasihnya.

SAYA: Bagaimana pendapat Anda tentang John McGlynn dan Yayasan Lontar?

GUERZONI: John McGlynn adalah orang yang sangat menarik. Ia telah bekerja bertahun-tahun menerjemahkan karya-karya penulis Indonesia, jadi ia memiliki peranan kunci. Pengalamannya luar biasa. Ia tahu segala detail mengenai dunia penerbitan, ia pun seorang penerjemah yang menakjubkan. Tak ada orang lain di Indonesia yang memiliki pengalaman 30 tahun sepertinya. Goethe Institut juga telah melakukan pekerjaan fantastis, mereka mensponsori lokakarya yang kita adakan kemarin. Kita harus benar-benar berterimakasih kepada mereka. Lontar—mereka mengorganisir segalanya. Jadi menurut saya, dalam rangka Pameran Buku Frankfurt ini, Goethe Institut dan Yayasan Lontar memegang peran kunci, bahkan lebih dari para penerbit.

SAYA: Menurut pengalaman Anda, bagaimanakah Pameran Buku Frankfurt?

GUERZONI: Saya belum pernah mengikuti Pameran Buku Frankfurt. Saya berencana pergi tahun 2014. Pameran Buku Frankfurt sangatlah komersial, acara penerbitan terbesar di dunia. Ada banyak penulis dan penerbit. Teman-teman editor saya mengatakan, bahkan sejak Februari, mereka mulai membuat janji temu dengan para penerbit dan para agen. Bagi mereka festival itu merupakan empat hari yang sangat intens, mereka bekerja seperti orang gila. Namun yang menarik adalah, kesepakatan terbesar dibuat sebelumnya, bukan saat atau setelahnya. Saat festival, hal-hal itu sesungguhnya telah selesai.

SAYA: Indonesia akan menjadi Tamu Kehormatan di Pameran Buku Frankfurt 2015. Menurut Anda, apa yang harus kami persiapkan?

GUERZONI: Terjemahan, terjemahan, terjemahan! Dua tahun tampaknya lama, tapi sungguh, itu sama sekali tidak lama dalam hal penerjemahan, karena ada begitu banyak karya! Kamu membutuhkan terjemahan yang benar-benar bagus. Jadi di sanalah Goethe dan Lontar akan berperan, mereka akan membantu dalam proses seleksi. Mereka akan mencari peneliti dan penerjemah yang benar-benar bagus untuk mengerjakan semua ini. Saya rasa John McGlynn harus ditunjuk secara resmi sebagai konsultan dan dibayar sepantasnya. Pemerintah harus membantu. Untuk hal sepenting ini, kita harus menyalurkan dana kepada orang yang benar-benar tepat. John mengenal penerbit-penerbit besar di Amerika, kalian harus mendengarkan pendapatnya.

SAYA: Menurut Anda, adakah kesulitan dalam menemukan naskah yang berkualitas dari Indonesia?

GUERZONI: Sekali lagi, menurut saya John lah yang paling tahu. Ia menjalin kontak dengan para penulis. Ia seorang harta karun, ia tahu segalanya, dan juga sangat rendah hati pula.

SAYA: Buku-buku seperti apa yang laris di Eropa? Apa yang dibaca orang di Eropa?

GUERZONI: Jika kamu membicarakan barang-barang komersil, buku seperti Fifty Shades of Gray laku di Italia. Laku di seluruh dunia. Begitulah cara kerja pasar. Uang dari menerbitkan buku komersil akan membantu penerbitan buku-buku sastra. Fiksi kontemporer agak sulit dijual, nonfiksi lebih sulit lagi, dan buku puisi tidak dapat dijual.

Mengenai Indonesia, cerita tentang “kota” itu penting. Saya sedang berusaha memahami mengapa kalian lebih banyak menulis cerita sejarah daripada kontemporer. Penting bagi kami untuk merujuk kepada sebuah lanskap. Apabila kamu menulis mitologi, saya tak akan tahu harus merujuk ke mana. Jadi bagi pembaca asing “kota” itu penting. Mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Harus ada kompromi di antara cerita-cerita sejarah dan cerita-cerita yang lebih kontemporer.

Pasar mengharapkan cerita yang benar-benar bagus. Sekarang, dengan resesi di mana-mana, tak ada yang mau membaca cerita yang suram, kita sudah punya masalah sendiri. Eropa sedang menderita resesi terburuk, orang-orang kehilangan pekerjaan, pokoknya situasi di sana sungguh suram. Terutama di Italia—sayangnya semua orang tahu soal Berlusconi—korupsinya parah sekali, sama parahnya dengan di sini, saya rasa. Tapi di sini masih ada harapan, ekonomi sedang berkembang dan kaum muda punya harapan, mereka masih bisa memperoleh pekerjaan, masih bisa memperoleh pendidikan, masih memikirkan masa depan. Di Eropa cukup buruk. Jadi, menurut saya—harapan dan masa depan, itulah hal-hal yang harus dimasukkan ke dalam tulisan sastra.

SAYA: Bagaimana dengan hak pengarang, lokal versus global?

GUERZONI: Para penulis harus banyak mendengarkan saran, harus tahu apa yang bisa ditawarkan agen untuk mereka. Mereka harus mengecek kontrak dengan hati-hati, harus sadar akan siapa yang memegang kontraknya; harus tahu bedanya antara hak-hak lokal dengan hak-hak global mereka. Kemarin saat lokakarya, saya dan John banyak menjelaskan bagaimana cara penerbitan bekerja, apa saja hak-hak yang harus diketahui penulis. Kamu tidak harus menandatangani apa pun sebelum siap untuk itu. Menurut saya Indonesia harus memiliki kesadaran lebih untuk aspek-aspek seperti ini. Orang-orang perlu tahu tentang pentingnya memiliki penerjemah dan penerbit yang bagus, karena tanpa penerbit kamu akan tidak tampak. Juga jangan asal menjual karya kepada semua penerbit kecil yang mendekati kamu. Kamu harus banyak belajar. Namun, tentu saja yang terpenting—terutama bagi penulis pemula—adalah untuk tahu siapa pembacamu.

SAYA: Bagaimana cara memanfaatkan media sosial sebagai wahana promosi?

GUERZONI: Saya, contohnya, menggunakan bahasa Inggris dalam akun-akun media sosial yang saya miliki, semua twit saya dalam bahasa Inggris dan bukan bahasa Italia. Melalui media sosial, kita bisa berhubungan dengan orang-orang, media sosial memungkinkan orang berhubungan dengan kita. Menyediakan akses. Kamu harus tahu caranya memanfaatkan media dengan baik, harus ada strategi.

SAYA: Selain hidup Anda di dunia penerbitan, adakah ketertarikan lainnya?

GUERZONI: Saya menyenangi media sosial. Twitter, Instagram. Kamu lihat sendiri betapa saya senang memotret untuk Instagram! Selain itu, saya juga senang melakukan perjalanan.

SAYA: Sebagai penutup, apakah ada kesan-kesan terakhir yang ingin Anda sampaikan?

GUERZONI: Tahun depan saya ingin mengunjungi Indonesia untuk jangka waktu yang lebih lama. Lokakarya yang kemarin sangat menyenangkan bagi semua orang, saya pikir juga sangat berguna, karena saya sudah memperoleh cukup banyak timbal-balik. Bagi saya sendiri, lokakarya tersebut adalah pengalaman yang berharga. Saya rasa Yayasan Lontar membuat transkrip dari lokakarya itu dan akan mengunggahnya di laman mereka, Goethe juga sedang menyiapkan blog—“Indonesia Goes to Frankfurt”—mereka akan membuat semacam panduan... semuanya akan tersedia untuk diunduh secara daring.

Last modified on: 27 Desember 2013

    Baca Juga

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

  • Siska Nirmala Luncurkan Debut Buku 'Zero Waste Adventure'


    Siska Nirmala baru-baru ini telah meluncurkan buku pertamanya, Zero Waste Adventure. Buku ini bercerita mengenai ekspedisi nol sampah ke lima gunung di Indonesia. Ide akan ekspedisi ini terlahir dari kegelisahannya…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni