(3 votes)
(3 votes)
Read 3968 times | Diposting pada

Kita Tak Sendiri: The Pure Saturday Story (Bag. 1 dari 2)

Kita Tak Sendiri: The Pure Saturday Story (Bag. 1 dari 2) Jovy Aidil Akbar

 

Pertengahan Mei lalu kehebohan kecil terjadi di scene musik Indonesia. Nama yang sudah sejak lama dinantikan kehadirannya akhirnya benar-benar turun gunung setelah lima tahun dalam pertapaan. Layaknya menyambut tamu agung sebuah konser megah digelar di lokasi yang prestisius sejak zaman kolonial Belanda. Gedung Kesenian Jakarta.

Gedung yang pembangunannya berawal dari Herman Willem “Mas Galak” Daendels ini didirikan tahun 1821. Berlokasi di kawasan elit Weltevreden yang sekarang merujuk ke ruas Gambir-Lapangan Banteng-Pasar Baru. Gedung ini awalnya bernama Theater Schouwburg Weltevreden.

Dalam sejarah perjuangan Indonesia,  gedung ini jadi saksi sejarah Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 serta rapat pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat pada 29 Agustus 1945 yang jadi cikal bakal DPR/MPR.

Sementara di dunia musik Indonesia, GKJ adalah tempat bertuah. Setidaknya KLa Project pernah merasakan saat mereka menggelar konser pada Maret 1996 yang kemudian menghasilkan double album Klakustik. Juga Naif saat menggelar Naif: A Night At Schouwburg pada September 2008 yang kemudian direkam dalam album A Night at Schouwburg. KLakustik  kemudian dicatat oleh majalah Hai sebagai 40 Album Indonesia Terbaik 1997-2007. Sedangkan A Night At Schouwburg masuk dalam 15 Album Indonesia Terbaik Dekade 2000-2010 oleh Jakartabeat.net.

Dan kali ini giliran Pure Saturday yang mendapat kehormatan untuk merilis album terbarunya, Grey. Tempat yang sudah sepantasnya untuk band yang mendapat predikat sebagai Indonesian indie darling band ini. Yang punya gagasan adalah Ferry Dermawan beserta jajaran G Production. Pihak yang bertanggungjawab atas festival musik tahunan Djakartartmosphere. Hanya perlu tiga hari untuk menghabiskan tiket pertunjukan yang dijual sebanyak 400 lembar. Beberapa kawan harus menelan kekecewaan karena tidak bisa jadi salah satu penyaksi konser yang bertitel Grey Concert tersebut.

Selama tiga jam, Pure Saturday memberikan suguhan konser yang hangat dan intim. Selain membawakan seluruh nomor dalam album, mereka juga memainkan lagu-lagi lawas, termasuk nomor Labyrinth berdurasi tujuh menit lebih itu. Sebagai bintang tamu malam itu adalah virtuoso Yockie Suryoprayogo, yang juga mengisi bebunyian magis dalam lagu Horsemen dan Albatross di album, serta Cholil Mahmud vokalis Efek Rumah Kaca dan Rektivianto Yuwono dari The S.I.G.I.T.

Wajah-wajah penuh senyum terlihat di lobi setelah pertunjukan selesai. Tidak ada yang tidak puas. Tidak ada yang kecewa, selain tentunya mereka yang tidak kebagian tiket. Pertunjukan ini layak dicatat sebagai salah satu konser terbaik tahun 2012.

“Sepertinya Pure Saturday memang hobi ya berlama-lama mengeluarkan materi baru,” tanya saya. Jelas. Di saat banyak band-band baru bermunculan, dengan materi baru dan jadwal manggung padat sampai berkesempatan mencicipi panggung di luar negeri, Pure Saturday yang sekarang diawaki oleh Satria “Iyo” Nur Bambang (vokal, gitar), Ade Purnama (bass), Arief Hamdani (gitar), serta si kembar Adhitya Ardinugraha (gitar) dan Yudhistira Ardinugraha (drum) tampak tenang-tenang saja.

“Yah kenapa harus buru-buru juga ?,” tanya Ade sambil tertawa. Ade mengaku sampai sekarang mereka masih menganggap Pure Saturday adalah taman bermain bagi mereka. Sarana untuk bersenang-senang. “Kita bikin Pure Saturday emang buat seneng-seneng di musik. Jadi ya kebawa nyantai. Kita manggung juga dandanannya sama aja kalo mau beli rokok ke warung,” ujar Adhi.

“Tidak iri melihat band-band baru justru sudah pernah manggung di luar negeri,” selidik saya. “Iri mah ada. Kalo orang gak punya rasa iri ya mati aja. The S.I.G.I.T udah pernah ke Australia, kita ke Medan aja belum,” kata Ade disambung dengan tawa deras. “Sirik asal ga ngerugiin orang lain ya gak apa-apa. Kita berusaha terus cari link tapi ya belum jodoh aja sekarang mah,”.

Tahun 1998 silam, mereka sebetulnya sudah ditawari untuk manggung di Boston, Amerika Serikat di private party cucu pejabat tinggi Orde Baru . Pure Saturday akan berbagi panggung dengan bandnya Billy Corgan. Ya, Smashing Pumpkins. Sayang, seminggu sebelum tanggal keberangkatan acara mendadak dibatalkan. Si pejabat tadi harus lengser, imbas dari gerakan reformasi.

 ***

Jauh sebelum tampil di gedung bergaya neo-renaissance ini, Pure Saturday hanyalah sekumpulan pemuda yang mengisi waktu luang menunggu pengumuman UMPTN dengan bermain musik di sebuah gudang di bilangan jalan Mohammad Ramdan, Bandung.

Gudang tersebut dinamai Gudang Coklat. Berlokasi di pabrik gitar Genta, usaha milik keluarga Suar Nasution, vokalis pertama mereka . “Lokasinya pinggir jalan raya. Sehari gak dibersihin pasti ketutupan debu sampai alat-alat musik warnanya jadi coklat,” kenang Suar. Sempat memakai nama cukup absurd, Tambal Band, sebelum akhirnya sadar bahwa mereka adalah pria kesepian di malam minggu dengan memilih nama Pure Saturday.

“Dulu inget pas awal-awal ngeluarin album. Kita main di Jogja, di GOR Kridosono. Ditempatin di rumah penduduk deket situ. Sambil nunggu dipanggil anak-anak main gaple. Lalu dipanggil manggung aja, begitu beres dilanjut lagi main gaple. Yang nonton waktu itu Duta sama Eross sebelum mereka bikin Sheila On 7,” kenang Udhi kala saya menemuinya saat Pure Saturday manggung di Yogyakarta beberapa bulan lalu.

Mereka pernah punya pengalaman lumayan menegangkan di Yogyakarta . Nyaris berada dalam batas hidup dan mati saat gempa besar meluluhlantakkan Yogya, 26 Mei tahun 2006 silam. Malam sebelum gempa mereka manggung di salah satu kampus swasta di Kota Pelajar tersebut. Dua tahun kemudian, saat manggung bulan November tahun 2008 sehari sebelumnya angin puting beliung baru saja mengamuk sehingga mengakibatkan kerusakan cukup parah terutama di wilayah kampus Universitas Gadjah Mada.

“Pure Saturday itu sesuatu yang beda. Mereka sebagai pionir,” ujar Arian 13, vokalis band rock oktan tinggi, Seringai. Arian bersama bandnya terdahulu, Puppen, adalah bagian dari pusaran penting dalam perkembangan gerakan musik bawah tanah Indonesia pertengahan 1990-an, khususnya Bandung. Lingkaran pertemanan yang kuat antara PAS Band, Puppen juga Pure Saturday akhirnya membuat ketiganya jadi sorotan publik tanah air saat itu.

PAS Band yang saat itu digawangi Yuki (vokal), Bengbeng (gitar), Trisno (bass) dan Richard Mutter (drum) baru saja dikontrak Aquarius Musikindo untuk album In (No) Sensation tahun 1995 setelah sebelumnya mencuri perhatian di mini album Four Through The Sap. Sisa jatah rekaman berpuluh-puluh shift diberikan pada dua koleganya tadi.

“Gue kenal mereka waktu Puppen rekaman dari managernya PAS Band waktu itu. Secara pribadi sih gue suka musiknya. Mereka berbeda dan memainkan musik bagus,” kenangnya. Kebetulan Arian dan Adhi adalah teman sekampus di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Nasib Pure Saturday sedikit lebih moncer dari Puppen. Kejelian Denny MR yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah Hai membuat mereka mendapat exposure besar-besaran di majalah yang pada saat itu boleh dibilang jadi satu-satunya referensi musik tanah air. Tahun 1996 album debut self-titled diedarkan lewat mail order. Laku hingga 1.000 kopi sehingga mereka dilirik oleh Tantowi Yahya, bos dari Ceepee Production.

“Sempet iri dulu. Ya waktu masih kecil kita kan biasa barengan tapi kok sekarang suksesnya sendirian ya. Ya yang gitu-gitu aja lah. Pure Saturday kan lebih pop, lebih gampang dapet exposure,” ujar Arian. Kondisi scene independen Bandung kala itu memang didominasi oleh musik-musik keras seperti metal dan grunge, tidak terkecuali PAS Band dan Puppen. “Yah kalo kata Morissey sih, we hate it when our friend become successful, “ kata Arian sambil tertawa.

Pure Saturday makin melesat. Aquarius Musikindo memutuskan mengikat kontrak untuk album kedua kedua Utopia pada tahun 1999. Secara musikal, Pure Saturday terdengar lebih gelap dan murung. Dari sisi bisnis, ini pengalaman baru. “Ternyata anak-anak lebih cocok kerja sendiri,” ujar Ade. Komunikasi yang tidak berjalan baik, terutama soal angka pasti penjualan album, membuat mereka akhirnya kembali ke habitat awal.

Tapi mau tidak mau Pure Saturday akhirnya harus menghadapi “kutukan” band yang tumbuh dalam pertemanan masa sekolah. Awal tahun 2000 mereka akhirnya harus berhadapan dengan tuntutan pekerjaan sebagai sumber penghidupan. Arief menjadi bankir di sebuah bank milik negara. Adhi dan Suar mendapat pekerjaan di Jakarta. Sementara Ade harus merantau hingga Selandia Baru. Pure Saturday saat itu masih bisa berjalan meski situasinya penuh ketidakjelasan.

Saat itu, Suar, Adhi dan Udhi membentuk side project The Jonis yang sama sekali jauh dari image Pure Saturday yang kalem dan santun. Pernah lihat pentas band dengan vokalis berdandan bak atlet lari dan membawa setengah lusin cheerleaders ke panggung? The Jonis jawabannya. Selain Iyo, Suar, Adhi dan Udhi, juga ada nama David Tarigan di line-up band yang bagian proyek kompilasi Ticket To Ride untuk menggalang dana pembuatan skate park di Bandung

Dari The Jonis-lah sosok Iyo ditemukan. Kawan sekampus Adhi yang kelak berperan penting dalam kelanjutan nafas hidup Pure Saturday.

“Saya jadi fans Pure Saturday dari jaman SMA,” ujar Iyo. Jika ada adagium yang mengatakan manajer band terbaik adalah fans band tersebut, maka Iyo salah satu bukti nyatanya. Tahun 2002 Iyo resmi menjadi manajer.

“Suatu band butuh motor dan Iyo orangnya,” ujar Arian yang juga kawan sekampus Iyo. Arian tidak sedang memuji temannya. Iyo saat itu seperti berhadapan dengan raksasa pemalas yang sedang tidur panjang. “Setahun saya membangunkan mereka. Mereka udah hilang percaya diri untuk ngeband. Gak percaya kalo Cokelat dan Kosong ditunggu orang. Mereka gak percaya bisa seperti itu,” ujar Iyo. Akhirnya setelah pembicaraan tiga jam dalam perjalanan Jakarta – Bandung lewat Puncak, Iyo berhasil meyakinkan mereka. (bersambung)


Last modified on: 5 September 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni