(3 votes)
(3 votes)
Read 3468 times | Diposting pada

Guyonan Intim dan Syahdunya Tur 'Monster of Folk' di Surabaya

 

Hal pertama yang saya ingat ketika mendengar nama Monsters of Folk adalah band Folk Rock kawakan asal Amerika, yang seluruh personilnya adalah anggota dari band ternama seperti My Morning Jacket, Bright Eyes, dan She and Him. Tapi kali ini saya tidak akan membahas mengenai band Monsters of Folk, namun ini perkara Monster of Folk Tour yang digelar 11 - 14 Januari lalu di beberapa kota.

Dari keterangan rilis pers, nama Monster of Folk sendiri dianggap sebagai guyonan saja dari sekelompok musisi ‘sersan’ (serius tapi santai) yang lantas bermain dengan kata-kata untuk penamaan judul tur kecil mereka. Menampilkan Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi, tur ini dengan sukses menyambangi Surabaya, Malang, dan Bali. “Kenapa cuma 3 kota? Ini mah karena kita hanya memiliki waktu yang singkat untuk tur. Semua datang dengan kebetulan tanpa tergesa-gesa, yang bisa kami kunjungi maka melipirlah kita disana, menghibur kalian semua dah intinya”, ujar Dede pria di balik Ledakan Urbanisasi.

Akhir pekan lalu, tepatnya pada 11 Januari Monster of Folk Tour berhasil sampai di kota singgahan mereka yang pertama yaitu Surabaya. Tur mereka di hari pertama diadakan di c2o Library, dibarengi dengan suasana hujan gerimis yang membuat sejuk, sepertinya cuaca sedang berjodoh dengan musik folk kali ini. Sendu.

Penampilan pertama dibuka dengan penampilan Pathetic Experience. Duo pure akustik yang berasal dari Surabaya ini masih berumur jagung, baru saja terbentuk pada tahun 2011. Dikenal dengan duo folk yang mengabdi pada post-nusantara dan nuansa ethnic instrumental, Pathetic Experience berhasil membuat para penonton ter-pathetic ria namun tak membuat kami semua yang menonton merasa harus bersedih.

Ada beberapa lagu yang membuat saya terkesan yaitu berjudul Chik Yen yang merupakan salah satu produk bakpao terkemuka di Indonesia, nada dan iramanya pun sama seperti yang biasa kita dengar di pedagang bakpao keliling, namun Pathetic Experience lagi-lagi berhasil membuktikan bahwa bebunyian string yang mereka keluarkan berhasil menjadi identitas dan orisinalitas dari musik mereka. Menyenangkan sekali.

Kemudian datang penampilan menarik dari Ledakan Urbanisasi, dengan berbekal mini ukulele dan beberapa ampli, Dede, the man behind the gun berhasil membius penonton dengan lirik lagunya yang memang unik. Broken Heart Gospel adalah salah satu lagu yang membuat terngiang-ngiang karena Dede menjadikan beberapa romansa folk menjadi semacam scene lo-fi. Aha, meledak-ledak, namun tak kehilangan estetika dari basic folk tersebut melalui ukulele-nya.

Setelah penampilan Dede yang mencekam, MC Arthur Razaki yang sekaligus vokalis Taman Nada kini memberikan line up kejutan yang berasal dari Redo Nomadore, salah satu kontributor musisi di dalam platform Ayorek.org. Kali ini Redo membawakan lagu Joy Circle, sederhanamemang, tapi ciri khas suara melengking dari pria ini bisa kita hafal walaupun dirinya sedang berbicara sekalipun.

Selanjutnya, Rayhan Sudrajat datang dari belakang ruangan dan segera duduk di depan para penonton. Rupanya memang dirinya telah siap menampilkan kebolehannya. “Sebenarnya, Monster of Folk diselenggarakan karena kita semua, saya, Galih, dan Dede ingin memonsterkan folk itu sendiri. Jadi, semoga kalian semua berkenan untuk menikmati musik folk sederhana ini dari kami semua”, celetuk Rayhan sembari mempersiapkan gitarnya.

Aha, Rayhan sendiri dikenal sebagai frontman Cathuspatha (dulunya Vickyvette) yang berasal dari bahasa sansekerta adalah crossroad. Ada 3 looping efek gitar yang saya lihat dipergunakan oleh Rayhan, sudah terbayang bagaimana bebunyian instrumental yang akan dibawakan olehnya. Memang pada dasarnya musik yang dibawakan Rayhan kali ini adalah Folk dengan bumbu experimental. Rayhan cukup lihai menumbuhkan emosi penonton melalui fields recording beberapa bebunyian benda, gemericik air, atau percakapan manusia yang di susupkan kedalam setiap lagunya.

Seperti lagu dengan judul Lovely Game dan Blind yang baru saja di rilis dalam EP Find Your Self (Strangerdaydreaming Records, 2013), kedua lagu ini sama-sama dirangsang dengan beberapa percakapan manusia dari antah berantah, semua terdengar match. Sendu, cerdas, dan out of the box bagi saya. Mengakhiri penampilannya, satu lagu cover dari The Beatles dengan judul “Strawberry Field Forever” dibawakan, pemilihan yang cukup apik untuk mengajak sing along bersama penonton.

Terakhir, acara ditutup dengan penampilan Deugalih yang sekaligus menjadi Frontman dari Deugalih and Folks. Pada dasarnya, suara Galih yang dulu dikenal sebagai vocalis dari Schizophones band grunge asal Bandung tersebut masih melekat di dalam pita suara miliknya. Ya, memang sudah kodratnya Galih memiliki suara bernuansa rock tersebut, namun dirinya berhasil menyatukan dirinya menjadi Folk bersama Deugalih and Folks.

“Saya masih terinspirasi oleh band Alice in Chain mah, jadinya kayak begini deh suara dan bunyi-bunyi gitar yang dimainkan,” ujar Galih ketika mengobrol di senggang acara. Beberapa lagu milik Galih sudah familiar di telinga penonton, salah satunya adalah Papua O Noukai yang menceritakan mengenai beberapa mamak-mamak (sebutan seorang Ibu di Papua) yang banyak ditindas, dijajah, dieksploitasi dan dilupakan. Lirik lagunya pun dibuat menjadi Bahasa Suku Mee yang ada di Papua. 

Untuk beberapa kalinya, saya kagum dengan karya Deugalih yang selalu berhasil menyuarakan mengenai alam, lingkungan, dan kondisi sosial di masyarakat luas. Galih juga punya suaranya yang khas dan lagunya yang meaningful, membuat saya wajib mengacungkan jempol untuk penampilannya kali ini.

Sebagai kejutan manis, pria yang mengaku sebagai nomadic dan penganut pedestrian ini lantas mengajak Rayhan berkolaborasi. “Kang Rayhan, maen suling ya?” pintanya. Rayhan mengiyakan dan langsung menyambar thin whistle flute. Petikan gitar masuk seiring flute memainkan intro syahdu nan tak asing bagi saya: Lagu Earth milik Deugalih & Folks dimainkan. Lagu yang ditulis Galih pada tahun 1998 ketika dirinya masih duduk di bangku SMA, sekaligus jadi lagu penutup acara Monster of Folk Tour 2014 di c20 Library kali ini.

Meski di ruang yang sederhana dan dalam suasana sejuk akibat hujan yang deras, Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi berhasil membawa penonton terbawa hanyut oleh musik folk sederhana ala mereka. Di ruangan tersebut, setidaknya 3 pemuda ini menjalin kekerabatan yang intim dengan para penonton. Kemudian, mereka memberikan sedikit bocoran bahwa beberapa waktu ke depan nantinya mereka akan membuat tur sama ke beberapa kota lainnya sampai ke Sulawesi dan Sumatera.

Semoga tercapai, dan semoga bisa kembali untuk kedua kalinya di Kota Surabaya!

Last modified on: 23 Januari 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni