(5 votes)
(5 votes)
Read 5407 times | Diposting pada

Sang Kyai: Persentuhan Apik Islam dan Nasionalisme

 


Kerudung yang melekat di kepalanya tersapu angin. Wanita itu masih mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Mengejar truk yang membawa suaminya ke palagan perang di Surabaya. Di jalanan berdebu yang kanan kirinya sungai dan sawah, truk terus menderu. Meninggalkan sepeda onthel yang dikayuh wanita itu. “Mas Haruuuun….,” teriak wanita itu. Tapi si pemilik nama terus melaju. Api perlawanan sudah menggelegak. Alih-alih meminta sopir truk berhenti, Harun menaruh tangannya di dahi, tanda hormat seorang serdadu.

Bahkan kalimat istrinya saat masih di rumah tak mempan meluluhkan Harun. “Bagaimana kalau aku hamil, Mas?” tuturnya seperti mengiba. “Aku tidak mau nanti punya anak, negara kita masih dijajah. Aku akan melakukan apa saja asalkan Belanda pergi dari sini,” seru Harun yang menimba patriotisme dari KH Hasyim Asy’ari.

Kebencian Harun pada penjajah telah di ubun-ubun. Dia pernah punya pengalaman pahit ketika Hamid, kawannya sesama santri Tebuireng, Jombang, ditembak mati tentara Jepang. Saat itu keduanya berniat membebaskan gurunya, KH Hasyim Asy’ari yang ditawan Jepang karena dianggap menyulut pemberontakan. Harun makin benci Jepang lantaran “saudara tua” itu sewenang-wenang merampas hasil pertanian rakyat di negerinya.

Siapa yang bisa mencegah Harun? Tidak juga istrinya. Maka Sari hanya bisa pasrah. Sebelum naik truk bersama anggota Barisan Hizbullah, Sari memberikan sepucuk kertas kepada Harun. Kertas itu hanya boleh dibaca jika Harun tiba di Surabaya. Meski sudah pasrah, Sari masih mencoba menawar. Mengayuh sepeda onthel yang tak mampu mengejar truk yang ditumpangi Harun.

Di palagan Surabaya, Harun dan kawan-kawannya di Barisan Hizbullah, rawe-rawe rantas malang-malang putung. Mereka tak punya takut menghadapi tentara Sekutu/Inggris yang masuk ke Surabaya selepas Jepang menyerah kalah, Agustus 1945. Hadirnya sekutu itu pula yang dimanfaatkan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia.

Bagi Harun, kemerdekaan yang baru saja dikumandangkan Sukarno-Hatta musti dipertahankan. Buat santri sepertinya hukum membela negara dan melawan penjajah adalah fardhu a’in. Setidaknya begitu yang dinasihatkan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Nantinya fatwa itu pula yang menjadi “dinamit” buat Bung Tomo mengobarkan perlawanan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945.

Itulah persentuhan apik antara Islam dan Nasionalisme dalam film Sang Kyai karya sutradara Rako Prijanto yang rilis akhir Mei lalu. Sesuatu yang dibilang Gus Wahid Hasyim di film itu sebagai sesuatu yang saling melengkapi. Dalam konteks kita, Islam bisa dibilang memberinya cukup banyak untuk menyusun, membentuk, dan merawat nasionalisme Indonesia. Mungkin karena kesadaran itu pula Sukarno harus mengutus orangnya untuk meminta fatwa dari KH Hasyim Asy’ari soal apa hukumnya membela tanah air.

Di film ini Harun digambarkan sebagai hero. Harunlah yang memuntahkan timah panas ke Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby dalam peristiwa baku tembak 30 Oktober 1945 di Surabaya. Saat itu Inggris terdesak. Mereka lalu memilih gencatan senjata. Sukarno-Hatta menyetujuinya. Tapi pemimpin pasukan Inggris itu kena batunya saat melintas di Jembatan Merah, Surabaya. Dalam literatur sejarah dinukilkan, mobil Buick yang ditumpanginya dicegat pasukan dari Indonesia. Seorang pemuda Indonesia —hingga sekarang tak diketahui identitasnya— menembaknya dengan pistol. Mallaby tewas.

Rako Prijanto memasukkan fiksi saat memvisualkan Harun, santri Tebuireng anggota Barisan Hizbullah, sebagai penembak Mallaby di film. Rako menceritakannya dengan bahasa visual yang logis. Harun bertindak bukan tanpa sebab, apalagi ngawur saat memutuskan menembak Mallaby. Musababnya, dia mendapati seorang tentara Inggris membawa granat. Harun merasa itu adalah gelagat licik dari Inggris untuk membungkam pasukan Indonesia yang menyerbu markas Inggris di Surabaya. Sebelum melemparkan granat ke pasukan Indonesia, Harun mendahului: Dia mendekati mobil Mallaby, menggedornya, dan lalu memuntahkan peluru dari pistolnya. Mallaby tewas.

Respon dari tentara Inggris bisa ditebak. Granat dilempar. Harun yang mencoba lari menjauh dari mobil Mallaby terkena ledakan granat itu. Dia terlempar. Si pahlawan, cerita samping dalam film ini, gugur. Harun meninggal dunia setelah dia tahu istri yang dicintainya, Sari, mengandung anaknya. Dalam satu adegan, sutradara film ini mendramatisasi keriangan Harun mengetahui Sari hamil seperti anak kecil yang baru saja dapat mainan baru.

***

Selepas pertempuran berdarah itu, Barisan Hizbullah kembali ke Jombang. Sari riang bukan kepalang. Di benaknya, Kang Mas Harun bakal kembali bersamanya. Melewati hari menunggu anaknya lahir. Dia menanyakan di mana Harun kepada Abdi, salah satu pentolan Barisan Hizbullah Jombang. Milisi sipil yang atas persetujuan KH Hasyim Asy’ari dibentuk sebagai tanggapan terhadap Jepang yang meminta pemuda Indonesia masuk Heiho. Tapi Abdi diam seribu bahasa.

Jenasah Harun digotong kawan-kawannya bersimbah darah. Sari mendadak kelu. Tangisnya tumpah. Makin haru dan dramatis (atau jangan-jangan kelewat verbal?) ketika Rako Prijanto memasukkan bait-bait lagu “Bila Tiba”, soundtrack yang diracik Ungu.

“Mati tak bisa kau hindari…Tak mungkin bisa engkau lari…Ajalmu pasti menghampiri..”

Harun & Sari menghidupkan film ini. Sisi lain di luar tokoh utama. Adalah KH Hasyim Asy’ari pula yang menikahkan keduanya. Dia tahu santrinya itu terpikat pada Sari. Sang Kiai pun menyokong Harun. Mereka hidup sederhana di pesantren. Suami-istri yang saling mencintai, bertopang pada ajaran-ajaran Islam yang ditiupkan Hadratus Syaikh.

Di tengah cerita, Harun bersimpang jalan dengan gurunya itu. Dia tak setuju dengan sikap Masyumi yang dianggapnya terlalu baik kepada Jepang. Terutama saat meminta rakyat melipatgandakan hasil pertanian. Bagi Harun, sikap itu makin menyengsarakan rakyat. Padahal KH Hasyim Asy’ari tak pernah meminta rakyat memberikan hasil pertanian itu kepada Jepang. Tentara Jepanglah yang beringas. Merampas hasil pertanian rakyat.

Gara-gara sikapnya itu, Sari pernah mengingatkan Harun. “Mata kadang menyesatkan, pikiran bisa melenakan, maka lihatlah dengan hati,” ujar Sari untuk menyadarkan Harun agar lebih jernih memahami KH Hasyim Asy’ari yang didapuk Jepang memimpin Masyumi.

***

Film “Sang Kiai” hampir sempurna memotret perjalanan Hasyim Asy’ar i—kakek Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia. Si sutradara tidak berobsesi menyajikan seluruh kisah hidup tokoh utama dari lahir hingga wafat. Melainkan fokus pada apa yang dilakukan sang tokoh antara 1942-1947. Cara ini jitu untuk menghindari cerita menjadi bertele-tele. Pun begitu, ketokohan Hasyim Asy’ari tak terdistorsi karenanya. Bahkan tak ada satu adegan pun ihwal latar belakang dan pendirian Nahdlatul Ulama —organisasi massa Islam yang berdiri tahun 1926. Rako Prijanto menganggap penontonnya sudah tahu jika KH Hasyim Asy’ari adalah pendiri NU. Apalagi masa kecilnya. Yang ada justru Abdurrahman Wahid kecil, yang melintas di ruangan saat ayah dan kakeknya menerima tamu.

Maka filmnya dibuka dengan adegan Pesantren Tebuireng menerima santri baru. Para orangtua membawa anaknya plus hasil pertanian ke pesantren. Hasil pertanian itu untuk menopang kebutuhan si anak kala nyantri alias mondok di sana. Ada orangtua tak membawa hasil pertanian. Si anak hampir ditolak oleh santri-santri lama. Beruntung KH Hasyim Asyari lewat, sehingga anak itu dibolehkan nyantri di Tebuireng.

Selebihnya, kita tahu kualitas akting Ikranegara yang didapuk menjadi KH Hasyim Asy’ari. Dia menggarami betul perannya, dari awal hingga akhir. Bukan perkara mudah “menjadi” mahaguru kiai-kiai se-Jawa dan Madura itu. Kakek Gus Dur itu ahli hadist, berbahasa Arab dengan fasih, serta bijak bestari. Islam menjadi nafasnya —kendati secara stereotipe dipojokkan sebagai kaum sarungan yang tradisionalis. Ada pula Christine Hakim yang dipatok jadi istri Kiai Hasyim. Atau Agus Kuncoro yang memerankan tokoh Wahid Hasyim —cendekiawan kaliber wahid yang suka menggunakan jas. Sesuatu yang baheula diidentikkansebagai pakaiannya Belanda oleh ulama-ulama NU.

***

Hasyim Asy’ari di film ditonjolkan sebagai seorang yang moderat. Bisa bernegosiasi dengan penjajah Jepang. Namun tetap teguh prinsip. “Dalam hidup ini ada hal-hal yang bisa kita bicarakan, bahkan bisa kita kompromikan. Tapi kalau sudah menyangkut soal akidah, itu tidak bisa diganggu gugat,” pesannya kepada para santrinya.

Maka dia menolak tunduk saat Jepang memaksakan seluruh pesantren mengikuti Sekerei. Yakni menghormati dewa matahari dengan membungkuk. Buat Kiai Hasyim, tindakan itu menistakan ajaran Islam. Itulah yang membuatnya ditangkap Jepang. Saat diinterogasi pun, Hasyim tetap konsisten. Saat azan berkumandang, ia ngotot salat meski si komandan tentara Jepang belum kelar menginterogasinya. Sikapnya itu nanti menggedor kesadaran penerjemah Jepang, kebetulan pemuda beragama Islam, untuk nyantri di Pesantren Tebuireng. Si pemuda ini ikut bersama Harun dan Abdi berperang melawan Sekutu di Surabaya.

Dari ranah pesantren, Hasyim Asy’ari ikut memompa semangat melawan penjajah. Baginya Islam & umatnya adalah modal. Jika umat Islam di Indonesia bersatu, maka penjajahan tak akan terjadi. Dan kalau pun “si kafir” —begitu Kiai Hasyim menyebut Jepang atau Belanda— menjajah negeri ini, itu bisa dipatahkan dengan persatuan umat Islam. Dengan perspektif itu, Kiai Hasyim sudi memimpin Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).

Begitu pula saat Jepang memaksanya merangkap Kementerian Agama. Kiai Hasyim menerimanya, karena ia memiliki Wahid Hasyim yang bisa mengorganisasi dan cekatan dalam berdiplomasi. Mimpi “persatuan Islam” itu tak pernah terwujud hingga kini. Apalagi di medan politik. Aspirasi dan artikulasi Islam di tanah air cenderung menyempal, bercabang-cabang, dan heterogen. Sejak rezim Orde Baru runtuh, pemenang Pemilu senantiasa digenggam kubu yang berhaluan nasionalis.

Film ini mengabarkan kepada kita tentang satu hal: Kalangan Islam memberi sumbangan banyak bagi kemerdekaan Indonesia. Pesannya kokoh, ulama dari pesantren jangan lupa disebut dalam kemerdekaan Indonesia. KH Hasyim Asy’ari memang lebih banyak di Tebuireng —karena ia merasa lebih jembar memimpin dari pesantren— ketimbang berada di Jakarta. Tapi, ia tak pernah satu detik pun berhenti memikirkan negerinya. Sebuah bangsa yang hingga kini tetap mengeja identitasnya.

Last modified on: 5 November 2013

    Baca Juga

  • Pesan Nenek Pendoa


    Semua orang di daerah Jakarta Utara memuji kemampuan Walikota baru. Menurut mereka, berkat kerja keras beliau memimpin daerah pinggir laut tersebut, Jakarta Utara sudah tidak mengalami banjir –yang bisa setinggi…

     

  • Resensi Buku 'Bung Hatta, di Mata Tiga Putrinya'


    Di dalam buku, peran Mohammad Hatta sebagai seorang bapak dihidupkan kembali dengan memori. Menulis kembali sosok bapak adalah bentuk penghormatan seorang anak. Rumah membentuk biografi keluarga, menjadi saksi bisu pengasihan,…

     

  • Kuasa Aroma dan Seksualitas


    HIDUNG tak bisa berpuasa. Indera pengecapan bisa berhenti makan dan minum. Indera penglihatan bisa berpuasa melihat hal-hal “kotor.” Pendengaran, dapat “dibersihkan” melalui puasa dari mendengarkan yang tak elok. Sementara rehat…

     

  • Homicide dan Musik Penyadaran (Indonesia)


    Kita harus melampaui terlebih dahulu debat tentang ada-tidaknya musik (yang khas) Indonesia; atau musik yang mencirikan keIndonesiaan –sebagaimana berlangsung dalam diskursus di bidang kesenian lainnya, misalnya seni rupa. Perdebatan semacam…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni