(2 votes)
(2 votes)
Read 3064 times | Diposting pada

Frau dan Pertaruhannya: Konser Tentang Rasa

Frau dan Pertaruhannya: Konser Tentang Rasa Kredit Foto: @Guswib

 

Malam Selasa (20/1) itu, saya datang tanpa ekspektasi. Konser Tentang Rasa menjadi perjumpaan perdana saya dengan Frau. Meski telah mencoba melacak jejak Frau, ulasan-ulasan penampilan Frau yang lalu-lalu hanya menyisakan satu kesan yang berulang: biasa saja[1][2]. Para pengulas seperti kesulitan menemukan label untuk dilekatkan pada Leilani, sang vokalis yang memanggil organnya dengan nama ‘Oskar’. Oke, Leilani + Oskar = Frau. Itu nama yang eksotik dan menjual secara jurnalistik. Lantas? Paparan Leilani pribadi tentang dirinya, Oskar, dan Frau, pun tidak mengesankan kepribadian yang tajam. Saya muda, saya senang main musik buat orang-orang, titik. Kurang hambar apa deskripsi itu? Ia lebur bersama anak-anak muda tak bernama yang keranjingan mengulik alat musik dengan harapan namanya bakal tercatat sebagai musisi. Bedanya, Leilani justru tidak terkesima dengan kenamaan. Ia mengaku lebih baik menjadi anonim dibandingkan menjadi tenar dan membuat hubungannya dengan orang-orang terdekatnya seketika canggung[3].

Frau menawarkan sesuatu yang murni nan menggelitik di penampilan ini: rasa. Frau menjanjikan ‘Konser Tentang Rasa’ sebagai pengalaman musikalitas yang niscaya menggetarkan panca indera (tidak hanya telinga) dan langsung menyentuh sukma. Sedikit banyak, Frau berambisi mereplika pengalaman Leilani yang bergetar dalam tangisan tanpa penjelasan saat mendengarkan La Meme Histoire oleh Feist[4]. Bicara rasa, alis saya terangkat mengingat jebakan yang umum terpeta: antara jadi pretensius, atau jadi kelewat picisan. 

Tapi, ya, hipnosis memang sesederhana tepukan di punggung. Pada Konser Tentang Rasa' di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (20/1), Frau melakukannya dengan satu sapuan.

Kala itu, Leilani melangkah keluar dari belakang panggung. Berambut cepak, berjalan khidmat, bergaun brokrat panjang warna merah marun. Laiknya peziarah menyusuri gua tempat pemujaan, Leilani bergerak membawa lampu petromaks tanpa sebersit kerling pun ke arah penonton. Perlahan ia mendekati Oskar, dan menaruh penerangan berpendar kekuningan itu pada meja kecil di samping Oskar. Usai duduk mempersiapkan diri, ia mengusir cahaya petromaks dengan satu tiupan. Sontak panggung gelap total.

Label 'biasa saja' yang lekat dengan tampilan Leilani selaku biduanita luruh seketika. Pada ajang-ajang sebelumnya, Lani berpuas saja tampil dengan rambut ikal sebahu dan kardigan serta kaus santai ala mahasiswa. Dalam aksi sunyi yang singkat, aura si 'anak muda pada umumnya' tanggal digantikan kharisma sederhana ala wanita Perancis.

Lantas penonton disergap hentakan. 'Berdiri Aku' membuka perjumpaan. Terbias lampu sorot, Leilani terlihat asing dalam kekhusyukan. Jemarinya memijat Oskar tanpa batasan. Nyanyian menjadi rapalan. Leilani dan Oskar kian bersatu, terpadu bukan lagi sebagai pemusik dan organ kesayangan. Di hadapan kami adalah penyihir bersama tongkat andalan, dan kami tercengkram sudah untuk duduk manis menyaksikan yang ada di hadapan.

Lagu pembuka Berdiri Aku berakhir dengan memadamnya lampu sorot. Panggung kembali gelap total. Frau melanjutkan permainan dengan Berita Perjalanan.

Kujelajahi bumi dan alis kekasih.

Imaji akan hamparan ilalang yang terkecup sinar matahari kian merasuk. Berita Perjalanan menggeliat membawa pendengarnya berlari menyusuri padang dengan ilalang dalam genggaman. Kaya, imaji papat memenuhi sukma. Lampu kemudian kembali meredup.

Di titik ini, tepuk tangan rasanya profan. Langgar, terlalu vulgar. Khidmat lamat-lamat padat memenuhi ruangan. Namun, toh, apresiasi tak dapat ditahan. Riuh rendah penonton memecah hening auditorium Gedung Kesenian Jakarta pada pembukaan 'Konser Tentang Rasa'.

Frau kemudian memperkenalkan diri dan menyapa penonton. Terungkaplah bahwa Berdiri Aku dan Berita Perjalanan perdana dibawakan di Jakarta. Usai perbincangan singkat, Frau kembali membawakan Wonder, yang menumbuhkan pengertian akan sensasi menaiki jentera bianglala. Usai Tak Ada Bunga Merekah, Leilani mengeluh.

Panggung mulai terasa sepi, ucap Leilani. Iapun mengundang Erson Padaripan untuk mendampinginya dengan permainan terompet dalam membawakan Mr. Wolf dan Like A Sir. Sentuhan terompet dan peredam Harmon-nya menimbulkan warna suara yang identik dengan komposisi musik kartun hitam putih. Saat bertemu dengan Like A Sir, terlebih lagi, terompet Erson memberikan sentuhan kenaifan yang jenaka, membuat larik demi larik nyanyian Lani seolah terlontar dari mulut bocah pinggir jalan di Inggris abad ke-19, sang Oliver Twist.

Sesi I berakhir meninggalkan sensasi sinematik yang kental membekas. Lagu demi lagu sukses menimbulkan imaji tersendiri. Magis, mengingat latar yang menghiasi panggung hanyalah papan hitam penuh lubang yang sesekali tersiram cahaya. Tata cahaya yang beraneka komposisinya pada setiap lagu jelas bermain peran memberikan karakter. Pada lagu pembuka, 'Berdiri Aku', misalnya, khidmat dan magisnya Frau didukung oleh lampu sorot yang memaku fokus penonton pada Leilani dan Oskar semata. Penonton pun dibuat abai terhadap sebagian besar ruang kosong di belakang mereka. Pada 'Berita Perjalanan', efek strobo dari tiga arah menimbulkan efek hardlight yang tumpang tindih memberikan kesan dramatis pada figur Frau. Demikian berkelanjutan tata cahaya memanjakan mata dan memaku memori pada setiap lagu yang dibawakan.

Selain dari itu, tinggal Leilani dan Oskar yang dapat kami pandangi sepanjang sesi pertama. Mereka berdialog dalam gerakan, berdansa dalam nada. Tak pernah sekalipun Leilani mengerling ke arah penonton, melempar senyum ala-ala biduanita yang berusaha menarik simpati. Seolah ia paham betul, bahwa lawan bicaranya di panggung itu hanya Oskar semata. Inilah penampilan Frau malam itu, waltz antara Leilani dan Oskar. Kami, para penonton, hanyalah saksi Leilani dan Oskar berlakon dalam melodi menjadi Frau. Seketika saya lupa, bahwa pagelaran ini sungguhnya resital belaka. Tak bisa ini dinikmati dengan mata terpejam demi berfokus pada suara dan mengukur ketepatan titi nada. Sejak awal muncul, nona itu dalam diamnya menyandera perhatian. Pun tanpa mengajak penonton bicara, Leilani fasih menghantar emosi. Sah sudah penonton mabuk oleh keintiman Leilani-Oskar, melalui suara dan rasa. 

Sejak awal, pagelaran telah merangkul penonton dengan membagikan potongan kertas komentar untuk dikumpulkan di akhir pertunjukan. Pada saat jeda pertunjukan, Konser Tentang Rasa konsisten memanjakan penonton dengan membagikan minuman penyegar beraneka rasa cap Konser Tentang Rasa. Namun pada sesi kedua, Konser Tentang Rasa bertaruh lebih dengan usaha menghidupkan penonton sebagai bagian dari pertunjukan. Potongan lirik Tukang Jagal dibagikan untuk setiap kepala. Sedikit bermain drama sebagai guru, Leilani memandu separuh penonton mengucapkan dua larik pertama, dan separuhnya lagi dua larik kedua. Lagu ini, ungkap Leilani, merupakan responnya terhadap instalasi seorang rekan seniman yang berbentuk manusia berkepala daging yang membawa golok. Tukang Jagal yang dibawakan dalam konser ini merupakan versi komedik dari versi aslinya yang lebih gelap. Ajakan ini disambut gumaman lirih dari penonton. Rupanya, untuk memandu satu ruangan hingga mencipta rasa yang sama perlu keterampilan yang berbeda dengan kepiawaian Leilani dalam berdialog dengan Oskar. Intensitas pertunjukan pun memudar. Beruntung Leilani mampu menepis kecanggungan yang rawan tercipta dengan anggun. Masih dengan gaya khas ibu guru, Leilani pura-pura bersungut-sungut. "Bolehlah, cuma kurang keras sedikiiiiit lagi," ujarnya gemas, dibalas tawa cilik dari penonton. 

Frau lanjut membawakan materi baru, Vietnamese Coffee Drip. Seiring dengan melodi yang mengalun, cahaya bundar-bundar kecil menerpa Leilani dan Oskar, sedemikian rupa hingga menyerupai tetesan-tetesan uap air di dinding gelas kopi bertopikan saringan kopi vietnam. Lagi-lagi, tata cahaya bermain efektif menghantarkan imaji.

Setelah sebelumnya berduet dengan Erson Padaripan, Leilani kembali mengundang seniman lain untuk mendampinginya. Kali ini, Alexandria Dani 'The Monophones' menemani Frau membawakan Detik-detik Anggun dan Mesin Penenun Hujan. Berikutnya, Suspense dan Layang-layang dibawakan beriringan dengan tim orkestra string (Fafan Isfandar, Janu Hari Nugroho, Rendi Indrayanto, Dior Perwira Putra, Dwipa Hanggana Prabawa) dengan komposisi 3 biola, 1 cello, dan 1 contrabass.

Dengan lebih banyaknya personil di atas panggung, serta penonton yang aktif meramu suasana, sesi kedua sejatinya lebih dekat dengan nuansa konser. Jika pada sesi pertama Frau menohok secara personal melalui resital yang menghembuskan rasa ke dalam suara, sesi kedua laiknya memenuhi auditorium dengan aura megah nan gempita. Sayang, euforia ini tidak tercapai oleh Frau. Alih-alih megah, sesi kedua terasa lebih serupa sesi jamming di kafe blues. Kolaborasi Frau dengan para seniman yang di'impor' dari Yogyakarta ini memang menciptakan dinamika yang menghibur. Namun lagi-lagi Frau belum berhasil memandu rekan-rekan panggungnya mengusung rasa yang sama. Alhasil, pagelaran ini berangsur-angsur menjadi Konser Tentang Suara. Menghibur karena variasi warna nada, bukan lagi rasa.

Sungguh, nampaknya formula penelur rasa yang dijanjikan itu terletak pada keintiman antara Leilani dan Oskar. Usai sesi kolaborasi dengan tim orkes, Leilani kembali hanya berhadapan dengan Oskar. Saat Frau membawakan Tarian Sari, seketika 'Konser Tentang Rasa memasuki sesi yang lebih intim. Setelah itu, penonton kembali tercengkram berkat warna merah yang membanjiri interior Gedung Kesenian Jakarta. Merah darah dan Sepasang Kekasih Pertama Yang Bercinta Di Luar Angkasa bersatu padu membawa penonton ke dimensi yang berbeda.

Tatkala Arah menutup Konser Tentang Rasa', kami paham perpisahan memang sudah semestinya.

Leilani lalu berjalan menjauh dari Oskar, ke tengah panggung, dengan gaun brokrat merah marunnya. Berbalik, ia membungkuk pada penonton.

Genap sudah angan Frau untuk menghadirkan pengalaman menikmati musik yang 'penuh' dalam 'Konser Tentang Rasa'. Karakter tata cahaya yang berbeda di setiap lagu berkali-kali berhasil memberikan nuansa yang mencolok, hingga merangsang visualisasi dalam kepala. Leilani sendiri piawai membagi emosi. Akan tetapi, interaksi dan kolaborasi merupakan pertaruhan yang belum berhasil dimenangkan oleh Frau. Intensitas yang tercipta di sesi pertama kian pudar pada saat sesi-sesi kolaborasi. Ketika Frau kembali menghadirkan Leilani dan Oskar sebagai tokoh utama pada tiga lagu terakhir, intensitas yang kembali tumbuh belum cukup ranum untuk membuat penonton meneriakkan 'encore' sesudah Leilani mengucapkan perpisahan, tepat sebelum ia memainkan lagu terakhir. 

Namun rasa memang kerap datang terlambat. Di kiri kanan Leilani bermunculan rekan-rekan yang mendampinginya bermusik sepanjang pertunjukkan. Leilani nampak mencolok didampingi para pria bertuksedo hitam. Menggandeng tangan satu sama lain, mereka membungkuk bersama ke arah penonton. Saat Leilani beserta orkesnya berjalan khidmat ke belakang panggung, rindu hadir membisikkan permohonan jumpa kembali.

 

Catatan Akhir

[1] "Frau Sekali Lagi," oleh Ardi Wilda 

[2] "Frau: Tentang Musik, Nama Besar, dan Perihal Ketidaksetiaannya Terhadap Oskar," oleh Zelva Wardi 

[3] Lihat Jakartabeat, "Suara Surga dari Jogja."

[4] Lihat Rilis media, "Konser Tentang Rasa.

 

 

 

Last modified on: 13 Februari 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni