(4 votes)
(4 votes)
Read 3113 times | Diposting pada

Pure Saturday Mengakhiri Masa Sentimentil di Makassar

Pure Saturday Mengakhiri Masa Sentimentil di Makassar Kredit foto oleh Pure Saturday FB Page/Donny Pandega

 

Ruangan khusus artis yang disediakan oleh Panitia Pentas Seni (Pensi) SMA 11 Makassar yang berada tepat di belakang panggung pementasan, malam itu (07/01) tiba-tiba berubah agak sedikit ramai. Alih-alih kacau, keramaian itu justru terlihat seperti kumpul-kumpul keluarga alias family gathering. Berbagai lapisan umur ada disana. Beberapa terlihat masih sangat ABG, beberapa yang lain –paling tidak dari perawakannya– sepertinya masih duduk di bangku kuliah. Mungkin malam itu sengaja direncanakan untuk menjadi malam rehat atas kepungan tugas akhir yang tak kunjung usai. Selebihnya adalah mereka yang tumbuh besar ketika era 90-an menjadi salah satu masa  kejayaan musik Indonesia.

Penyebab keramaian itu adalah Pure Saturday (PS), yang malam itu datang ke Makassar untuk kesekian kalinya, namun kali ini mereka hanya bertiga –Iyo, Arief dan Ade Muir– karena dua minggu sebelumnya secara mengejutkan si kembar Udi dan Adhy (drummer dan gitaris PS) menyatakan pengunduran dirinya dari band.

Beberapa Pure People –sebutan untuk para penggemar Pure Saturday– bergantian menyodorkan berbagai memorabilia yang berhubungan dengan PS untuk dibubuhi tanda tangan. Sambil melayani para Pure People yang terus berdatangan meminta tanda tangan serta, saya dan beberapa jurnalis yang meminta sesi wawancara. Ketiga personil PS sesekali meladeni si kecil Suar –anak kedua saya yang  berumur 1 tahun 9 bulan– yang berlarian kesana kemari dan sesekali meminta berbagai snack yang disediakan panitia untuk para penampil. Sayang si Elora –berusia 10 bulan kalau tak salah ingat– putra sahabat saya yang malam itu ikut bersama ayah dan ibunya serta keluarga lainnya menonton PS sudah terlelap di dekapan Ibunya, hingga tak bisa ikut bermain dan merayakan kebahagiaan di malam yang memang sudah larut itu.

Bagi saya, kumpul-kumpul keluarga di penghujung malam akhir minggu kemarin benar-benar jadi pelengkap keseruan akrab yang memang telah tersaji sesaat PS naik ke atas panggung dan menyuguhkan nomor-nomor “kontemplatif” pereda gundah atas semua gulana karena kepergian orang-orang tersayang bagi kami semua, Pure People Makassar yang hadir malam itu.

***

Hengkangnya Adi dan Udi dari PS memberikan efek psikologis yang cukup besar bagi personil yang tersisa. Meski pernah merasakan hal serupa ketika Suar memutuskan keluar dari PS, namun keputusan si kembar yang begitu tiba-tiba tetap menjadi kabar yang sangat tak mengenakkan. Selanjutnya, selama semingguan lebih PS berada dalam suasana yang begitu sentimental, papar Ade Muir ketika saya bertanya soal kabar PS pasca ditinggal Adi dan Udhi, yang sebelumnya juga dibenarkan oleh manajer PS Buddy Gunawan.

Di tengah masa sentimentil ini, PS bahkan sempat berpikir untuk membubarkan diri. “Yah udahlah bubar aja, mau apa lagi. Kita udah 20 tahun bareng-bareng terus harus mulai lagi dari nol, wah gak kebayang” kenang Ade. Bahkan untuk pertunjukan di Makassar, Ade sempat mengusulkan kepada Buddy Gunawan untuk dibatalkan. Namun setelah pembicaraan yang cukup alot dengan berbagai perbedaan pendapat antar personil PS tentang masa depan band, akhirnya diputuskan bahwa PS harus main untuk panggung di Makassar. “Setelah dipikir-pikir kalau kita bisa main di Makassar, kenapa kita gak terus aja," lanjut Ade menjelaskan alasan PS yang akhirnya memilih untuk tetap berkarya meski tinggal bertiga.

Keputusan PS untuk tetap manggung dan berkarya ini juga tidak lepas dari begitu banyaknya masukan dan dukungan dari teman-teman musisi di Bandung. “Saya juga di Bandung sempat dimarahin kok sama musisi-musisi lain. Sama Eben Burgerkill, Leon Koil,” Ade menyebut beberapa musisi yang terus memberi dukungan agar PS tetap ngeband. Bagi mereka, kehilangan personil band itu hal yang lumrah dan sudah sering terjadi –apalagi karena alasan-alasan yang prinsipil– karena itu tak ada yang perlu terlalu ditangisi.

“Karena support teman-teman, akhirnya cepat sih back on track. Akhirnya kita jalan. Insya Allah kita (PS –Red) tetap jalan kok” jamin Ade –mewakili PS– yang kemudian segera saya aminkan. Dengan semangat untuk segera back on track inilah PS menjambangi Makassar akhir minggu kemarin. Berharap Makassar bisa membantu PS benar-benar mengakhiri masa sentimentil dan menularkan semangat baru.

***

Setelah penampilan tiga band lokal Makassar yang memukau, PS akhirnya naik ke atas panggung. Para Pure People yang hadir malam itu saya yakin benar-benar merasakan kejanggalan –atau bisa saja hanya saya yang merasakan– dari atas panggung ketika drum dan gitar yang sebelumnya dihuni oleh si kembar namun malam itu diambil alih oleh additional player, Fajar “Papay” Shiddiq dari Sarasvati di gitar dan Wahyu alias Ochim di drum. Kejanggalan yang kami semua telah tahu penyebab dan jawabannya.

Sejak awal pertunjukan, meski terlihat begitu kehilangan, PS sama sekali tak menunjukkan aura kesedihan yang berlebihan. Hingga akhir pertunjukan, yang dibangun dan ditunjukkan oleh PS justru adalah keakraban yang mendalam antara ketiga personil yang berdiri sejajar di bagian depan panggung. Keakraban yang mungkin juga dibangun saat pertama kali PS manggung setelah hengkangnya Suar. Tidak hanya sesama personil, keakraban yang intim sesegera mungkin ditularkan PS kepada ratusan Pure People yang memenuhi Celebes Convention Centre malam itu. Dan mereka menyambutnya dengan suka cita dan keriuhan massal.

Spoken, Coklat dan Later The Saddest World Down mengalun membuka penampilan PS yang segera disambut dengan koor massal yang masih malu-malu. Saya sendiri memilih berdiri agak menjauh dari keriuhan yang berada tepat di depan panggung dan memilih berdiri di kanan panggung bersama keluarga kecil yang saya bawa serta malam itu.

Setelah tiga lagu pertama, Iyo menyapa para Pure People Makassar dan membagikan beberapa merch baru PS ke penonton. Tak menunggu lama, Light House yang menjadi single pertama album Grey dimainkan, dan selanjutnya Pathetic Waltz yang diambil dari album Utopia. Kedua lagu ini bisa jadi merupakan curhatan sekaligus ajakan dari PS untuk berhenti menghakimi diri atas semua masalah yang menyapa karena semuanya sangat mungkin berubah dan selanjutnya sambutlah matahari pagi dan mulailah tersenyum. Kali ini ajakan PS disambut dengan riuh yang lebih dibanding sebelumnya oleh para Pure People.

Bagi saya, momentum haru dan magis di konser ini terjadi saat PS membawakan Utopian Dream dari album Grey secara akustik dan seteleh lagu berakhir, Iyo datang menyapa dan menyambut genggaman tangan Arief dan Ade Muir.  “Tadi waktu lagu Utopian Dream, saya sempat merinding sendiri,” sambil tersenyum Ade Muir mengakui kalau ia tak bisa menyembunyikan harunya. Sebuah upaya untuk saling menguatkan, saya kira. Dan bagi kami, itu adalah isyarat manis bahwa PS masih akan terus berkarya hingga waktu yang entah. Masih secara akustik PS kemudian membawakan Di Bangku Taman dengan sangat manis.

Dua lagu berikutnya, PS memainkan cover song Morrissey, yakni Alma Matters serta The More You Ignore Me The Closer I Get. Kedua lagu ini benar-benar menambah “rasa manis” konser malam itu. Dan selanjutnya, benar-benar tak terduga. PS membawakan lagu sejuta umat itu, Don’t Look Back In Anger dari Oasis. Sontak saja sejak lirik pertama, Iyo segera disambut dengan koor massal yang kemudian memenuhi bangunan tempat konser terbesar di Makassar itu. Apalagi saat Iyo turun dari atas panggung dan naik keatas pagar pembatas dan memberikan mic nya kepada para Pure People yang semakin menggila. Dan saya masih disebelah kanan panggung menjaga si kecil dan berharap bisa segera bergabung ke tengah keriuhan.

Don’t Look Back In Anger yang dibawakan PS malam itu membuat saya merasakan dejavu. Tiga tahun yang lalu saat PS manggung di halaman RRI Jogja, PS juga membawakan lagu ini. Bedanya karena malam itu sebenarnya Don’t Look Back In Anger tak ada di setlist PS. Tapi di tengah pertunjukan tiba-tiba penonton meminta PS membawakan lagu itu yang sontak disambut dengan kegaduhan massal. Dan di tengah lagu tiba-tiba seorang teman naik keatas panggung dan merebut mic yang dipegang Iyo. Dan kegaduhan makin menggila. Ah, benar-benar dejavu yang indah.

Seakan tak membiarkan para Pure People menghela nafas, intro yang tak akan lekang oleh zaman itu mengalun. Kosong. Karena si kecil dan Ibunya sudah mencari tempat duduk agak menjauh dari kerumunan, akhirnya saya bisa juga bergabung dengan kerumunan tepat di bagian depan panggung. Dan panggung malam itu ditutup dengan Desire. Dua lagu yang membuat saya dan para Pure People benar-benar berada dalam kegembiraan yang sangat.

***

PS pertama kali menjambangi panggung pertamanya di Makassar pada 1996, di sebuah acara Inaugurasi yang diadakan oleh Senat Mahasiswa Fisipol Universitas Hasanuddin. Setelah itu, PS kembali datang ke Makassar dan terakhir adalah panggung di akhir minggu kemarin. Dan sepanjang sejarah penampilan PS di Makassar, panggung di akhir minggu kemarin lah yang crowd-nya paling besar dan luar biasa. “Ini ngeri. Bukannya lebay, tapi sejarahnya PS manggung di Makassar ini crowd-nya yang paling gila,” tambah Ade Muir.

Dan yang membuat keriuhan sepanjang penampilan PS menjadi tak biasa karena selama hampir dua jam baik PS maupun Pure People benar-benar saling bahu membahu menjalankan tugasnya untuk menajdikan malam di akhir minggu kemarin itu menjadi benar-benar akhir dari masa sentimentil karena kepergian kawan. Dan sepertinya berhasil.

Kami berbahagia.

Last modified on: 14 Februari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni