(0 votes)
(0 votes)
Read 4386 times | Diposting pada

Dari Release Party "Rolling Like A Stupid Stone": Kabaret Intim, Kegagalan Penonton, dan Kritik Media

Dari Release Party "Rolling Like A Stupid Stone": Kabaret Intim, Kegagalan Penonton, dan Kritik Media Credit Photo: Jovi Aidil AKbar

 

Langit Kota Kembang Sabtu sore itu (30/04) digayut mendung berlapis. Hawa dingin yang menembus sampai ke dalam jaket, seperti mengantarkan saya berkumpul-ria di Rumah Buku, Jalan Hegarmanah 52, Bandung. Sudah sejak siang, perpustakaan sekaligus toko buku ini disesaki pengunjung dadakan. Pasalnya dalam beberapa jam ke depan, ada reriungan penting di tempat itu: peluncuran mini album (EP) 'Rolling Like a Stupid Stone' dari Zeke Khaseli.


Begitu masuk ke pelataran lokasi, tak ada pemandangan heboh memang. Tanpa spanduk, tanpa flyer eye catching maupun atribut lain yang menandakan acara hari itu. Kecurigaan awal saya satu-persatu mulai terbukti, EP Release Party ini sengaja disiapkan dengan sederhana dan intim. Dan hampir semua kru juga personil band yang bakal tampil malam itu, asyik saja nongkrong di teras depan. Seakan lenggang tanpa beban saling menyapa teman dan siapa saja yang baru datang buat ikut ngobrol-ngobrol santai dulu di situ. Kacang, bir, kopi dan rokok jadi bahan bakar bersama yang menyenangkan.

"Sini gue kenalin sama anak-anak yang nanti main," ajak Zeke sambil menyambut tangan saya yang masih bersalaman. "Ini Carlo, gitaris kita. Tapi sayang banget minggu depan dia mesti cabut lagi ke London," sambil menunjuk ke arah seorang pria Eropa berpostur jangkung.

"Yang itu, Aan main drum. Trus sebelahnya Yudhi keyboardist, lo masih inget kan?" tanya Zeke retoris sambil menunjuk dua pria; yang satu tambun yang satu chubby. Sementara Poppie (gitar akustik) dan Ladya (bass), tampak antusias mondar-mandir diantara jejeran rak buku. Entah buku apa yang mereka cari, saya cuma melihatnya dari teras depan.

Kalau dalam beberapa konser solo awal Zeke kerap tampil sendiri, lantas Aan dan Yudhie masuk mengiringi aksi panggung album solo pertamanya Salacca Zalacca (album Salak), maka tambahan Poppie, Ladya dan Carlo adalah formasi terakhir band yang terbentuk paska album tersebut. Yakni formasi lengkap yang bakal tampil hari itu.

"Lho, terus kemana perginya tokoh Alien, Obama dan kawan-kawannya?" tanya saya. Maklum, penampilan Zeke pada konser album Salak di sejumlah kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Surabaya hingga Malang, adalah aksi panggung teatrikal yang riuh rendah dengan jogetan, bahasa tubuh dan simbolisasi pesan-pesan kabur yang mengiringi Zeke bernyanyi.

"Boylien dan temen-temennya tetep bakal tampil kok," tandas Zeke singkat saja, seperti sengaja merahasiakan siapa yang selama ini memerankan tokoh-tokoh hiperreal ciptaannya itu. Pasalnya saya berani taruhan, set list lagu yang bakal dimainkan sudah pasti bakal didominasi lagu-lagu dari album solo pertamanya itu. Apakah akan ada kejutan khusus dari penampilan malam ini?

Yang jelas sore itu seisi Rumah Buku tampak berbaur. Beberapa kawan dari zine lokal juga datang. Orang-orang yang tadinya hanya saya kenal di dunia maya, akhirnya ketemu secara face to face juga, termasuk Budi Warsito yang saat itu jadi tuan rumah. Sempat pula saya papasan dengan Poppie yang bolak-balik ke meja kasir buat bikin kartu anggota Rumah Buku, entah dia lagi ingin pinjam buku atau film-film keren di sana.

Walhasil, terpengaruh aura lokasi Rumah Buku yang sangat rumahan, saya merasa seperti bukan jurnalis musik yang datang dengan misi liputan, tapi layaknya diundang teman makan-makan ulang tahun di rumah seberang komplek. Jelas ini agak berbahaya buat independensi tulisan saya.

Tapi whatever. Pembaca boleh menyebut tulisan ini sebagai fans review, bukan sekedar ulasan musik media musik serius kaku dan basi dengan jargon-jargon independensi kering. Kalaupun naskah yang bakal tendensius, berbau-bau promosi dan blak-blakan ini berhasil lolos ke hadapan pembaca, ada kemungkinan dua atau tiga paragraf sudah dihilangkan oleh editor saya.

Lagipula, materi karya Zeke yang muncul setahun belakangan ini memang menyiratkan tema-tema sepele, hal-hal tidak penting, aktivitas sehari-hari, dan kegiatan teman-teman dekat lewat diskursus personal yang kuat. Tema yang sebetulnya masih jarang digarap musisi kita dengan baik dan terkonsep.

Berhenti di #25

Semakin sore Rumah Buku semakin sesak. Berhubung saya kehabisan kursi dan di luar rintik hujan turun teratur, saya memutuskan untuk berkeliling. Tampak Harlan Boer (Bin) sang produser berdiri tak jauh dari garasi samping tempat penjualan merchandise, kaos, serta CD mini album yang dijual dalam dua pilihan warna, kuning dan pastel pink.

Pada linear notesnya di cover belakang EP tersebut, Bin menulis demikian: "Seharusnya kami merekam satu-dua lagu untuk dijadikan b-side bagi rilisan single 'Rolling Like a Stupid Stone'. Tapi malam itu, 12 April 2011, semesta Black Studio, Jakarta diserbu angin gairah...Rencana telah dibantah. Kami merekam berlebihan."

Deskripsi singkat dari Bin ini cukup menggambarkan atmosfer bagaimana rilisan single "Rolling" berubah ujud jadi mini album live recording tersendiri. Jadi total ada enam lagu di EP ini, yakni single "Rolling Like a Stupid Stone" dan lima lagu yang direkam live oleh band, termasuk salah satunya single "Rolling" yang disulap jadi reggae nan ceria.

Acum Bangkutaman dan Akbar ERK turut mengisi vokal dan drum di Masfro version ini. Empat lagu lainnya, yakni "Bore You to Tears", "Kiss in the Morning", "Pipis di Celana" (diremix dari album Salacca Zalacca), dan "Yudhi Fuck You, Fuck You Yudhi" adalah nomor live yang tak direncanakan tadi.

Single "Rolling Like a Stupid Stone" adalah lagu yang diposting Zeke pada minggu ke 22 dan tersedia di website pribadinya untuk diunduh gratis, sekitar pertengahan Desember 2010. Penomoran minggu ini mengacu pada proyek ambisius Zeke menciptakan lagu mingguan dan menyebarkannya gratis lewat akun facebook dan websitenya. Proyek tersebut secara konsisten dimulai pada Agustus 2009, hingga berhenti di minggu ke 25 pada Januari tahun ini.

Proyek gila Zeke lantas menghasilkan dua album, Salacca Zalacca yang rilis Mei tahun lalu, dan Fell in Love With The Wrong Planet yang akan dirilis dalam waktu dekat. EP Rolling dirilis sebagai pemanasan. Maka, bicara soal "Rolling" dan EP Release Party ini, agak sulit bagi saya untuk tidak 'mengupas' album Salak terlebih dahulu.

Mengupas Salak

Salacca Zalacca sejatinya adalah kumpulan dari 17 lagu mingguan Zeke yang ditulis, direkam sendirian dari kamarnya, dan diposting di akun Facebook dan websitenya sepanjang Agustus 2009 sampai Januari 2010. Masih berangkat dengan formula lama, warna electronik hip, post-punk, gothic sound dan pop balada membaluri ketujuh belas lagu tersebut.

Yang paling kental terasa dari dari album ini, adalah nuansa psikedelik ala lagu tema film fiksi sains tahun 60-an dengan bumbu sound musik Beatles era Sgt. Pepper's. Perpaduan ini menjadikan bangunan sound Salak menjadi sangat futuristik tapi sekaligus juga kuno.

Selain segi musikalitas, elemen yang paling menonjol dari album ini justru terletak pada bagaimana muatan kisah dan penulisan lagu yang disajikan dengan gaya fiksi main-main. Beberapa diantaranya bahkan cuek saja menggunakan bahasa alay yang makin ngetrend dihujat orang.

Sebut saja pada lagu 'BOYlien 9 No.1' yang asyik dibuka dengan semi-rap:

Ujan meteor di Taman Mini

Ratusan suara anjing ga berenti gong-gong

Boylien dateng membawa misi

Mau jadi biksu pake jaket kulit

 

Pada 'Man of The Hour', track lagu dibuka dengan narasi:

Jagoan selalu naik kuda putih

Masuk kamar, nonton dvd

Hari libur sama dengan hari kerja

Waktu kecil rajin senam pagi

Sekarang tidur jarang mimpi

Isi bensin caffeine dan sugar rush

 

Atau opening 'Pipis di Celana' yang sedikit sangat retro mengingatkan saya pada sejumlah tembang milik Koes Plus:

Kembali ke taman bunga

Di hari minggu yang tumpah

Kantong bicaraku telah kosong

Mesin cuci juga bohong

Pipis di celana rasanya

Bisa disimak, semua lagu di album ini dinyanyikan dalam bahasa Indonesia (sebagian diantaranya menggunakan campuran Indonesia dengan bahasa Inggris) yang tidak formal. Dalam kata lain, unsur pengucapan bahasa lisan sehari-hari lebih ditekankan sebagai wahana perkawinan musik latar dengan nada yang dilagukan.

Seperti yang diakui dalam rilis press albumnya, proses berkarya di album Salak ini berangkat dari temuan hal-hal memorable bukan dari kejadian, tapi dari perkataan. "Pada lirik, saat mengatakan 'gue', itu semua karakter, alter ego. Dari obrolan-obrolan, gue juga bisa menemukan quote," ungkap Zeke.

Cukup riskan memang (kalau tak mau dibilang tidak lazim), sebuah lagu dinyanyikan lewat teknik seperti ini. Terlebih lagi, pesan yang tampil di setiap lirik terus menerus diganggu kestabilan maknanya. Tak pelak, kandungan liriknya begitu manasuka dan kabur (kalau tak mau dibilang mustahil) dibaca. Dalam proses penulisan lirik album Salak, Zeke juga mengaku tidak membatasi dirinya dengan aturan untuk menghubung-hubungkan kata atau kalimat. "Semuanya menurut pada sense gue," lanjutnya.

Rupanya dengan beginilah Salak menjadikan setiap lagu sebagai wahana komunikasi yang tidak lagi mengandung pesan utuh, tapi sekedar kebanalan yang estetik yang makin lama kok makin sedap saya nikmati, yakni sebuah jouissance. Hal ini mengingatkan saya pada lirik-lirik nakal nan absurd dari seluruh rilisan album The Panas Dalam yang dikomandoi Pidie Baiq. Oleh Zeke, estetika kebanalan di album Salak digubah bak kita mendengar curhat tak penting soal kegiatan sehari-hari dan pengalaman teman-teman dekatnya.

Dengan membangkitkan narasi-narasi kecil dari rekaman keseharian Zeke, album Salak ini boleh jadi cukup unik mengingat kita tengah berada dalam gempuran band-band panic generation semacam BRNDLS (Start Bleeding), Seringai (Mengadili Persepsi), ERK (Mosi Tidak Percaya), Trigger Mortis (Nekrodamus), KOIL (Nasionalisme dalam Fantasi), dan bahkan Tika (Mayday). Gempuran ini yang juga membuat banyak band merasa kurang afdhol kalau belum menyelipkan pesan moral dan kritik sosial dalam lagunya.

Tidak berlebihan rasanya bila saya menuduh album Salak agak membelakangi kultur musik kita hari ini. Bukan hanya dari segi produksi-konsumsi yang menghubungkan Zeke dengan publik via internet tanpa label apapun sebagai perantara. Bukan pula karena musiknya yang bicara tentang hal-hal nggak penting.Tetapi karena album Salak tidak menghendaki dirinya sebagai media kritik, sarana pencerahan, medium penyampai pesan anu itu. Bahkan sesungguhnya ia tak berbicara apa-apa selain kedangkalan, kekonyolan, keabsurd-an dirinya sendiri.

Sebagai sebuah karya seni post-modern di era cyber, Salacca Zalacca adalah sebuah kitsch dalam bentuknya yang paling telanjang. Tinggal yang menjadi pertanyaan, apakah Salak mampu menempatkan dirinya sebagai bentuk ekspresi seni yang bisa memainkan peranan dalam peta musik kita ke depan? Apakah Salak cuma dianggap sekedar lalu oleh pasar yang notabene mulai beragam sekarang?

Pertanyaan ini terjawab pada EP Release Party Rolling di Rumah Buku malam itu, momen penting setelah hampir setahun lewat sejak Salak dirilis.

The Party dan Kabaret Intim

Setelah tepat pukul 7 malam waktu di ponsel saya, acara inti baru dimulai. Pusat acara malam itu sejatinya adalah teras belakang Rumah Buku yang diset sebagai panggung kecil menghadap ke taman. Venue penonton tak beratap dan beralaskan terpal coklat penahan debu dan tanah yang makin basah karena hujan.

Mengenakan sweater bergaris hitam merah, syal hitam dan bertopi vendora, Zeke masuk ke panggung disusul personil lainnya yang segera ambil posisi. Tak ada yang bergeming selain menunggu Zeke dengan laptopnya. Tebakan saya betul, intro "Midget Couple Role Model" masuk memecah keheningan.

Track nomor 12 dari album Salacca Zalacca ini memang kerap dipasang sebagai lagu solo pembuka. Dari layar samping panggung, lirik lagu muncul, mengajak penonton masuk menyelami metafor-metafor sinikal lagu ini. Belum habis lagu, dari belakang panggung, seekor kelinci raksasa masuk. Bak balerina, ia melompat-lompat kecil di penghujung lagu, menari mendekat-dekat ke bibir panggung, membuka topeng kelincinya dan mengambil bass. Ya, kelinci raksasa ini adalah Ladya Cheryl, satu-satunya personil paling cantik di band.

Zeke dan band menggempur malam dengan 14 nomor yang diselingi penampilan kabaret tokoh Obama dari "Bluebird Taxi", Alien dari "Boylien 9 No.1", Kapten Kapal Api dari "Man of The Hour", dan Pinguin di "Pig Paranoia".

Sambil terus melakukan aksi-aksi tak lazim seturut irama, mereka seperti ingin mengajak semua orang yang ada dihadapannya untuk mematikan televisi dari rentetan headline news palsu sambil ikut joged bareng patah-patah keliling 'taman bunga' dan merayakan hidup sebagai karunia.

Meski hadir tanpa pesan jelas dan terkesan sekedar jadi penggembira, karakter-karakter hipereal yang muncul dari lagu-lagu di album Salak ini sebetulnya hendak mengaburkan batas antara panggung dan penonton. Bahwa panggung bukanlah tempat sakral dan penonton tak kalah pentingnya dengan pelaku pertunjukan itu sendiri.

Ini mengingatkan saya setiap penampilan fenomenal Brisik Ngentot - band yang entah memainkan musik apa - di panggung intim Bakar-Bakaran IKJ. Ini juga mengingatkan saya pada Kenduri Cinta dengan Cak Nun-nya yang mampu menciptakan public sphere paling ideal yang pernah saya alami.

Tapi malam itu, batas antara panggung dan penonton yang hendak dikaburkan tadi, malah kian menganga. Keintiman dan meriahnya kabaret gagal membuat tubuh saya bergoyang lepas. Entah karena venue yang tidak mendukung, atau ini wajar karena penonton lain juga tampak dingin saja menyaksikan reriungan di atas panggung.

Saya, dan mungkin beberapa penonton lainnya, seperti turis asing yang sedang menyaksikan hebohnya tarian suku-suku pedalaman di Kalimantan. Seru memang, tapi saya tidak merasa jadi bagian dari ritual mereka. Tak heran bila nomor-nomor dengan beat menggoda macam "Man of The Hour", "Boylien 9 No.1" hingga "Pipis di Celana" hanya mampu menghasilkan applaus kering dan singkat.

Kegagalan Penonton

Malam itu, penampilan kejutan dari Cholil ERK berkostum penyihir yang mengisi vokal di “Ballet Paranormal”, aksi Theramin pemanggil Boylien yang dimainkan oleh Evan, serta cover lagu “Waiting For a Superman” dari Flaming Lips ternyata belum mampu jadi penyelamat panggung. Walhasil, pertunjukan berakhir antiklimaks. Riuh rendahnya panggung memang tak mampu mengakrabkan saya dengan tokoh-tokoh hipereal yang sebetulnya kerap mengisi playlist winamp saya.

Anehnya, saya menduga klimaks itu justru terjadi di atas panggung. Tampak betul masing-masing personil hingga tokoh-tokoh kabaret tampak begitu intim dan kompak satu sama lain. Wajah sumringah dan bersahaja mereka menghadapi tatapan penonton seakan menyiratkan kepuasan malam itu.

Menyimak secara musikalitas tak ada cela yang berarti dari penampilan apik dari Zeke dan band malam itu, adakah saya sebagai penonton telah gagal mendapatkan kegembiraan yang sama seperti saat mendengarkannya dari headphone? Ataukah Zeke dan band sudah menganggap panggung bukan lagi tempat sakral, have fun sendirian seraya meninggalkan saya sebagai penonton dengan sikap main-mainnya?

Bukannya mengada-ada. Tapi saya hanya merasa ada penurunan kualitas aksi panggung dibandingkan dengan penampilan teatrikal serupa dari Zeke di Goethe House beberapa tahun lalu. Meski bertahun-tahun lewat, konser asing tersebut masih kuat lekatnya di memori saya dan cukup mempengaruhi intensitas saya berkarya.

Menyoal kegagalan tersebut, Zeke mengaku bahwa semua aksi panggung dilakukan lebih karena spontan. "Beda memang sama waktu zaman Lain atau Zeke and The Popo, gue paling takut untuk urusan manggung. Takut ini salah, takut itu kurang, takut penonton nggak suka dan kepikiran".

"Tapi sekarang kalo misalnya si anu gue tampil jadi karakter apa misalnya, itu karena gue suka, bukan karena mengharapkan penonton bakal terpukau. Kalo pas manggung, ya gue coba lepas aja dan have fun, syukur-syukur penonton juga bisa ketularan. Kalo ngga dapet ya udah, yang penting di atas panggung udah aman, itu cukup," katanya pada saya.

Stupid Like Rolling Stone Yeah?

Belum lewat angka 8 malam saat usai panggung berakhir. Seharusnya saya dan beberapa teman zine lain bakal menggelar konfrensi pers tak resmi dengan seluruh personil band saat itu. Tapi berhubung kendala teknis, sesi wacancara tersebut dibatalkan. Wah, padahal saya masih punya pertanyaan kuncian. Beruntung saat itu Zeke menongolkan kepalanya dari balik pintu teras depan yang ditutup khusus untuk kru.

"Guys, thanks ya udah pada dateng," sapa Zeke enteng kepada teman-teman yang masih berkumpul di situ. Saya kemudian bilang ingin bincang-bincang sebentar buat tulisan saya di Jakartabeat ini. Dia setuju.

Mengenai single “Rolling” sendiri, tentu akan sangat sulit bagi saya untuk tidak mengaitkan pertanyaan saya dengan kritik (untuk tidak menyebutnya sebagai olok-olok) Zeke pada praktik kebanyakan media massa mainstream, khususnya media musik yang menurut Zeke tidak profesional dan cenderung melihat band semata komoditi dengan ukuran bagaimana menembus pasar untuk mendongkrak kesuksesan penjualan album. Walhasil mereka mengabaikan pertumbuhan band-band lokal yang sebetulnya berkualitas.

"Band-band lokal ini adalah pemusik yang nyiptain lagu karena mereka cinta musik, dan kita juga main musik terutama buat diri sendiri. Justru band-band kayak gini yang inspiring buat gue," tandas Zeke.

Eureka momen lagu “Rolling Like a Stupid Stone” datang justru saat Zeke kena getahnya. Tepatnya, saat album Salak disebut sebagai album folk oleh seorang jurnalis  dalam sebuah review-nya di sebuah majalah musik.

“Oke lo boleh bilang album gue folk, tapi lo udah denger Boylien belum dan track lain nggak? Makanya gue curiga jangan-jangan baru dengerin satu lagu doang terus langsung direview,” kenang Zeke. Kekesalannya itu lantas tumpah mengisi beat-beat lagu yang kemudian diberi judul “Rolling Like a Stupid Stone”.

Meski kemudian banyak pihak yang berusaha menjelaskan situasi tak mengenakkan tersebut, lagu “Rolling” sudah keburu dipublish minggu itu menjelang Hari Natal, dengan note manis tambahan buat sang jurnalis: “Merry Christmas S.S”.

Di lain kesempatan yang mungkin tidak berhubungan (atau mungkin juga berhubungan), di jagad twitter, seorang jurnalis musik lain beberapa hari lalu dengan menyindir pernah posting kira-kira: “kalau album direview jelek, terus bikin lagu, gimana?”

Mungkin jurnalis yang ini lupa pada kisah tentang lagu “E.M.I” dari Sex Pistols, yang dibuat sebagai respon Johnny Rotten dan kawan-kawan sebagai ekspresi kekesalan pada perusahaan rekaman EMI yang membatalkan kontrak. Kalau Johnny Rotten pengacara, mungkin dia akan protes di meja hijau. Tetapi Johnny Rotten adalah seniman. Bahasa seniman tentulah karya seninya. Seniman merespon kritik dengan bahasanya sendiri.

Ibarat hak jawab dalam dunia pers cetak atau ‘menulis buku untuk menjawab kritik terhadap karya tulis’, maka yang dilakukan Zeke sebagai seniman dengan menciptakan lagu “Rolling Like a Stupid Stone” adalah hal perlu dan penting dilakukan. Kritik terhadap karya seni sudah semestinya dijawab melalui penciptaan karya seni.

Toh seiring waktu berjalan, cekcok Zeke dengan jurnalis senior tadi seakan lenyap. Meski belum ada kata damai, urusan ini dianggap selesai. Zeke sendiri mengaku tak menyesal dan sudah melupakan masalah ini.

Maka lewat sound futuristik, ritme menghentak, melodi bernuansa timur tengah dengan tarikan vokal rap dan lirik sinikal, “Rolling” bukan saja track yang easy listening buat saya, tapi juga easy dancing sebab ia terlalu menggoda tubuh dan kepala ini untuk bergoyang sesuka hati. Wajar bila Bin kemudian menciptakan 'Tarian Rolling' yang kemudian jadi scene utama video klip resmi single ini.

Di saat masyarakat konsumer kita hari ini dikungkung oleh kapitalisme pinggiran dan placebo dangkal yang dibuat media, di titik inilah saya paham bahwa tarian Rolling adalah representasi Zeke mempertahankan sisa kewarasan, memenangkan rasio dan merayakan tubuh yang dibebaskan dari beban sosial, bebas dari trend pasar dan media mainstream. Bahkan bebas dari penonton gagal dan jurnalis kacangan seperti saya yang telah mereview-nya dengan sok-sok hipster di sepanjang halaman.

Malam itu pun saya pulang dengan antiklimaks juga, menyisakan Boylien, Obama, Pinguin dan karakter album Salak masih asyik menari-nari dalam benak. Samar-samar, melodi kekanak-kanakan masuk mengiang-ngiang di telinga saya sepanjang jalan Dago menuju Jembatan Pasopati yang basah, "pig.. paranoia.. pig.. paranoia.."

 

{becssg}zekersi{/becssg}

Last modified on: 14 April 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni