(3 votes)
(3 votes)
Read 5245 times | Diposting pada

Rock The Vote: Melawan Lupa, Menolak Produk Usang Orde Baru

Rock The Vote: Melawan Lupa, Menolak Produk Usang Orde Baru Kredit Foto: Vitra Apriyanto

 

Rabu pekan lalu, cuaca Jakarta Selatan dan sekitarnya mendadak hujan di sore hari, setelah melewati siang yang mengalirkan peluh. Cuaca Jakarta akhir-akhir ini begitu kontras perubahannya, seperti iklim politik Indonesia jelang  Pipres 9 Juli mendatang.

Menerobos hujan,  saya  menuju Rolling Stone Cafe untuk menyaksikan konser Rock The Vote: #MelawanLupa. Dengan tujuan mengedukasi pemilih muda, komite  Rock the Vote menggelar konser bertajuk #MelawanLupa, yang fokus utamanya adalah mengingat lagi masalah hak asasi manusia, khususnya penculikan dan penembakan terhadap aktivis ’98 yang belum selesai sampai sekarang

Sempat molor sekitar 45 menit, /rif secara resmi membuka Rock The Vote dengan “Radja”. Andy mewakili personel /rif yang lain mengaku ada harapan di Pilpres tahun ini. Dan harapan itu membuat dirinya dan juga Jikun (gitar), Ovy (gitar), Tedy (bass), dan Magi (drum) untuk menggunakan hak politiknya.

/rif sendiri hanya membawakan lima lagu, termasuk cover version “Preman” dari Ikang Fawzi. “Dulu kami tidak peduli, tapi sekarang ada harapan. Jauhkan preman-preman dari Indonesia,” kara Andy.

Setelah itu Dinda Kanya Dewi, yang biasa kita lihat menghiasi layar kaca sinetron Indonesia, pun ambil bagian. Ia membawakan puisi Wiji Thukul berjudul ‘Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa’. Sayang, pembacaan puisi sebatas pembacaan teks. Tak begitu menarik. Sementara penampilan dua stand up comedian Awe dan Sammy yang membawakan materi politik di atas panggung  lebih mirip berorasi dari pada menertawakan diri sendiri.

Naiknya Koil cukup menyelamatkan tensi. Otong tak banyak bicara, lebih banyak minum obat batuk hitam dan mengeluarkan dahak di samping panggung. Mungkin karena dia tak ingat apa-apa sehingga tak bisa melawan lupa.

“Saya gak melawan lupa sih karena saya gak ingat apa-apa. Tapi saya gak mau jendral jadi presiden,” kata Otong. Penonton berharap Otong mengeluarkan statemen-statemen cerdasnya. Tapi Otong tetaplah Otong. “Saya gak mau jendral jadi presiden karena pipinya tembem. Coba kalau tirus mungkin lebih ganteng.”

Meski tak melawan lupa, “Aku Lupa Aku Luka” menjadi salah satu dari set Otong, Donnijantoro (gitar), Adam (bass), dan Leon (drum). Intro drum Leon serta reffrain maha catchy “luka luka luka luka, aku lupa luka luka luka luka" membuatnya tak pernah gagal menciptakan koor massal di setiap gigs Koil, termasuk malam itu.

Koil menutup setnya dengan “‘Kenyataan Dalam Dunia Fantasi”, yang punya fakta menyedihkan karena pernah dibawa berduet dengan Ahmad Dhani. Otong dan rekan-rekannya seperti menampar jargon nasionalisme yang kerap diusung sebagai bahan jualan salah satu calon presiden. "Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan. Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran."

Rock The Vote: #MelawanLupa juga menghadirkan mantan ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Raharja Waluya Jati  yang pernah menjadi korban penculikan Kopassus pada tahun 1998. Jati adalah salah satu korban penculikan oleh Kopassus pada Maret 1998. Saat diculik, dia dipukul, disundut rokok, dijerat lehernya, bahkan hingga disetrum dengan tongkat listrik. "Satu siksaan yang hingga sekarang membuat saya trauma terhadap listrik," kata Jati.

Jati mengatakan kehadiriannya di panggung Rock The Vote: #MelawanLupa  adalah untuk melawan lupa, bukan lupa melawan. “Boleh kita memaafkan, tapi jangan pernah kita melupakan. Karena sekali kita melupakan maka peristiwa yang sangat menyedihkan bagi bangsa ini akan terulang kembali,” ungkapnya.

Jati mengungkapkan ingatannya kepada penculikan pada masa Orde Baru adalah peristiwa di mana kehadirannya sebagai manusia dipertanyakan kembali. “Ketika muka saya diinjak dengan sepatu, itu adalah momen-momen yang tidak pernah saya lupakan. Mungkin saat ini itu tidak ada artinya karena sekarang kita bebas berbicara. Namun kebebasan itu ditebus dengan mahal oleh kawan-kawan yang saat itu berjuang.”

Jati berbagi panggung dengan koleganya di PRD, Nia Damayanti. Nia, yang juga sempat mengalami penculikan, membeberkan pengalamannya sepuluh hari diintrogasi dan mengalami penyiksaan hingga kandungannya mengalami keguguran. “Dan salah satu pemeran dalam penculikan para aktivis saat ini ingin maju sebagai calon presiden kita,” tanyanya penuh retorika.

Ketika testimoni dari dua aktivis berakhir, Payung Teduh naik ke atas panggung.  Is, vokalis dan gitaris Payung Teduh, berucap, “Siapa yang kalian pilih adalah siapa yang akan menyelamatkan kita di masa depan.”

Payung Teduh tak banyak mengumbar kata. Is, Ivan (ukulele), Comi (contrabass), dan Cito (drum) lebih banyak mengajak penonton untuk bernyanyi dan merenung di pikirannya masing-masing. Seperti member kesempatan meresapi kesaksian korban penculikan tahun 1998 tadi.

Sebagian melakukannya sambil duduk tanpa alas, sebagian berdiri hanyut, dan yang lainnya bergandengan tangan. Ukulele dan petikan gitar yang mesra mengiringi “Angin Pujaan Hujan”  seperti menghipnosis penonton untuk terus bernyanyi, lupa bahwa lagu telah berganti menjadi ‘Berdua Saja’.

‘Menuju Senja’ menutup penampilan Payung Teduh, seakan menyambut harapan datangnya ketenangan awan jingga dari panasnya hari yang telah terlalui. Penonton terus meneriakan encore saat Payung Teduh meninggalkan panggung. Namun mereka harus patuh dengan durasi. Maklum, ada kesepakatan antara pengelola venue dengan penduduk setempat untuk mengakhiri acara sebelum pukul 11 malam. 

Ucup, pembawa acara yang terus-menerus mengajak untuk jangan biarkan negara tanpa ibu negara membawa pengunjung ke akhir cerita dengan penampilan Trio Lestari. Hadirnya Trio Lestari di konser ini cukup mengernyitkan dahi. Well, masih agak aneh melihat grup pop arus utama yang punya materi “jualan” lagu-lagu cinta peleleh hati tiba-tiba tampil di acara konser Rock The Vote: #MelawanLupa.

Tompi merupakan eksekutor pertama dari Trio Lestari yang beraksi di panggung, sebelum akhirnya Glenn Fredly dan Sandhy Sandoro tampil bergantian.  Mereka menginterpretasikan dengan baik “Pesawat Tempur”  milik Iwan Fals yang di-medley dengan “Oppa Gangnam Style”, yang diplesetkan menjadi “Opa Bambang Style”. Dan akhirnya, “Nusantara” dari  Koes Plus yang dipadukan dengan beberapa lagu-lagu tradisional dijadikan menu penutup Rock The Vote.

Ada cerita menarik tentang  Sandhy Sandoro. Ia pernah terlibat  dalam pembuatan album SBY. Namun di panggung Rock The Vote: #MelawanLupa, ia mendukung perubahan politik dengan menggunakan hak pilihnya di Pilpres 9 Juli besok.

Saya ingat kata-kata Iwan Fals dalam film dokumenter tentang Munir Kiri Hijau Kanan Merah yang disutradarai Dandy Dwi Laksono, “Senjata, bom, mubazir itu. Wes gak usah diundang-undanglah kematian itu, pasti dateng. Mendingan dana itu dipakai buat yang lain. Saya ada plesetan di lagu Pesawat Tempur, daripada beli senjata, mendingan buat gue, buat pacaran deh.”

Pemilihan presiden sudah di ambang mata. Ketakutan akan terulangnya rezim militer di negara ini, yang mengebiri segala hak kebebasan berpendapat, menjadi momok yang tidak bisa dilupakan. Negara yang terlihat sejahtera selama puluhan tahun, baru terungkap kebobrokannya menjelang usia senja Orde Baru. Perjuangan mengungkap kebobrokan itu pun harus dibayar mahal, dengan darah dan senjata. Lalu, apakah kita akan menjadikan produk Orde Baru yang sudah usang sebagai pemimpin kita?

 

 

Last modified on: 18 Juni 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni