(2 votes)
(2 votes)
Read 2095 times | Diposting pada

Politik Dimulai Di Rumah: Review Pementasan City of Conversation

Politik Dimulai Di Rumah: Review Pementasan City of Conversation Foto: Washington Post

 

Semua orang Indonesia pasti pernah kesal, melihat anggota DPR kita ketiduran waktu sidang, berebutan proyek, ditangkap KPK, atau—ini mungkin yang paling menyakitkan—pindah posisi politik demi dukungan kue kekuasaan dari rezim. Bubarnya Koalisi Merah-Putih, harusnya menjadi duka yang besar bukan hanya buat pendukungnya, tetapi juga buat semua pendukung Demokrasi di Indonesia. Kita harus berhadapan dengan fakta bahwa oposisi kita menyerah setelah digempur rezim. Dan rezim ini cukup sadis untuk tidak peduli sama sekali; tidak memelihara oposisinya. Demokrasi tanpa oposisi, tidak jauh beda dengan tirani.

Terus terang sebagai orang Indonesia yang dulu ikut memilih rezim ini, kesedihan saya begitu besar ketika KMP bubar. Dulu saya memilih Jokowi karena ia diremehkan. Saya memilih Jokowi karena ia banyak janji pada minoritas—yang membuatnya semakin diremehkan. Saya juga memilih jokowi karena merasa bahwa ia adalah “The Lesser of Two Evils,” dan itu cocok dengan saya yang sering punya masalah dengan pemegang kuasa. Saya berharap bisa menjadi orang berisik pendukung KMP begitu Jokowi naik. Ternyata, yang mau saya dukung seringkali menyasar titik-titik yang tidak perlu disasar dan tidak krusial. Hingga akhirnya bubar seperti ramalan banyak peneliti politik. Bukannya saya menyesal memilih Jokowi, tapi saya tidak menyangka saja oposisi yang nampaknya begitu besar itu ternyata mengecewakan, setelah capresnya kalah, koalisinya bubar.

Tapi semangat saya kembali ketika saya menonton pementasan City of Conversation. Tulisan ini akan membahas latar belakang dan sinopsis City of Conversation, analisis dramatisnya, serta membandingkan politik Amerika yang terkandung di dalam drama ini dengan politik Indonesia kontemporer.

Tentang City of Conversation

City of Conversation (unduh nukilannya di sini) adalah drama karya Anthony Giardina yang pertama kali dipentaskan tanggal 10 April, 2014, di Lincoln Center Theater, Broadway New York. Pementasan tersebut mengambil setting di Georgetown, Washington DC, dalam jangka waktu tiga dekade—dari tahun 1979-2009. Dengan setting dan plot soal politik tingkat tinggi Amerika Serikat, pementasan City of Conversation di Arena Stage Washington DC., 29 Januari 2015 kemarin disambut layaknya seorang anak yang pulang kampung: megah dan meriah!

Drama arahan sutradara pemenang Tony Award Doug Hughes ini menceritakan perang politik dalam keluarga politisi tingkat tinggi Amerika Serikat. Hester Ferris, dimainkan dengan tajam dan cerdas oleh Margaret Colin, adalah seorang Political Hostess—istilah untuk ibu-ibu socialita yang sering membuat pesta-pesta lobi politik di rumahnya. Janda kaya berideologi liberal-kiri dan beranak satu ini tinggal di Georgetown—wilayah elit di Washington DC—bersama pacarnya, seorang senator Democrat bernama Chandler Harris (Tom Wiggin). Pada tahun 1979, para Political Hostess ini masih sering mengundang senator-senator dari Partai Republican (Konservatif) untuk bicara politik dan lobi bisnis dengan senator-senator dari Partai Democrat (Liberal) dalam pesta-pesta pribadi di rumah mereka. Masalah dimulai ketika anak lelaki Hester, Colin (Michael Simpson) pulang dari London School of Economics bersama tunangannya Anna (Caroline Hewitt). Sebagai singa betina berpengalaman, Hester tahu kalau ada singa betina muda berambisi kuasa yang masuk sarangnya. Hester merasa Anna sengaja minta dikenalkan ke keluarga tunangannya tepat di hari makan malam dua partai itu untuk 'menjual' dirinya di kancah politik tinggi Amerika Serikat. 

Anna berhasil ‘eksis’ dengan ide-ide konservatifnya di makan malam itu, dan ia ditawari kerja di bawah senator Republican dari Kentucky, George Mallonee (Todd Scoffield). Malam itu Anna menang banyak, karena selain dapat pekerjaan, dapat calon suami kaya, ia juga berhasil membujuk calon suaminya untuk pindah ke partai Republican—padahal Colin dibesarkan secara liberal dari kecil. Sebagai Liberal Kiri sejati, tentu saja Hester harus menerima keputusan anaknya itu dan merestui pernikahan serta pilihan politik anaknya. Cerita berganti satu dekade, ketika anak dan menantu Hester sudah punya posisi  penting di daerah pemilihan New Hampshire (yang pada tahun 1987 sangat-sangat Republican). Colin dan Anne sudah punya satu anak bernama Ethan, yang sering dititipkan di rumah neneknya dan dirawat oleh kakak sang nenek, Jean Swift (Ann McDonough). Ketika itu Amerika sedang dilanda keributan karena pemerintah Reagan hendak menempatkan seorang Hakim yang pernah terkena skandal korupsi, Robert H. Bork, untuk naik menjadi Hakim Agung--mirip dengan kasus Budi Gunawan yang pernah Indonesia alami. Hester memutuskan untuk membuat surat resmi untuk melawan pengangkatan Hakim ini—surat yang akhirnya disetujui lebih dari separuh anggota parlemen. 

Jelas hal ini membahayakan posisi Anne dan Colin di partai, karena Republican mendukung Reagan dan Bork. Tapi Hester merasa tak punya pilihan, karena selain pernah terjebak skandal Watergate di zaman Nixon, Bork juga terkenal sebagai seorang hakim yang anti terhadap hak sipil dan kebebasan sipil. Ditolaknya Bork oleh parlemen Amerika adalah titik balik keluarga Ferris dan politik Amerika sendiri. Anne dan Colin memutuskan hubungan dengan Hester dan membawa anak mereka pergi dari neneknya, sementara arah politik Amerika (khususnya partai Democrat) mulai fokus kepada kebebasan sipil dan hak-hak sipil dengan mulus, salah satu sebabnya karena Hakim Agungnya bukan Bork. Inilah akhir sebuah keluarga dan bagian kecil dari perjuangan sebuah partai. 

Akhir drama adalah tahun 2009, ketika Obama menang sebagai presiden Afrika-Amerika pertama, dan hak LGBT diakui di Amerika. Cucu Hester, Ethan (dimainkan dobel oleh Michael Simpson, aktor yang memerankan Colin), untuk pertama kali setelah 24 tahun, kembali ke rumah neneknya. Ia membawa pacarnya, Donald Logan (Freddie Bennet), seorang sejarahwan kulit hitam. Ibunya sudah bercerai dengan ayahnya, namun sang ayah masih urung bertemu dengan si nenek karena gengsi. Ethan suwun ke rumah neneknya untuk bertanya, kenapa sang nenek tega mengorbankan keluarganya demi politik. Neneknya menjawab dengan tenang, “Karena hakmu hari ini, adalah akibat perpecahan keluarga kita.” Ethan seorang gay, yang berpacaran dengan seorang kulit hitam berpendidikan tinggi—itulah hak yang dimaksud Hester yang ia perjuangkan lebih dari 30 tahun, dan mengorbankan keutuhan keluarganya sendiri.

 

Ketika Drama Politik Kembali Ke Broadway

Dalam sebuah pembicaraan informal saya dengan Ugoran Prasad (kandidat PhD CUNY dan vokalis band Melancholic Bitch) di NY tahun lalu, muncul sebuah kalimat simpulan, “Sudah tidak ada ‘teater’ di Broadway.” Kesimpulan ini hadir karena ‘teater’ dalam arti sebenarnya adalah gerakan masyarakat dan tidak melulu soal komersil atau musikal. Sementara Broadway hari ini adalah sebuah industri dengan kompetisi yang keras. Hampir semua pementasan bergaya musikal yang tiketnya sangat mahal dan kebanyakan penontonnya adalah turis. Salah sedikit, sebuah pementasan akan tersingkir ke Off Broadway, Off-off Broadway atau mati takkan terulang. Drama Politik, seperti kata reviewer teater NY Times, Charles Isherwood, “berlawanan dengan prinsip Broadway.” Karena itu, ketika City of Conversation dipentaskan di Broadway, teater seperti kembali hidup di sana.

Turis tentu saja akan mudah tersesat dalam drama ini, karena banyaknya referensi-referensi politik Amerika yang dipakai. Namun yang membuat drama ini hebat adalah naskahnya yang bisa menerjemahkan argumen-argumen politik penting jadi sesederhana perseteruan keluarga, dan keputusan-keputusan politis tingkat tinggi yang ditentukan dalam sebentuk pertengkaran ala telenovela. Di dalamnya terdapat banyak komedi yang ringan, dan seringkali gelap. Giardina dengan tajam membuat sebuah plot dan karakterisasi yang begitu penuh ironi.

Bayangkan saja, setting drama ini hanya satu: sebuah ruang tamu di rumah. Dalam perspektif patriarki, rumah adalah ranahnya perempuan, maka dibuatlah tokoh-tokoh pentingnya semua perempuan: Hester Ferris, kakaknya Jean, dan Anna. Sementara kita bisa merasakan bahwa hampir semua tokoh laki-laki ‘dikendalikan’ atau ‘dimanipulasi’ oleh tokoh perempuannya. Dalam politik, ini bukan hal baru: kita bisa melihatnya dari Cleopatra dan Julius Caesar, sampai Cersei Lannister dan Daenarys Targariyen di Game of Thrones. 

Selain itu, Giardina juga membalik stereotipe kita tentang konservatif dan liberal. Ketika kita bicara konservatif, kita biasanya terbayang imej orang tua yang melarang-larang anaknya. Namun drama ini menyajikan sebaliknya: orang tua yang liberal, melawan anak-anak yang konservatif. Saya jadi ingat ceramah Slavoj Zizek soal ‘orang tua postmodern’ yang ‘memaksa’ anak-anaknya untuk jadi bebas. Paradoks inilah, menurut Zizek, yang membuat banyak anak muda cenderung menjadi fundamentalis dan mencari struktur instan yang bisa mendikte mereka. Tokoh Colin dalam drama ini menemukan struktur instan itu di istrinya, Anne, yang bisa mendiktenya menjadi apapun yang istrinya mau—sampai Colin muak dan mereka cerai. 

City of Conversation bukan hanya membalik stereotipe dan representasi soal politik tingkat tinggi seperti yang selama ini kita tahu, tapi juga membingkainya dalam kerangka setting dan plot yang logis dan masuk akal. Cara mengolah referensi menjadi plot dan penokohan yang nampak sederhana dalam kedalaman risetnya inilah yang membuat City of Conversation pantas bersanding di Broadway, menyaingi drama-drama komersil lain. Dan ini baru naskah, kita belum bicara soal penyutradaraan dan akting.

Sutradara Doug Hughes terkenal dengan gaya penyutradaraan yang lugas dan tempo drama yang cepat. Pemenang sutradara terbaik Tony Award 2005 ini nampaknya memang sutradara paling cocok untuk City of Conversation, yang seluruh isi dramanya adalah percakapan. Dalam hampir dua jam pementasan, dialog-dialog panjang dibawakan secara sangat intens, tapi tidak over-akting. Ada kemungkinan pementasan ini jadi sangat membosankan, tapi Hughes menutup semua kemungkinan itu dengan pengertian para aktornya, dan bloking pemain di panggung Arena Washington DC. Lihat iklannya di link ini.

Bermain di panggung Arena tentunya jadi tantangan tersendiri. Bloking panggung dan posisi aktor harus nyaman untuk dilihat dari sudut manapun. Di sinilah saya memperhatikan kepiawaian Hughes dalam mengatur bloking: beberapa kali aktor yang tidak punya dialog bergerak entah untuk mengambil minum, atau sekedar melihat ke luar jendela, untuk memberikan panggung kepada aktor yang sedang berdialog panjang. Perubahan posisi aktor-aktor ini menjadi begitu krusial untuk membuat drama percakapan panjang jadi ‘bergerak.’

Di akhir pementasan, tepuk tangan meriah diberikan untuk aktor-aktornya, khususnya Margaret Colin yang memerankan Hester, Caroline Hewitt yang memerankan Anne, dan Michael Simpson yang memerankan Colin/Ethan Ferris. Margaret Colin berhasil dengan sangat intens memimpin seluruh drama dengan kualitas yang setara dengan pemain Broadwaynya, Jan Maxwell: dari menjadi ibu berusia 50 tahunan, nenek berusia 60 tahunan, dan pensiunan politikus berusia 80 tahunan. Begitupun Caroline Hewitt dan Michael Simpson, yang bermain sebagai pasangan pacaran tahun 70an, dan suami-istri politikus konservatif tahun 80-an. Emosi para aktornya terasa sangat otentik. 

Semua faktor ini—naskah, penyutradraan, akting, memberikan satu pelajaran penting untuk saya soal keluarga dan politik. Bahwa bahkan di unit terkecil masyarakat, keragaman harus tetap ada dan terpelihara. Hester berusaha menjaga keragaman itu dengan berdiskusi dan berdebat dengan anak dan menantunya. Posisi politik drama ini jelas-jelas liberal, karena dari rekam jejak kebijakan, liberalisme Amerika hari ini membuka ruang diskusi dan dialog jauh lebih besar daripada konservatif-nya.  Anak dan menantu Hester merasa keluarga harus didahulukan, tapi Hester merasa ia punya beban dan tanggung jawab sebagai kelas menengah atas Amerika terhadap banyak orang. Hati kecilnya tidak bisa mendahulukan keluarga dibanding negara. Beginilah kaum liberal Amerika mempromosikan nasionalisme-nya hari ini. 

 

Masa Depan Politik Kita

Politik Amerika Serikat sudah berumur ratusan tahun, dan drama City of Conversation adalah ringkasan pencapaian politik ratusan tahun itu. Sistem politik selama itu saja masih perlu proses untuk berdiskusi dan berdebat dengan sehat. Masih segar di ingatan kita, drama Jokowi-Prabowo yang benar-benar menguras emosi kita di segala ranah, dari media sosial sampai ke rumah tangga. Saya sendiri ingat, pernah membuat ibu saya menangis karena saya pro Jokowi dan ia pro Prabowo. Banyak kasus pasangan pacaran putus karena Jokowi-Prabowo ini, dan di sini yang personal jadi politis. Kita butuh waktu lebih lagi untuk menjadi dewasa dalam berpolitik dari warung kopi sampai ke gedung DPR. Karena masa di mana yang ‘berbeda’ bisa diculik dan dibunuh, belum berlalu dalam umur demokrasi kita yang masih balita ini.

Bahkan di luar periferi perkotaan, kita masih menemukan pembunuhan Salim Kancil, atau aktivis-aktivis akar rumput, pengusiran Gafatar, Ahmadiyah atau Syiah, dan yang terbaru, penggebrekan pusat pendampingan dan konsultasi LGBT, serta tekanan-tekanan publik untuk mendiskriminasi minoritas. Publik sendiri masih banyak butuh pendidikan, minimal soal definisi-definisi politik seperti ‘diskriminasi’, ‘HAM’, bahkan ‘liberal’ dan ‘konservatif’. Keterasingan antara masyarakat dengan politik tingkat tinggi ini adalah salah satu masalah besar dari sistem demokrasi di seluruh dunia. Indonesia pun sedang melalui masa itu.

Internet masuk dan kita bereaksi dengan mendukung atau  melawan pengaruh-pengaruh dari lautan teks dan informasi. Representasi di lapangan yang tadinya dibungkam atau tidak dianggap, tiba-tiba menyeruak ke kehidupan kita tanpa permisi dan membuat banyak dari kita gagap. Yang paling menyedihkan dari kegagapan kita bukanlah intervensi atau nilai-nilai asing seperti sekularisme atau liberalisme (dua istilah yang sering digunakan tanpa mengerti maknanya), atau komunis atau LGBT. Jargon-jargon asing ini seringkali digunakan di media mainstream internet sebagai ‘kata-kata kontroversial’ agar terlihat ‘berilmu.’ Mirip dengan ‘konspirasi hati’ ala Vicky Prasetya. Yang paling menyedihkan adalah kita terasing dari sejarah dan kebudayaan kita sendiri: sejarah dan kebudayaan sebuah sekumpulan etnis dan umat yang membuat perjanjian politik bernama Indonesia.

Kata Almarhum Ben Anderson dan Pramoedya Ananta Toer, nasionalisme kita dibentuk dari Surat Kabar milik Pribumi dan Radio. Media cetak dan media elektronik membuat dasar kemerdekaan sebuah bangsa kepulauan. Media dulu menjadi alat propaganda satu arah, dari pusat sampai pelosok. Hari ini internet membuatnya dua arah, dari pelosok kini bisa ke pusat. Di sini harusnya kita bisa mendengar suara-suara yang tadinya tidak terwakili, dan jarak antara pusat dan pinggiran semestinya bisa kita eliminasi semakin dekat dengan dibangunnya infrastruktur. Maka tugas kita, para humanis, hari ini sudah jelas: kita harus melipat jarak politik pusat-pinggiran, kalau kita masih ingin punya negara ‘besar.’ Kita harus ingat bahwa Bhineka Tunggal Ika dan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah paradoks yang mempersatukan kita. Banyak etnis tapi satu bangsa, banyak agama tapi Esa.

Sadar saja bahwa sebuah usaha politik tidak akan terjadi secara instan. Maka jangan pernah lelah. Jangan menyerah seperti KMP, yang gagal menjadi oposisi dan akhirnya tunduk pada rezim latah ini. Masih banyak pekerjaan dan representasi yang harus dibangun dari orang-orang yang dipinggirkan rezim. Karena itulah, seperti kata Efek Rumah Kaca, satu-satunya cara menjadi Indonesia adalah “Bangun dari tidur berkepanjangan, menyatakan mimpimu. Cuci muka biar terlihat segar,… memudakan tuamu, menjelma dan menjadi Indonesia.”

Last modified on: 22 Februari 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni