(1 Vote)
(1 Vote)
Read 6644 times | Diposting pada

Frau: Suara Surga dari Jogja

Frau: Suara Surga dari Jogja Credit Photo: Erfina Oktaviani

 

Sosoknya malu-malu. Bicara pun terkesan kaku. Bukan tipikal gambaran ideal remaja masa kini yang sibuk mencari perhatian kesana kemari.


Tapi cobalah untuk menyaksikannya saat di panggung. Seperti hilang kesadaran melihat kelincahan jemarinya bergerak di sekujur tuts keyboard. Belum lagi jika suaranya mulai didendangkan. Kita seperti dibawa ke dimensi lain. Damai dan menenangkan seperti surga.

Adalah Leilani Hermiasih Suyenaga, gadis belia berusia 20 tahun asal Yogyakarta. Jika anda kurang mengenalnya, nama Frau mungkin bisa membuat anda teringat tentang bagaimana kiprahnya di scene musik independen Kota Pelajar ini. Bersama Oskar, piano elektrik kesayangannya, Frau adalah pukulan telak bagi penyanyi-penyanyi karbitan seusianya yang lupa kalau bernyanyi tak sekadar cuap-cuap palsu di depan webcam.

Frau sebetulnya adalah sebuah pengembaraan musikal dari Lani, begitu mahasiswi semester lima jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM ini biasa disapa. Nama Frau dipilih karena Lani merasa dirinya sebetulnya tidak sendiri dalam proyek solo ini. Jika Oskar adalah pria, maka Lani adalah pasangannya, atau Frau dalam bahasa Jerman.

Sebelumnya pengagum Regina Spektor ini tercatat sebagai keyboardis di band surf rock The Southern Beach Terror. Posisi yang sama juga diemban di Anggisluka, sebuah band pop eksperimental yang pada awal-awal kariernya sempat dibantu beberapa musisi senior seperti Acum (vokalis dan bassis Bangkutaman). Saat masih duduk di bangku SMA, dirinya tergabung dalam band sekolah Essen Und Blood yang pernah diulas di majalah Hai tahun 2007 silam.

Dan beruntung Lani dibesarkan di keluarga yang menganggap penting musik sebagai salah satu elemen pendidikan anak usia dini. Sejak kelas 1 Sekolah Dasar, Lani sudah dikenalkan piano klasik. Ayahnya, Suhirdjan, penggemar gamelan. Di rumahnya ada bengkel untuk proses finishing alat musik tradisional Jawa ini. Sedang Joan Suyenaga, ibunda Lani, gemar memainkan biola di sela-sela waktunya. Dua kali dalam setahun, keluarganya rutin menggelar pentas wayang kulit semalam suntuk.

Lani bisa dibilang adalah tipikal gadis rumahan. “Kalo gak di rumah ya kuliah, ngerjain tugas, main ke rumah pacar, atau ya acara keluarga,” papar Lani menjelaskan kegiatan rutinnya. “Awalnya dapat Oskar tahun 2008, kado kelulusan SMA,” kenang Lani tentang awal mula proyek solonya itu.

Di sela-sela rutinitas, dalam kamar tidur rumahnya , bertemankan Oskar dan Amelie (kali ini adalah nama komputer jinjingnya). Lani bermain-main dengan tangga nada dan rentetan kata-kata. Menghasilkan irama indah tentang mesin penenun hujan juga bayangannya jika dirinya menjadi lelaki. Direkam seadanya di komputer jinjing dengan microphone karaoke, Lani mengunggahnya ke laman My Space. “Temen-temenku yang minta supaya bikin My Space,” akunya.

Sambutan hangat dari publik membuat Lani memutuskan untuk membagi karya-karyanya secara gratis. Setelah di mixing ulang, pada bulan Mei tahun 2009 enam lagu pilihan dirangkum dalam album Starlit Carousel yang bisa diunduh gratis di net label Yes No Wave.

Salah satunya adalah nomor fantasi percintaan berjudul "Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa" yang dibawakan berduet dengan Ugoran Prasad, vokalis Melancholic Bitch. Tak berselang lama, setahun kemudian versi fisik dengan kemasan yang ciamik dirilis dibawah label Cakrawala Records dengan bantuan distribusi dari Demajors.

Album ini banyak menuai pujian kritikus musik. Setelah masuk dalam Lima Album Terbaik Indonesia tahun 2010 pilihan Jakartabeat,  lagu "I'm A Sir" masuk dalam 'Top 5 Songs' untuk kategori Roland's Best Creative Commons Music Moments 2010 versi Phlow Magazine.  Phlow Magazine adalah majalah berbasis web yang berkonsentrasi pada rilisan-rilisan musik yang diunduh secara bebas di internet yang dirilis oleh kolektif kreatif. Dan ketika saya menyelesaikan tulisan ini, album Starlit Carousel berada dalam jajaran 20 Album Indonesia terbaik tahun 2010 pilihan editor majalah Rolling Stone Indonesia.

Saya berkesempatan untuk mewawancarai Lani sehari setelah menyaksikan pertunjukannya di gedung Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 18 Desember silam. Ini adalah kali pertama saya menyaksikan penampilannya setelah sekian lama hanya mendegar lewat hasil download. Saya beruntung karena menurut pengakuan Lani ini adalah salah satu panggung favoritnya.

Dalam perbincangan di sebuah kedai kopi favoritnya di kawasan Kota Baru, Yogyakarta, Lani berbicara tentang artefak musik, pikirannya yang sempat tertekan setelah dirinya dikenal luas oleh publik, juga keengganannya menjadikan musik sebagai penghidupan.

 

Lagu Anda baru saja masuk album kompilasi Jogja Istimewa. Menurut Anda sendiri, apa yang membuat Jogja menjadi begitu istimewa?

Orang-orangnya yang istimewa. Sebetulnya aku belum pernah merasakan di daerah lain seperti apa. Tapi kalau dilihat secara historis Jogja kan kerajaan yang gak menyerahkan diri ke Belanda. Terus kemaren waktu Merapi, orang-orang bisa langsung semuanya bergerak. Jadi sepertinya disitu istimewanya.

 

Anda sebelumnya bergabung di banyak band dan sekarang membuat proyek solo. Lebih menyenangkan yang mana?

Dua duanya nyenengin. Kalau dulu main di band seneng karena rame, saling ngisi. Tapi kalo pengen porsi lebih atau sesuatu yang beda lebih gampang kalo sendiri. Sekarang pas jalan sendiri dengerin band terus, malah ngerasa “Wah asik ya kalo bikin band” (tertawa)

 

Band-band tadi punya genre musik yang berbeda-beda, sebetulnya akar musikal Anda apa?

Sebetulnya aku suka banyak musik. Untuk aku sendiri kurang nyaman harus memilih.

 

Jadi Frau adalah musik Lani yang paling Lani?

Gak bisa, karena kebetulan sekarang mungkin aku bikin musik kayak gini, besok bisa berubah lagi, tapi gak usah ditunggu (tertawa)

 

Tapi di sini anda identik dengan piano ?

Bisanya piano (tertawa). Dulu coba-coba belajar bass, gitar juga cuma seberapa,. Yang paling bisa ya piano dan bisa eksperimen disitu.

 

Frau itu sebetulnya sekadar nama panggung atau alter ego seorang Lani ?

Nama proyek sebenernya. Semua lagu yang aku bikin dengan vokal dan piano itu Frau. Kalau aku bikin lagu baru dengan gitar atau yang lain ya bukan Frau lagi. Lani dan Oscar itu Frau. Mungkin lebih tepatnya nama band ya (tertawa)

 

Anda memang punya kecenderungan menamai benda-benda ya ?

Iya. Laptopku namanya Amelie. Handphoneku yang dulu namanya Alex, yang ini malah belum dikasih nama (seraya menunjuk handphone nya sambil tertawa)

 

Siapa influence terbesar Anda dalam proyek ini ?

Regina Spektor.

 

Tapi orang-orang lalu membanding-bandingkan Anda dengan dia?

Biarin, emang mirip kok (tertawa)

 

Siapa yang pertama kali mengenalkan anda ke publik?

Mas Angki Purbandono (fotografer dari MES 56, karyanya bisa dilihat di album Kamar Gelap milik Eefek Rumah Kaca, -red). Pertama kali aku main di pameran foto kolase anak-anak STIE YKPN. Dari situ mulai banyak yang suka dan nyari-nyari ke My Space. Itu pertama kali keluar bener-bener setelah lama di dunia maya. Selain yang sekarang di Starlite Carousel juga  ada beberapa materi lain kayak Oscar sama Marry Me.

 

Musik Frau kental dengan sound-sound klasik Eropa, ada kesulitan saat membawanya ke ranah yang lebih ngepop?

Aku awalnya gak mikir sulit atau gampang sih. Tapi kebetulan ya yang itu keluar dari tanganku. Aku gak mikir mereka mau nerima itu ato enggak. Dan untungnya ada yang mau nerima (tertawa).

 

Bagaimana dengan anggapan musik klasik itu elitis?

Padahal kalau di Belanda itu yang pernah aku baca musik klasik itu buat kalangan nomer tiga. Musik klasiknya Eropa sih karena bangsa kita dijajah terlalu lama terus kita mikir kalau semua yang Eropa itu sesuatu yang kelas elit. Tapi  klasik Jawa menurutku juga elit. Musik klasik menurutku itu bagus untuk orang belajar musik karena dasar untuk belajar teknik. Tangga nada semua belajar disitu. Semua genre musik kan pakai tangga nada.

 

Lalu bagaimana ceritanya sampai Anda merilis album solo ?

Agak lama saya pengen bikin albumnya. Sebetulnya sebelumnya ada beberapa tawaran dari beberapa label, akhirnya setelah pertimbangan ya lebih seneng sendiri karena mikir repot juga harus tanda tangan kontrak segala macem. Langsung kepikiran untuk di upload ke Yes No Wave. Sebetulnya orang kalo minta ke aku juga langsung aku kasih tapi mosok aku bawa flash disk kemana-mana, ngelayanin satu-satu (tertawa). Terus di mixing ulang lagi di studio 3 db.

 

Apa pendapat anda tentang netlabel seperti Yes No Wave?

Masa depan industri musik di situ. Semuanya dari yang besar, kecil sampai yang gak keliatan ada disitu. Tapi ada sebagian juga yang menyedihkan. Apa jadinya kalau ga ada artefak dari sesuatu yang kamu dengarkan pada saat ini di masa depan. Tapi mau bagaimana lagi, teknologi yang mengarahkan ke situ

 

Itu juga yang membuat Anda akhirnya merilis versi fisiknya?

Bisa juga. Fisik dibuat untuk mereka yang pengen punya barang, punya kenang-kenangan. Aku sendiri esensi nya juga dibarang nya. Mosok  kenang-kenangan dalam bentuk file sih (tertawa)

 

Panggung anda seperti pertunjukan teater. Ada pantomim, juga set meja kecil dan cangkir teh. Apa itu memang ciri khas pertunjukan Anda?

Gak juga. Awalnya pementasan di Lembaga Indonesia Prancis tahun 2009, ada pantomim. Kami latihan sebulan dua bulan untuk pementasan itu. Tapi disitu juga dapat ilmu baru . Untuk bagaimana sikap, mimik di panggung untuk mempertegas lagu. Jadi sebetulnya bukan gimmick panggung tapi hasil latihan-latihan itu. Kalau minum teh sih soalnya anget kan, unsur kebutuhan (tertawa)

 

Panggung ideal anda seperti apa ?

Aku lebih seneng di panggung kecil, dengan penonton yang duduk. Kalo panggung besar aku gak begitu suka, tapi pas semalam main di TBY itu aku malah suka

(Catatan redaksi : Pertunjukan Frau tanggal 18 Desember silam sebetulnya adalah pentas seni sebuah SMA di kota Jogja. Frau berbagi panggung dengan musisi-musisi seperti Risky Summerbee and The Honeythief, Fonticello, juga Endah n Rhessa)

 

Kalau Anda disuruh memilih lima musisi untuk diajak duet di panggung, siapa saja yang Anda pilih?

Zoo, soalnya mereka sangat eksperimental, bakal asik kalau berbagi. Joana Newsom, dia harpis sama nyanyi, tapi aku gak  bakal duet sama dia karena sama-sama cempreng (tertawa). Andrew Lloyd Webber, dia komponis drama musikal yang bikin Evita, Phantom of The Opera, semua lagunya bagus semua dengan tema-tema yang beda. Duh baru tiga, harus lima ya ?

 

Iya, karena kami Pancasilais

(Tertawa) Endah n Rhessa, asik. Terus yang kelima Blonde Redhead, karena mereka jenius.

 

Dengan usia Anda yang masih muda, Anda sudah dikenal publik luas. Ada perasaan menjadi selebriti dalam diri Anda?

Gak lah, masih banyak yang lebih gede, lagu yang keluar baru tujuh, itupun satu juga duet sama Melancholic Bitch. Gimana mau sombong, malu-maluin (tertawa).

 

Minimal di kalangan teman-teman dekat Anda, seperti di kampus lah

Dulu awalnya pas habis keluar di Kick Andy banyak temen-temen yang ribut. Waktu itu sempet ngedrop. Kalau gini mending ga usah diambil. Males juga kalo orang-orang yang deket sama kamu terus memperlakukan berbeda. Untungnya sekarang udah terbiasa. Temen-temen juga udah biasa aja.

 

Anda memang tidak ingin terlalu dikenal publik ya?

Kalo akhirnya implikasinya seperti itu ya mending gak usah

 

Tapi kalau setelah wawancara ini Anda makin terkenal bagaimana?

Ya gak apa-apa sih asal ga main di Inbox (tertawa). Kebutuhanku sekarang cukup orang-orang tau laguku. Dan sekarang udah cukup banyak orang yang tahu. Udah cukup itu aja, ga perlu nambah.

 

Anda ingin menjadikan musik yang Anda geluti ini sebagai hidup Anda ?

Enggak. Kalau jadi musisi enggak, tapi kalau dalam hal lain mungkin iya. Musik buat ku itu hobi.Misalnya jadi peneliti di bidang musik mungkin bisa, tapi kalau aku membuat musik untuk beli susu anakku enggak.


Last modified on: 16 Agustus 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni