(10 votes)
(10 votes)
Read 6490 times | Diposting pada

Cara Kampungan Mencari Tuhan

Cara Kampungan Mencari Tuhan denniesakrie.blogspot.com

 

Cinta tidak pernah membuat saya menangis. Bagaimana manusia memberi bukti untuk cintalah yang mudah membuat saya sering menitikkan air mata. Tiga malam lalu kesaksian akan cinta membuat saya tersedu-sedan. Cinta kepada tanah air, cinta untuk Tuhan, cinta buat Alam serta cinta bagi Bung Karno. Dan surat cinta kepada Bung Karno inilah yang paling banyak menguras air mata.

Judulnya sederhana, “Bung Karno,” ada di sisi pertama piringan hitam kolektif art-folk asal Yogyakarta Kelompok Kampungan. Dibuka dengan snippet pidato Bung Besar dari peringatan Maulid Nabi tahun 1964 di Istana Negara, komposisi ini adalah ode kompleks penuh dialektika tentang Soekarno dan Indonesia. Meski diawali dengan keyakinan bahwa Bung Karno memiliki peran besar dalam mendefinisikan Indonesia, serta membuat bangsa ini masuk dalam percaturan dunia, maestro Kelompok Kampungan, Bram Makahekum segera menegasikan premis awal itu.

Pada akhirnya Bram mengatakan bahwa sesungguhnya sejarah Soekarno adalah sejarah seorang manusia belaka, dan pada akhirnya sejarah Bung Karno, sejarah Gandhi, sejarah Stalin atau sejarah Pariyem adalah sejarah tentang dan bagi hidup mereka sendiri.

Memandang Indonesia dari sisi sudut sejarah// Teringat akan Bung Karno// Seorang Manusia yang Pernah Lahir di Indonesia dan dicatat oleh Sejarah// Sejarah Merah Putih// Sejarah Dunia// Sejarah Seorang Manusia//

Dan komposisi “Bung Karno,” alih-alih menjadi kultus kepada Bung Besar,  malah berakhir menjadi menjadi sebuah elegi pahit tentang kefanaan sang Putra Fajar. Di akhir lagu, Bram seperti menghardik kita untuk segera beranjak dari fiksasi yang pernah dan masih ada untuk Bung Karno. 

Bung Karno itu Manusia// Manusia Suatu Saat Pasti Mati// Sekarang Bung Karno sudah pergi// Bung Karno, Putra Zamannya, Bung Karno Putra Sejarah// Bung Karno Penggali Pancasila// Bung Karno Selamat jalan//

Bram sampai harus mengulangi perintah itu dengan memasang fragmen pidato Bung Karno tentang fallibility tokoh-tokoh besar dunia. 

Saya ulangi, siapa berani berkata bahwa Bismarck tidak pernah bersalah?!// Siapa berani berkata bahwa Mirabeau tidak pernah bersalah?! // Siapa berani berkata bahwa Gladstone tidak pernah bersalah?! // Siapa berani berkata bahwa Garibaldi tidak pernah bersalah?! // Siapa berani berkata bahwa Mao Tse Tung tidak, eh tidak pernah bersalah?!// Siapa berani berkata bahwa Gandhi tidak pernah bersalah?! Mohandas Karamchand Gandhi// Siapa berani berkata bahwa Stalin tidak pernah bersalah?!// Siapa berani berkata bahwa Jose Rizal Mercado Filipina tidak pernah bersalah?!// Pernah bersalah, oleh karena memang khilaf salah adalah sifat manusia//

Vokal deadpan semi deklamasi Bram, dengan cadence dan repetisi yang lebih mirip Soekarno ketimbang Rendra, dilatari bebunyian perkusif dan ramuan ritmis folk yang sangat diwarnai gamelan Jawa, akan sangat sulit untuk tidak membangkitkan kontemplasi akan nasib anak manusia, Bung Karno atau siapapun, dalam pusaran sejarah. Belum lagi jika kita harus bayangkan bahwa komposisi ini ditulis ketika rezim Orde Baru Soeharto akan segera menutup semua pintu keterbukaan sebelum memasuki era kegelapan otoriterianisme yang mencapai puncaknya di dekade 1980-an, dengan Petrus, Tanjung Priok dan  genosida di Timor Timur.

“Bung Karno” seperti sebuah elegi untuk nama yang segera harus dihapus dari memori kolektif Indonesia, meski hanya mati sepuluh tahun sebelumnya. Bisa diperkirakan bahwa  "Mencari Tuhan" Kelompok Kampungan kemudian diberangus dan mungkin hanya keajaiban yang bisa menjelaskan kenapa Akurama Records bisa merilis album ini –yang hari ini lebih banyak ditemukan artifaknya dalam bentuk kaset (Rekan di Kineruku Bandung memberikan album ini dalam bentuk piringan hitam 12” kepada saya tiga hari yang lalu). “Bung Karno” ini seperti salvo terakhir album pop subversif sebelum pintu tertutup dan layar kaca dan gelombang radio dipenuhi oleh kecengengan dan kitsch musik dansa dansi.

Namun yang lebih berbahaya dan “subversif” dari Kelompok Kampungan adalah track yang kemudian menjadi judul album “Mencari Tuhan” itu sendiri. “Mencari Tuhan” adalah sebuah komposisi yang bahkan bisa menggetarkan hati seorang agnostik yang sudah lelah dengan agama dengan segala macam penafsirannya. Konsep “Tuhan” Bram dan rekan-rekan Kampungannya sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan. Kesatuan Tuhan dan alam, panteisme Syech Siti Jenar dan Baruch Spinoza, Zen dan tema-tema hippie dari akhir 1960-an.

Tapi bagaimana konsep itu diterjemahkan ke dalam liriklah yang bisa mengguncang kemapanan teisme. Sekali lagi, dengan cadence yang dipinjam dari retorika Bung Karno, Bram menciptakan rima monoton tentang perjalanan mencari Tuhan, bahwa dalam do’a, semua orang adalah Hatta, Hamka, Rendra, Buddha, Ali Sadikin dan Yesus.

//Kami ingat setiap wajah mereka//ketika kami sujud dan berdoa//Ada yang seperti Sawito//Ada yang seperti Hamka//Ada yang seperti Hatta//Ada yang seperti Sukarno//Ada yang seperti Rendra//Ada yang seperti Bang Ali//Ada yang seperti Budha//Ada yang seperti Yesus//

Penyebutan Sawito di baris pertama bukan sebuah kebetulan. Ini adalah tindakan politik yang sangat berani. Pengamat  sejarah Indonesia dekade 1970-an tentu ingat bahwa Sawito dibui oleh Soeharto dengan tuduhan menjadi Ratu Adil palsu, segera setelah mengeluarkan ultimatum kepada Soeharto untuk mundur dan menyerahkan jabatannya kepada Hatta. Petisi ini diilhami oleh sebuah wangsit yang Sawito dapat ketika berkhalwat di Gunung Muria. Berani!

Setelah selesai dengan Sawito, lantas ada lagi lagi soal Yesus yang digambarkan berambut gondrong, memakai jaket dan celana jeans. Untuk ini, akan sangat sulit untuk tidak membayangkan bahwa Rendra-lah yang ada di kepala Bram (sebagian besar awak kelompok kampungan adalah awak Bengkel Teater dan Rendra menulis lirik di track terakhir di album ini “Aku Mendengar Suara” yang sebagian liriknya kemudian di daur ulang Rendra untuk “Kesaksian” di Kantata Takwa).

Menarik juga untuk berfikir kenapa misalnya Bram tidak menyebut Nabi Muhammad di lirik ini, sesuatu yang mungkin bisa berakhir kepada sebuah preseden bagi keributan Tabloid Monitor di akhir dekade 1980-an (Meski di sisi B album ini, di track “Hidup Ini Seperti Drama” Bram mempertanyakan apakah Tuhan sedang bermain drama, suka bercanda atau mungkin pernah berbohong).

Finale dari komposisi “Mencari Tuhan” tentu adalah ketika karakter Yesus itu berdiri dan menengadah ke langit sambil berkata: //Tuhan… aku ini milikMu//Dan mengabdi kepada kehendakMu//Semua tindakanku aku serahkan kedalam tanganMu//Melewati alam dan kehidupan//

Jarang ada manifestasi keraguan agnostis agung seindah ini. 

Selama tiga hari piringan hitam 12” Mencari Tuhan tidak beranjak dari platter turntable saya. Itupun hanya dua track sisi pertama saja yang saya putar. Di hari ke empat, saya memutuskan bicara dengan Jason Connoy dari Strawberry Rain yang dalam waktu dekat akan merilis album ini untuk pasar dunia dalam piringan hitam versi 12” dan 7”. Versi 12” akan merupakan replika dari album versi Akurama Records sedangkan versi 7” akan berisi 4 lagu tambahan yang pernah masuk ke dalam versi kaset album ini (yang selama tiga dekade terakhir beredar lebih luas di Indonesia). 

Jason tidak cukup mengerti Bahasa Indonesia dan pertanyaan pertama saya kepadanya adalah: Did it hit you right away that the first thing that you hear is Soekarno’s speech?” Jason hanya menjawab: “Pertama kali saya mendengar Kelompok (Kampungan) saya langsung terpana dan beberapa teman dari Indonesia malah bingung dan bertanya mengapa. Saya tidak tahu apakah saya pernah mendengar album folk progresif semacam itu.” Jason bukan orang pertama yang terkejut oleh album ini.

Mendengarkan Mencari Tuhanbukan pekerjaan ringan, penuh dengan kontemplasi dan diam yang melelahkan. Berfikir tentang Tuhan, alam, sejarah, nasionalisme dan segala hal yang seharusnya tidak perlu dibicarakan oleh musik pop–apalagi musik pop yang keluar di fajar dekade yang akan dekaden. Mencari Tuhan adalah sebuah pengecualian, bahwa hanya 30 tahun yang lalu, musik pop, dengan segala macam keterbatasan teknis dan kekurangan artistiknya, pernah mampu menjadi sarana meditasi khusyuk atas eksistensi.


Last modified on: 19 Maret 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni