(0 votes)
(0 votes)
Read 2955 times | Diposting pada

Ferry Dermawan: Djakarta Artmosphere Sudah Pas, Tidak Overexposed

Benny Soebardja, Rekti Yuwono, Ermy Kulit, Zeke Khaseli Benny Soebardja, Rekti Yuwono, Ermy Kulit, Zeke Khaseli

 

Orang-orang di balik Djakarta Artmosphere layak mendapat ucapan selamat karena membangkitkan musik dari masa lalu tanpa menjadikannya membosankan, abu-abu dan mempertunjukkan gaya rambut yang buruk. Mereka berhasil juga keluar dari jebakan Zona Memori yang kering dan menjemukan dan dengan menggunakan grafis desain yang cerdas, tenaga lapangan yang bertindak seperlunya dan tim kreatif yang cekatan, Djaksphere adalah konser musik yang bisa menjadi alternatif bagi mereka yang bosan dengan hingar-bingar corporate rock dan self-seriousness dari konser jazz. Ferry Dermawan adalah project director acara ini dan dua hari lalu bersedia bercerita tentang konser penting ini.

Djakarta Artmosphere adalah ide yang bagus di atas kertas, tapi anda bisa membuatnya bertahan tiga edisi dan berhasil? Bagaimana anda melakukannya, dan bagaimana anda bisa tetap mempertahankan pendapatan untuk show tahun berikutnya?

Rasanya Djakarta Artmosphere/djaksphere bisa bertahan hingga tahun keempat karena kami berangkat dari hal-hal sederhana yang menyenangkan dan tanpa tuntutan atau kompromi berlebihan yang membatasi ruang gerak ekspresi kami. Terkait dengan pendapatan untuk produksi acara, contohnya hubungan kami dengan sponsor acara, kami tidak tertarik akan publikasi yang berlebihan dengan jumlah billboard yang muncul disetiap sudut kota, otomatis hal tersebut juga mengurangi biaya yang bisa kami manfaatkan untuk hal yang lebih esensial, konten acara. Rasanya kami lebih lega dengan posisi djaksphere saat ini, tidak overexposed, pas.

Mana yang lebih diutamakan, nostalgia merayakan masa lalu atau merayakan scene sekarang. Dan bagaimana merayakan masa lalu itu tanpa menjadi cheesy seperti Zona Memori atau acara sejenisnya?

Merayakan scene sekarang dengan mengajak penonton menoleh ke belakang tentang apa yang pernah terjadi dalam sejarah musik di Indonesia.

Saya kemarin sedikit bicara dengan Zeke (Khaseli) dan punya harapan besar kalau Djakart bisa bertahan lama jika bukan menyebar menjadi lebih kecil ke kampus-kampus? Agak berat memang tapi apakah ada rencana, dan apakah kita bisa berharap ini akan bisa bertahan sebagai institusi kesenian penting Jakarta?

Rasanya dalam konteks berkarya untuk mengembangkan minat penonton terhadap scene ini butuh kontribusi banyak pihak. Jika tidak ada acara-acara yang menampilkan band-band bagus dan penting lagi, mungkin djaksphere hanya akan bertahan sampai di tahun keempat. Belakangan hal ini lah yang melatarbelakangi JOYLAND Festival, festival musik dua hari di taman terbuka yang mayoritas menampilkan band-band yang kami anggap menarik (konsep bermusik dan rilisan), juga termasuk konser tunggal untuk band yang rasanya sudah sangat pantas untuk menggelar pertunjukan yang utuh (Pure Saturday).

Lingkungan musik di Jakarta cukup menyenangkan saat ini, kita semua bisa menikmati Superbad (gigs kecil yang dapat dipertanggungjawabkan kurasi line-up nya), kemudian Joyland dalam format Festival dengan skala yang lebih besar, lalu Djaksphere sebagai konsep konser dengan bobot materi yang lebih serius. Paling tidak ada tempat untuk menjaga keberagaman musik di Indonesia, sekaligus penyebaran ide-ide bermusik yang kontemporer.

Bagaimana proses kurasi, menentukan siapa yang akan main dan berkolaborasi?

Mengumpulkan banyak nama yang mungkin pas sebagai empat line-up untuk tiap tahunnya tanpa ada pengulangan. Lebih sering mulai memilih dari band/musisi sekarang, lalu mencari partner yang pas, ya kalau tidak pas juga bukan masalah, cenderung lebih ada peluang kejutannya.

Selain misalnya merilis DVD dari gig, apakah tidak sebaiknya misalnya Djakartmosphere melakukan proyek lain misalnya merilis ulang materi tua dari mereka yang tampil di pertunjukan, terutama karena anda juga sudah punya record label sendiri.

Ide merilis DVD dikarenakan susahnya dapat informasi saat riset tentang karier musisi senior, semoga suatu saat DVD djaksphere bisa membantu dalam hal pendokumentasian video yang bisa disimpan, kami pun masih berusaha mendokumentasikan paket DVD nantinya dengan lebih proper baik dari sisi video dan audio. Jika ada kesempatan, sangat tertarik untuk merilis ulang audio materi-materi tua tersebut.


Saya amati, sebagian besar audience Djakart adalah anak muda. Apakah ini positif atau apakah sebenarnya target Djakart adalah lebih banyak orang tua yang mau bernostalgia?

Berarti sudah sesuai target audience kami dengan hasil pengamatan anda dan hal itu positif untuk kami.

Mungkin buat mereka yang sudah lupa, bisa cerita lagikah bagaimana Djakartmosphere mulai pertama kali?

Djaksphere berangkat dari upaya kami untuk memperkenalkan sekaligus memberikan pilihan pengalaman baru dalam menikmati pertunjukan musik juga sebagai media apresiasi kami terhadap musik-musik terbaik Indonesia yang terus berkembang dari berbagai dekade, masa ke masa.

Sejak 2009, djaksphere pernah mempertemukan mereka dalam satu pentas diantaranya Efek Rumah Kaca bermain bersama Doel Sumbang, Tika & The Dissidents bersama Vina Panduwinata, Navicula bersama God Bless, Pure Saturday bersama Jockie Suryoprayogo, dan The Brandals bersama Koes Plus.

Oh ya soal Rain Dogs, kenapa baru satu rilis dan EP?

Saya menjalankan Rain Dogs Records juga tanpa target-target yang bisa menyusahkan diri sendiri, jika ada materi yang dirasa cocok dan siap maka saat itulah kami akan menyiapkan rilisan terbaru. Dalam waktu dekat jika segalanya lancar, Rain Dogs Records berencana merilis mini album teman baik kami yang setiap mendengar lagu-lagunya selalu bikin senyum, Harlan Boer.

Last modified on: 10 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni