(4 votes)
(4 votes)
Read 3214 times | Diposting pada

Reportase Jazz Kota Tua: Festival Musik Kelas Dunia untuk Semua

Reportase Jazz Kota Tua: Festival Musik Kelas Dunia untuk Semua Sumber Foto: Istimewa

 

"Dimana, hoy?"
"Ini di panggung jazz Kota Tua. Kemarih aja."
"Jadi, guah mesti ke..."

***

Tuuttt. Belum tuntas saya bicara, yang di seberang telepon enak saja menutup obrolan kami saat itu. Kawan saya, Dwi, Sabtu siang itu (13/12/14) rupanya hendak mengajak saya menyaksikan Festival Jazz Kota Tua di kawasan Museum Fatahillah, Kota, Jakarta.

Digelar perdana tahun ini, ajang pentas musik yang digagas Dwiki Dharmawan tersebut menampilkan beberapa nama musisi yang karyanya sudah wara-wiri di tingkat nasional maupun dunia. Sebut saja Simak Dialog, Krakatau, Dewa Budjana, Bandanaira, dan sejumlah nama musisi jazz internasional semisal Steve Thornton (pemain perkusi kelahiran New York yang tinggal di Malaysia), Beledo (gitaris asal Amerika Serikat), dan Dale Barlow (pemain saksofon asal Australia).

Maka selepas keluarnya saya dari jalur KRL yang padat di stasiun Jakarta Kota, hanya perlu berkeliling sebentar untuk menemukan kerumunan orang yang tengah berkumpul pada satu titik. Di sanalah ia, panggung utama Festival Jazz Kota Tua, juga Dwi –kawan saya tadi– yang tak lama kemudian berhasil saya temukan tengah menunggu saya.

Dengan antusias, Dwi mengajak saya mendekat ke panggung sambil bercerita kalau yang barusan tampil adalah drummer wanita yang pernah bergabung di band sejuta umat ST12. Meski begitu, kawan saya yang lelaki ini tentu normal, apalagi kalo disodorkan wanita dengan kegemarannya pada drum, apalagi jazz. Ya, betapa kita tak boleh menilai kemampuan seseorang hanya karena ia bergabung dengan kubu mana atau kelompok apa. Dan setelah saya selidiki lebih lanjut, drummer cantik itu bernama Jeane Phialsa.

Selepas itu ada musisi lokal yang tampil memainkan "Jali-Jali" lewat aransemen etnik betawi dengan cukup cool. Kemudian dilanjut dengan Trio Ligro yang menawarkan jazz rock ciamik. Terbentuk pada tahun 2004 personilnya terdiri dari Agam Hamzah (electric/acoustic guitar), Adhi Darmawan (electric bass), dan Hendy “GIGI” (Drum). Trio ini sendiri telah merilis album perdana mereka yang bertajuk Ligro Dictionary 1, dan pada tahun 2010 kembali merilis album Ligro Dictionary 2 di bawah naungan label MOONJUNE RECORD NEW YORK.

Tak perlu ditanyakan seperti apa permainan mereka saat itu, yang akhirnya membuat saya terlanjur nyaman berada di sana dan mengiringi saya berkeliling di sekitaran panggung dan museum. Patut dicatat, banyak penjaja makanan mulai dari cilok sampai bubur ayam, dan penyewaan sepeda onthel yang juga ikut meramaikan suasana. Hal inilah yang jarang, atau bahkan tak pernah saya dapatkan dari festival jazz lainnya yang identik dengan konser mahal.

Setelah sempat berkeliling di lokasi pameran visual art yang digagas kolektif Ruang Rupa, saya kembali ke venue dan cukup terkejut mengetahui bahwa backstage tak dijaga sama sekali. Alih-alih kelalaian panitia, saya menduga memang sengaja dibuat seperti itu, dimana dengan mudahnya para musisi jazz tersebut santai saja seliweran berbaur dengan penonton. Saya sempat berpapasan dengan Dewa Budjana, Ita Purnamasari, Intan Soekotjo dan yang paling menyenangkan bagi saya adalah berkesempatan untuk ngobrol sedikit dengan Sang Maestro Jazz Indonesia penggagas acara ini: Dwiki Dharmawan.

Saat ditanya perihal misi acara ini, Dwiki menyatakan bahwa festival ini diharapkan bisa menjadi semacam ajang kumpul-kumpul musisi jazz dari dalam dan luar negeri. Selain itu, festival ini ikut mempromosikan kawasan Kota Tua ke internasional. Dan memang seperti itu rupanya, bahwa festival ini jadi salah satu cara mengenalkan pada khalayak, bahwa jazz bukanlah sesuatu yang sulit digapai.

"Kenapa kita pilih Kota Tua? karena tempat ini adalah tempat yang cocok dan sangat strategis untuk berkumpul dan merayakan akhir pekan dengan jazz, tentunya. Coba lihat di sekitar sini, banyak sekali spot yang apabila kita gunakan dengan baik, tentu ini akan menjadi sesuatu yang baik pula buat perkembangan musik dan warisan budaya kita," tambah Dwiki.

Dwiki lantas menuturkan, betapa ia dan kawan-kawan ingin menegaskan pada publik bahwa jazz adalah budaya kita juga. Dan sebagai budaya, ia tentu patut menjadi kebanggaan masyarakatnya. Dan rasa kebanggaan akan budaya tersebut, dirasa masih kurang di negaranya sendiri, khususnya kalangan anak muda era ini. Dwiki sendiri sudah merintis karir yang sangat cemerlang bersama Krakatau dan grup orkestranya, Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra, yang tentunya telah diakui mancanegara dan mendapat berbagai penghargaan hanya karena satu hal, ia mengenalkan budaya nenek moyangnya dengan kebanggaan yang luar biasa.

Obrolan kami selanjutnya adalah mengenai berbagai program dalam waktu dekat dan jangka panjang. Dalam satu bulan sekali, direncanakan bakal ada hiburan jazz di enam museum sekitaran Kota Tua, seperti Museum Wayang dan Museum Keramik. Dan untuk Festival Jazz Kota Tua, akan jadi agenda tetap setahun sekali, berkerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Jadi, mari ramaikan helatan pentas jazz di Kota Tua mulai bulan depan. Kapan lagi kita bisa menikmati tontonan Jazz kelas dunia sambil makan cilok atau sepedaan.

Last modified on: 18 Desember 2014

    Baca Juga

  • Dicari: Pemilik Politik di Ruang Publik


    Batas nyata antara ruang publik dunia nyata dan dunia maya bisa dibilang semakin buram dari hari ke hari. Pada awalnya, media sosial tidak dianggap sebagai ruang publik karena penggunanya belum…

     

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Goodnight Electric dalam "The Electronic Renaissance"


    Semenjak terbentuknya Goodnight Electric tahun 2014, mereka sudah menghasilkan 2 album penuh, 7 album kompilasi dan beberapa single dalam rilisan digital serta piringan hitam. Sempat mengalami fase hibernasi di tahun…

     

  • FisikaMatematika Rilis Album Perdana "PROPERTIES DEMENTIA"


    Diprakarsai oleh duo elektron dari Jakarta, Indonesia, FISIKAMATEMATIKA menata tatanan nada dan urutan lagu menjadi album PROPERTIES DEMENTIA yang dapat didengar sebagai kombinasi dari sisi lain genre rock alternatif dan…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni