(1 Vote)
(1 Vote)
Read 3123 times | Diposting pada

Romantisme Jalanan Sirkus Barock

 

Panggung masih tampak sepi, dekorasi dengan dominasi kertas koran menyiratkan tafsir  dari konser malam itu. Cerita Dari Jalanan begitulah Sirkus Barock seperti  ingin  beromansa dengan identitas marginal yang menghayati hampir seluruh lagu yang dibawakan di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki  (31/5/2013).

Saya duduk di balkon, beberapa menit sebelum pementasan dimulai. Seperti sengaja,  layaknya suara  riuh di jalan raya menjadi semacam ucapan selamat datang ketika lampu panggung masih gelap. Suara yang sengaja direkam dan kemudian diperdengarkan di dalam gedung itu muncul nyaring dan kadang redup. Klakson bus kota, suara knalpot motor, suara penjaja koran dan asongan seperti ingin meyakinkan bahwa pertunjukan malam ini didaulat untuk mengambil titik fokus jalanan.

Jalanan yang tidak hanya bermakna konteks tanah, aspal, atau trotoar untuk sekedar dilewati. Tetapi menjadi sekaligus medium makna berjibakunya anak manusia untuk urusan-urusan perut dan keberlangsungan hidup dengan segala problematikanya.

Tidak lama, seorang laki-laki khas dengan ikat kepala itu memasuki panggung diikuti beberapa orang lainya, sorak sorai serentak bersahutan, lelaki tadi adalah Sawung Jabo.

Tidak banyak berbasa-basi setelah masing-masing personel siap dengan alat musik yang mereka pegang. Overture menjadi sajian awal mereka, suguhan musik tanpa lirik ini menjelaskan Sirkus Barock masih tetap konsisten memadukan unsur rock, dan etnik dalam satu nafas.

Tanpa jeda beberapa lagu dibawakan secara marathon, Goro-goroKalau Batas Tak Lagi Jelas dibawakan di bagian awal, sebelum kemudian pesinden Peni Candra Rini, ikut menyanyikan Pengelana Merdeka. Ada juga Giana, dan Oppie Andaresta yang ikut meramaikan dalam Bicaralah Dengan Cinta.

Dari formasi malam itu, hanya Totok Tewel saja yang saya ingat menemani Jabo di masa awal Sirkus Barock, atau ketika di group “Swami”. Gitaris yang juga dulu sempat menggawangi “Kantata Takwa” dan “Elpamas” ini masih setia menemani Sawung Jabo malam itu. Posisi drummer legendaris Inisisiri (almarhum) kini beralih ditampuk Endy Barque, sisanya adalah formasi baru, walaupun juga bukan dunia baru dalam mereka bermusik.

Ada Joel Tampeng mengisi posisi gitar bersama Totok Tewel, juga Ucok Hutabarat dalam posisi penggesek biola, Bass diisi oleh Sinung yang katanya mempunyai cita-cita sederhana ingin berdagang tempe mendoan. Posisi keyboard diisi Bagus Mazasupa, sementara Denny Dumbo  memainkan perkusi, terompet dan seruling, posisi tersebut juga dibantu Giana di bagian kanan panggung.

Ada yang menarik di sisi kiri panggung, kelompok yang menamakan “Santet Strings Kwartet” membantu menguatkan posisi Ucok Hutabarat dalam memainkan biola. Ada Ellena Bias, Adi Restiadi, dan Fu. Tidak tertinggal Hasnan yang tampak energik memainkan Cello di kursi yang sama dengan ketiga pemain biola tadi. Tetapi di beberapa penghujung lagu, Hasnan tampak maju ke depan, tepat berada di sebelah Totok Tewel dan Jabo, memainkan Cello nya dengan kibasan rambut gondrongnya, sekilas mengingatkan dengan beberapa pemain Apocalyptica.

Dalam pementasan malam itu, ada semacam prakata yang ditulis oleh produser Henky Kurniawan dalam booklet yang diberikan panitia ketika saya masuk tadi: “Ketika para kurawa berebut dan memenuhi panggung, rakyat hanya melongo menyaksikan polah mereka/ Kesalahan juga pada ksatria yang berdiam diri”. Prakata tersebut menjadi semacam manifesto awal dalam pementasan malam itu.

Sebelum penampilannya di Jakarta, Sirkus Barock juga menyapa Bandung di Dago Tea House dengan format sama seperti sapaan Jabo malam itu, bermusik sekaligus bersilaturahmi. Hanya, saya tidak tahu apakah di Bandung juga penonton diberi booklet dengan tulisan tadi, karena setelah pementasan di Bandung beberapa kawan di jejaring sosial, bahkan beberapa media berita online memberitakan konser Sirkus Barock di Bandung “dicoreng politisi”.

Sebuah peristiwa anti-klimaks ketika di lagu terakhir, sekonyong-konyong salah satu calon walikota didampingi konon katanya adalah seorang tokoh menghampiri Jabo dan memberikan semacam poster atau tepatnya apa saya kurang tahu. Reaksi yang sempat terdengar kemudian adalah teriakan-teriakan “kampanye...kampanye..kampenye..” dari beberapa penonton yang jengah menyaksikan hal tersebut, juga diluar sepengetahuan sebelumnya dari Jabo sendiri dan Sirkus Barock-nya.

Di Jakarta konser Sirkus Baock malam itu puji syukur tidak ada kendala apapun, termasuk kejadian politisi nyelonong seperti di Bandung. Beberapa lagu terakhir sempat membuat riuh suasana, ketika beberapa penonton sudah tidak sabar hanya menghentakkan kaki di lantai sembari duduk dan cukup berteriak ikut menyanyikan yang dibawakan Jabo. Mereka menghampiri depan panggung, berteriak lepas, berjingkrak-jingkrak seperti ingin beradu abab langsung dengan Jabo dan beberapa personil lainya. Ketidaksabaran itu sebenarnya sudah terlihat sejak awal, saya yang hanya duduk di balkon dapat menyaksikan dengan jelas mereka yang di bawah tampak bebeberapa kali berdiri, tidak terkecuali beberapa penonton di samping saya.

Dimulai lagu Bongkar, riuh sorak sorai penonton seperti menemukan alasanya untuk bernyanyi dan berteriak bersama. Saya yang hanya menganggukkan kepala mengikuti irama, sempat agak merinding mendengar lagu yang pernah dipopulerkan Jabo bersama Iwan Fals tersebut di group Swami. Herry 'Ucok' Sutresna (ex-Homicide) memasukkan lagu ini di urutan kedua dari daftar 10 Lagu Protes Lokal Terbaik versinya. Ia menulis di laman blognya:

“...lagu yang menyerukan pemberontakan di tengah rezim yang sedang kuat-kuatnya menjajah (Orde Baru - Red). Lagu ini bisa ditemukan di tengah demonstrasi manapun sejak ia dirilis, dari aksi di Semanggi hingga pemogokan pabrik tekstil di Cibabat, di penggusuran PKL hingga penolakan kooptasi lahan di Bandung Utara. Saya pernah menyaksikan, pada sebuah aksi pendudukan TVRI lokal di Cibaduyut 13 tahun lampau, seorang warga yang ikut ke dalam barisan mengayunkan lempengan besi pagar ke barikade Brimob, dengan menyanyikan bait:  ‘Ternyata kita harus ke jalan/ Robohkan setan yang berdiri mengangkang..”

Sayang, kini lagu tersebut identik dengan salah satu iklan kopi yang penayangan-nya mirip iklan obat batuk dengan durasi sekian detik ditampilkan sekian kali, dengan memakai icon Iwan Fals itu sendiri, walaupun tentu itu bukan sebuah kesalahan.

Setelah lagu Bongkar, Sirkus Barock menyambungnya dengan Kuda Lumping. Suasana semakin meriah saat Endy Barque (drummer) tiba-tiba memakai topeng layaknya warok dalam pementasan reog. Semua seperti kesurupan (baca: energik) yang menularkan juga ke sebagian besar penonton untuk kemudian memutuskan meninggalkan kursi dan maju ke depan panggung. Puncaknya adalah saat lagu Hio dibawakan.

Menjadi tidak afdhol ketika di lagu terakhir tersebut beberapa penonton tidak ikut maju ke depan, merangsek, berteriak dan berjingkrak tanpa dikomando. Lirik dengan reffrain yang memang cukup membuat alasan untuk berteriak bersama: “hio..!! hio..!! hio..!! hio..!! hio..!!”

Selesai lagu tersebut Sirkus Barock seperti ingin berpamitan, tidak urung protes disematkan oleh mereka yang berada di depan panggung, lagu Badut menjadi pemungkas silaturahmi “jalanan” Sawung jabo dan Sirkus Barock malam itu. Penutup yang melegakan, setidaknya beberapa lagu tadi sekaligus ikut meromansa beberapa tahun ke belakang ketika bersama kawan-kawan KPJ (Kelompok Pemusik Jalanan) Bandung dulu menantang panas sengat matahari, mengamen di beberapa perempatan ataupun bus kota.

Cerita Dari Jalanan-nya Sirkus Barock malam itu cukup sukses mendongengi saya malam itu. Jalanan yang memang tempat segala kreativitas bisa tumbuh, sekaligus bisa memuakkan salah satunya dengan papan iklan yang berhamburan ataupun baliho caleg atau cawalkot dan sejenisnya yang tak ubahnya malah hanya menganggu pandangan mata. Jalanan yang ditafsirkan sebagai “padang kurusetra” oleh Henky Kurniawan sang produser dengan imajinasi pementasan layaknya pandawa sedang menghardik Kurawa.

Walaupun tidak seutuhnya sependapat, mengingat saya juga tidak setuju apa yang dilakukan Pandawa terhadap Drupadi, ataupun bagaimana kita tahu Kresna kadang juga tidak beda jauh dengan Sengkuni. Toh saya juga setuju dalam larik selanjutnya di booklet pementasan tersebut :

“...andai semuanya memilih kemapanan dan kenyamanan sendiri, kami punya cara sendiri dalam menyikapi keadaan.”

Last modified on: 4 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni