(5 votes)
(5 votes)
Read 3079 times | Diposting pada

Konser Sangkakala: Mengaum Bersama Macan-macan Bantul

 

Kamis pertengahan Desember lalu (19/12) layak dicatat sebagai hari bersejarah bagi dunia musik Indonesia, terkhusus untuk ranah Glam Rock. Sangkakala, yang dengan bangga menyebut Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai asalnya, meluncurkan album penuh perdananya bertajuk Heavymetalithicum dalam konser terjujur yang pernah saya saksikan.

Tanpa publikasi jor-joran ratusan Macanista, sebutan penggemar band yang lahir bulan November tahun 2005 ini, datang ke Amphitheater Taman Budaya Yogyakarta untuk mengaum bersama. “Undangan belum disebar udah pada datang. Yang butuh undangan nanti habis konser bisa diambil di saya,” kata Hendra “Blangkon”, vokalis dari band yang besar dari pentas musik Rock Siang Bolong di kampus Institut Seni Indonesia, Sewon, Bantul, Yogyakarta ini.

Selama 2,5 jam Blangkon bersama  Ikbal ‘8ball’ (gitar), Rudi Atjeh (Bass), dan Tatang ‘Tatsoy’ (drum) memenuhi langit-langit dengan vokal yang melengking-lengking, aransemen yang menjerit-jerit, juga semburan kembang api yang meninggalkan bau mesiu dan khasnya aroma ciu. “Ciu Bekonang rasane enak. Seger. Ra koyo ciu liyan e (Ciu Bekonang rasanya enak. Segar, nggak sperti ciu lainnya –Red),” kata Blangkon lalu meneguk penuh kenikmatan alkohol lokal tersebut.

Saya melihat konser ini sebagai konser launching terjujur yang pernah saya dapati. Agaknya kawan-kawan Sangkakala berhasil menunjukkan siapa mereka lewat konser ini. Malam itu konser berlangsung dengan sangat santai. Blangkon layak disebut sebagai seniman serba bisa. Selain sebagai vokalis cum tukang sablon yang piawai, dia adalah komedian ulung yang membuat perut saya lemas karena tak henti-hentinya mengeluarkan celetukan-celetukan ajaib. Saya sempat kebingungan. Ini konser apa panggung lawak?

Konser dimulai dengan video screening dari Sangkakala sembari personel menyiapkan peralatan perangnya. Setelah Blangkon mengucap Assalamu’alaikum, langsung digeber In To The Row yang yang juga diset sebagai intro dari album terbaru Sangkakala tersebut.

Lagu kedua diisi dengan Live at Rollercoaste. Tak perlu menunggu lama, lagu ketiga Gangbang Glam Rock berhasil membuat penonton beranjak dari tempat duduk untuk berdiri sejajar di depan panggung bernyanyi bersama.

Hotel Berhala membuat suasana semakin panas. Semakin banyak Macanista yang ikut bernyanyi. Di lagu kelima, Heavymetalithicum, suasana semakin meriah ketika kembang api dari ujung gitar 8ball dinyalakan. Selain potongan rambut mullet dan celana legging motif macan, kembang api di ujung kepala gitar & bass sudah menjadi ciri khas dari band yang bernaung di netlabel Yes No Wave asuhan Wok The Rock ini.

Blangkon memberikan kehormatan pada penonton untuk menyulut kembang api. “Aku wegah nyumet nggone de’e. Arep disumet obah-obah wae. Ta’ sumet kombote wae (aku malas menyulut kembang apinya. Mau disulut malah bergerak terus. Kusulut bulu kemaluannya saja –Red).”

Blangkon yang kehausan minta diberikan air minum ke kru panggung. “Njaluk ngombene, ngelak tenan aku (aku minta air minum, haus sekali –Red)”. Blangkon minum dengan tandas dari botol yang diberikan kru. “Jinguk. Sing ta’ ombe malah ciu (Sialan. Yang ku minum malah ciu –Red).”  Kru lalu meberikan air mineral botolan kemasan sedang ke Blangkon. “Jinguk. Gedhe buanget botole (Sialan. Besar sekali botolnya –Red)” Yah, namanya juga ciu. Namanya juga Blangkon.

Jeda setelah lagu kelima diisi dengan pemutaran video testimoni dari teman-teman tentang Sangkakala. Terlihat beberapa nama seniman dan musisi menyumbangkan testimoninya. Sekali lagi, jauh dari kesan puja-puji, bagian ini malah menjadi kocak karena testimoni yang terlampau jujur. Mengocok perut semua yang beruntung hadir malam itu. “Tatang itu putra daerah Kotagede. Kalo dia gagal sama Sangkakala, dia mau maju jadi caleg,” ujar Blangkon.

Konser dilanjut. Lagu keenam yang bertajuk Kawan Lawan dikumandangkan. Lagu ini merupakan salah satu lagu baru yang jarang dibawakan sebelumnya. Enam lagu dan rentetan kembang api di ujung gitar rupanya belum berhasil membuat Blangkon menjadikan konser ini pecah.

Baru di Sangkakala yang ada di urutan ke tujuh, konser mulai tak terkendali. Panggung sudah penuh Macanista dan percikan kembang api ujung gitar. “Tenang. Kita sudah ada bagian keamanan sendiri. Kopassus. Korps Pasukan Khusus Sangkakala,” ujar Blangkon menenangkan massa yang mulai liar.

Setelahnya, KANSAS dikumandangkan. Akronim dari Kami Anak Nakal Suatu Saat Akan Sadar merupakan salah satu lagu anthem yang sudah familiar. Suasana panggung sudah porak poranda, termasuk bass Rudi Atjeh mengalami kerusakan entah apa sebabnya. Mungkin karena terlalu banyak penonton yang nimbrung di panggung.

Iki kok bundet kabel e, tulung diuculi (Ini kok kusut kabelnya, tolong dibereskan –Red),” perintah Blangkon kepada penonton. Penonton pun seperti domba-domba yang takut pada si Raja Hutan, lalu ikut membereskan kabel. “Lha ngene iki acara konser sing apik. Njuk do guyub mbenakke kabel (Seperti ini acara konser yang bagus. Gotong-royong merapihkan kabel –Red),” sambungnya.

Rupanya perlu waktu lama untuk membenahi kekacauan tadi. Blangkon kembali mengisi waktu dengan petuah-petuahnya. “Nek nggo wireless apik, tapi ra ono senine (Kalau pakai wireless tapi tak ada seninya –Red),” ucapnya. “Ngomong e diakehi wae mergone lagune sithik. Ben kethok suwe konsere (Ngomongnya yang banyak karena lagunya sedikit. Biar konsernya lama –Red).”

Haha. Sinting!

Rudi Atjeh memberi isyarat bass-nya sudah siap menyalak kembali. Suasana makin pecah. Konser ditutup dengan Tong Setan dimana seisi Amphiteater TBY ikut bernyanyi dan mandi percikan kembang api ujung gitar.

Penonton, yang baru panas di 3 lagu terakhir, tentu belum puas dengan berakhirnya Tong Setan. Tak henti penonton bersorak meminta konser dilanjutkan. Sebelumnya saya menduga Sangkakala tidak menyiapkan encore. Ternyata muncul lagu Kerangka Langit milik Kaisar, lalu konser benar-benar ditutup dengan Tong Setan yang dimainkan sekali lagi. Ini belum seberapa. Saking populernya Tong Setan, lagu ini pernah dibawakan sampai enam kali!!

Last modified on: 7 Januari 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni