(7 votes)
(7 votes)
Read 9276 times | Diposting pada

Greats: Band Indie Surabaya yang Romantis nir-Melankolis

Sambil menunggu matahari tenggelam di bulan Ramadan, mendengarkan musik adalah kegiatan yang menyenangkan. Untuk itu, genre yang pas untuk menghabiskan sore sembari melihat langit yang mulai memerah adalah musik pop yang renyah. Mendengarkan musik pop renyah sembari menanti adzan rasanya sungguh menyenangkan,  sepertinya lebih menyenangkan ketimbang memukuli dagu Aburizal Bakrie berkali-kali.


Ketika beberapa waktu lalu saya menulis tentang perkembangan scene musik di Surabaya, saya berkenalan dengan banyak band potensial. Selain Silampukau yang tak pernah berhenti memukau saya dengan lagu folk mereka, saya juga bertemu dengan Greats, sebuah band pop yang beranggotakan Kharis Junandharu (vokal, gitar akustik, klarinet), Andrianto Rinaldy (Gitar), Antonius N. P. (Bass), Gede Riski Pramana (Drum / Perkusi)

Sebenarnya ada saling keterikatan yang kuat antara Silampukau dan Greats. Kharis Junandharu adalah vokalis Greats yang kemudian membentuk Silampukau. Walaupun karakter musik mereka berbeda -- Greats cenderung lebih pop ketimbang Silampukau yang kental nuansa folk-nya -- tapi tak bisa dipungkiri  bahwa karakter vokal Kharis berhasil memberikan warna  yang khas di dua band itu.

Pemilihan nama Greats bukan dengan alasan klasik macam “kami ingin band kami menjadi band yang Great.” Greats sendiri adalah pembacaan iseng para personilnya terhadap tangga nada 6-1-2-3-4-7-5 (la-do-re-mi-fa-si-sol). Lantas angka itu dijadikan huruf G-R-E-A-T-S, satu hal yang sering dilakukan oleh banyak orang pada plat nomer kendaraan bermotor mereka.

Belakangan ini saya tak bisa melepaskan diri dari  lagu-lagu yang ada di EP Greats. Menurut saya, hampir seluruh lagu di EP ini sangat bernyawa dan membuat semangat. Kecuali satu lagu, “Krontjong Pencarian”. Lagu ini temponya terlalu lambat. Untuk ukuran sebuah lagu pop yang menyenangkan, sepertinya lagu ini terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Baru di tengah lagu, suara Kharis yang sebelumnya pelan dan seperti tak bersemangat, langsung mendaki tinggi. Begitu juga permainan bass dan drum yang sebelumnya lemas, jadi bersemangat dan memainkan tempo yang lebih cepat. Baru setelah itu lagu ini asyik untuk di dengarkan sore-sore.

Walaupun saya kurang begitu suka “Krontjong Pencarian”, lagu-lagu lain dalam album ini likeable. Greats sangat pandai bermain kata dalam liriknya. Kalimah yang tertulis begitu puitis, romantis, namun nir-melankolis. Keunikan lain yang menyenangkan adalah dalam setiap lagu di album ini hampir tak ada repetisi kalimat, bahkan untuk bagian reff.

Simak saja lagu berjudul “Ode Tentang Kecantikan” dimana Greats seperti meluapkan semua kesenangan dalam bermain kata-kata. Semua kata yang dipilih seperti ditulis dengan seksama.

Malam ini kusaksikan gemintang berguguran di kerling indah matamu. /Lalu aku, ku tersesat begitu menyedihkan tanpa arah tujuan. /O paras bulan badai, O lautan landai, sihir aku sesukamu/tapi katakan, nama....mu/Malam ini telah terkabar, langit hangus terbakar/di senyummu yang bersinar.  Juga aku, juga aku,/luluh lantak duniaku berceceran wajahku.

O paras mimpi purba, tepian surga cepatlah isi duniaku /dan katakan nama...mu

 

Di lagu ini pula, saya menjumpai kalimat-kalimat puitis klasik yang sekarang makin jarang digunakan dalam lirik lagu. Seperti "Gemintang berguguran di kerling indah matamu", atau "Langit hangus terbakar di senyummu yang bersinar". Saya menyukai permainan personifikasi yang dilakukan oleh Greats.

Kalimat puisi klasik itu juga saya temukan di lagu berjudul “Lukisan Kenangan”. Di lagu ini, banyak bertebaran kalimat-kalimat puitis yang biasa dipakai oleh para lelaki tahun 80-an untuk merayu calon kekasihnya.

merdu hujan di senyummu/bintang-bintang di wajahmu/silir angin di lambaianmu/mengurungku selamanya

syahdu bulan di matamu/sunyi jurang di nafasmu/keajaiban di impianmu/mengurungku selamanya

 

Selainan permainan kata-kata, saya juga menyukai pemilihan chord yang tidak biasa. Pemilihan nada yang dilakukan oleh Greats itu ibarat anak kecil yang sedang mencari mainan, mencari-cari mainan apa yang cocok untuk dimainkan. Dan itu menyenangkan.

Saya tak tahu ada apa antara Greats dan bulan. Tapi saya banyak menjumpai ada penyebutan kata bulan di setiap lagunya. Termasuk di  lagu berjudul “Opera Bulan”. Selain dalam Opera Bulan, saya menemukan kata bulan di lagu “Lukisan Kenangan” dan “Ode Tentang Kecantikan”. Dalam “Opera Bulan”, lagu pop yang bernafaskan country ini, Greats seperti mengajak kita untuk selalu tersenyum. Bisa oleh musiknya yang riang, atau bisa juga karena liriknya yang seakan menghimbau kita agar tak bersedih dan menghargai kebahagiaan sederhana.

di bawah bulan malam ini/di taman depan rumahmu yang sepi, gadis/tidakkah bahagia ini terasa manis

lihatlah rumput, pohon, dan bunga/yang hanyut anggun di satu warna/seperti warna kita di hati saat ini

halaman ini berganti rasa/bulan tersenyum culas memaksa kita/selami kenangan di sungai cahaya

tapi mengapa berkaca-kaca?/apa kenangan membuatmu duka, manis?/dalam bahagia di larang menangis

ku nyaris tak percaya/masih ada duka/dalam bahagia yang begini berbunga

 

Jangan lupa mendengarkan lagu jagoan dalam EP ini, “Gubeng Rendezvous”. Lagu ini juga masuk ke dalam album kompilasi Day to Embrace, sebuah album kompilasi dari band-band indiepop Indonesia. Di album ini juga ada single dari The Trees and the Wild, Dear Nancy, hingga Olive Tree. Kalau anda mendengar lagu ini, maka anda akan tahu kenapa “Gubeng Rendezvous” pantas dimasukkan di album kompilasi Day to Embrace.

Mendengarkan “Gubeng Rendezvous” membuat saya seperti dituntun untuk duduk di bangku tunggu stasiun Gubeng yang berwarna hijau itu, saat dengan hati membuncah ingin menjemput kekasih yang datang dari luar kota.

Suatu senja di stasiun kota di remang mentari yang tua/Ditengah deru kereta dia datang tiba-tiba./tersenyum dia dibalik jendela melambai-lambai bercahaya /dan seluruh suara senja meredup seketika.

Sampai akhirnya sang kekasih harus pulang kembali ke kotanya. Di depan saya, Greats bermain di stage kecil yang terletak di belakang peron. Lantas terdengar suara peluit berbunyi. Dan kereta pun perlahan bergerak meninggalkan stasiun Gubeng. Iya, membawa kekasih saya pulang.

Perlahan,diam-diam, kereta bergerak, rindu pun muram.../kau kan menemukanku hancur di ujung lagu./Lenyap di rimba raya masa lalu/Hei, berhenti kereta! Berhenti disini saja. Bukan di Jogjakarta, Bandung, atau Jakarta/Kekasih menanti di Surabaya


Last modified on: 7 Agustus 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni