(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2674 times | Diposting pada

"Bukan Lo-Fi, Tapi Musik yang Sesuai Perasaan"; Marcel Thee

 

Marcel Thee mungkin adalah salah satu contoh terbaik dari kondisi di mana musik rock sebaiknya tidak diserahkan kepada musisi full-time. Marcel tidak hanya memilki pekerjaan tetap yang cukup menyita waktu, namun belakangan juga menjadi bapak. Namun kedua hal tersebut tidak hanya gagal membuat Marcel melambat, namun justru semakin cepat membuatnya berlari. Kami bahkan tidak tahu lagi mana musik dia untuk Sajama Cut, untuk Roman Catholic Skulls, proyek solo karena begitu banyaknya output yang sudah dia keluarkan.

Mungkin untuk masalah kuantitas, Marcel hanya bisa bersaing dengan Zeke Khaseli. Dan perbandingan itu juga bukan kesengajaan belaka, karena kedua individu tersebut sangat jelas kuat memiliki karakter independen. Output banyak tidaklah terlalu istimewa jika stagnan secara artistik. Marcel konsisten dalam menghasilkan musik yang selalu menantang pendengar untuk menerima idiom dan bahasa baru.

Karya Marcel terakhir “Endless Heart” sangat mengejutkan, dan akan membuat musik Sajama Cut terdengar seperti Maroon Five. Beberapa hari lalu Marcel bersedia menerima pertanyaan (dalam Bahasa Inggris) dari Jakartabeat dan berikut adalah jawaban lengkapnya.

Mengapa proyek solo dan bagaimana dengan masa depan Sajama Cut (SC)?

Sebenarnya tidak sengaja. Ini materi yang mayoritas ditulis dalam tiga hari dan direkam dalam sehari. Soundman kita, Yosi O.P.A waktu itu mau tes beberapa perangkat studio yang baru, dan dia dapat satu shift untuk merekam band apa aja yang dia mau. Berhubung Sajama Cut belum cocok waktunya, gue saja yang masuk. Tapi karena belum ada materi non-SC yang siap, gue menulis beberapa lagu. Hari itu juga ada beberapa kendala teknis di perangkat, jadi gue cuma dapat sekitar setengah shift. Tapi materi dasar berhasil direkam semua, dan gue bawa pulang untuk ditambahin sedikit.

Kenapa selalu lo-fi?

Sebenarnya sih sound yang gue suka dari dulu cendering organik. "Manimal" lebih steril, karena kita banyak mendengarkan band-band era 1970-an yang memaksimalkan fungsi studio. Tapi untuk materi ini, gue lebih terinspirasi sound-sound reverbial yang lo dapat di ruangan lebar, khususnya gedung-gedung reliji tua yang arsitekturnya cenderung bersayap ke langit. Gue tidak begitu melihatnya sebagai "lo-fi" tapi sound yang memang sesuai dengan emosi yang diungkapkan materi ini.

Anda punya pekerjaan full-time, punya band dan beberapa proyek solo. Bagaimana bisa menjalaninya?

Gue juga kurang tahu. Ha ha. Yang pasti gue bernafas musik dan terus terinspirasi dan terpacu untuk produktif. Membuat musik sudah jadi rutinitas harian gue. Gue juga beruntung punya orang-orang terdekat yang mendukung semua ini, jadi secara skeduling gue memiliki fleksibilitas yang membuka cukup waktu untuk musik.

Selain musik SC, semua musik anda gratis, apa tujuan sebenarnya?

Tujuannya ada dua sih: untuk tetap produktif dan mudah-mudahan, bisa menginspirasi musisi lokal lain untuk menghasilkan sesuatu dari kecintaan mereka pada musik - dalam bentuk apa saja. Gue rasa orang suka terlalu takut dan melewati proses terlalu lama sebagai pendengar musik untuk mulai menulis dan merekam lagu sendiri. Padahal asal lo punya instrumen (atau bahkan apa aja yang bisa membuat bunyi) dan alat rekam seperti handphone butut atau aparatus software murah, lo bisa memproduksi musik sendiri. Kita butuh banyak variasi di scene lokal. Untuk CD Strange Mountain dan Roman Catholic Skulls, juga album solo gue ini, bakal dijual bentuk fisiknya dan gak akan didistribusikan free kecuali RCS yang sempat jadi free download kemarin.

Apa yang sesungguhnya terjadi di scene indie lokal dan apa yang salah, anda juga banyak melakukan liputan tentangnya kan?

Agak berat. Yang paling utama adalah meningkatnya penyandaran pada networking alias humas indie, di atas kualitas. Ini agak sulit penyeimbangannya, karena musik independen pada akhlaknya memang tentang hubungan antara manusia-manusia kreatif yang membentuk hubungan nyata dan manusiawi karena gairah yang sama pada musik - dan ini tentunya bagus. Tapi pergesarannya sedikit banyak sekarang beralih sama "who you know" dan bukan "What you do".

Apakah menjadi bapak sudah merubah musik anda?

Secara musik gue rasa ada sedikit jentikkan-jentikkan untuk lebih kritis, karena lo lebih melihat keburukkan dan ancaman yang dimiliki masyarakat pada anak lo, dan pada saat yang sama lebih positif, karena lo melihat banyaknya hal positif yang kita kadang lupa perhatikan tapi anak benar-benar membuat hari anak kita.

Anda nampaknya tidak pernah tunduk kepada standar-standar yang ada di scene lokal, benarkah begitu?

Yeah! Gue dari dulu berusaha untuk tidak "play the game": kasih tangan, senyum palsu, atau kenalan sama orang karena mereka "someone" atau batu loncatan. Dan gue rasa kita cukup berhasil untuk itu. We've managed to meet great people and forge real, genuine relationships through the music. Secara musikal, gue hampir setiap hari jatuh hati pada band atau album baru - masih. Dan gue masih terpacu untuk membuat yang lebih baik dan unik. Hopefully people can hear that through my/our music. Other than that, I completely do it for myself.***

Last modified on: 9 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni