(4 votes)
(4 votes)
Read 3085 times | Diposting pada

Jazz dan Hal yang (Seharusnya) Sudah Selesai

Penyusun: Arman Dhani & Nosa Normanda

 

Mereka…karena mereka sedih nasibnya. Di gua itu sambil mukulin batu bara itu [menirukan suara tangis] nangis. [menirukan suara tangis lagi] Satu lagi sedih [menirukan orang kedua menangis]. Terus mulai, yang satu mulai dia berontak, [menangis] ‘I have no money.’ Yang satu jawab, ‘not even a soul.’ Dari nangisnya itu, terjadilah apa yang disebut dengan Blue note. Blue tone. Blue tonal.

Kenapa di Jazz itu ada Blue note? Ya itu note tentang kesedihan. Tentang keparahan. Tentang kegelapan. Jadi dia jadi blue note. Akhirnya kan [menirukan tangis] jadi [menyanyikan irama].

Blues.

 

Rekaman adegan di atas adalah potongan wawancara dengan Idang Rasjidi, salah satu musisi yang kami temui di gelaran Jazz Gunung 2013 Sabtu lalu (22/05). Saat itu ia sedang menjelaskan pada kami bagaimana penderitaan budak-budak kulit hitam yang bekerja di pertambangan Amerika dan melahirkan Blues, sebuah turunan dari musik Afrika yang kini kita kenal sebagai Jazz.

Sambil melakukan improvisasi blue notes dengan meja sebagai perkusi, Idang sendiri hari itu tengah didapuk jadi salah satu musisi jazz yang bakal tampil beberapa jam kedepan. Dan sesuai namanya, acara yang menjanjikan background view Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, beratapkan langit, serta menghadirkan komposisi musik jazz bernuansa etnik ini bertempat pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Panggung Terbuka Java Banana Bromo, Probolinggo, Jawa Timur pada akhir minggu lalu (21/05 - 22 /05).

Jazz barangkali adalah genre yang sering menjadi korban prasangka. Adorno menyebut musik ini sebagai perusak kemurnian musik, Soekarno menyebutnya sebagai bagian musik ngakngekngok, dan beberapa dari kita menyebutnya sebagai musik elitis yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu saja.

Tapi apakah jazz itu sendiri? Apakah benar  ia induk dari segala genre musik modern? Perdebatan semacam ini membikin pelaku dan penikmat musik jazz seringkali bersebrangan dengan banyak hal.

Indonesia pernah mengenal jazz sebagai komoditas paling murah yang dijual dengan harga mahal. Ekslusifitas, citra diri dan konser terbatas membuat genre ini kepalang susah dinikmati. Meski pada akhirnya ada upaya-upaya untuk meruntuhkan narasi tersebut.

Di Yogyakarta misalnya, memainkan musik ini di pasar, rutin menampilkan gratis setiap Senin dan memunculkan gigs-gigs terbuka untuk melahirkan subkultur baru yang lebih murah dan egilater sudah dilaksanakan. Tapi tetap saja jazz masih tertuduh sebagai representasi high art dan susah dijangkau karena apa yang terjadi di Yogyakarta tadi masih hal yang jarang terjadi.

Pada pagelaran Jazz Gunung yang menginjak tahun ke V di Bromo kemarin, kami berkesempatan mewawancarai Idang Rasijdi, Djaduk Ferijanto dan Jen Shyu yang saling merajuk, berdiskusi dan bercerita tentang genre ini dalam konferensi pers project terbaru mereka, Ring of Fire.

Wawancara berjalan seperti sebuah jam session dimana tiga orang seniman musik itu saling sambut menyambut dengan bebas dalam memformulasikan wacana Jazz kontemporer; tentang bagaimana kita telah salah kaprah, arbiter dan terlalu serius untuk memisahkan diri. Bahwa musik bukan lagi tentang siapa yang lebih dahulu, siapa yang lebih baik dan siapa yang lebih otentik.

Musik jazz, bagi mereka, adalah apa yang telah selesai dan tak perlu lagi diperdebatkan. Berikut potongan-potongan wawancara yang telah kami strukturkan dalam kerangka tematis untuk memudahkan pembacaan.

Selamat membaca!

***

“Jazz di Jawa dimulai pada zaman Diponegoro”

Djaduk Ferijanto:

Jadi persoalan yang dikatakan tadi ini, ini persoalan kata. Teman-teman pers masih bingung melihat katanya. […] Para musisi di Indonesia itu juga suka kadang-kadang memahami jazz itu sampe mungkin kalau anda lihat, paling dominan di Indonesia adalah fusion, kan itu? Dan orang-orang ketika anak-anak main Jazz, wah udah merasa dirinya paling tahu, tahu segalanyalah. Orang-orang yang bermain jazz. Tapi apa yang dijelaskan kang Idang tadi ini, ini bagaimana kita hanya mau mendudukan bahwa ada persoalan besar. Memang di Jazz itu ada ruang , ada historis, ada sosial, macem-macem. Ada ruang sosialnya, ruang ekonominya, dan itu yang kita sebut dalam konteks historis. Bahkan setiap manusia punya ruang interpretasi, ruang imaji pada jazz. Termasuk pada sejarah.

[…] Saya agak sedikit heran karena orang-orang Indonesia mengatakan Jazz tuh sekarang bukan kesenian rakyat. Kami memahami ya Jazz itu kesenian rakyat kayak Jathilan ya mas. [tertawa] itu yang mengakibatkan orang-orang Indonesia melihat jazz itu menjadi elit. Nah. Karena satu cara pandang yang (merupakan) resiko sebagai dunia ketiga yang terlalu lama dijajah. Merasa kalo yang dari barat selalu hebat, gitu lho. Makanya Jazz, ketika belajar sejarah Jazz, itu juga lahir dari rakyat. Pada situasi politik yang luar biasa. Nah, ketika masuk di Indonesia, itu dianggep ‘waaah’. Padahal di sananya mereka Jathilan mas. Dikepang kayak ondel-ondel.

Idang Rasjidi:

Jazz bukan dari Amerika. Tolong digarisbawahi. JAZZ BUKAN DARI AMERIKA.  Asal dari jazz itu adalah dari upacara spiritual, atau ritual keagamaan Afrika, ya. Jazz pertama itu itungannya 6/8. Dan dia hanya dimulai dari apa yang disebut dengan mother of music, yaitu sesuatu yang bisa dipukul. Perkusi. Belum ada dawai. Maka perkusi itu disebut sebagai Mother of Music. Ketika dia memukul-mukul, itu pertama kali itu ya pake ritmisnya mereka. Terus mereka loncat-loncat.

Dateng bangsa asing, Perancis dan Amerika. Diculik mereka karena mereka kekurangan orang untuk kerja. Di bawa mereka ke benua Amerika. Dijadikan slaves. Dijadikan pegawai tambang. Di gua-gua yang penuh dengan batu bara, mereka dapet kecil gajinya bahkan dilecuti. Dan ketika itu mereka bunyi.

[…] Maka lahirlah Blues itu. Jadi salah sekali kalau ada anggapan Jazz adalah musik kaum yang berduit. Elit. Saya pernah kumpul sama temen-temen wartawan. Yang nggak maju tuh pertanyaanmu. Tak bilang gitu, guyu kabeh. Aku sudah denger jazz itu jadi elit, itu sudah 40 tahun. Itu sudah tiga tahun yang lalu wawancaranya, ini tahun ke 43 main musik jazz. Saya bilang saya selalu denger perkataan itu tidak berubah sehingga jadi stigma. Nah, bahwa Jazz itu melebur, sampai sekarang Prancis itu masih perang sama Amerika, karena mereka menganggap Jazz itu dari Prancis. ‘No! Jazz come from France, not from America!’  Why? Ketika waktu di slave ini mereka main, lalu kemudian mereka tuh pas perang dunia ke dua ini selesai itu, ya kan, itu banyak trompet, marching band, dan itu Prancis itu kan Marching band pertamanya, itu diambili. Dari blues ini mereka main, berusaha niup ‘Peett’ sampe mati pun diiringi sama musik biar katanya arwahnya seneng.

[…] Sebenernya penjelasannya panjang sekali kita bisa 48 jam jelaskan ini. Tapi ndak, tadi saya berusaha menjelaskan kepada teman-teman bahwa, memang kalo kita mengatakan, saya pernah kemarin ditanya oleh wartawan, ‘Pak Idang, kita ini kebudayaannya sudah terpengaruh oleh budaya asing. ‘ Terus saya tanya, ‘lho emang kenapa?’

Dari jaman Syailendra, sebelum Borobudur, lho, kita sudah terpengaruh oleh budaya asing kok. Jadi kenapa? Kalo itu bagus dan kemudian dia menyatu dengan .. dengan apa… culture kita yang kita buat kita sendiri nggak tahu culture-nya apa itu, nggak ada pakemnya. Yang membikin pakemnya kan kita, orang-orang sekarang. Jaman dulu nenek moyang kita pakemnya nggak ada kok. Nah, akhirnya itu bersatu, ya kayak kata mas Djaduk tadi.

Djaduk Ferijanto:

Saya punya ruang imajinasi tapi nakal aja, ngawur ini. Kalo sejarah itu kan kumpulan kebohongan kan?. Bener tho? Cocok kan? Toh orang-orang pejabat publik yang sekarang sudah kaya, sebelum pensiun bikin buku lho, membesar-besarkan perannya. Kan gitu. Kan sejarah itu kumpulan kebohongan, saya mau bikin bagaiman sejarah (Jazz) pertama masuk tanah Jawa. Nah itu mulai dari jamannya Diponegoro. Dari jaman Diponegoro, orang Belanda itu masuk. Kemudian tanah pekarangannya itu dibikinlah ada dua batang besi yang membujur dari arah barat ke timur. ‘Dem!’ dipatokin. Diponegoro marah. Dan akhirnya dua batang besi itu semakin hari semakin panjang. Membujur dari selat barat ke timur. Tiba-tiba keluar satu benda, warnanya hitam dari barat, pada satu waktu. Datang dari barat. Bunyinya itu sangat harmonis dan bikin Diponegoro pada saat itu terkagum-kagum. ‘Jez jez… jez jez… jez jez…’ Mulai dari situ Jazz masuk di tanah Jawa, hahaha.

***

 

“…Artist Musician bukan Musician atau Celebrity”

Idang Rasjid:

[…] Ada satu hal yang saya rasakan di kelompok kami ini (Ring of Fire Project), saya bermain dengan musisi, bukan bermain dengan selebritis. Itu yang saya rasakan. Karena saya, kami ini adalah seniman musik. We are not celebrity. Kalaupun lebih pribadi, Idang Rasidi bukan selebriti. Tapi saya seorang pemusik. Saya seorang seniman.  Jadi bermain di dalam Ring of Fire project saya benar-benar bermain dengan musisi-musisi teman-teman saya yang luar biasa ini. Saya kagum sekali sama Djaduk.

Djaduk Ferijanto:

Saya harus menggarisbawahi kata-kata dari mas Idang tadi bahwa ada yang namanya musician dan artist musician... Nah, artist musician dan musician itu sangat berbeda. Saya dapatkan pengalaman dari mas Pur (anggota Ring of Fire Project) ketika meeting ada beberapa player, pemain jazz kita tur ke Eropa, ya, dan kita kolaborasi dengan para pemain-pemain. Kalo musician ya, untuk dirinya sendiri. Biasanya ego sangat gede. Tapi kalo artist musician, seniman musik, dia tahu dimana dia memberi. Dimana dia menerima. Ikhlas dan itulah kalo di dalam jazz, ketika ada jam session dimana dia harus muncul dimana dia harus … orang yang mengatakan ada kedewasaan, begitu lho. Itulah yang membedakan musician dan artist musician.

Bahasa yang paling ekstrim, nek musician nek dadi tukang. Ni nek artist musician, seniman. Nah itu. Mungkin akan berbeda, mungkin mbak Jen Shyu bisa menjelaskan pengalaman mbak Jen Shyu tentang musician dan artist musician.

Jen Shyu:

Hmm… Saya pikir artist musician mungkin ada di… di universal. Dan saya pikir ada kemauan untuk menyatu semua perbedaan dan itu juga menarik.  Di Indonesia banyak orang bilang, ‘oh, [kamu] ini orang Jepang, bukan?’, bukan. Orang korea, oh bukan. Terus tidak penting ya. Saya orang dunia, saya orang dari dunia. Dan mungkin saya lebih senang kalau orang tidak tahu ini darimana. Saya senang, ‘oh iya, saya bagian dari dunia’.  Itu kemauan untuk menyatu sebagai artist musician, kalau memang ada visi untuk masa depan dan juga lihat masa lalu, bagaimana bisa belajar dari nenek moyang. Itu juga penting sekali, dan saya merasa cocok. Bisa menemukan teman-teman yang memang sudah percaya pada kepentingan, importance of our ancestors.

Idang Rasjidi:

Karena di dalam musik Jazz, mau tradisional, itu yang terpenting. Selain rhytm adalah semangat memberi. The spirit to give. Jadi yang penting itu adalah energy. Jadi kami saling memberi energy. Energi inilah, kalo saya belajarnya dari Jazz. Saya dari kecil cuma dua musik yang saya denger. Tradisional dan Jazz. Saya pernah belajar klasik cuma sebentar, cuma sepuluh tahun. Sebelumnya nggak. Bener.  Jangan salah. Sepuluh tahun itu ndak cukup belajar klasik. Untuk menjadi seorang pemusik klasik tidak cukup sepuluh tahun. Saya kemudian, saya nggak usah sebut nama, saya berdebat dengan seorang yang bermain piano klasik, orang kaya bermain piano klasik. Saya berdebat waktu itu dengan dia, kenapa? Dia mengatakan dia tidak suka Jazz. Lalu saya tanya, ‘Kenapa anda tidak suka Jazz? Kok anda sebutkan itu? Nomor satu perkiraan saya anda ndak mampu mainnya. Nomor dua anda kurang polite.’

‘Sekarang saya menyatakan, begini deh, saya bilang aja saya tidak suka musik klasik’

Tapi saya bisa punya alasan untuk menjawab kenapa saya tidak suka klasik. Saya main Etude semua itu saya main. Di situ ada Adagio, ada semua, dan itu perasaan Ludwig van Beethoven. Saya harus memainkannya sama seperti perasaan yang ia mainkan 600 tahun yang lalu. Dan kalo lain dianggep oleh guru-guru klasik salah itu. Dimana hak saya sebagai pemusik? Masa saya mesti ikuti perasaan orang yang main 1000 tahun yang lalu? Harus persis seperti dia? Mungkin dia aja nggak suka kalo kita ikutin.

Di Jazz saya menemukan hak saya sebagai seorang pemusik. Saya tidak memainkan orang yang memainkan musik 500 tahun lalu.

[…] Saya sendiri pertama kali saya main Jazz itu saya sama mas Maryono (The Galatic) , almarhum, sebuah legenda, iya kan? Saya diajari main free Jazz. Yang orang pikir main free jazz itu ngawur, oh ternyata tidak. Dia tetap punya ritmis.  Sebuah sebuah journey ya. Kehidupan yang bukan main.

Djaduk Ferijanto:

Kami mempercayai bahwa yang disebut Jazz itu tidak hanya pada musiknya tapi pada semangatnya, pada energinya. Saya lahir dari dunia Karawitan. Mas Pur (Anggota Ring of Fire Project) itu juga pengrawit, ini juga belajar di sekolah musik Jazz. Tetapi di dalam orang  tradisi, itu semangatnya hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman di jazz. Itulah yang kami sebut, Jazz itu tidak cuma bermain di ata stage atau bermain dengan memainkan repertoar-repertoar yang sudah ada. Tetapi konteksnya sampai pada perilaku. Inilah isu mutakhir ketika kita menyebut bagaimana sih Jazz itu. Karena Jazz itu selalu berkembang, tumbuh bersama dengan waktu dan kami mempercayai karena saya menyebut kenapa Jazz itu adalah bagian dari kesenian tradisi, kami mempercayai karena tradisi itu selalu berkembang dan tidak pernah berhenti dan tidak pernah mampet. Maka ketika tadi Jazz itu punyanya orang Amerika, nggak. Itu bukan orang Amerika. Gamelan, yang dulu konon itu miliknya orang Jawa, sekarang gamelan kata orang itu punyanya Bali, bukan. Gamelan itu sekarang sudah milik dunia.

Jimbe, itu punyanya orang afrika, tapi sekarang produksi Jimbe terbesar di dunia di kota Blitar. Bahkan Jimbe yang dijual di Bali, di Eropa di Kutub itu bikinnanya bikinan Blitar. Jadi kalo kita ngomong musik, tadi saya bilang punya ruang imajinasi, satu-satunya musik yang bisa dipercaya, yang membedakan di dalam musik kalo tadi ngomong masalah genre, kalo kita bikin kotak-kotak itu, saya masih punya ruang imajinasi, yang membedakan besok masalah musik itu hanya warna kulit. Semua tujuannya sama, hanya warna kulit, jadi kan internasional.

***

 

“Musik Indonesia itu Tidak Ada!”

Idang Rasjidi:

Kita lahir Tuhan itu sudah memberikan kita the first rhytm yaitu jantung kita, ya. Dan di dalam taraf berkehidupan kita, dari kecil, baru lahir, ibu kita ngeden, sampe kita lahir, sampe kita menjadi anak kecil, pre-teen kemudian jadi teen, kemudian kita menjadi mature, dewasa, sampe kita jadi tua dan sampe kita balik, nah itu semua adalah ritme. Ritmis. Ritmis itu penting sekali. Yang saya sukai dari project Ring of Fire ini adalah rhytm-nya. Bukan main untuk saya. Dan satu lagi, yang kena dengan jiwa saya yaitu jiwa spontan. Sebenernya untuk saya musik yang sebener-benernya ya itu.

Saya mengambil kata-kata dari Miles Davis, yang sangat amat kontroversial kata-katanya. Yaitu, “Apabila kamu mau main musik yang bener, kemudian menjurusnya ke Jazz, kalo bisa jangan latihan. “

[…] Karena musik bukan untuk dipikirin. Karena selama kamu main musik kamu masih mikir ya kamu belum main musik. Lha wong musik itu bukan untuk dipikirin kok. Untuk dinikmati. Jadi ya nikmati aja. Nggak perduli dia apa, ini gitu kan, seperti content tadi dia. Itu kayak perdebatan jaman dulu kok. Musik Indonesia, saya berdebat dengan teman-teman saya nggak ada musik Indonesia, marah semua se¬Indonesia  sama saya. ‘Sialan lo, Dang. Kita ini ka¬n kaya’ lhooo nggak. Ntar dulu. Musik Indonesia yang mana coba? Ayo ngomong. Musik bali? Ntar orang Batak marah. Musik Batak, nanti orang Jawa marah. Nggak ada, musik Indonesia tuh nggak ada. Pop dari Inggris. Keroncong, dari Portugis, Gamelan kita terpengaruh oleh hindu yang kemudian dibawa ke sini. Musik Indonesia yang mana? Yang ada adalah musik musik yang ada di Indonesia. Dan kita terkaya di dunia.

Nah jadi kalo kita mau kecilin dia, yah kecil kita jadinya. Lha musik kita banyak, Setiap saya ke Aceh ke kecamatan, saya ke Pidie, saya kemana itu sudah lain kok. Baik secara dialek baik secara ini, itu sudah beda. Jadi musik Indonesia nggak ada. Tapi kelak, kata mas Djaduk, nanti aja mas, satu hari tahun 2700, misalnya ada orang tiba-tiba mengatakan ‘Ini adalah musik Indonesia’ so let them claim it. Kita main musik aja. Nggak usah mikir itu-itu, ndak! Selama kita masih ada pikiran yang ya jadi nggak jujur musiknya nanti.

Djaduk Ferijanto:

Prinsipnya bahwa penggiat seni itu tidak punya keberanian untuk mengatakan kami mbikin musik Indonesia. Yang menentukan musik Indonesia itu adalah waktu dan jaman dan bukan para pelakunya. Itu yang mengkristal. Yah itulah pengalaman kami bikin. Sampai ada yang berani mengatakan ‘kami bikin musik indonesia’, wah kok gegabah. Sampe akhirnya musik itu dijadikan suatu komoditi politik, dijadikan kendaraan politik. Bahkan di Indonesia tuh nggak tahu berapa tahun yang lalu kan masih diperingati waktu jamannya bu mega itu ada hari musik ya. Dengan waktu itu mengambil hari lahirnya WR Supratman itukan sebetulnya hanya sekedar ini hanya kendaraan politik aja. Karena dijadikan suatu komoditi. Waktu itu saya salah satu orang yang nggak setuju diadakannya hari musik. Peringatan hari musik. Karena ketika ada hari musik, nanti hari teater pasti minta. Hari seni rupa, hari sastra, jadi Indonesia tuh penuh peringatan.

Daripada membikin hari musik, peringatilah Harry Roesli saya bilang gitu. Wong temen kita. Sampe waktu saya bikin museumnya tuh ada yang minta tolong disediakan sekaligus ada hari museum. Jadi penuh peringatan. Di Indonesia tuh hobinya tuh bikin peringatan. Padahal dia tuh diperingati aja sulitnya minta ampun.

Jen Shyu:

Saya pernah ngomong denga Sonny Rolands, pemain Saxophone. Dia bilang ada dua jenis musik. Ada satu yang expand the mind, and ada yang trap the mind. … saya tahu teman-teman mau ke arah expand the mind of semua pendengar musiknya. Mungkin menurut saya pribadi, karena saya lahir di amerika, orang tua saya datang dari Taiwan dan Timor Leste, bertemu di Amerika, di New York. Lahir di Amerika sudah ada perasaan racism, rasismenya. Menjadi besar saya mau menjadi se-american, seputih mungkin. Jadi saya agak, apa, hilang identitas saya. Saya siapa ya? Orang Cina itu mereka, tidak saya.

Dan saya juga belajar musik klasik, musik barat. Piano, viola, Balet, semua dari barat ya. Dan saya hampir menjadi penyanyi opera. Lulus dari Stamford dan saya merasa nggak siap untuk masuk conservatory klasik itu. Dan saya ketemu pemain jazz yang juga seperti saya, lahir di America, tapi orang tua di Asia, di San Francisco. Terus mereka bilang mbak Jen, sebaiknya Jen lihat musik dari orang tua, dari nenek moyang. Ooh, begitu. Terus memang pemain Jazz, dan lewat Jazz seperti dunia membuka dan saya bisa lihat, oh saya sendiri siapa ya. Saya di sini, di Indonesia, karena musik. Karena Jazz.

Juga saya keliling, lihat musik dari Taiwan asli, dan musik mereka seperti Blues juga. Oh Blues, ini perasaan apa? suffering. Ini universal.  Dan wah ini jadi kita harus kill all stereotypes. Oh jadi dari kecil saya merasa misi saya kill all stereotypes.  Dan asumsi. Kill semua asumsi

Idang Rasjidi:

Musik itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa dalam kehidupan pemusik. Kenapa pada saat kita main kita duduk kita menghitung, karena semua akumulasi kehidupan kami ada di situ, semua yang pernah saya rasakan ada di situ. Jadi kita total. Jadi ketika kita latihan itu sama seperti pertunjukkan. Ketika kita menghitung one two three four… kita menaruh seluruh kehidupan kita di situ.

One…two…three… four…

Last modified on: 4 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni