(2 votes)
(2 votes)
Read 2182 times | Diposting pada

The Lennon Report: Kisah di Balik Kelambu

 

Sutradara/cerita/skenario : Jeremy Profe/Walter Vincent
Produser : Gabriel Fransisco
Durasi : 87 menit
Produksi: Fransisco Films, 2016


Banyak yang bilang, 2016 adalah tahun naas buat para punggawa classic rock dimulai dari berita duka meninggalnya David Bowie bulan Februari, disusul Keith Emerson, Greg Lake (kebetulan dari band yang sama yang sebenarnya sedang merencanakan tur reuni trio ELP), disusul gitaris Status Quo, Rick Parfitt- sampai George Michael di bulan Desember (ya, George Michael-idola pop 1980-an yang juga digemari pendengar music rock).

Memang 2016 yang baru saja berlalu masih menyisakan berita baik misalnya dirilisnya album terbaru Megadeth dan Metallica, juga pengumuman diperpanjangnya tur reuni supergrup Guns N’Roses hingga ke daratan Asia (Singapura dan Thailand) pada Februari 2017. Kendati demikian, masih saja ada berita baik 2016 yang terlewat yaitu dirilisnya film “The Lennon Report” –sebuah film yang dari judulnya saja Anda sudah bisa menebak mengisahkan secuil kisah punggawa supergrup The Beatles, John Lennon.

Film ini entah kenapa kurang mendapat pemberitaan yang memadai walau temanya unik, yaitu peristiwa di balik kelambu terbunuhnya John Lennon di New York, 1980. Dengan judul dan tema yang menggugah, saya semula menduga film ini akan berlarut-larut bak “JFK”-nya Oliver Stone (1990) yang memang dibuat untuk mengupas habis misteri kematian Presiden AS itu. Apalagi hampir seluruh aktor/aktrisnya (kecuali yang memerankan Yoko Ono) sengaja tak dipilih berdasarkan harus menyerupai tokoh aslinya di dunia nyata-mirip proses produksi film “JFK”.

Ternyata tidak. Film ini “hanya” mengulik saat-saat dramatis menjelang dan sesudah kematian rockstar tersebut dari Alan Weiss, produser siaran berita-orang pertama yang mengetahui terbunuhnya sang legenda. Meski “hanya mengulik” bukan berarti film jenis docudrama ini lantas terjerembab menjadi semacam glorifikasi sang legenda –satu hal yang sulit terhindarkan jika sineas membuat film biopic pun sepotong kisah yang benar-benar terjadi.

Dikisahkan, Alan Weiss pulang tengah malam dari kantornya yang sumpek sambil mengendarai sepeda motornya menuju apartemennya. Naas, sepeda motornya tertabrak mobil yang sedang melaju kencang. Luka Weiss cukup berat, walau ia tak sampai pingsan. Adegan berpindah ke sebuah apartemen di New York dengan hingar bingar bunyi sirene ambulans dan mobil polisi. Ada orang tertembak dan polisi berhasil meringkus si penembak.

Adegan lalu berpindah ke Weiss, di mana ia dalam kondisi luka parah ketika menuju Ruang Gawat Darurat di RS Rooselvelt, RS yang sama dimana di situ para dokter jaga sedang berusaha menyelamatkan nyawa pria tak dikenal yang baru saja tertembak.

Weiss sambil sesekali mengerang kesakitan dengan sisa-sisa kesadarannya menunggu di atas ranjang, sementara para dokter jaga akhirnya terlebih dulu menyelamatkan pria yang sekarat. Kamera beralih ke bilik operasi yang riuh dimana dokter tengah berusaha keras mencegah lebih banyak keluarnya darah dari pria malang berkacamata itu. Menit-menit berlalu yang tegang nyawa si pria tak tertolong. Para dokter, perawat, dan asistennya tertunduk lesu. Namun mereka terkejut tatkala menggeledah isi dompetnya, pria itu ternyata John Lennon!

Kasak-kusuk mereka tak sengaja terdengar di bilik lain oleh Weiss. Naluri wartawan Weiss terusik. Apalagi dari bilik operasi ia melihat petugas satpam dan polisi yang masih terkaget-kaget menyebut nama Lennon. Juga, samar-samar ia melihat Yoko Ono sedang menangis di ruangan lain. Tapi Weiss sendiri sedang dalam kondisi parah, ia tak bisa bangun dari ranjang untuk menelepon kantor beritanya. Dengan sigap ia mencatat apa yang didengarnya lalu menyuruh cleaning service RS untuk menelepon kantornya.

Tapi, perjalanan sebagai “pembawa berita pertama kematian John Lennon” tak semudah itu. Satpam RS yang tahu Weiss adalah wartawan berusaha mencegah agar berita yang menurutnya “belum resmi” ini tidak bocor agar ketenangan penghuni RS tak terganggu kedatangan wartawan dan masyarakat sekitar yang pasti akan heboh jika tahu yang meninggal tertembak adalah si pelantun mega hits “Imagine” itu!

Sutradara Jeremy Profe dan penulis cerita Walter Vicent sangat lihai mengeksekusi film ini sehingga hasilnya cukup memuaskan walau ditonton pun bukan fans The Beatles. Konon proses pengerjaannya cukup rumit karena Profe sampai berkali-kali merombak cerita agar tak terjerembab menjadi film investigasi penembakan John Lennon. “John Lennon, Yoko Ono, dan The Beatles, ah, sudah ribuan orang membuatnya, kami harus jeli mengolahnya dengan segala data yang kami dapat,” papar Profe kepada majalah Billboard, Oktober 2016, ketika ditanya alasannya mengangkat sosok Lennon.

Dengan sudut pandang yang tak biasa, yaitu mengangkat sekelumit cerita dari peristiwa bersejarah besar, tak heran film ini dipuji-puji dalam even Boston Film Festival, Highfalls, dan Newport Beach Film Festival-ketiganya festival film indie Amerika. Selain sukses dalam kompetisi film indie, film ini pun juga mendapat kehormatan ditayangan pada acara memperingati kematian Lennon 7 Oktober 2016, di mana dalam acara tersebut juga ditayangkan berbagai film lain mengenang mendiang Lennon.

Wajar, film ini kurang diberitakan karena memang pertama dibuat untuk acara kompetisi film festival film indie, selain seluruh nama pendukungnya memang bukan nama-nama tenar dunia perfilman-pun Hollywood. Namun dengan segala keterbatasannya, film ini sangat bernyali dengan kejeliannya mengangkat narasi kecil dari orang-orang pertama dari situasi yang kemudian mengguncangkan dunia, yaitu hari terakhir kematian sang legenda rockstar.

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni