(3 votes)
(3 votes)
Read 5477 times | Diposting pada

Adrian ERK: Sedikit Demi Sedikit, Pandai Besi Menarik Orang Bergabung

 

Pengantar Redaksi:

Di tengah simpang-siurnya kabar rilisan ketiga band Efek Rumah Kaca (ERK) dan kompilasi remix album pertamanya yang diaransemen ulang dalam berbagai genre oleh sejumlah musisi tanah air, Cholil (Gitar, vokal) dan Akbar (Drum) tiba-tiba muncul dengan alter ego entah akibat terlalu sering manggung dengan personil 'cabutan' pasca rehatnya Adrian (bass).

Alter ego ini bernama Pandai Besi yang memang rancu bila disebut sebagai project pribadi personilnya di luar ERK, sebab ia dibentuk justru seperti didedikasikan untuk memainkan nomor-nomor lawas dari album Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap. Dari keterangan di website resmi ERK, Rossi Rahardian menulis betapa cikal bakal alter ego ini sudah muncul sejak konser mini tunggal ERK di Jakarta pada Januari lalu:

"Mereka tampil selama hampir dari 3 jam, atau lebih tepatnya 2 jam 40 menit. Sebuah durasi konser panjang yang sama sekali belum pernah mereka lakukan semenjak band ini terbentuk pada tahun 1999. Bermodalkan hanya dengan 2  album... tentu saja dengan durasi sepanjang itu terlalu berlebihan untuk bermain selama hampir 3 jam, karena jika mereka memainkan keseluruhan lagu di 2 album tersebut durasi yang dibutuhkan tidaklah sampai sepanjang 2 jam 40 menit. Ada yang berbeda dari Efek Rumah Kaca malam itu."

Mungkin ini sebabnya alih-alih mengaransemen ulang, Pandai Besi dengan tambahan personil –yang notabene berangkat dari beragam background musik– malah merancang tafsir baru lewat ketokan godam kreativitas dan percikan api passion mereka berkarya dan menempa nomor-nomor lawas tersebut dengan durasi dan nuansa yang sama sekali lain dari versi aslinya. 

Lantas, apa dan siapa Pandai Besi ini lebih lanjut? Ada hubungan apa alter ego ini dengan Lokananta serta project crowdfunding yang tengah berlangsung di situs resmi ERK saat ini?

Berikut ini adalah petikan wawancara kontributor kami –Raka Ibrahim– dengan Cholil, Adrian dan Akbar beberapa waktu lalu di sela-sela sesi latihan studio mereka di Jakarta. Selamat membaca.

***

Bisa diceritakan sedikit tentang bagaimana ide membentuk Pandai Besi?

Akbar: Terbersitnya karena ERK mau mencoba memainkan atau menempa kembali lagu-lagu di album satu dan dua yang kita pilih beberapa untuk kita mainkan dalam format yang berbeda. Dari situlah terbentuk Pandai Besi. Kalau ERK cuma bertiga –bas, gitar, dan drum– sekarang ditambah pemain keyboard, saksofon, dan satu pemain gitar lagi. Bahkan ada tambahan dua backing vocal perempuan. Kita mau memberi sentuhan lain pada lagu-lagu yang dulu sering dibawakan ERK dalam format bertiga. Jadi itu idenya.

Adrian: Sebenarnya saya tidak ikut di Pandai Besi. Yang ikut itu Cholil, Akbar, dan Poppie, yang biasa gantikan saya di atas panggung, karena saya sekarang sedang tidak manggung. Lalu ada siapa lagi, Bar?

Akbar: Ada Muhammad Asranur di keyboard, Ada Hans Sabaruddin...

Adrian: Hans Sabaruddin di gitar, sama Agustinus Panji Mahardika yang main terompet. Lalu nanti juga dibantu Irma Hidayana dan Abigail Natasha sebagai vokal juga, bantuin Cholil.

Kemarin Pandai Besi sempat merilis preview lagu di situs ERK. Kedengarannya lagu kalian lebih bereksperimen di sisi instrumental, lebih memanjang-manjangkan dan bermain-main nada. Apakah sound Pandai Besi ini akan mirip sound album ketiga ERK?

Akbar dan Adrian: (tertawa)

Akbar: Memang berbarengan ya? Tapi ide memanjang-manjangkan itu, ERK di album ketiga sudah dapat ide itu duluan. Jadi Pandai Besi sepertinya tinggal meneruskan saja gaya yang sudah kita buat di album ketiga. Tapi kita sih maunya sebisa mungkin tidak sama, karena orang-orangnya juga berbeda. Kalau di ERK cuma bertiga, di sini kita berenam. Otomatis kita menggelontorkan lagu ini. Mereka free, mau isi seperti apa. Jadi jangan kita yang men-direct, karena kita sudah punya lagu-nya, tapi kita memberi kebebasan ke teman-teman untuk mengisi. Jadi saling tarik-menarik di Pandai Besi.

Memang, kalau kesamaan durasi iya. Jadi, lagu lebih panjang, karena itu. Kita memberi kesempatan bagi teman-teman untuk bereksplorasi. 'Ayo, lagu kita ini kalian permak semena-mena-nya. Silahkan, silahkan'. Dan kita bersenang-senang dengan lagu yang kita rilis lagi, yang kita tempa lagi.

Adrian: Mungkin kalau bedanya dengan album ketiga ERK, di Pandai Besi itu improvisasinya yang bebas. Kalau ERK memang sudah dikonsep. Kita mau sesuatu yang baru, musikal, not-not-nya banyak yang baru. Eksekusinya juga.

Sebenarnya durasi itu gabungan dari beberapa menit, jadi kita harus akalin bagaimana musik-nya dengan yang lain bisa ada benang merah-nya, ada part-part yang nyambung. Eksekusi-nya, di album satu dan dua, kita main-nya agak berbeda. Kita lebih banyak main tema. Jadi, album ketiga ini lebih kita konsep secara matang. Karena sudah lama juga persiapan-nya. Dari 2009 kira-kira ya?

Akbar: Yap.

Adrian: Dari 2009 kita sudah mencicil materi-nya.

Akbar: Dan belum selesai sampai sekarang (tertawa)

Akbar: Masih in progress.

Di Pandai Besi, kalian memilih untuk melakukan crowdfunding. Kenapa memilih crowdfunding alih-alih merilis melalui label biasa?

Akbar: Kenapa ya? Kita mencoba mengajak teman-teman yang seide dengan kita untuk ikut terlibat. Karena di sini, di crowdfunding ini, ada beberapa tahapan, beberapa paket. Kamu sudah tahu belum?

(saya mengangguk)

Akbar: Mereka bebas memilih, dan semuanya ada isi yang unik. Jadi kalau mereka memilih paket yang murah, paket yang sedang, atau paket yang mahal, mereka pasti dapat privilege yang lebih dari kita. Jadi kita mau mengajak yang seide dengan kita saja. Kita mau buat rekaman di Lokananta, mau membuat lagu Efek Rumah Kaca yang dulu kita rubah jadi seperti ini. Mengajak teman yang seide saja, yang mau membantu kita juga. Karena itu membutuhkan biaya yang... lumayan juga (tertawa). Kita apa adanya, dan ini proyek yang lumayan...

Adrian: Mahal?

Akbar: Ya, lumayan! (tertawa) Jadi kita coba saja tawarkan, kalau teman-teman mau. Tapi kita juga kasih privilege yang lebih untuk mereka.

Adrian: Kenapa kita tidak pakai label? Karena memang dari awal, dari album pertama, kita tidak pernah mempersiapkan produksi album dengan budget yang besar. Ini case yang berbeda, Pandai Besi, ya? Ketika kita punya keinginan untuk membuat sesuatu yang baru dari lagu ERK jadi Pandai Besi, dan ternyata kita butuh dana yang besar. Karena kita dari awal memang tidak pernah pakai label, jadi kita akal-akalin biasanya. Dari album pertama juga kita berpikir bagaimana caranya agar produksi-nya bisa seminim mungkin tapi hasilnya bagus. Ternyata di sini ide-nya berbeda. Karena dana-nya lebih besar dari produksi sebelumnya...

Jadi harus berinovasi juga?

Adrian: Itu sisi menarik-nya menurut kita. Karena Pandai Besi ini sebenarnya produk yang berbeda dari ERK. Tapi sudah mulai ditampilkan sedikit demi sedikit di luar, dan ternyata.... menurut kita ada respon yang positif ya, Bar? Menarik untuk mengajak orang bergabung.

Kenapa kalian memilih rekaman di Lokananta? Bagaimana cara kalian mendekati Lokananta?

Akbar: Pertama, karena kita bangga dengan Lokananta. Itu perpustakaan musik pertama di Indonesia. Pencatat piring hitam pertama, tempat sejarah musik Indonesia. Lalu akustik ruangan-nya menarik karena dibuat dengan serius di jaman era Soekarno. Kita mau mengambil momen-nya sih. Itu tempat yang bersejarah. Kita mau menggunakan ruangan-nya, merekam secara live, mencoba ruangan akustik di sana. Itu tempat bersejarah. Kita ingin membuat rekaman di tempat paling penting untuk sejarah musik Indonesia. Itu ide paling simpel-nya. Mungkin untuk melestarikan juga, ya? Memberitahukan bahwa, “Lokananta ada nih.” Mengharumkan nama mereka lagi.

Menarik itu istilah ‘melestarikan’. Karena, waktu itu sempat ada acara tribut #SaveLokananta dan konser-nya. Ibarat-nya, Lokananta jadi bahan perbincangan lagi.

Akbar: Ya, dan artis seperti Glenn Fredly juga sempat rekaman di situ.

Cholil: Kalau kita menghargai, Lokananta tidak mati. Itu mau ditutup, Departemen Penerangan mau ditutup. Mereka mau beli kabel saja berbulan-bulan baru bisa. Itu bukan penghargaan. Sudah pasti. Ini dari pemerintah-nya ya. Mereka tidak menghargai.

Itu dari pemerintah-nya. Kalau masyarakat-nya sendiri bagaimana?

Cholil: Kalau dari masyarakat-nya sendiri, tergantung. Masyarakat yang mana? General sekali. Kalau bagi orang yang baca Jakartabeat, ya mereka merasa peduli. Tapi bagi orang yang ada di pasar, ya belum tentu. Belum tentu mereka tahu dan peduli dengan katalog di Lokananta. Masyarakat yang mana? Misalnya, patokan Katalog Lokananta. Tidak ada yang tahu. Anak muda, orang tua, jarang ada yang tahu. Karena dia mau mati. No wonder tidak ada yang tahu karena dia juga sudah mati. Bagaimana cara orang bisa tahu kalau Lokananta ibarat label yang besar... karena Lokananta sebenarnya kayak label juga. Mungkin sebanding sama Sony, sama EMI.

Semakin Sony dan EMI tidak punya rilisan, semakin orang tidak tahu keberadaannya. Semakin rilisan-nya tidak dekat dengan orang, semakin tidak diketahui. Bagi orang di daerah, mungkin nama Lokananta masih harum karena mereka masih mendistribusi lagu-lagu daerah. Bagi kita yang tidak tahu lagu daerah, tidak mengerti lagu daerah, ya kita tidak tahu. Kita tahunya Sony, Universal, atau sekarang label-label indie. Normal kalau gue tidak tahu jika mereka tidak merilis hal yang dekat dengan gue, misalnya.

Jadi masalahnya ada pada relevansi mereka dengan masyarakat yang tidak di daerah?

Cholil: Oh, iya. Dari rilisan-nya, output-nya, iya.

Nah, itu menarik. Karena kita bisa saja bilang bahwa, “Oh gak pa pa, label seperti itu memang adanya untuk melestarikan musik daerah. Jadi wajar saja kalau mereka tidak merilis lagu-lagu pop.” Misalnya dengan argumentasi seperti itu, apakah kita perlu ‘terkejut’ bahwa Lokananta tidak bertahan?

Cholil: Masalahnya dia punya pemerintah. Dia institusi pemerintah yang dulu sebagai perusahaan yang merilis banyak album bagus-bagus. Jatuh-nya mereka bukan hanya label, sebenarnya. Mereka ibarat museum. Tapi bahkan untuk membeli AC sekalipun tidak bisa. Kira-kira begitu kisah tragis-nya. Jadi tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan label-label lain yang sekarang mati. Beda. Ketika mereka punya banyak katalog sejarah musik Indonesia, mereka lebih layak dilestarikan lebih jauh daripada label-label lain yang mati karena head-to-head melawan industri, atau perkembangan teknologi.

Seperti institusi pemerintah yang melawan industri?

Cholil: Ini institusi pemerintah di bawah Departemen Penerangan. Tapi sekarang Departemen Penerangan ditutup dan dia kehilangan induk. Tapi dia masih institusi pemerintah! Dia masih minta anggaran ke luar, walaupun tidak punya. Walaupun uang-nya tidak turun-turun.

Melihat ke semua paradoks dan masalah ini, antar mereka tidak relevan dan sebagainya, kelihatannya mengarah ke gejala ketidakpedulian masyarakat kita dengan sejarah. Menurut kalian bagaimana cara mengubah sikap?

Cholil: Cari saja musik yang lo suka. Kalau tidak suka, ya tidak bisa dipaksakan juga, kan? Kenapa orang bisa suka atau tidak suka? Menurut gue itu di pikiran. Kalau pikiran lo ditutup, bisa saja lo tidak akan suka apapun. Kalau pikiran lo terbuka, lo bisa suka apapun. Itu pertama.

Lalu, kalau lo memang mengaku peduli cari saja katalog Lokananta, atau apapun itu musik lama Indonesia, yang oke. Ujung-ujungnya, biasanya orang akan suka satu atau dua hal. Bukan berarti orang harus suka, tapi biasanya kalau kita mau membuka pikiran kita, ada saja musik lama yang kita suka. Karena menurut gue, musik lama jauh lebih gila bila dibandingkan dengan musik-musik sekarang.

Gila dari bagian mana-nya?

Cholil: Eksplorasi-nya. Eksplorasi mereka gila-gilaan. Misalnya seperti album kompilasi Those Shocking Shaking Days. Itu bukan musik sekarang, itu musik jaman dulu. Butuh waktu beberapa puluh tahun, tapi karya yang bagus akan menemukan jalannya sendiri untuk bisa diketahui orang. Itu satu tanda bahwa musik jaman dulu sebenarnya oke. Kalau kita mau menggali, dari mulai era yang jauh ke belakang lagi. Misalnya dari era Cha Cha. Seperti musik Latin, tapi ada unsur orkes. Itu jamannya Hussein, Zaenal Abidin, dari jaman-jaman komposer.

Mereka berhasil membuat satu musik yang juga memiliki nuansa lokal-nya. Dia mengambil rasa Latin, tapi disambungin dengan roots dia. Misalnya dia orang Padang, akan ada nuansa Padang-nya. Misalnya di Gumarang. Itu canggih, kita dengar sekarang pun masih keren. Eksplorasi mereka masih keren. Bisa jadi kita tidak suka karena kita belum tahu pada kedahsyatan itu. Inti-nya eksplorasi saja.

Mau digging musik-musik lama itu sangat penting. Kalau lo sudah digging dan ga ada yang disukai, itu lain soal. Tapi kalau lo digging dan kebetulan cocok dengan yang sudah dilakukan oleh orang tersebut, biasanya lo akan berpikir, “Anjing, keren banget musik-musik tahun segitu!” Dari era 1980-an di era-nya Fariz RM, bagaimana beliau membangun sejarah musik-nya, lalu kebawah ke musik yang digilai orang-orang seperti, misalnya, Dara Puspita.

Semakin mundur ke bawah, musisi kita ternyata sakti-sakti. Memang tidak semuanya rilisan Lokananta. Tapi, Lokananta punya peranan untuk itu.

Last modified on: 8 Januari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni