(2 votes)
(2 votes)
Read 4031 times | Diposting pada

Semakbelukar Tiada, Musiknya Masih Bernyawa

Semakbelukar Tiada, Musiknya Masih Bernyawa Kredit Foto: @EINFALTRUECULTR

 

Tanggal 8 Desember kemarin bisa dibilang adalah hari yang menggembirakan bagi musik penikmat independen dalam negeri. Sejumlah acara penting digelar di hari yang sama, dengan line up yang sama pentingnya dan menggoda untuk ditonton. Gelaran Joyland, Reuninya Waiting Room dan RRREC Fest di Jakarta dapat berlangsung dengan lancar dan memenuhi ekspektasi publik penonton sebagai rekaman lanskap terkini skena indie lokal di penghujung tahun.

Saya sendiri, yang kebetulan berdomisili di Bandung, memilih hadir di acara Dendang Petang, sebuah mini konser Semakbelukar yang diadakan Kineruku dan Elevation Records di hari yang sama. Meski digelar tanpa publikasi mencolok dan jumlah pengunjung yang relatif sedikit namun intim, boleh jadi ini adalah konser terbaik yang saya datangi tahun ini.

Well, saya memang tidak terlalu rajin menonton konser sebenarnya, tapi sangat menyenangkan bisa menonton pertunjukan hebat dan berkesan dari band yang kini terasa sulit untuk saya lupakan. Terlebih lagi, personil Semakbelukar sudah memutuskan bahwa konser di Kineruku ini adalah panggung terakhir mereka sekaligus jadi momen perpisahan para personilnya dengan dunia musik. Terdengar dramatik. Padahal publik masih begitu penasaran bertanya-tanya Semakbelukar itu sebenarnya apa dan bagaimana.

Kolektif asal Palembang ini muncul seperti hantu yang hadir untuk membuat bulu kuduk berdiri. Musik etnik Melayu yang mereka bawakan sudah cukup untuk mengalihkan perhatian pendengar dari musik umum yang sehari-hari muncul di radio, televisi, atau playlist music player. Penampilan Semakbelukar yang bersahaja dan sedikit canggung sama-sekali tidak mengurangi aura performance yang dalam dan emosional sehingga wajar bila meninggalkan kesan sulit dilupakan, bahkan diakhiri aksi dramatik yang sulit dipercaya: para personil menghancurkan alat musik yang mereka bawa sebagai bukti konsistensi akan akhir karir mereka di ranah musik.

Tentang aksi dramatik ini, memang ada sejumlah aksi destruktif musisi legendaris dunia yang kerap diingat publik. Aksi bakar gitar Jimi Hendrix, penghancuran alat musik The Who, peruntuhan bata Pink Floyd, pembantingan bas gitar The Clash, juga bakar bendera Amerika Serikat oleh Rage Against the Machine. Dan Semakbelukar mengakhiri konser dengan menghancurkan seluruh instrumen, terdiri dari akordeon, mandolin, gendang, gong kecil, dan kerincing. Apa aksi ini bakal membuat mereka legendaris? Boleh kita taruhan beberapa puluh tahun ke depan.

Pada penampilannya sore itu, Semakbelukar membungkus musik Melayunya dalam dominasi akordeon, jangkauan vokal kuat yang meliuk-liuk, lirik yang humanitarian-religius, diperkuat ritem dari mandolin, gong kecil, kerincing, dan dua gendang. Terasa aneh bahwa mereka ternyata tidak menyertakan gitar ud yang biasanya jadi pendamping akordeon, malah menggantinya dengan mandolin. Itu pun tidak dibuat menonjol dalam permainan solo atau interlude. Dalam kemasan aksi panggung yang seperti itupun, musik mereka bisa dibilang sempurna.

Dua kekuatan sekaligus pesona utama Semak belukar ialah permainan akordeon oleh Ricky Zulman dan kekuatan jangkauan vokal yang meliuk-liuk khas Melayu dari vokalis David Hersya yang mengiringi lewat petikan mandolin. Ada pula Ariansyah yang memainkan gendang besar dan Angger Nugraha dengan mini gong dan kerincing.

Memang mereka tidak terlihat skillful, njelimet, terpelajar, atau sophisticated bila dibandingkan grup Suarasama dari Medan; tapi jelas Semakbelukar bisa menyampaikan musiknya secara eksplisit dan jujur dengan lirik yang lebih tegas. Bisa jadi ini wajar, mengingat mereka lahir membawa spirit gerakan indie dari scene musik punk dan grunge. Sayangnya pada tiap jeda akhir lagu dan terjadi sesi tanya jawab spontan dengan penonton, David sang mastermind kolektif ini terlihat canggung dan kesulitan bicara ketika diminta menerangkan kisah di balik lirik puitik mereka yang cukup menggoda buat diinterpretasi.

Memang ada banyak PR di balik Semabelukar ini. Pertanyaan terbesar tentu saja kenapa mereka memutuskan mengakhiri karir sampai di sini saja? Apa ada persoalan internal, ideologis, atau keyakinan. Elevation Records sendiri yang turut menyambut penonton sore itu secara implisit mengonfirmasi bahwa berakhirnya Semakbelukar terkait dengan pilihan para anggota kolektifnya untuk mendalami agama dan kegiatan spiritual.

Ini jelas wilayah abu-abu. Kita pun ingat nama-nama seperti Nusrat Fateh Ali Khan, Youssou N'Dour, A.R. Rahman, bahkan Jalaluddin Rumi adalah sedikit figur utama Muslim yang mengekspresikan imannya dengan musik, seni, dan performance art. Tapi di sisi lain ada golongan Islam yang mengharamkan musik. Kita juga ingat Cat Stevens memilih berhenti main musik di awal-awal dirinya masuk Islam (tapi tetap menerima royalti tentu saja); kemudian comeback dengan spirit dan pendekatan berbeda dalam bermusik.

Wajar bila  saya terusik saat tersadar bahwa saya tengah jadi saksi berakhirnya sebuah kolektif musik. Bahkan para hadirin pun menyayangkan betapa band yang menjanjikan ini mati dini dengan ungkapan menyesal bersama, "Kenapa sih harus bubar? Apa tidak bisa ditunda?" teriak salah satu penonton.

Apapun itu, publik layak menghargai keputusan para personilnya resign dari dunia musik independen lokal, ranah kreatif yang sebenarnya masih sangat potensial dan eksploratif di masa mendatang. Toh, Semakbelukar telah resmi bubar jalan dalam suasana yang dibekap dingin dan gerimis langit kota Kembang sore itu, tak lama sebelum adzan Magrib berkumandang dari sebuah masjid yang terletak 200 meter dari bekas panggung mereka yang telah kosong.

Alat musik mereka boleh hancur dan Semakbelukar telah tiada. Tapi karya mereka, secuil apapun itu artinya dalam skena musik lokal kita, mau tidak mau akan terus hidup bernyawa dan patut kita kenang.

Last modified on: 25 Desember 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni