(4 votes)
(4 votes)
Read 9251 times | Diposting pada
Bincang Sastra

Anton Kurnia: Penerjemahan Sastra Penting Untuk Memperkenalkan Karya Kita Kepada Dunia

Anton Kurnia: Penerjemahan Sastra Penting Untuk Memperkenalkan Karya Kita Kepada Dunia Sumber Foto: Idwriters.com

 

Nama Anton Kurnia di jagad sastra Indonesia boleh jadi dikenal sebagai penulis yang produktif berkarya dan telah menjamah berbagai cabang teknik penulisan. Selain membuat cerpen, esai, cerita pendek, kritik sastra sekaligus menjadi editor di berbagai penerbitan, pria kelahiran Bandung 42 tahun silam ini tentu tak bisa dilepaskan dari dari kiprahnya sebagai penerjemah handal.

Saya masih ingat pertama kali ‘jatuh cinta’ kepada Anton Kurnia setelah membaca Lolita milik Vladimir Nabokov hasil terjemahannya, hingga hampir ke tingkat obsesi. Selain Lolita, Anton Kurnia telah menerjemahkan begitu banyak karya lain termasuk Les Miserable karya Victor Hugo. Sebagai editor, karya-karya penulis dunia yang telah dikerjakannya antara lain Salman Rushdie, Mo Yan, serta Orhan Pamuk.

Karya-karya esainya di antara lain kumpulan esai Dunia Tanpa Ingatan: Sastra, Kuasa, Pustaka, Ensiklopedia Sastra Dunia, serta yang belum lama terbit, Mencari Setangkai Daun Surga. Ia juga telah menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Insomnia yang diterjemahkan ke bahasa Inggris untuk Frankfurt Book Fair dengan judul A Cat on the Moon and Other Stories. Baru-baru ini ia tengah memulai penerbitan sendiri yang dinamainya Penerbit Baca.

Di sela-sela kesibukannya yang padat, saya berhasil menemui Anton Kurnia pada awal Mei lalu, tepatnya pada salah satu agenda Asean Literary Festival 2016 yang bertempat di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Di sana, Anton tengah memandu kegiatan lokakarya penerjemahan sastra selama dua hari (5 dan 6 Mei 2016) dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Di hari kedua lah selepas sesi lokakarya usai, saya menodongnya untuk bincang-bincang lebih lanjut. Berlangsung dadakan di salah satu kafetaria TIM, Anton bercerita seputar perkenalan dengan sastra, karier pribadi dan pandangannya tentang dunia penerjemahan sastra.

Dias Novita Wuri (DN): Sejak kapan bersentuhan dengan karya sastra?

AK: Saya sejak kecil sudah senang membaca, karena waktu kanak-kanak tidak punya teman. Tadinya ibu yang membacakan menjelang tidur siang, tapi sejak bisa membaca sendiri, saya mulai membaca apa pun yang ada di rumah. Sejak itulah saya berkenalan dengan sastra, tentunya dalam versi anak-anak. Karya-karya Mark Twain, Jules Verne, bahkan Quo Vadis karangan Henryk Sienkiewicz, saya baca dalam bentuk komik karya sastra dunia, namanya Album Cerita Ternama. Dulu juga ada Majalah Senang, isinya banyak cerita terjemahan, di situlah saya pertama kali membaca Tolstoy. Di majalah itu ada pula cerpen-cerpen Abdullah Harahap, Kho Ping Hoo, Motinggo Boesje, sampai cerita hantu dan cerita erotis. Sewaktu SMA pada awal 1990-an saya mulai memiliki kesadaran bahwa yang saya baca adalah karya sastra. Saya baca Albert Camus terjemahan N. H. Dini sampai Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad. Ketika itu saya pindah dari Bandung ke Nganjuk, Jawa Timur, dan sangat sulit mencari bacaan. Tapi perpustakaan SMA saya punya koleksi sangat bagus karena salah satu guru yang penulis dan dulunya wartawan. Dia yang menentukan isi perpustakaan itu.

DN: Apa saat itu sudah ada Sastra Koran (mengacu pada kultur kolom sastra yang biasanya terbit di suratkabar tiap hari minggu)?

AK: Dulu saya tidak memperhatikan ada yang seperti itu, baru menyadari ada Koran Minggu yang memuat karya sastra saat kuliah di ITB. Setahun-dua tahun pertama kuliah saya bikin kliping cerpen, belum berani menulis sendiri. Waktu itu Kompas edisi Minggu bisa memuat dua cerpen, satu karya asli, satu terjemahan; Media Indonesia punya 4 halaman sastra, Republika juga ada halaman khusus sastra. Semarak lah.

DN: Sejak kapan sebetulnya muncul kesadaran atau cita-cita ingin berkecimpung di sastra? Atau waktu kuliah punya cita-cita tertentu?

AK: Dulu cita-cita saya adalah jadi arsitek, karena saya suka menggambar, suka matematika. Disiplin ilmu saya lebih ke eksakta. Dulu memang yang dianggap ideal adalah bidang teknik. Tapi sejak SMA saya sudah semakin banyak membaca dan sangat menikmatinya. Saya membaca Ajip Rosidi, Balai Pustaka. Tapi juga, saya menganggap terlalu muluk jika jadi penulis. Memang ada keinginan mengirim cerpen ke media seperti majalah Hai, tapi tidak pernah terwujud.
Dalam menulis saya senang berproses sendiri. Nah, salah satu proses saya belajar adalah dengan menerjemahkan. Awalnya saya menerjemahkan karena saya ingin belajar menulis, belajar teknik-tekniknya. Saya mulai menerjemahkan karya-karya Guy de Maupassant dari bahasa Inggris, misalnya. Tapi saya sendiri tidak terbayang, karena biar bagaimana pun dulu profesi pengarang itu tidak lazim.

DN: Bagaimana awalnya mulai aktif menerjemahkan karya sastra?

AK: Saya mulai sekitar tahun ’96 atau ’97. Awalnya saya kira mudah, tapi ternyata sangat sulit, harus sering buka kamus. Meskipun demikian saya terus menerjemahkan: O. Henry, Mark Twain... sampai saya merasa ini harus diuji. Orang-orang terdekat saya terus memberikan semangat agar terjemahan saya dikirim ke media. Waktu itu saya mengirim karya ke Pikiran Rakyat, karena setahu saya media itu memuat terjemahan-terjemahan.

Saya bergaul dengan kakak-kakak angkatan saya di kampus, numpang tidur di masjid. Di sana saya berproses. Saya belum dipandang, sementara beberapa orang kakak angkatan sudah mendapat order terjemahan nonfiksi misalnya dari Mizan. Sampai akhirnya terjemahan pertama saya dimuat. Karya Mark Twain, judulnya Luck. Saya senang sekali, kalau nggak malu mungkin saya sudah teriak. Minggu depannya terjemahan saya diterbitkan lagi, karya Guy de Maupassant. Lalu dua minggu kemudian terjemahan saya atas karya Borges dimuat di Kompas. Waktu itu dimuat di Kompas kesannya sangat ‘wah’ dan honornya juga besar, lumayan sekali untuk saya yang masih mahasiswa. Saat itu saya benar-benar merasa sangat dimudahkan, dibukakan jalannya.

DN: Berarti dari segi profesional memulai karir penerjemah sastra di Penerbit Serambi secara lepas?

AK: Sebenarnya awalnya tidak di Serambi. Setelah Soeharto jatuh, banyak penerbit indie yang berawal di Jogja, menerbitkan buku-buku yang tadinya dilarang atau dihindari penerbit besar. Di tahun 2002 saya punya empat dari enam cerpen terjemahan yang diterbitkan Kompas edisi Minggu dalam setahun, jadi penerbit-penerbit indie di Jogja ini mulai menawari saya untuk menerjemahkan ini-itu. Dengan Serambi saya mulai tahun 2004. Buku terjemahan pertama saya adalah Awal dan Akhir karya Naguib Mahfouz dan diterbitkan oleh Obor. Waktu itu saya dengan kawan saya Anwar, mengajukan proposal naskah terjemahan ini kepada Obor dan ternyata diterima.

DN: Naskahnya sudah jadi?

AK: Belum, hanya potongannya, berikut keterangan tentang kelebihan-kelebihan dari naskah tersebut. Tahun 2004 saya diminta oleh Serambi untuk menerjemahkan dan mengedit secara freelance.

DN: Saat itu adakah pekerjaan selain menerjemahkan?

AK: Tidak ada, selain menulis dan menerjemahkan. Saya modal nekat. Waktu itu kuliah saya tidak selesai dan keburu kawin muda, dan masih ragu apakah dunia sastra ini pilihan yang tepat. Apakah saya bisa bertahan hidup dan bisa bahagia, tapi waktu itu pun di kampus saya sudah tidak bahagia. Saya kuliah Teknik Geologi di ITB, dan ternyata kenyataan sehari-hari tidak seperti yang saya bayangkan. Jadi waktu itu saya sudah kawin, tidak punya kerjaan tetap dan kuliah nasibnya nggak jelas juga. Tapi ketika karya demi karya saya dimuat saya jadi semangat. Sekarang saya yakin bahwa sastra merupakan jalan saya meskipun awalnya harus berliku.

DN: Sebagai penerjemah profesional, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menerjemahkan sebuah karya? Misalnya untuk satu halaman karya?

AK: Marquez pernah bilang, meskipun sudah menang Nobel, begitu menghadapi halaman kosong rasanya seperti mulai dari awal lagi. Seperti itu mungkin. Saya tidak merasa ahli, tapi karena pernah mengalami beberapa problem mungkin bisa lebih cepat saja. Untuk satu halaman, kurang-lebih saya perlu waktu setengah jam. Membaca dulu karya tersebut bisa sangat membantu. Kadang-kadang skimming, tapi sedapat-dapatnya harus selesai dan mengumpulkan referensi tentang karya itu.

DN: Apa karya-karya terjemahan yang jadi favorit pribadi?

AK: Agak susah memilih, ya. Tapi mungkin yang paling berkesan adalah Lolita karena perjuangannya berat. Saya kerjakan setahun di antara kesibukan-kesibukan lain dan saya juga harus ngantor... dikejar deadline, telatnya lama. Tapi kemudian ternyata penerimaannya cukup bagus, selain di-review di beberapa tempat dan secara umum cukup baik meskipun ada juga yang mengkritik, secara finansial juga berhasil. Sampai cetakan ke-14. Penerbitnya senang dan saya dapat royalti—itu satu dari sedikit terjemahan yang saya dapat royalti.

DN: Saat ini ada berapa banyak tepatnya jumlah penerjemah sastra di Indonesia dan bagaimana kualitasnya?

AK: Mungkin tidak terlalu banyak. Di Serambi sendiri daftar kami tidak banyak. Tapi selalu ada yang bagus di setiap generasi.

DN: Bisakah disebutkan beberapa nama diantaranya?

AK: Djokolelono menurut saya bagus. Saya baca terjemahan Djokolelono untuk karya John Steinbeck, Dataran Tortilla, itu lucu banget. Nuansa humor satire-nya tersampaikan.

DN: Selain Djokolelono?

AK: Goenawan Mohamad penerjemah yang bagus. Dalam Catatan Pinggir kadang-kadang ia masih suka menerjemahkan sedikit-sedikit.

DN: Apakah honor penerjemah lebih besar dari penulis?

AK: Wah, nggak juga. Tapi sekarang lebih baik, meskipun masih memprihatinkan.

DN: Mas Anton bersedia buka kartu berapa honor penerjemah? Saya penasaran.

AK: Karena saya di penerbitan, saya tahu betul berapa rate-nya. Dulu di Serambi pada awal 2000-an saya merupakan yang termahal: tujuh belas rupiah per karakter. Sehalaman kurang-lebih tiga puluh ribu sampai tiga puluh lima ribu. Untuk standar penerbitan Indonesia itu termasuk tinggi. Karena malah ada yang delapan sampai sepuluh ribu saja per halaman. Ngeri, kan? Saat itu standar HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) seharusnya seratus ribu sehalaman. Banyak penerjemah melakukan pekerjaannya karena cinta, dengan penuh pengorbanan. Untuk menunjang kebutuhan, menerjemahkan sastra disambi dengan nonfiksi. Dulu saya menyalahkan penerbit, tapi sekarang saya paham situasinya. Di Indonesia memang sulit, penerbit dikira mengambil untung banyak padahal kenyataannya tidak. Dari harga satu buku, bisa 55% diambil toko atau distributor. 45% sisanya dipotong lagi biaya produksi dan promosi sampai 30%. Sisanya hanya tinggal 10%. Karena itu honor penerjemah kecil. Jika tidak, harga jual buku bisa dua kali lipatnya. Ini yang harus dibereskan, bagaimana caranya supaya bisa lebih adil. Pemerintah bisa membuat aturan yang lebih mengikat —pajak kertas bisa dihilangkan, misalnya. Sekarang buku fiksi saja PPN-nya 10%.

Di sisi lain pemerintah juga bisa jadi tidak paham teknis. Saat menyiapkan Frankfurt Book Fair lalu, honor penerjemahnya sampai seratus lima puluh ribu per halaman karena memang menggunakan standar Menkeu, tapi itu sebenarnya pun masih rendah. Di luar negeri, standarnya bisa tiga ratus ribu per halaman paling murah, sehingga ada masalah antara penerjemah asing dan penerjemah kita. Penerjemah asing jelas tidak mau dibayar segitu, pemerintah juga tidak bisa membayar lebih dari SBU (Standar Biaya Umum). Akhirnya pemerintah membuat pengecualian. Jika ini bisa diperluas penerapannya, kesejahteraan penerjemah bisa ditingkatkan.

DN: Bagaimana situasi dan peluang penerjemahan buku-buku sastra Indonesia untuk diterbitkan di luar di masa depan?

AK: Sekarang ada angin segar. Eka Kurniawan, contohnya, membuka mata pemerintah bahwa kita sebenarnya mampu bersaing. Tadinya kan nggak PD. Tapi terlepas dari segala kontroversinya, orang-orang seperti Eka berhasil memberi kesadaran pada penerbit asing bahwa sastra Indonesia bisa dijual. Dari situ mereka juga bisa melihat pengarang-pengarang Indonesia yang lain.

Negara kita tidak punya satu lembaga khusus yang mengurusi penerjemahan sastra, atau penerjemahan secara umum, yang kontinu. Di Malaysia, misalnya, ada ITBM—Institut Terjemahan dan Buku Malaysia. Pemerintah yang membiayai, jadi mereka bisa menerjemahkan karya-karya penting dari bahasa asing ke bahasa Melayu dan sebaliknya, karya mereka ke bahasa asing. Semua dianggarkan oleh negara. Indonesia mulai tahun ini punya rencana untuk melakukannya. Frankfurt dianggap berhasil oleh Kementerian, jadi kemudian mereka membuat sesuatu yang disebut Komite Buku Nasional di bawah Kemendikbud. Tugasnya mempromosikan karya-karya sastra kita termasuk menerjemahkannya ke bahasa asing, meskipun belum termasuk menerjemahkan karya berbahasa asing ke bahasa kita.

DN: Bahasa Inggris saja?

AK: Bahasa apa saja, tapi terutama bahasa-bahasa yang besar. Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol.

Mendikbud sempat menyebut di wawancara dengan Tempo bahwa akan ada residensi untuk sastra. Itu juga di bawah komite tersebut. Saya diminta untuk jadi koordinator program penerjemahan. Prinsipnya adalah menawarkan kepada penerbit asing untuk mau menerbitkan karya-karya pengarang kita, dan itu akan disubsidi sehingga mereka bisa menghemat biaya penerjemahan.

Tapi ada soal-soal birokratis. Kemendikbud nantinya harus bergerak berdasarkan undang-undang, karena kalau tidak mereka akan dianggap menyalahi aturan. Tapi saya kira ke depannya akan positif. Gairah perbukuan sedang naik, terlepas dari hal-hal seperti pelarangan buku ‘kiri’, atau misalnya pelarangan buku Pram sampai sekarang belum dicabut secara resmi.

Tapi mengenai Frankfurt sendiri, ada beberapa kritik terkait penerjemahan. Saat itu kita mengejar target 200 buku untuk diterjemahkan. Karena target ini maka standarnya jadi longgar. Banyak kritik dari pembaca di luar negeri bahwa karya kita yang dialihbahasakan ke bahasa Inggris kurang bagus rasa bahasanya. Idealnya memang native speaker yang menerjemahkan —maksud saya bukan kebangsaannya, tapi kemampuannya. Misalnya penerjemah Eka Kurniawan untuk Lelaki Harimau, Labodalih Sembiring, itu orang Indonesia.

DN: Bisakah kita “memesan” penerjemah tertentu apabila karya kita diterbitkan di luar? Misalnya saya ingin Annie Tucker menerjemahkan buku saya nantinya.

AK: Bisa asal penerbitnya setuju dan penerjemahnya sendiri bersedia.

DN: Kembali mengenai penerjemahan karya asing ke bahasa Indonesia, di saat penerjemah menawarkan naskah terjemahannya ke penerbit, adakah standar-standar kemampuan bahasa tertentu yang dipatok? Nilai TOEFL atau IELTS, misalnya?

AK: Oh, tidak ada. Mereka lebih melihat karya. Jika editor menganggap bagus maka akan diterima. Yang terpenting penerjemah bisa dipastikan menguasai bahasa asli dan bahasa sasaran. Mungkin lebih banyak masalah terdapat di bahasa sasaran, sehingga tidak heran jika penerjemah-penerjemah yang baik biasanya penulis juga, seperti Tia Setiadi yang juga adalah penyair.

DN: Sewaktu kecil saya terpesona dengan serial Harry Potter dan jadi penasaran dengan penerjemahnya, Listiana Srisanti. Tapi Mbak Listiana tampaknya tidak pegang sastra. Ia menerjemahkan Memoirs of a Geisha.

AK: Arthur Golden. Itu pop. Tapi sebenarnya ini yang menjadi pertanyaan: apa batasnya? Saya pernah juga membuat lokakarya penerjemahan sastra seperti ini di Erasmus Huis, tapi sebagian besar pesertanya adalah penerjemah fiksi (populer). Apa sebenarnya bedanya? Kritikus sering menganggap fiksi populer tidak ada perkembangan psikologis pada tokoh-tokohnya, tapi itu juga bisa dipertanyakan. Secara umum, yang dianggap sastra adalah fiksi serius. Lalu apa bedanya menerjemahkan fiksi dan sastra? Pada prinsipnya sama saja, tapi penerjemahan sastra ada tugas lebihnya: harus ada nuansa, ada rasa bahasanya. Ada lapisan-lapisan yang lebih dalam.

DN: Apa yang membuat penerjemahan menjadi penting dalam konteks sastra Indonesia saat ini?

AK: Penerjemahan ada dua sisi: karya sastra dunia dalam bahasa asing diterjemahkan ke bahasa Indonesia, juga sebaliknya. Penerjemahan sastra kita penting untuk memperkenalkan karya kita kepada dunia. Suara kita perlu disampaikan di pentas dunia. Fenomena El Boom di Amerika Latin dapat terjadi karena penerjemah-penerjemah yang bagus. Kemudian kita perlu penerbit yang gigih.

Satu lagi yang terpenting, yang belum dimiliki Indonesia, adalah agen sastra yang hebat. Agen sastra harus merupakan orang-orang yang punya jaringan luas serta bisa berperan di belakang layar. Diperlukan sinergi seperti ini untuk mengurai permasalahan-permasalahan sastra di Indonesia. 

Penerjemahan karya sastra asing yang bermutu ke bahasa Indonesia juga penting agar kita bisa belajar dari karya-karya terbaik dunia. Juga agar khalayak kita dapat membaca karya-karya bagus tanpa terhalang sekat perbedaan bahasa.

Last modified on: 1 Juni 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni