(1 Vote)
(1 Vote)
Read 1508 times | Diposting pada

Menyimak 'Sabda Klandestin' dalam "Kinjeng Wesi (The Invasion)" di Yogyakarta

 

Gaung Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di pelosok Indonesia tak perlu diragukan lagi. Posisinya selalu mendapatkan tempat yang istimewa bagi para pelancong lokal ataupun internasional. Bahkan orang-orang yang pernah berkunjung ke kota ini selalu menyimpan memori yang sangat mendalam perihal nilai-nilai kearifan lokal yang mereka jumpai secara langsung di sana. Salah satu manifestasi yang mampu membuktikan hal tersebut adalah lantunan bait-bait kelompok musik Kla Project yang berjudul, Yogyakarta yang bisa membawa pendengar hanyut dalam nostalgianya.

 

Dalam perkembangannya, Yogyakarta mengalami dinamika sosial yang cukup siginifikan terutama dalam pembangunan kota. Beberapa kawan yang telah mengunjungi Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir bercerita, bahwa mereka menemukan perubahan, Salah satunnya geliat pembangunan hotel.

 

Saya mencoba menelusuri di Google dengan menulis kata kunci ‘pembangunan hotel di…’ Belum tuntas mengetiknya, ternyata pencarian tertinggi muncul dengan kalimat ‘pembangunan hotel di Yogyakarta,’ dan di urutan paling atas terdapat ulasan perihal risiko dan nasib buruk pembangunan hotel di Yogyakarta serta laporan yang menjelaskan penolakkan warga terhadap pembangunan hotel dan apartemen.

 

Salah satu respon dari kondisi ini adalah munculnya gerakan kolektif, Jogja Ora Didol (Jogja Tidak Dijual), sebuah kampanye sosial yang dilakukan beberapa anak muda di Yogyakarta untuk menyikapi maraknya pembangunan hotel menyebabkan kekeringan sumur warga.

 

Sementara itu, peristiwa terbaru yang terjadi di Yogyakarta dan menjadi perbincangan nasional adalah penyerangan gereja St. Lidwina di Sleman. Situasi ini sangat menyedihkan sebab Yogyakarta dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi satu sama lain. Peristiwa lainnya adalah pembatalan pameran solidaritas yang terjadi kemarin.

 

Ambisi NYIA Dan Penyingkiran Ruang Hidup Petani

 

Pembangunan kota selalu membawa dampak bagi para penghuninya. Seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia setahun yang lalu, Badan Pusat Statisik (BPS) melansir Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi yang memiliki ketimpangan tertinggi di Indonesia. 

 

Selain dua ringkasan peristiwa tadi, pekik masalah sosial yang patut mendapatkan perhatian adalah pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang rencananya akan berlokasi di Wates, Kulon Progo. Kabarnya, alasan di balik mega proyek ini adalah pertimbangan keterbatasan kapasitas bandara Adisutjipto. Proyek ini pun ditargetkan mulai difungsikan pada April 2019 mendatang. Analisis menarik tentang penggusuran dan perampasan atas ruang hidup di sana bisa disimak di sini. 

 

Beberapa pemberitaan lokal dan nasional tentang persiapan NYIA bisa ditelusuri di internet. Jangan terlewatkan pula informasi seputar penggusuran lahan pertanian warga yang masuk ke dalam zona pembangunan bandara yang masih terus diperjuangkan untuk dipertahankan.

 

Film documenter dari LBH Yogyakarta yang berdurasi 31 menit, Kinjeng Wesi (The Invasion), merupakan arsip yang membahas tentang latar belakang pembangunan NYIA sekaligus mendokumentasikan beberapa rangkaian peristiwa yang beririsan dan terjadi di Kulon Progo dengan cukup rapi.

 

Dalam bagian pembukaan, ada penggalan kalimat berupa sajak yang dibacakan narator dalam Bahasa Jawa, yang selanjutnya menjadi bagian penting dalam tulisan ini. Kemudian berlanjut ke informasi seputar potensi daerah Kulon Progo, khususnya bahasan tentang kawasan pertanian subur yang luasnya mencapai 18.569 hektar.

 

Kinjeng Wesi (The Invasion) dideskripsikan sebagai “dokumenter bagaimana proses pemusnahan ruang hidup warga di Provinsi D.I. Yogyakarta sedang berlangsung: di Kecamatan Temon, Kulon Progo, di Pantai Watu Kodok, Gunung Kidul, di Pantai Parangkusumo, Bantul dan di Sleman, juga di Kota Yogyakarta. Satu demi satu, atas nama pariwisata.”

 

Musti disadari bahwa seluruhnya itu berawal dari Kecamatan Temon, Kulon Progo yang saat ini sedang membangun New Yogyakarta International Airport (NYIA) / bandara baru Kulon Progo, susuh-nya Kinjeng Wesi. Dari sana, titik mula Kinjeng Wesi akan menginvasi ke segala penjuru, melakukan penyingkiran-penyingkiran terhadap warga”, (LBH Yogyakarta).

 

Salah satu bagian menarik dari dokumenter yang dipublikasikan pada 21 November 2017 ini adalah pencatutan “karya” pujangga besar Ronggo Warsito berjudul Sabda Leluhur, yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura. Sebenarnya ini jurus lama untuk mencari pembenaran, seolah kehadiran bandara baru NYIA sudah diramalkan.

 

Berikut kutipan dari karya yang dimaksud:

Sesuk ning ning tlatah Temon kene bakal ono

Wong dodolan cao nang awang-awang

Tlatah Temon kene bakal dadi susuhe kinjeng wesi

Tlatah sak lor Gunung Lanang lan kidul

Gunung Jeruk bakal dadi kutho

Glagah bakal dadi mercusuaring bawono

Ngayogyakarto bakal pindah ono sak kulone Kali Progo

 

Di bawah ini adalah terjemahannya:

Kelak di wilayah Temon ini akan ada

Penjual cincau di udara (baca-pesawat udara)

Wilayah Temon ini kelak akan menjadi

Sarangnya capung besi

Kawasan di selatan Gunung Jeruk kelak

Akan menjadi kota

Belukar akan menjadi mercusuarnya dunia

Yogyakarta akan berpindah ke barat Sungai Progo (baca-peradaban baru)

 

Ronggo Warsito

 

Cover Both Sides ‘Sabda Leluhur’

 

Dosen Sastra Nusantara, Fakultas Ilmu Budaya  UGM, Anung Tedjowirawan saat diwawancarai di Kinjeng Wesi menuturkan, bahwa sajak Sabda Leluhur dari segi bentuknya bukan karakter karya-karya Ronggo Warsito. “Ronggo Warsito kan pujangga keraton di Surakarta, bukan Yogyakarta. Kepentingan Ronggo Warsito apa untuk meramalkan Yogyakarta ini? Kemudian juga dari segi bahasanya, ini bukan bahasa Ronggo Warsito. Apalagi rasa bahasanya, tidak sama sekali. Kemudian juga dari segi sumbernya, ini sumbernya darimana? (…….) Kan gak mungkin kita (bilang), oh ini ada sumbernya dari Ronggo Warsito. Karya(nya) yang mana? Di samping itu, ini tahunnya, tahun berapa? Kan ini tahun 2017, apakah Ronggo Warsito meramalkan di tahun 2017? Sepanjang yang saya pelajari selama lebih dari 35 tahun, itu tidak ada ramalan-ramalan untuk tahun 2017.” (menit 20.45 – 22.28).

 

Protes warga Bantul, perlawanan warga Gunung Kidul serta penolakan warga Kulon Progo tak mampu mengubah rencana. Bandara baru tetap dibangun di tanah warisan leluhur. 20 Januari 2017 Presiden Joko Widodo meletakkan batu pertama sebagai penanda dimulainya pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

 

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi juga membacakan Sabda Leluhur karya Ronggo Warsito, yang setelahnya diikuti tepuk tangan para hadirin yang terhormat. Sebagai peneliti budaya, Anung Tedjowirawan pasti merasa kecewa melihat pembenaran yang dilakukan pihak Angkasa Pura.

 

Sedangkan para petani di Kulon Progo yang lahannya digusur atas nama pembangunan dan investasi harus memulai kegelisahan untuk hari-hari esok, bahwa sawah mereka akan “disulap” menjadi bandara internasional. Seturut dengan itu, permasalahan sosial lainnya akan muncul terutama ruang hidup, ketersediaan air bersih dan pangan dalam jangka panjang untuk generasi selanjutnya.

 

Pencatutan Sabda Leluhur ibarat usaha memecahkan konundrum sekaligus upaya menjawab klandestin yang ada di dalamnya. Mengutip Donny Gahral Adian dalam ulasannya ‘Jurgen Habermas: Komunikasi Yang Terdistorsi’, yang menjelaskan generasi awal mazhab Fankfurt, Theodor W Adorno (1903-1969) mendefinisikan “ideologi” sebagai “ilusi sosial yang diperlukan” atau sebentuk kesadaran palsu yang diperlukan secara sosial.

 

Semula, Habermas juga merumuskan definisi serupa. Dalam konteks ini, ideologi merupakan idea atau keyakinan palsu tentang sebuah masyarakat yang entah bagaimana caranya dikelola secara sistematis guna mendorong individu-individu untuk terus-menerus memercayainya.

 

Namun, ideologi bukanlah keyakinan palsu yang biasa, sebagaimana Anda melihat sebuah penggaris yang tampak bengkok saat dicelupkan ke dalam gelas kaca. Sebaliknya, ideologi adalah keyakinan palsu yang dianggap benar secara luas. Dengan kata lain, hampir semua anggota masyarakat dibuat untuk percaya. Selain itu, ideologi merupakan keyakinan palsu yang fungsional. Ia berfungsi untuk menopang lembaga-lembaga sosial tertentu dan hubungan-hubungan dominasi yang didukung oleh ideologi itu sendiri. Dengan begitu, akan tampak bahwa secara sosial ideologi diperlukan, sebagaimana definisi di atas.

 

Lebih lanjut, ideologi dapat memenuhi fungsi sosial dalam berbagai cara yang berbeda. Ia mampu membuat institusi-institusi yang sebenarnya buatan manusia, tapi menampilkan dirinya sebagai sesuatu yang tetap dan alamiah. Ekstremnya, ideologi memungkinkan institusi yang sebenarnya hanya melayani kepentingan kelas tertentu, tampak seolah-olah melayani kepentingan semua orang.

 

Dalam hal ini, Donny Gahral Adian menegaskan, bahwa ideologi bukan tentang kesadaran palsu, karena kekuatan sosial-ekonomi tertentu, tapi karena komunikasi terdistorsi secara sistematis oleh kekuatan, sebuah diskursus yang telah menjadi medium dominasi dan berfungsi melegitimasi relasi-relasi kekuatan terorganisir” (hlm. 109-110).

 

“Kabarkan setiap lini kehidupan adalah front terdepan”.*

“Seberapa mematikan pemaksaan atas nama kedaulatan”.**

 

*Bars Of Death     : Tak Ada Garuda Di Dadaku  

**Homicide          : Klandestin

 

Pustaka                 : Adian, Donny Gahral. Setelah Marxisme (Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer). Depok: Penerbit Koekoesan. 2011, hlm. 109-110.

LBH Yogyakarta
Last modified on: 26 Februari 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni