(2 votes)
(2 votes)
Read 2558 times | Diposting pada

5 Festival Musik Lokal Pilihan 2014

Salah satu aksi panggung Krakatau Ethno di Jazz Kota Tua Salah satu aksi panggung Krakatau Ethno di Jazz Kota Tua Sumber foto: jazzkotatua.com

 

Bicara tentang festival musik, catatan sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa festival yang marak hari ini adalah cabang dari berkembangnya sebuah Pasar Malam. Ya, Pasar Malam yang bisa dimana saja saya temui ketika saya masih kecil. Pasar Malam yang menjadi pilihan hiburan yang mudah dijangkau oleh semua kalangan. Pasar Malam yang hingar bingarnya kini mulai diredam oleh kemajuan teknologi dan kebobrokan otak manusianya.

Dalam situs Historia, disebutkan bahwa berdirinya Pasar Malam Besar pada 1959 diotaki oleh Tjalie Robinson alias Vincent Mahieu, seorang intelektual Indo dan sastrawan terkenal. Pria berdarah Belanda-Inggris-Jawa ini bernama asli Jan Boon. Kala itu, 1950-an, terjadi migrasi besar-besaran komunitas Indo ke Belanda. Di Indonesia, suasana memanas, dan memaksa mereka berhijrah. Namun Negeri Kincir Angin pun tak betul-betul menerima mereka.

Kerajaan Belanda mengeluarkan aturan tentang asimilasi dan menghimbau kaum Indies melupakan sejarah negeri seberangnya. Robinson menolak kebijakan itu, dan bersama rekan-rekannya sesama keturunan campuran Indonesia-Belanda, ia membentuk Indies Cultural Circle. Salah satu pencapaiannya adalah terselenggaranya Pasar Malam Besar. Idenya untuk nostalgia Pasar Malam Gambir yang rutin diadakan di Lapangan Banteng, Batavia. Saat itu, acaranya masih sekadar pertemuan, makan, dan musik, dan pengunjung boleh menyumbangkan dana untuk melestarikan budaya hibrida mereka selama tiga hari.

Tentu di hari ini, kita bisa menarik benang merah bila menyimak berbagai festival kebudayaan, khususnya musik yang banyak digelar di sejumlah daerah di Indonesia. Meski banjir panggung festival musik yang rajin menghadirkan musisi internasional di Indonesia memang telah lewat, kurun waktu 2009 s/d 2012 silam adalah masa-masa singkat nan menyenangkan dimana menonton musisi dunia favorit menjadi mudah dan tersebar di berbagai festival musik yang rata-rata memang digelar di Jakarta.

Hingga di tahun 2012, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, menyusul kabar mengenai pelarangan sponsor bagi perusahaan rokok untuk beberapa konser artis internasional saat itu. Larangan ini kemudian berdampak pada surutnya animo publik, belum lagi peristiwa dibatalkannya Java Rockin Land Festival pada tahun 2012 yang mengundang pertanyaan banyak orang akan bagaimana nasib festival rock terbesar se-Asia Tenggara ke depannya. Tak pelak, para penyelenggara festival mesti putar otak bagaimana menyajikan pagelaran musik dengan konsep menarik dan tetap mampu menyedot antusiasme pengunjung.

Dan festival musik hari ini, tak melulu festival yang bisa seenaknya disiarkan di berbagai media massa. Toh, sebagus apapun kualitas musiknya, tak jarang penikmat festivalnya hanya segitu-gitu saja. Meskipun ya, tak sedikit pula yang melebihi kuota. Tapi marilah berbincang sedikit mengenai festival yang digagas dari berbagai daerah di Indonesia. Saya telah merangkum lima festival terbaik di tahun ini sebagai festival pilihan dalam #Retrospektif2014 Jakartabeat.

5. Jazz Kota Tua (13 Desember 2014)

Saya selalu senang menyebut festival ini dengan "Jajan Jazz". Apa yang dibayangkan oleh kebanyakan orang bahwa Jazz adalah sesuatu yang mahal benar-benar dihapuskan dalam festival ini. Dwiki Dharmawan cs wajib diapresiasi, usahanya dalam mengenalkan Jazz cuma-cuma –yang mungkin bagi sebagian musisi Jazz lain kepalang mustahil sangat luar biasa– adalah sebuah pengharapan baru, bahwa kita tak mesti mengotori isi kepala dengan tayangan televisi.

4. Bandung Berisik Metalfest (29 November 2014)

Bandung Berisik bukan festival musik biasa. Festival ini telah menjadi ikon musik metal kota Bandung. Konser yang awalnya digerakkan secara komunal oleh komunitas Ujungberung Rebels sebagai komunitas metal tertua di Indonesia, lantas mengalami banyak perbedaan pada tahun ini dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Penonton diajak merasakan atmosfer tema Dark Carnival dengan nuansa industrial dengan potongan logam serta gerigi, menjadikannya tak sekedar pertunjukkan musik pada umumnya.

Bandung Berisik 2014 sendiri menghadirkan line up band metal terbaik Indonesia seperti Burger Kill, Jasad, Parau, Down For Life, Seringai, Rosemary, dan sejumlah band cadas lainnya. Sebagai pelengkap, band hardcore asal Jerman Rykers tampil membakar kota kembang di akhir November lalu.

3. Rock In Celebes (20-21 Desember 2014)

Selama ini, festival musik berskala internasional terkesan didominasi oleh Pulau Jawa. Bukan tanpa sebab, pelaku kreatif di luar Jawa –dalam hal ini Makassar– belum menyebar seperti di Bandung, misalnya. Segala sesuatunya benar-benar DIY. Dan di sanalah letak keunikannya. Diadakan di Celebes Convention Centre, Makasar, selama dua hari berturut-turut pada tanggal 20-21 Desember kemarin.

Rock In Celebes menyajikan berbagai "wahana musik" dengan panggung utama yang diisi oleh /Rif, Koil, Burgerkill, Musikimia, Rocket Rockers, Alone At Last, Death Vomit, Revenge, Paper Gangster, Kapital dan banyak lagi lainnya, termasuk mereka yang mengikuti audisi. Audisi atau Apply to Play, untuk pertama kalinya dirilis sebagai konsep baru untuk musisi baru dengan berbagai genre.

Didukung sistem micro site, dimana band bisa mendaftar, peserta Rock In Celebes bisa mengupload materi, foto, hingga memberikan esai mengapa mereka ingin tampil. Sisi edukasinya pun sangat cukup dengan dimasukkannya program conference dengan pembicara yang kredibel di bidangnya, seperti Robin Malau yang mengisi tema The New Music Bussiness & Building a Musician Bussiness, Gigging & Recording oleh Eben Burgerkill, Copyrights & Publishing oleh Hang Dimas, dan Financing oleh Emil Abeng. Dan tak lupa Clothing Expo, yang jadi salah satu alasan bagaimana festival ini terbentuk, benar-benar berawal dari sebuah distro kecil yang digagas oleh Ardy Chambers.

2. Solo Blues Festival 2014 (14 Mei 2014)

Ini adalah tahun kedua setelah sukses menghelat Solo Blues Festival 2013 dengan guest star Adrian Adioetomo. Tahun ini, giliran bluesman muda Indonesia lainnya, Rama Satria (Rama Satria and the Electric Mojos) dan Ginda Bestari berkolaborasi dengan musisi Solo, Gomz dan Oscar, sebagai headliner. Tema tahun ini adalah "The Cross Culture Road" yang menggabungkan filosofi suku Indian dan Jawa secara artistik dan konsep acara. Mengambil setting tempat di Benteng Vastenburg, Solo, festival yang diadakan pada tanggal 14 Mei ini turut menghadirkan berbagai komunitas musik blues. Dan memang, festival ini pun terselenggara berkat pertemuan tiga komunitas musik di Solo. Mereka adalah Blues Brothers Solo, Defenders of SuROCKarto dan Solo Blues Rock, yang akhirnya didukung penuh oleh Pemkot Surakarta.

1. Jakarta Indie Music Festival 2014 (18-19 Oktober 2014)

Apa yang menjadi menarik dalam festival ini tak lain karena, festival ini tak hanya mengajak kita untuk sekedar datang, duduk, berjingkrak, berkaraokean, kecapaian, lalu pulang. Di sana kita bisa turut serta ikut menampilkan kemampuan bermusik, mencoba peruntungan menjadi musisi lewat jalur indie, tentunya. Festival ini diadakan di Taman Fatahillah, Jakarta Kota selama dua hari (18-19/10). Di samping itu, banyak juga musisi yang telah berjaya lewat jalur indie pula, sebut saja, Tony Q Rastafara, Gugun Blues Shelter, Matajiwa dan sebagainya.

***

Telusuri #Retrospektif 2014
Last modified on: 29 Desember 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni