(0 votes)
(0 votes)
Read 809 times | Diposting pada

Perempuan Perempuan Sang Binatang Jalang

Chairil dan Ida Chairil dan Ida

 

Ia dianggap pelopor angkatan 45; oleh karenanya beberapa sajaknya dikenal siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah menengah. Dalam kelas, Chairil Anwar biasanya diperkenalkan sebagai penyair yang memiliki vitalitas, yang terutama terungkap dalam “Aku”. Dari larik-larik tersebut jelas bahwa, di samping vitalitas, ada sisi lain kehidupannya yang tergambar –yang mungkin tidak bisa terhapus dari kehidupan berkesenian di negeri ini –yakni kejalangannya. Sebagai “binatang jalang”-lah Chairil Anwar merupakan lambang kesenimanan di Indonesia. Hal ini ditulis Sapardi Djoko Damono dalam penutup buku kumpulan puisi Chairil Anwar “Aku Ini Binatang Jalang” yang terbit tahun 1986 dan cetak ulang ke dua puluh pada 2008. Sapardi menambahkan, bukan Rustam Effendi, Sanusi Pane, atau Amir Hamzah, tetapi Chairil Anwar yang dianggap mewakili seperangkat ciri seniman: tidak memiliki pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, selalu kekurangan uang, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. 

 

Apa yang disampaikan Sapardi tergambar dalam pertunjukan Perempuan Perempuan Chairil di Taman Ismail Marzuki, yang digelar 11-12 November 2017. Di tangan sutradara Agus Noor, Reza Rahadian tampil sebagai Chairil Anwar, sosok penyair yang tidak memiliki pekerjaan tetap, suka keluyuran, selalu kekurangan uang. Meski tidak sekurus foto-foto Chairil yang selama ini ada, tapi Reza bisa menghidupkan Chairil dalam pementasan ini. Perempuan yang ditampilkan pertama kali justru perempuan malam. Meski bukan lakon utama dalam pertunjukan ini, justru perempuan malam muncul pertama kali untuk memberi pengantar bagaimana Chairil mudah tergoda. 

Lalu muncullah Ida. Meski perdana di panggung teater, penampilan Marsha Timothy sebagai Ida cukup meyakinkan. Ida Nasution adalah mahasiswi, penulis yang hebat, pemikir kritis, dan bisa menyaingi intelektualisme Chairil ketika mereka berdebat. Busana yang dikenakan Ida di atas panggung juga sesuai dengan karakter ini. Dialog tentang buku yang dihadirkan bisa menggambarkan bagaimana Chairil bisa tergila-gila dengan gadis pintar ini. Ida yang elegan tahu bagaimana menghadapi Chairil yang tak cukup dengan satu perempuan. Chairil, kau selalu memburu perempuan, tetapi tidak bisa menangkap hatinya, ujar Ida. Ajakan dan Bercerai adalah sajak-sajak yang pernah ditulis Chairil untuk Ida, namun di pertunjukan ini adegan dengan Ida menggunakan sajak Selamat Tinggal yang sebetulnya ditulis Chairil tanpa menyebut nama Ida tetapi secara umum: perempuan …

Perempuan selanjutnya adalah Sri Ajati yang diperankan oleh Chelsea Islan. Sri juga seorang mahasiwi, bergerak di tengah pemuda-pemuda hebat pada zamannya. Ia ikut main teater, jadi model lukisan, gadis ningrat yang tak membeda-bedakan kawan. Adegan dansa antara Chairil dengan Sri, menunjukkan romantisisme Chairil dengan gadis yang pada akhirnya menikah dengan orang lain itu. Mengingatkan pada sajak Tak Sepadan yang ditulis Chairil pada Februari 1943, yang menunjukkan perasaan Chairil setelah kehilangan gadis itu. 

 

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

 

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka

 

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

 

Perempuan ketiga yang diceritakan dalam pertunjukan ini adalah Mirat. Di tubuh Tara Basro, Mirat menjelma perempuan bergaun merah dengan belahan dada yang menyembul. Sumirat adalah seorang terdidik yang lincah. Tahu benar bagaimana menikmati kedaraan, mengagumi keluasan pandangan Chairil, menerima dan membalas cinta Chairil dengan sama besarnya, tapi akhirnya hubungan mereka kandas. Bagian ini mengingatkan saya pada Sajak Putih yang ditulis Chairil untuk Mirat tahun 1944. 

 

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri, 

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di

       alam ini!

Kucuplah aku terus, kucuplah!

dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam 

                   tubuhku …

 

Sajak itu menyiratkan bagaimana hubungan yang liar lagi intim antara Chairil dan Mirat. Sayang, hal ini tidak terlihat jelas dalam pertunjukan. Dialog Chairil dan Mirat justru lebih banyak dihiasi pertengkaran tentang Mirat yang ingin segera dilamar dan Chairil yang tak kunjung menunjukkan keseriusan. Selipan sajak Mulutmu Mencubit di Mulutku yang ditulis Chairil pada 12 Juli 1943 mungkin diharapkan bisa mewakili itu, tapi sayangnya gagal.

Lalu kepada Hapsah, Chairil akhirnya mengerti kata pulang. Gadis Sunda yang diperankan oleh Sita Nursanti ini yang akhirnya dinikahi dan memberi anak bagi Chairil. Hapsah ingin Chairil bekerja, atau setidaknya rutin menghasilkan puisi agar mendapatkan honor yang bisa menghidupi keluarga. Namun Chairil merasa Hapsah tak mengerti dirinya yang seorang seniman, bukan peternak kata. Adegan dengan Hapsah ini yang paling mendekati bagaimana kondisi Chairil dengan stereotipe yang sudah disebutkan di awal tulisan ini: penyair penyakitan, kehabisan uang, istrinya hamil dan ia sangat berbahagia bahkan menyebutkan nama anak perempuan yang ia inginkan, tetapi pada akhirnya Chairil tak bisa memberi kebahagiaan bagi istri dan anaknya itu. 

Agus Noor lebih suka menyebut pertunjukan ini sebagai biografi puitik, di mana adegan dan percakapan dihidupkan kembali berdasarkan puisi-puisi Chairil. Sebab tak ada rujukan percakapan sebagaimana yang terjadi sesungguhnya. Tak heran sepanjang pertunjukan penonton akan disuguhi selipan-selipan sajak Chairil dalam dialog antara Chairil dengan perempuan-perempuannya. Pertunjukan ini juga terinspirasi dari buku Biografi Chairil karya Hasan Aspahani. 

Pertunjukan ini berhasil sebagai sarana mengenalkan perempuan-perempuan yang pernah ada di hidup Chairil dan yang menginspirasinya menuliskan sajak-sajak cinta. Sebagai penonton saya juga mendapat gambaran perempuan-perempuan hebat seperti apa yang dipilih Chairil sebagai teman berdiskusi sekaligus bercinta. Namun saya tak tahu mengapa hanya empat perempuan yang ditampilkan di sini, sebab ada nama lain seperti Roosmeini, Dien Tamaela, dan Marsiti seperti yang ditulis oleh Sjuman Djaya di buku skenario film bertajuk “Aku”. Chairil juga pernah menulis sajak berjudul Cerita Buat Dien Tamaela tahun 1946. Bisa jadi menurut penafsiran Agus Noor, keempat perempuan ini paling berpengaruh dalam kepenyairan Chairil. 

Namun jika dibandingkan dengan monolog Inggit yang pernah diperankan Happy Salma (kini Happy Salma adalah produser untuk Perempuan Perempuan Chairil), pertunjukan ini sedikit lemah. Dalam monolog Inggit, penonton bisa mengetahui bagaimana situasi politik dan sosial yang melatarbelakangi kehidupan Inggit saat mendampingi Soekarno. Inggit Garnasih adalah istri kedua Soekarno yang mendampingi Soekarno mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, namun namanya tidak seterkenal Fatmawati yang memberi banyak anak kepada Soekarno. Dalam Perempuan Perempuan Chairil, setting Indonesia antara 1943 hingga pasca kemerdekaan 1945 tidak terlalu menonjol. Padahal menurut saya ini juga penting sebab menunjukkan proses kreatif Chairil di tengah kondisi Indonesia yang masih carut-marut jelang dan pasca kemerdekaan. Ia bisa konsisten di jalurnya sebagai penyair meski menghadapi masa-masa sulit di luar dan di dalam dirinya.

Memang ada adegan Chairil bertemu Affandi dan pelukis itu memintanya menuliskan kata-kata di pamflet, namun Chairil ditampilkan gugup memberikan kata-kata yang tidak menunjukkan keberaniannya sebagai penyair angkatan 45. Padahal tahun 1948 Chairil menulis sajak Persetujuan dengan Bung Karno yang menunjukkan keseriusannya mendukung Presiden pertama Indonesia itu. Bahkan jauh sebelum itu Chairil pernah menulis sajak Diponegoro (1943).

Apalagi akhir pertunjukan ini pun tidak menunjukkan bagaimana proses kematangan Chairil sebagai penyair setelah berpisah dengan Hapsah. Padahal Chairil menciptakan sajak Derai-Derai Cemara yang menurut Sapardi menunjukkan kematangannya sebagai penyair jelang kematian di usia yang masih sangat muda, 26 tahun.

 

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

 

Sebagai pembaca karya-karya Chairil saya pernah menafsir puisi cintanya sebagai wujud ketidakberdayaan Chairil untuk memikat perempuan-perempuan itu karena ia lulusan sekolah rendah, hidup bohemian, dan sakit-sakitan. Bukan karena Chairil seorang yang suka bermain perempuan. Tetapi tentu saja puisi bersifat multitafsir. Di pertunjukan ini, kelajangan Chairil dikaitkan dengan kejalangannya dalam soal cinta. Chairil menonjol sebagai lelaki playboy yang suka menjerat hati perempuan dengan sajak-sajaknya, namun tak mengerti bagaimana cara membahagiakan mereka. Perempuan akan memilih kebahagiaannya, dan aku dengan kesepianku. 

Pasca menonton pertunjukan ini, sebagai penonton saya malah bergumam dalam hati: mampus kau dikoyak-koyak sepi.

 

 

Last modified on: 17 November 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni