(0 votes)
(0 votes)
Read 7579 times | Diposting pada

9 Tahun The Upstairs: Terekam Tak Pernah Mati

 

Jarum jam sudah lewat dari pukul dua belas, tapi belum ada tanda-tanda aktivitas dalam ruangan studio musik itu berhenti. Keyboardis Krishna Sukarya sudah mengeluh dinginya hembusan AC, entah sudah berapa kali pula bassis Pandu Fathoni berganti-ganti instrumen musik.


Namun vokalis Jimi Multhazam, gitaris Andre “Kubil” Idris dan drummer Benny Adhiantoro masih bergeming. Sampai akhirnya operator studio memberi tanda waktu pemakaian studio yang disewa sejak pagi sudah habis.

Sudah tiga hari The Upstairs menghabiskan hampir separuh harinya di sebuah studio musik di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Kalo punya studio sendiri bisa sampe malem tuh,” kata Beni sambil tertawa. Tanggal 12 Desember besok, band new-wave asal Jakarta ini akan merayakan sembilan tahun eksistensinya di industri musik. Sebuah mini konser akan digelar untuk para Modern Darling, fans mereka. Tak heran jika selama tiga hari mereka digeber habis-habisan. Sedikit bocoran, mereka akan memainkan set panjang. “Set buat tiga hari tiga malam,” canda Beny.

Awal Mula

Terbentuk tahun 2001 dari tongkrongan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, dengan Jimi dan Kubil sebagai penggagasnya. Sebelum dikenal sebagai pengusung aliran new-wave, The Upstairs awalnya memainkan musik punk. Punk purba tahun 70-an tepatnya.  Namun baru dua kali latihan band punk tadi bubar jalan.”Latihan kedua bosennya minta ampun. Soalnya pas maen punk rock, pattern-nya sama kayak band-band di penjuru dunia,” kenang Jimi.

Di saat yang sama, Kubil dan Jimi juga tengah gandrung mendengarkan lagu-lagu A Flock of Seagulls, band new-wave era 80an asal Liverpool. “Ini musik masih ada punk rock nya nih,” kata Kubil. Riwayat The Upstairs dimulai.

Nama Cosmic G-Spot sebelumnya dipilih. “Pas waktu itu gue baca majalah, ada berita tentang Madonna. Katanya Madonna ini dipercaya masih perawan tapi punya cosmic g-spot. Keren nih,” kata Jimi, tertawa.

Tapi nama itu tak bertahan lama. “Jorok,” kata Kubil. Sekedar info, g-spot atau Grafenberg spot adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan area di dalam vagina, yang konon merupakan titik sensitif yang bila distimulasi dapat menyebabkan gairah yang tinggi. Kelak Cosmic G-Spot menjadi sebuah judul lagu dalam album Energy rilisan tahun 2006.

Seringnya Jimi dan Kubil menghabiskan waktu di kamar Kubil yang ada di lantai dua rumah Kubil, membuat mereka mendapat nama baru. Kelak nama ini akan bertahan hingga sekarang. Tepat pada bulan Oktober 2001, The Upstairs resmi berdiri. Formasi awalnya adalah Jimi, Kubil serta bassis dan drummer yang sama-sama bernama Wawan.

The Upstairs hadir dengan musik upbeat dan danceable. Warna musik ini membuat publik seringkali membandingkannya dengan band-band new wave revival macamThe Bravery, Franz Ferdinand, The Killers, dan sebagainya. “Kita duluan fren,” sanggah Jimi. Jimi bercerita saat The Bravery datang ke Indonesia, ada jurnalis yang mengatakan kepada personel band asal New York itu bahwa ada band Indonesia yang memainkan musik serupa. Awalnya The Bravery mengira pengaruh musik mereka sudah sedemikian jauhnya. Tapi jurnalis tadi mengatakan kalau The Upstairs sudah berdiri sejak 2001, jauh sebelum Sam Endicott cs. memulai karir musiknya tahun 2003.

Personil Datang dan Pergi

Saat hendak manggung untuk kali pertama, drummer Wawan memutuskan keluar. Posisinya digantikan Beny yang sebelumnya tercatat sebagai drummer band metalcore Straightout. Kelak rekam jejak Beni sebagai mantan drummer metal akan terasa ketika kita mendengarkan ketukan drumnya yang padat dan rapat di lagu-lagu The Upstairs.

Album pertama The Upstairs adalah mini album Antah Berantah yang dirilis tahun 2002. Album ini adalah album perjuangan, penuh semangat do-it-yourself. Materinya direkam di sebuah studio kecil di bilangan Tanggamus, Jakarta Selatan dalam format kaset. “Sempet digandakan di Glodok tapi gagal,” cerita Jimi. Kubil kemudian menggandakan lewat tape to tape di rumahnya. Materi ini kemudian di burn ke CD oleh Jimi. “CD masih baru banget. Dulu kan nge-burn lama banget, pas kita diem di Ruang Rupa, anak-anak pada tidur gue burn CD nya satu-satu”.

Desain sampul juga dikerjakan sendiri. Difoto oleh Kubil dan kemudian disablon oleh Jimi. “Di kampus kan bisa sablon gratis di studio, jadi tiap malem gue di stadio nyablon sendirian. Gue cetak kecil-kecil biar murah”. Album ini kemudian dijual saat mereka manggung di pentas seni SMA 82 Jakarta di GOR Soemantri Brodjonegoro. Pembeli pertamanya adalah Arian 13 dan para personel Naif. Di album itu line-up formasinya adalah Jimi, Kubil, Beni, Wawan, Hans dan Bin Harlan.

The Upstairs sempat bergonta-ganti personel, sebelum menemukan formasi yang disebut-sebut tersolid. Jimi Multhazam (vokal), Kubil Idris (gitar), Beni Adhoantoro (drum), Alfi Chaniago (bass dan keyboard), Elta Emanuella (keyboard dan synthesizer), dan Dian Maryana (backing vocal).Formasi ini terbentuk setelah Matraman, album yang kemudian menjadi titik tolak bagi The Uptairs.

Matraman sendiri dirilis tepat pada hari Valentine tahun 2004, album Matraman memuat nomor-nomor yang kelak menjadi hits seperti "Matraman" dan "Apakah Aku Berada Di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars". Lagu  "Apakah Aku Berada Di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars" kemudian dibuat video klipnya oleh The Jadugar. Nomor ini juga menjadi heavy rotation di berbagai stasiun radio. Album ini diganjar sebagai The Best Indie Album 2004 oleh majalah Trax (dulu MTV Trax) dan masuk dalam 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Bukan itu saja, sukses hit single "Matraman" membuat Jimi cs. rajin ditanggap di berbagai pentas seni sekolah. Majalah Hai kemudian menobatkannya sebagai Raja Pensi tahun 2005. Pada saat hampir yang bersamaan, lagu Gadis Gangster masuk dalam kompilasi soundtrack film Catatan Akhir Sekolah, bersama Pure Saturday, Seringai, Mocca, dan band-band lain.

Album kedua adalah Energy, rilis bulan Maret 2006. The Upstairs membuat catatan baru dengan bergabung ke label besar Warner Music Indonesia Sempat ada suara-suara sumbang soal kepindahan ke major label, tapi Jimi punya pendapat lain. “Pas gue pertama kali bikin, gue bilang gue gak mau bikin band indie atau major. Gue pengen bikin band keren,”. Hanya satu album saja The Upstairs berada di bawah label Warner Music. Namun album ini punya deretan lagu dahsyat macam "Disko Darurat", "Terekam Tak Pernah Mati", "Energy" dan juga "Dansa Akhir Pekan".

Namun pada 7 November 2007, keyboardis Elta Emanuella memutuskan mundur untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Sempat memakai additional keyboardis Adink Permana (Klarinet, Tantrum) dan Krishna Sukarya (Visco), The Upstairs akhirnya resmi memperkenalkan Adink sebagai personel baru. Formasi ini menelurkan mini album Kunobatkan Jadi Fantasi dan album penuh Magnet ! Magnet !.

Album Magnet ! Magnet ! rilisan tahun 2009 bisa dibilang adalah awal dari proses “perenungan” bagi The Upstairs. Februari 2010, bassis Alfi Chaniago memutuskan mundur dari The Upstairs dan dunia musik. Alfi kini memperdalam ilmu agama dan mengganti namanya menjadi Bani Muhammad Mustar. Meski sudah jauh dari musik, Bani masih ikut urun tangan membantu The Upstairs. Terakhir, dia ikut menyelesaikan editing video dokumenter The Upstairs.

Tak berselang lama backing vocal Dian Maryana melakukan hal yang sama. “Gue akhirnya memutuskan mengundurkan diri karena gue pengen sesuatu yang baru dihidup gue,” kata Dian. “Married bukan alesan gue cabut dari Upstairs,” tambahnya. Setelah menikah, Dian kini menjalani bisnis akesoris. “Kecil-kecilan, gue juga freelance untuk produksi TV sama klip”. Tapi Dian mengingatkan satu hal penting. “Friendship!. Dan gue selalu bangga gue pernah jadi bagian keluarga besar The Upstairs”.

Setelah melalui proses perenungan, The Upstairs hadir dengan suntikan energi baru dari Pandu Fathoni yang mengisi bass dan Krishna Sukarya di keyboard. “Kita milih jalan sama Pandu dan Krishna. Passion mereka di musik lebih gila. Nih dia nih orangnya,” kata Jimi.

Pandu tercatat sebagai gitaris dari band post-punk The Porno. Bersama Jimi, bassis Damascuss ini membentuk Morfem yang baru saja meneken kontrak album dengan label Demajors. Bagi Pandu, The Upstairs bukan hal baru. “Sejak album Energy gue udah familiar”. Mengisi posisi yang sudah lama dihuni Alfi memang bukan perkara mudah. “Gue diaudisi langsung. Alfi di depan gue,” kata Pandu sambil tersenyum.

Sedang Krishna sebetulnya bukan nama baru. “Pas Magnet! Magnet! gue sebenernya udah ngisi keyboard buat di stage. Adink yang di studio,” kata keyboardis Visco ini. Dirilisnya album Visco membuat Krishna mundur untuk sementara. “Enaknya, pas masuk Upstairs gue ga ada beban. Gue boleh improve permainan".

Bagi Jimi, keluar masuknya personel bukan hal yang patut dirisaukan. “Pokoknya jangan sampai Kubil atau Beni cabut. Kalo mereka cabut, The Upstairs ganti format abis-abisan,” kata Jimi. Ibarat pemerintahan Romawi, Jimi, Kubil dan Beni adalah triumvirat. Jimi adalah frontman,  secara usia dia juga yang paling dituakan. Kubil, sosok pendiam nan misterius ini bertanggung jawab membangun pondasi musik lagu-lagu The Upstairs. Urusan harmonisasi mutlak ada di tangan Beni. Dia juga “guru vokal” untuk para vokal latar baru .

Sebagai entertainer, The Upstairs tahu betul bagaimana menguasai panggung. Selain dibekali musik yang enerjik, The Upstairs punya senjata lain berupa barisan lirik nan jenius. Di saat band-band independen lain sibuk ber-Inggris ria, The Upstairs justru memilih bahasa Indonesia sebangai pengantar pesan. Jimi merupakan otak dibalik bernasnya pilihan kata dalam lirik-lirik The Upstairs. “Awalnya malah pake bahasa Inggris,” kata Jimi seraya menyebut judul Mosque of Love. Sebagai catatan lagu ini pernah di-cover oleh band power pop The Adams.

Namun Jimi kemudian merasa bahasa Indonesia tak kalah apiknya untuk dijadikan lirik. “Banyak style bahasa Indonesia yang udah gak dipakai lagi. Ternyata keren, dan gampang diterima,” kata Jimi. Nama Ebiet G. Ade, Dodo Zakaria dan Fariz R.M adalah panutan Jimi. Selain itu juga ada Johan bekas vokalis band punk Kebunku. “Bagus Netral jug ague suka, terutama di album Netral pertama sampe keempat,” tambah Jimi.

Kostum Meriah dan Modern Darling

Tercatat sebagai almamater IKJ membuat The Upstairs tak setengah-setengah setiap kali pentas. Kostum dengan warna menyalak mata menjadi ciri khas, dan kemudian menjadi tren baru anak muda. “Kalo lu pengen eksis di IKJ lu kudu sinting, lu kudu gila,” kata Jimi. “Gue berbeda banget di kampus, gue sering pake jeans ijo ato merah. Akhirnya gue terapin ke panggung,” cerita Jimi. “Gue liat semua band-band pop, punk sampe rock waktu itu doyan item-item. Ah perlu gue tabrakin juga nih”.

Bisa dibilang Jimi merupakan penata busana tak resmi The Upstairs. “Tiap gue jalan liat baju bagus dan murah langsung gue beli banyak, gue bagi ke anak-anak. Nih pake nih,” kata Jimi. Kubil awalnya ogah disuruh berdandan. Harap maklum, dia anak punk. “Tapi lama-lama penyesuaian. Panggung kan gelap, butuh kostum yang terang,” tukas Kubil. Kata Jimi, “Kubil nih paling males gue suruh pake baju yang gue beliin. Ibarat gue kasih sembilan, yag dia pake cuma dua,”. “Tapi sekalinya dipake tuh baju kaga ganti-ganti, ampe busuk,” tambah Beni sambil tertawa.

Hal lain yang juga tak boleh dilupakan adalah kelihaian Jimi bersilat lidah. Jimi tahu bagaimana menjaga tensi pertunjukan agar tetap “panas”. “Bacot-bacot gue itu gue keluarin biar orang bersemangat,” kata Jimi. Setiap kali hendak konser ke luar kota, Jimi selalu mempelajari karakteristik massa.

Suatu kali saat konser di Sampit, Kalimantan Barat, penampilan mereka dibuka oleh band yang meng-cover lagu-lagu Slank. Bahkan band ini massanya lebih besar dari The Upstairs. “Pas kita mulai tampil gue cuma bilang, kita The Upstairs, kita dari Jakarta. Markas kita di Duren Tiga, cuma tiga blok dari Potlot,” kenang Jimi. Cerdas. Jurus Potlot ala Jimi tadi sukses membuat penonton bergoyang disko sampai konser selesai.

Perpaduan tadi membuat The Upstairs akhirnya punya basis massa fanatik bernama Modern Darling. Sepengetahuan Beni, populasinya sudah menyebar sampai Palu, Sulawesi Tengah. “Di album Matraman fan base kita kelasnya A karena dulu kan rilis masih eksklusif. Manggung di klub-klub kecil. Cewek-cewek cantik, rambut keren, stocking jaring. Seksi lah, bikin kita pengen bawa pulang pas turun panggung,” kata Jimi sambil terkekeh.

Saat Energy dirilis, distribusi meluas karena dukungan label besar. Koordinat fans berubah. “Fans baru kita nih yang kalo konser di depan, teriak-terika bawa bendera pake nama daerah. Vademangan (Pademangan, -pen), Cherbonze (Cirebon, -pen), “ ujar Jimi dengan tawa berderai. Pernah saat konser di Jambi, Beni didatangi satu klub vespa. “Gue kudu tanda tangan semua vespa di sana,” katanya tertawa. Beni, juga Jimi dan Kubil adalah penggemar kendaraan roda dua legendaris asal Italia itu.

Satu cerita menarik adalah kisah tentang sebuah bus Kopaja S57 misterius. Angkutan umum jurusan Blok M-Kampung Rambutan ini konon memasang cutting sticker besar bertuliskan The Upstairs di kaca bagian belakang.  Dan Kopaja ini trayeknya memang melewati kawasan Duren Tiga, markas The Upstairs.

Jimi dan kawan-kawan mengetahuinya dari foto-foto yang berseliweran di internet. “Ternyata keneknya yang Modern Darling. Dia sering pake kaos Upstairs, kaosnya juga asli dia beli di Crooz (distro yang menjual merchandise The Upstairs, -pen),” papar Jimi. Crooz adalah distro yang menjual merchandise The Upstairs.

Akhirnya semua personel The Upstairs seharian menunggu penampakan Kopaja itu. Kudos. Bus itu lewat. Kenek dan semua personel The Upstairs sama-sama berteriak kegirangan. Namun sang kenek rupanya pemalu. “Dia ga pernah mau ketemuan. Pernah dateng, tapi dia cuma di seberang markas. Gue panggil ga mau nyamperin,” cerita Beni.

Ditilik dari usia, sembilan tahun tentu bukan waktu singkat. Namun bukan juga waktu yang terlampau tua untuk berhenti berkarya. Bisa dibilang, semua personel The Upstairs sudah mantap memilih musik sebagai jalan hidup. Jimi bersama Pandu membentuk Morfem. “Pandu tuh full time musician. Pecun musik dia, “ kata Beni.

Beni sendiri kini menjadi manajer The Upstairs selepas manajer mereka mengundurkan diri. Sedang Kubil tengah merintis karir sebagai videomaker. Tercatat band fenomenal Pee Wee Gaskins pernah memakai jasanya. Sedangkan Krishna kini sedang melanjutkan studi S2-nya. “Kita pengen banget punya record label sendiri, yang bagus, buat rilis karya-karya The Upstairs, biar kita bisa gampang dan total berkarya,” ujar Jimi menutup pembicaraan.

 

TULISAN TERKAIT:

Konser Sembilan Tahun the Upstairs


Last modified on: 12 Agustus 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni