(0 votes)
(0 votes)
Read 3183 times | Diposting pada

Sigur Ros, Tarian Cahaya, Hiburan Visual dan Orgasme Jiwa

 

Saya tak tahu harus mulai darimana untuk menulis soal konser Sigur Ros Jumat malam lalu (10/05). Saya bukan penulis musik yang bisa mengulas konser dengan apik, menjelaskan detail konser dan instrumen, saya juga bukan penulis soal musik yang kemudian dikaitkan dengan falsafah, sejarah apalagi teori-teori sosial. Saya pun rasanya bukan apa yang mereka sebut hipster, pecinta post rock sejati atau apalah itu, karena saya di suatu kali playlist penuh dengan musik hura-hura ala Pitbull, Flo Rida, Calvin Harris sementara di waktu lain saya bisa terbawa ke alam lain dengan musik musik ritmis ala Sigur Ros, God Is An Austronaut, Russian Circle dan konco-konconya.

Tapi demi Sigur Ros yang datang ke Indonesia saya rela beli tiket jauh-jauh hari dengan harga yang cukup menguras kantung, walaupun kelak di Istora para calo jahanam menjual tiketnya sampai hampir separuh harga tiket normal. Sigur Ros, jujur adalah perkenalan pertama saya dengan apa yang disebut dengan Post Rock/Shoegaze. Ketika itu di Bandung medio 2009 karib saya sejak SMP Endra memutarkan Heima, video konser Sigur Ros di Islandia dan saat itu juga saya langsung cinta pada Sigur Ros, jika diibaratkan pujangga mungkin kata yang tepat adalah cinta pada pandangan pertama.

Saat mendengar berita Sigur Ros akan ke Indonesia pun, karena pengaruh Heima pula saya membayangkan konser akan digelar di Dieng, Bromo, Pelataran Prambanan atau tempat-tempat outdoor lainnya yang eksotis di Indonesia dan cocok untuk menggalau bersama Sigur Ros, namun rupanya konser dihelat di Istora. Saya pun bertanya-tanya dan berharap akan ada kejutan spektakuler dari performa Sigur Ros di panggung.

***

Saya butuh waktu 7 jam perjalanan dari Garut menuju Jakarta, hampir 2 kali lipat waktu normal, dan bahkan itu sudah membuat saya dan pacar cukup panik, takut kena macet, takut antrian panjang dan sebagainya. Dan benar, saat tiba di Istora menjelang maghrib, venue sudah penuh, antrian festival bahkan sudah mengular panjang, aneka rupa dandanan penonton bahkan membuat saya sejenak bertanya-tanya, ini Istora atau Harajuku?

Konser akan dimulai pukul 21.00, molor 2 jam dari jadwal yang tertera di tiket. Untunglah saya bisa masuk agak awal dan mendapat tempat di depan panggung. Panggung tempat Jonsi dan kawan-kawan akan beratraksi ditutup dengan tirai kain super besar berwarna putih. Batin saya, mungkin tirai akan dibuka saat Jonsi dkk masuk panggung dan konser dimulai.

Saut-sautan penonton sudah terdengar sementara detik-detik menuju jam sembilan tepat terasa makin lambat. Saya sudah benar-benar tak sabar menunggu, gigit-gigit kuku, hentak-hentak kaki, semacam rasa girang tak terhankan. Bahkan saya sudah mengabaikan jarum jam menunjuk pukul berapa, doa saya hanya semoga konser segera dimulai.

Dan detik-detik konser dimulai, panggung bertirai tiba-tiba disorot lampu, cahaya-cahaya gemerlap meliuk-liuk manis, intro dimainkan dan siluet Jonsi Birgirson, Georg Holm dan Orri Pall Dyrason muncul dibalik layar, bayangan-bayangan hitam itu memainkan nomor pertama dari setlist konser kali ini, Yfirboro. Dari opening konser yang tidak biasa ini saya sudah merasakan, konser ini akan menjadi konser yang tidak biasa.

Konsep tirai di panggung ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Tirai di panggung ini mirip beber di pertunjukkan wayang kulit, dimana pertunjukan bisa disaksikan dari balik beber dengan menonton siluet wayang kulit dimainkan dalang. Hanya saja Sigur Ros membuat keindahan konsep tirai di panggung ini berkali-kali lipat. Dari proyektor besar yang menyoroti layar, gambar-gambar abstrak dimainkan mengikuti melodi lagu, sementara dari balik layar personel Sigur Ros memainkan musik dan ditampakkan siluetnya bergantian dari tirai. Sebuah opening yang tidak biasa dari sebuah band yang tidak biasa pula.

Tidak ada kata pembuka konser, tidak ada cuap-cuap basa basi di sela-sela lagu, lagu pertama usai, dilanjutkan lagu kedua, Ny Batteri. Tirai berfungsi sebagai layar untuk memainkan potongan-potongan video. Mirip panggung layar tancap dalam versi raksasa. Penonton dihibur dengan potongan-potongan gambar sementara telinga dihajar dengan melodi-melodi lagu. Sigur Ros dari Islandia kembali menyajikan konsep pertunjukan yang sebenarnya sudah diakrabi masyarakat Indonesia semodel layar tancap. Di tengah-tengah lagu tiba-tiba slaap tirai layar terbuka, jatuh dengan cepat disertai dengan histeria massal penonton. Saya takjub, tanpa sadar saya genggam erat tangan pacar saya, menikmati ketakjuban bersama-sama.

Set panggung penuh instrumen, Jonsi, Georg dan Orri di bagian depan, sementara di bagian belakang jajaran pemain orkestra berdiri, di sisi kanan panggung terdapat instrumen-instrumen pendukung, di antara panggung terdapat tonggak-tonggak yang diatur sedemikian rupa. Dan Sigur Ros terus bermain seperti kerasukan, sementara penonton menikmati ekstase kegilaan yang mungkin membawa mereka ke alam astral, seperti kata teman saya, Nina yang berdiri di barisan yang sama “aku seperti terbang Can, indah..”

Kejutan belum usai, ketika tiba-tiba panggung gelap dan tonggak-tonggak tadi bercahaya. Tonggak di ujungnya terpasang bohlam pijar yang menyala, kemudian berkerlap-kerlip menampilkan akrobat cahaya, terkadang redup, tiba-tiba terang, terkadang gelap sesaat, terkadang semua menyala bersamaan, bohlam pijar tadi menari-nari mengikuti melodi lagu. Pertunjukan visual yang ajaib bukan soal tarian sinar laser canggih yang memukau yang sering ditawarkan di Indonesia, tapi datang dari kedipan nakal puluhan bola lampu di atas panggung, sesederhana itu.

Terdapat giant screen di belakang panggung, potongan potongan video ditampilkan pada layar besar itu , memperkuat imaji musik Sigur Ros. Sementara lampu sorot pun berubah warna berkali-kali, gonta-ganti menyorot sisi panggung, maka jadilah gabungan melodi musik, kedipan bohlam lampu dan tarian cahaya lampu sorot menjadikan sebuah mahakarya yang membuat ribuan penggemar trio dari Islandia itu diterkam trance massal.

Trance ini mungkin merasuk ke hati penonton, pacar saya menangis, sungguhan menangis saat nomor Saeglopur dibawakan. Saya kira itu tangis haru dan saya hanya bisa memeluknya dalam diam sambil memejamkan mata. Penonton lain ada yang tertunduk-tunduk, menari-nari sendiri, atau ada penonton yang menampilkan tawa bahagia sambil melompat lompat kecil. Trance ini adalah berkah bagi semua penonton yang mengganggap Sigur Ros adalah dewa dalam kehidupan musikal mereka. Trance massal ini juga yang membuat para penonton secara sukarela menurunkan ponsel foto mereka dan larut menikmati musik, Trance yang membuat para haram jadah penikmat konser yang entah menikmati konser atau buas memotret tiba-tiba hilang dan larut dalam kegilaan massal, hanya sedikit sekali ponsel canggih yang merekam momen seperti kebiasaan pada umumnya penonton konser. Ya, walaupun jepret-jepretan tetap ada di awal lagu dibawakan. Namun saya rasa, penonton sudah sadar bahwa sebaiknya menikmati konser saja daripada memotret.

Koor massal dan teriakan histeris tercipta di nomor-nomor populer yang dibawakan. Seperti Hoppipola dan Olsen-Olsen. Saya bahkan sampai lupa diri, kegirangan seperti anak kecil saat nomor Hoppipola dibawakan, ah saya terbuai bahasa Hopelandic yang Sigur Ros lantunkan. Nomor ini memang nomor favorit saya dari semua lagu Sigur Ros, nomor yang saya putar saat saya butuh inspirasi untuk menulis, nomor yang selalu saya putar saat hati sedang gundah dan nomor yang paling sering saya putar untuk memulai hari. Saya seperti bermimpi saat Hoppipola dibawakan, saya seperti berlari-lari di taman hijau nan luas sembari membawa balon warna-warni. Hoppipola adalah lagu perayaan kemenangan bagi saya pribadi, kemenangan atas apa saja.

Pada Olsen-Olsen, nomor popular lainnya, Jonsi menyanyi seperti merintih sedih penuh kepiluan. Suara Jonsi saya kira menyayat hati. Saya merinding, sementara penonton lain terdiam. Sementara Jonsi terus menuangkan keajaiban-keajaiban musikalnya di balik Bowed Guitar yang menjadi ciri khasnya. Suara departemen alat tiup dari orkestra yang mengiringi di lagu Olsen-Olsen ini kemudian ditiru penonton dengan koor massal panjang. Jonsi sampai memberi gesture salute kecil dan meminta penonton meneruskan koor massal panjang penonton yang menirukan suara seruling di nomor ini.

Peran para pemain mini orkestra pun tak bisa dikesampingkan. Merekalah yang memenuhi pertunjukan konser ini dengan musik-musik ajaib, mulai dari terompet, piano, gitar, set perkusi sampai backing vokal yang bernyanyi meliuk-liuk memainkan nada. Saya kira kehilangan seorang personel memang cukup membuat timpang, tapi Sigur Ros tetap memainkan musik dengan maksimal dengan tiga personel mengcover satu personel dan didukung penuh oleh para personel pendukung yang dibawa ke atas panggung.

Panggung tiba-tiba gelap saat nomor Brennisteinn usai dimainkan. Senyap sesaat dan benar-benar gelap, tanpa dikomando penonton meminta encore, teriakan “We Want More-We Want More” menggema seantero Istora oleh mereka para hamba encore. Toh tak apalah seorang hamba meminta harap pada dewa mereka. Dan Sigur Ros kembali membuat histeria massal saat pengharapan akan encore dikabulkan, mengalunlah sebuah nomor monumental lain Glosoli sebagai pengantar encore. Nomor dari album Takk ini dibawakan dengan menampilkan visual potongan video klipnya pada giant screen di belakang. Sementara itu pertunjukan cahaya justru semakin menghebat di nomor encore, ketakjuban dan orgasme visual untuk penonton. Sigur Ros tahu bagaimana cara membuat penonton mengawang, sekalipun masih memijak bumi.

Seusai Glosoli, nomor terakhir, lagu penghabisan, adalah Popplagið. Agaknya lagu ini adalah lagu pakem untuk menutup konser. Pada beberapa konser terdahulu trio Islandia ini memang memasukkan Popplagio sebagai penutup. Anatomi lagunya sangatlah pas untuk menutup konser, hening di awal, intro yang tenang dan dalam, lalu masuklah suara Jonsi pelan-pelan, dentum drum Orri dan betotan bass Georg dominan mengiringi suara Jonsi.

Lagu ini pelan di tengah, terus pelan, bahkan cenderung monoton, yang memegang kendali atas lagu ini adalah Jonsi, nada vokalnya yang naik turun yang mewarnai kemonoton lagu ini menjadi sebuah komposisi yang apik. Pada situasi lagu yang pelan ini dibangun ini sudah membuat penonton terbuai, tiba-tiba lagu sampai tengah, lampu mati dan lampu utama menyorot pada Orri, dialah aktor mulai tengah lagu, solo drum panjang pada tengah lagu adalahj miliknya, solo drum ini kemudian diiringi lenguhan Jonsi dan perlahan tempo makin cepat dan cepat.

Ketika tempo drum makin cepat dan cepat, tiba-tiba Orri berhenti menghentikan gebugan drumnya, giliran Georg tampil dengan betotan bassnya, lampu sorot menyorot Georg sementara Jonsi menyusul masuk dengan rintihannya. Sementara tepuk tangan semakin menggema dan orang-orang sudah mulai melompat-lompat kegirangan tak tentu arah.

Tempo ini makin cepat ketika mereka kemudian memainkan bagian terakhir Popplagið, dimana trio ini makin menggila, tempo makin cepat, Jonsi makin melengking, mengerang, Orri makin kesetanan, dan Georg seolah hilang kendali membetot basnya. Pemain mini orchestra pun makin mempercepat temponya, mengikuti kegilaan Jonsi, Georg dan Orri. Sepertiga lagu terakhir adalah penutup manis, wujud kegilaan orkestrasi cahaya, dimana lampu-lampu berkedap-kedip berganti warna dengan cepat, sementara Giant Screen di belakang pun menggambarkan visualisasi dengan sangat cepat, mengikuti tempo lagu. Lagu ini benar-benar membawa klimaks bagi penonton, membawa mereka orgasme pada puncaknya, membawa orang-orang melompat tanpa sadarkan diri, bertepuk tangan tanpa henti dan berteriak-teriak tanpa kendali. Puncaknya adalah ketika lagu ini makin kencang, titik puncak dan tiba-tiba berhenti, klimaks, sempurna. Bagaimanapun setiap manusia pasti akan menyukai akhir yang klimaks karena itu adalah orgasme yang paling sempurna dan memuaskan. Konser selesai.

Tapi manusia tampaknya memang bukan makhluk yang cepat berpuas hati, walaupun sudah diberikan klimaks yang sempurna, tapi tetap ada saja yang meminta lebih. Tapi kali ini Sigur Ros tidak memberikan kesempatan lagi, mereka tidak menghiraukan pengharapan encore lagi, kemudian seluruh personel Sigur Ros dan pemain orchestra bersama-sama ke depan, saling memeluk berbanjar dan menghormat pada penonton dengan menunduk, memberikan salam salut pada penonton, dan disambut dengan gemuruh tepuk tangan sangat panjang dari para penonton yang terpuaskan. Semua sudah usai.

***

Saya kira, Sigur Ros memberikan banyak hal bagi penonton Indonesia, penampilannya tanpa banyak ucapan banyak basa-basi langsung memberi pesan pada penonton, tidak ada kata-kata basa-basi seperti salam dalam bahasa Indonesia untuk memikat penonton, Sigur Ros memilih langsung memainkan musiknya untuk memikat penonton, pesan mereka tersampaikan melalui musiknya, dalam catatan saya hanya beberapa kali Jonsi bersuara yang bahkan saya tidak tahu dia bicara apa, dan sekali mengucap Thank You.

Sigur Ros tahu bagaimana titik penting sebuah konser adalah tak hanya menyajikan musik yang bagus tapi juga visualisasi musik mereka pada penonton. Dengan tata cahaya, potongan video, pertunjukan di atas panggung yang diracik sedemikian rupa menjadi sebuah pertunjukan nan sangat magis.

Konser ini adalah soal hiburan visual yang digarap serius untuk menampilkan imaji musikal dan Sigur Ros dengan sangat baik berhasil menggabungkan imaji visual dan melodi lagu, menghasilkan sebuah pertunjukan yang fantastis. Sebuah pertunjukan yang tak hanya menyuguhkan sajian yang memuaskan telinga, namun juga menakjubkan mata dan merasuk ke hati.

Walaupun saya sudah menulis sepanjang ini, saya tetap tak bisa menggambarkan bagaimana jalannya konser ini, saya tidak bisa menggambarkan itu semua karena saking indahnya, saking megahnya, seperti melihat mimpi yang tak bisa digambarkan. Senada dengan saya pacar saya pun kebingungan menggambarkan konser ini, disaat pulang dia hanya bilang “pas Sigur Ros di panggung, aku memvisualisasikan mereka seperti rombongan malaikat yang datang ke bumi untuk menghibur manusia.

Ya, konser hebat kali ini tak bisa digambarkan dengan mudah, dan beruntunglah mereka yang menyaksikannya secara langsung, pertunjukan memukau dari Islandia. Terima kasih Sigur Ros.

Last modified on: 5 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni