(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2749 times | Diposting pada

Berbukalah Dengan Yang Kencang

 

Kurang dari dua minggu lagi umat Islam akan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Di Indonesia, puasa bukan sekedar ritus keagamaan, namun juga sudah jadi ritual budaya. Salah satunya budaya buka puasa bersama. Ngomong-ngomong buka puasa, beberapa waktu lalu saya sudah menuntaskan puasa saya di awal April lalu setelah delapan bulan lamanya menggigil kedinginan tanpa kehangatan konser di Norwegia. Dan menu buka puasa saya saat itu adalah: Kvelertak!

Sudah banyak cerita tentang Kvelertak. Sukses lewat self titled album mereka yang di luncurkan di tahun 2010. Kemudian dilanjutkan dengan tur keliling dunia serta rentetan penghargaan. Norwegia sebagai negara asal Kvelertak sendiri tersenyum karena sudah lama kehilangan pendongkrak nama lewat jalur musik. Patut dicatat, semua lirik lagu mereka ditulis dengan bahasa ibu!

Saya sendiri termasuk telat mengenal Kvelertak. Semenjak awal Februari 2012 pindah sementara ke Norwegia, banyak teman yang berkali menyebut nama Kvelertak. Tapi saya masih anggap angin lalu saka. Sampai suatu hari di akhir bulan Maret 2012. Seorang teman akrab saya semasa di kampus me-retweet tulisan Arian 13 tentang konser Kvelertak di Singapura di sebuah blog. Disinilah semuanya berubah. Kecuekan saya berubah jadi rasa penasaran memuncak setelah membaca blog tersebut.

Sekejap leher saya jadi sedikit lebih kekar karena sering saya pakai untuk mengangguk penuh tenaga. Persis seperti yang Arian tulis album ini sempat menghiasi playlist selama berhari-hari. Sembari memantau mereka lewat Facebook dan twitter, saya juga curi-curi lirik belajar bahasa Norwegia lewat album ini. Walau pesimis, saya masih nekat membayangkan mereka khilaf menerima tawaran manggung di kampung halaman. Saya sadar tipis sekali kemungkinannya. Karena sibuk, band yang berasal dari kota bernama Stavanger ini pun sudah memindahan home base mereka ke ibukota Norwegia, Oslo. Ditilik dari segi apapun, semua bisa dimaklumi.

Awal 2013 mulai berhembus kabar mereka segera merilis album kedua yang bertajuk Meir. Optimisme menyeruak. Kvelertak sudah mulai mengumumkan bahwa Meir akan keluar tanggal 25 Maret 2013. Hal ini dibarengi langsung dengan jadwal tur eropa untuk promo album kedua. Dimulai 5 Maret sampai 1 April, Kvelertak main di 23 venue di 9 negara Eropa. Inggris, Perancis, Jerman, Swiss, Italia, Austria, Polandia, Belanda, dan Belgia adalah negara yang beruntung dikunjungi Kvelertak untuk tur album kedua mereka.

Jadwal Eropa langsung disusul dengan tur kampung halaman. Total 6 kota di Norwegia dan 3 kota di Swedia sudah tersenyum ketika jadwal diumumkan. Gøteborg, Malmø, dan Stockholm di Swedia siap menyambut mereka. Sementara di Norwegia berturut-turut Bergen, Haugesund, Stavanger, Kristiansand, Trondheim, dan Oslo juga sudah bersiap. Saya sendiri sudah mengamankan satu tiket untuk nonton mereka. Maklum tidak banyak konser bagus di kota sekecil Kristiansand.

Tanggal 8 April 2013 sepulang kerja saya sudah siapkan bir diujung pintu kulkas. Selepas makan malam dan menghantarkan anak saya ke peraduan, saya menggelar ritual persiapan pribadi. Istri saya senyum-senyum lihat kelakuan saya. Dia sudah mengerti sekali, saya haus akan konser. Konser terakhir yang saya tonton adalah konser Rancid di Amsterdam pada Agustus 2012. Delapan bulan saya melewati hari  tanpa konser bagus. Saya kurang yakin anda bisa menjalaninya dengan waras.

Jam 8 tepat saya udah di venue. Saya bawa 2 kaleng besar bir dari rumah. Satu untuk perjalanan berangkat, satu untuk perjalanan selepas konser. Kebetulan, konser kali ini digelar di barnya Universitetet i Agder yang bernama Østsia. Sekitar 5 menit jalan kaki dari apartment. Sampai di pintu tepat saya habiskan 1 kaleng bir. Kaleng utuh saya selipkan di pot tanaman hias sembari berdoa tak ada yang memungutnya.

Sampai di dalam saya langsung merangsek ke lapak merchandise. Sambil mengajak kenalan dan ngobrol sama merch-man Kvelertak yang bernama Elliot Taylor. Ya benar, bukan nama Scandinavia. Dia berasal dari Inggris Raya, khusus dibawa Kvelertak untuk urusan lapak merchandise selama tur Eropa dan Scandinavia. Mungkin juga sekaligus tur Amerika Serikat mereka.

Konser sudah dimulai oleh Truck Fighter dari Swedia. Saya lebih tertarik memilih belanjaan. Baru setelah Purified in Blood memulai set, saya merangsek ke panggung mencari posisi depan yang nyaman. Purified in Blood ini ”adiknya” Kvelertak. Mereka berasal dari kota yang sama, memainkan musik yang serumpun. Untuk tur Scandinavia kali ini, mereka menemani ”kakaknya” berkeliling.

Saya sudah tak sabar menunggu set dimulai. Saya penasaran nerapa lagu  yang akan mereka bawakan. Setelah mendengarkan album kedua mereka selama hampir 2 minggu, di kepala saya masih berputar seluruh playlist dari album pertama. Saya juga yakin sebagian besar yang datang malam itu sama dengan saya.

Konser dibuka dengan Åpenbaring, dilanjut dengan Spring yang merupakan  track pertama dan kedua dari album Meir. Saya sempat berpikir konser ini akan dihiasi seluruh lagu dari album Meir, plus encore diambil dari album pertama. Tapi masuk lagu ketiga dan keempat, prediksi saya salah. Mereka memainkan Fossegrim dan Ulvetid dari album pertama. Lalu saya capek berpikir. Saya hampir lupa malam itu saya mau datang untuk berpesta.

Total 15 lagu dibawakan. Aksi panggung yang luar biasa keren. Walau sudah banyak membaca tentang aksi panggung mereka sebelumnya, saya berangkat tetap dengan ekspekstasi normal. Hasilnya malam itu saya bersenang-senang!

Klimaksnya mungkin di lagu ke-13, Blodtørst saat semua ikut bernyanyi. Lalu disambut setelahnya dengan lagu baru yang berjudul sama dengan nama mereka: Kvelertak. Di lagu ini, mereka menarik dua orang penonton untuk memainkan gitar menggantikan salah dua personil dari mereka. Entah Vidar, Bjarte, atau Maciek yang digantikan, saya lupa. Dan entah main dengan bener atau cuma gaya-gayaan, tidak menganggu jalannya konser. Semua tetap berteriak dan saling tabrak sana-sini. Tak ada yang peduli.

Jika saat konser di Singapura Erlend sang vokalis menghilang jajan roti cane di restoran seberang venue konser, kali ini saya tak tahu kemana hilangnya dia karena gedung konser ini dikelilingi hutan. Tapi dia menghilang di dua lagu terakhir. Lalu konser ditutup dengan Utrydd (dei svake), yang juga merupakan track penutup di album self titled.

Saya pulang dengan bahagia dan belanjaan segambreng. Tiga hari setelah malam itu, seluruh badan terutama leher, terasa sakit dan kencang. Buka puasa yang klimaks.

Last modified on: 4 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni