(3 votes)
(3 votes)
Read 2921 times | Diposting pada

MARLINA: Penggal Kepala, Harga Yang Layak Untuk Pemerkosa

MARLINA: Penggal Kepala, Harga Yang Layak Untuk Pemerkosa Cinesurya

 

 

 

[Spoiler Alert]

 

Entah sebuah kebetulan atau semesta memang sudah membuatnya demikian. Saat isu mengenai kesetaraan gender sedang marak dibicarakan, film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak langsung merebut panggung dan mencuri begitu banyak pasang mata masyarakat Indonesia dan belahan dunia lainnya. Film ini disutradarai oleh Mouly Surya dan naskahnya ditulis bersama Garin Nugroho. Sebuah kolaborasi yang amat apik dalam menuturkan narasi empat babak melalui audio-visual indah tentang perempuan Sumba Timur yang diri dan peranannya terepresi. Tidak heran jika sebelum diputar di bioskop Indonesia pun film yang berdurasi 90 menit dan dibintangi oleh Marsha Timothy (Marlina), Egi Fedly (markus), Dea Panendra (Novi), dan Yoga Pratama (Franz) ini sudah masuk dalam Directors’ Fortnight Cannes Film Festival 2017, memenangkan penghargaan NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival, dan terpilih sebagai Film Pilihan dalam ajang Festival Film Tempo 2017.  Jika para perempuan dan laki-laki di dunia dapat berkolaborasi dengan padu seperti ‘ibu dan ayah’ dari film ini maka ujaran seperti “Dibilang cantik katanya catcalling tapi dibilang gemuk katanya body shamingtidak perlu diperdebatkan panjang lebar lagi karena kesadaran berempati sudah dimiliki.

 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak bercerita tentang perjalanan seorang janda dari latar belakang pendidikan dan ekonomi terbelakang di pelosok Sumba Timur dalam mencari keadilan setelah ia diperkosa oleh para lelaki. Film ini mampu ‘mengawinkan’ isu sosial yang relevan di Indonesia dan nuansa western cowboy yang seperti dijungkirbalikkan melalui potret seorang perempuan – Marlina. Betapa film ini sangat menohok para feminis atau pemerhati isu kesetaraan gender di kota, termasuk saya, karena mencari keadilan tidak harus selalu dengan berisik berteriak tetapi justru gigih bergerak. Ya, dalam keheningannya Marlina mampu menggugat.

 

Menonton Film, Membaca Masyarakat

Film hadir sebagai salah satu media yang persuasif dan efektif dalam proses sosialisasi budaya. Oleh sebab itu, sekali lagi saya pertanyakan apakah hadirnya film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini hanya sebuah kebetulan di tengah masyarakat yang kini begitu riuh dengan isu kesetaraan gender. Kini semakin banyak film yang berbicara sebagai karya mandiri bukan hanya ilustrasi atas tulisan fiksi maupun nonfiksi. Sebagai media massa, film digunakan sebagai refleksi bahkan pembentukan realitas baru.

James Procter menyatakan bahwa produk budaya (film, sastra, musik, berita, fashion, dan lain-lain) bersifat ideologis karena merupakan refleksi atau wujud legal berbasis ekonomi dari perpanjangan tangan kultur dominan (Marx, 1859). Mengingat bahwa produk budaya berarti meliputi segala hal yang kita temui dalam hidup kita maka kita yang pada awalnya hanya dibiasakan membaca teks tertulis, kini harus peka untuk membaca segala hal yang ada pada semesta ini sebagai ‘teks’. Upaya kritis tersebut diperlukan karena setiap harinya kita dijejali begitu banyak informasi yang dengan sengaja disusun oleh apa yang sebelumnya telah disebut sebagai ‘perpanjangan tangan kultur dominan’ yaitu pemerintah, media, perusahaan yang produknya diiklankan, selebtweet, termasuk sutradara sebuah film.

Tidak jarang kita terbawa alur dalam sebuah film – tertawa, menangis, bahkan mempersalahkan tokoh tertentu. Sekilas mungkin kita terlihat menjiwai tetapi kita lupa bahwa film adalah second hand reality, seperti yang disampaikan oleh Stuart Hall, “The dog in the film can bark but it cannot bite!”. Perspektif kamera, pilihan kata dalam dialog, pakaian yang dikenakan, musik, dan unsur pendukung lainnya yang mendukung realitas sebuah film (Mise-en-Scéne) menjadikan film sebagai representasi budaya. Kembali Hall mengungkapkan bahwa film sebagai representasi budaya tidak hanya mengonstruksikan nilai-nilai budaya tertentu di dalam tubuh film itu sendiri, tetapi juga menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut diproduksi dan dikonstruksi oleh pihak yang ‘berkuasa’ untuk dikonsumsi oleh masyarakat yang menyaksikan film. Bagaimana ‘sistem tanda’ dalam sebuah teks budaya direpresentasikan, dalam hal ini film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, inilah yang menarik untuk dibaca lebih jauh dan dijelajahi lebih teliti.

 

Perempuan Menghidupi, Perempuan Dialienasi

Dalam masyarakat Sumba, perempuan dapat dikatakan merupakan pusat dari inti dalam keseharian hidup, mulai dari mengurus kebutuhan rumah tangga, bekerja, bahkan menyiapkan salah satu syarat mamoli (mahar dalam bahasa Sumba) yaitu belis (mahar berupa hewan ternak dalam bahasa Sumba). Perannya yang vital sayangnya tidak didukung oleh sistem sosial yang menempatkan perempuan sebagai individu yang independen. Hal ini bukan karena perempuan yang tidak cukup mampu, melainkan sudah terbuat ‘jarak’ antara diri perempuan itu sendiri dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan perempuan. Gadis Arivia dalam bukunya Filsafat Berperspektif Feminis mengutip pendapat Ann Forman bahwa laki-laki sangat eksis dalam dunia sosial dan pekerjaan sehingga berkesempatan lebih besar untuk mengekspresikan diri dan mengalienasi perempuan yang seringkali lebih banyak di rumah. Batasan-batasan yang dikonstruksikan oleh budaya patriarki dalam masyarakat ‘berbuah’ menjadi ketidakleluasaan perempuan dalam menentukan pilihan dan identitas perempuan itu sendiri sebagai individu.

Dalam babak pertama film ini yaitu Perampokan Setengah Jam Lagi, kita langsung disuguhi dengan gambaran nyata tentang budaya patriarki yang begitu tertanam dalam masyarakat. Sejak awal, salah satu perampok bernama Markus, tanpa malu-malu mengatakan bahwa ia dan gembongnya akan merampok harta benda dan ternak yang dimiliki Marlina, serta meniduri Marlina (gang rape). Ia mengatakan bahwa malam itu akan menjadi keberuntungan bagi Marlina karena bisa tidur dengan banyak lelaki, sementara menurut Marlina pemerkosaan itu akan membuatnya menjadi perempuan paling sial. Alih-alih Markus meminta maaf, ia justru menganggap bahwa perempuan selalu menempatkan diri sebagai korban. Tidak hanya Markus, para perampok lainnya juga secara terbuka melecehkan Marlina, baik itu secara verbal dengan mengatakan bahwa masakan Marlina lebih enak daripada masakan istri salah satu perampok yang pada dialog tersebut konteksnya adalah menggoda bukan memuji, maupun secara fisik melecehkan Marlina dengan tanpa malu-malu memegang pahanya. Kelakar khas masyarakat patriarki pun begitu sarat dalam babak pertama film ini, terutama tentang persetubuhan, bahwa lelaki yang menikmati dan perempuan digagahi. Kelakar (secara lebih luas juga bisa dalam bentuk anekdot, jokes, meme, dan lainnya) yang turun temurun mengakar dan parahnya lagi dianggap lucu, ternyata menjadi medium ampuh untuk melecehkan perempuan. Jika kelakar yang seperti itu dianggap wajar maka tidak heran jika kasus-kasus pemerkosaan yang tidak pernah diusut hingga tuntas seperti Sitok Srengenge pun dianggap wajar.

Tidak hanya di Sumba Timur, tetapi juga di Indonesia secara umum, kasus pemerkosaan sayangnya dianggap kurang ‘seksi menantang’ bagi media ketimbang kasus korupsi atau penistaan agama saat pilkada DKI Jakarta kemarin. Jika menurut Anda di sini saya menjadi bias, perlu Anda ketahui bahwa saat mendapati fenomena tersebut pun saya juga merasakan bias. Bukankah korupsi dan pemerkosaan adalah sama-sama bentuk nyata seorang manusia dalam menistakan agama? Dalam film ini, Marlina dipaksa menggosok kemaluan pemerkosanya, ditampar karena menolak disentuh, ditarik celana dalamnya, diterobos paksa vaginanya, dan saat diperkosa pun masih juga dihardik, “Kau juga suka kan?”. Korupsi berarti mengambil hak orang lain dan pemerkosaan berarti merajam jiwa, menjajah tubuh, dan merampas kemanusiaan orang lain. Mungkin kasus pemerkosaan dianggap terlalu duniawi, sehingga perangkat hukum yang bau mani ini, suatu saat nanti perlu diganjar diracun sampai mati atau penggal kepala seperti yang dilakukan Marlina kepada para pemerkosanya.

Lebih jauh lagi, budaya patriarki memuat relasi kuasa yang tidak pernah imbang dan melulu bernafsu agar yang mendapat manfaat selamanya tetap kuat dan perempuan yang diperalat semakin sekarat. Dalam masyarakat Indonesia, kita tentu sangat akrab dengan mitos atau takhayul yang mengungkung, terutama bagi perempuan, misalnya seorang janda cantik tidak boleh terlalu galak agar bisa ‘laku’ lagi, persis seperti ucapan Markus terhadap Marlina. Kita dapat melihat bagaimana budaya patriarki bekerja melalui mitos turun menurun dan menilai peran perempuan hanya dari sisi transaksional – cantik atau tidak dan laku atau tidak, bahkan sampai perlu repot-repot menentukan standar baku tentang bagaimana seharusnya perilaku seorang janda dalam masyarakat. Dalam film ini dikisahkan pula seorang perempuan yang tengah hamil sepuluh bulan yaitu Novi yang dicurigai suaminya bahwa anaknya sungsang. Bagi masyarakat Sumba, jika perempuan tidak kunjung melahirkan dan anaknya sungsang maka berarti perempuan tersebut berselingkuh. Yang menarik dalam film ini adalah keluhan panjang lebar Novi mengenai mitos tersebut berhasil dibuat menjadi komedi satir. Betapa hal yang selama ini ditabukan, salah satunya adalah perempuan yang juga berhak mendambakan kepuasan dalam persetubuhan, diutarakan oleh seorang korban budaya patriarki, ternyata menuai gelak tawa penonton dalam bioskop. Tanggapan penonton begitu berbeda saat adegan para perampok berkelakar tentang persetubuhan. Tanggapan dingin para penonton seperti menunjukkan bahwa hal yang selama ini dianggap lumrah ternyata tidak sesuai dengan nurani. Budaya patriarki tidak hanya ’beranak pinak’ dari para lelaki, tetapi juga dari perempuan. Seperti yang juga dikeluhkan oleh Novi, justru ibu mertuanya lah yang menjejali mitos tersebut sehingga awet bersarang dalam benak suami Novi. Di sini kita bisa melihat cara kerja sebuah ideologi, salah satunya yaitu budaya patriarki, yang terus tumbuh tanpa pernah disadari karena adanya stigma atau label tabu, serta kurangnya pendidikan yang berkualitas. Budaya patriarki melanggengkan nafsu untuk menguasai dan menyulap akal sehat menjadi ‘impotensi’.

Alienasi yang dilakukan oleh masyarakat patriarki kian mempersempit wahana berkembang bagi korbannya untuk mengembangkan kualitas sebagai individu yang mandiri. Jika kita menariknya ke lingkup yang lebih luas lagi, independensi para korban budaya patriarki, baik itu anak-anak, perempuan, dan lelaki itu sendiri, membuat penolakan atas hegemoni kemanusiaan itu menjadi sulit dilakukan. Terlebih lagi jika pelecehan atau kekerasan tersebut dialami korban dalam ruang privatnya yang sempit, seperti dalam film ini pelecehan dilakukan di ruang tamu tempat jenazah suami Marlina disimpan dan pemerkosaan dilakukan di dalam kamar Marlina yang rumahnya terletak di tengah padang sabana dan jauh dari tetangga. Sebuah ironi bahwa Marlina dijajah di teritorinya sendiri. Selain kamar, dapur sebagai ruang yang erat dilekatkan dengan perempuan, juga dimasuki dengan paksa oleh Franz, perampok muda kesayangan Markus, saat mengooda Marlina. Di dapur pula, Novi harus mengganti pakaiannya saat ia bersiap akan melahirkan karena kamar Marlina justru digunakan oleh Franz. Kita dapat melihat bahwa perempuan dalam masyarakat patriarki bahkan tidak memiliki ruang sama sekali untuk bergerak, bahkan dapur – sumur – kasur pun dalam film ini sudah dirampas dari perempuan, walaupun kecerdikan dan keberanian para tokoh perempuan dalam film ini pun lahir saat mereka sedang di sana.

 

Negara Absen Mengupayakan Keadilan

Babak kedua yakni Perjalanan Juang Perempuan dan babak ketiga yaitu Pengakuan Dosa memiliki tempo lebih cepat dibandingkan dengan babak pertama. Pada kedua babak ini, penonton dimanjakan dengan keindahan Sumba yang dicuplik melalui wide dan long-shot angle. Jalan panjang, menanjak, berliku, dan hanya satu-satunya tersedia untuk ditempuh Marlina dari rumahnya ke kantor polisi adalah perumpamaan yang amat tepat sebagai representasi perjuangan seorang korban pemerkosaan dalam memperoleh keadilan. Latar musik etnis minimalis dari petikan jungga – alat musik petik khas Sumba yang dimainkan oleh Markus tetapi tanpa kepala dan diselingi oleh suara radio walau sekilas itu pun memperlihatkan tentang pemerkosaan yang terus menghantui Marlina sebagai korban dan kegaduhan atau gangguan akan silih berganti selama mengupayakan keadilan.

Alat transportasi tercepat untuk tiba ke kantor polisi adalah truk, yang disetir oleh laki-laki dan kebanyakan penumpangnya juga laki-laki. Satir pun kembali dihadirkan saat adegan Marlina dengan santai menenteng kepala Markus sementara para penumpang truk turun karena takut terkena tulah dan masalah jika berkendara bersama Marlina. Hanya seorang anak kecil yang berujar lirih bahwa tidak berkeberatan jika setruk dengan Marlina, yang merepresentasikan bahwa suara anak-anak adalah suara kebaikan sementara suara orang dewasa sudah dibentuk secara paksa. Supir truk pun awalnya menolak untuk ditumpangi Marlina tetapi akhirnya ia menurut setelah Marlina meletakkan parang di leher supir tersebut. Kita dapat merefleksikan bahwa saat susah payah mengupayakan keadilan pun, korban pemerkosaan kian dialienasi dan dirintangi.

Yang justru sepenuhnya membantu Marlina selama perjalanan adalah para perempuan yaitu Novi, seorang perempuan tua yang juga ingin menumpang truk karena harus mengantar kuda demi mahar keponakan lelakinya, dan Topan seorang anak perempuan kecil yang menjual sate ayam di sebelah kantor polisi. Walaupun tetap sedikit dialog, interaksi Marlina dengan para tokoh perempuan cenderung lebih hangat jika dibandingkan dengan lelaki. Berawal dari polisi dan suami Novi yang sama-sama susah dihubungi saat Marlina dan Novi membutuhkan bantuan. Kesulitan terhubung melalui jalur komunikasi ini bukan tentang Sumba yang berada di pedalaman sehingga susah sinyal tetapi merupakan representasi dari cengkraman budaya patriarki yang membatasi advokasi korbannya dan pelan-pelan membungkam ketidakadilan terhadap korban, yang dalam hal ini adalah perempuan, karena toh Novi sama sekali tidak mengalami kesulitan saat menghubungi Marlina.

Ketidakpercayaan dan kekecewaan Marlina terhadap budaya patriarki semakin jelas terlihat saat ia terpaksa hanya duduk termangu saat para polisi sibuk bermain pingpong. Saat pengaduan pun, pertanyaan interogasi dan tanggapan polisi sangat tidak berimbang, seperti pertanyaan apakah hewan ternak yang dirampok itu dicap atau tidak dan berapa persisnya jumlah hewan ternak yang diambil. Marlina yang berlatar belakang pendidikan dan ekonomi rendah, serta baru saja mengalami guncangan pasca pemerkosaan massal itu salah menyebut jumlah para pemerkosanya sehingga polisi sempat meragukan pengaduannya. Selama pengaduan, polisi tersebut dengan santai merokok, meminta Marlina mendeskripsikan Markus, bahkan berkomentar “Kalau dia berbadan kecil, kenapa kau biarkan dia perkosa kau?”. Respon Marlina bukannya marah membabi buta, melainkan hanya napas yang memburu dan menjawab dengan pendek bahwa Markus memerkosanya beramai-ramai. Sepahit itulah jalan yang harus ditempuh bagi korban pemerkosaan dalam memperoleh keadilan. Kesan pedih seolah pemerkosaan dianggap sebuah tindakan yang wajar, ditunjukkan melalui adegan ini dengan korban pemerkosaan harus menunggu lama hingga pengaduannya didengar, dipaksa mengingat rupa pemerkosa dan urutan kejadian saat pemerkosaan, dikomentari tanpa empati, serta diinformasikan bahwa proses visum dan olah TKP membutuhkan waktu berbulan-bulan. Dalam tatanan masyarakat patriarki, tidak hanya dalam bidang hukum, tetapi juga gaji/upah, akses dalam politik dan kepemimpinan, dan berbagai aspek sosial lainnya seringkali tidak berkeadilan bagi perempuan.

 

Menolak ‘Dikangkangi’ Budaya Patriarki

Seperti yang sudah dijelaskan pada awal tulisan ini bahwa teks media, apapun bentuknya, tentu secara sengaja menyusupkan pesan yang seringkali kita terima secara tidak sengaja, begitu pula film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini yang memposisikan diri sebagai film yang menolak praktik budaya patriarki. Saat Novi menyarankan agar Marlina mengaku dosa saja ke gereja daripada harus melapor ke polisi, Marlina justru mengatakan bahwa yang ia lakukan bukanlah sebuah dosa. Sebuah protes yang amat kuat karena pernyataan Marlina tersebut tidak hanya menuding masyarakat tetapi juga institusi agama. Kita seperti ditantang untuk lebih kritis terhadap perkara dosa dan makna keadilan. Jika sebelumnya kita memiliki pengalaman menonton film atau sinetron yang adegan pemerkosaannya justru mengksploitasi korban dengan visualisasi lekuk tubuh secara gamblang dari sorot kamera amat dekat dan menghadap ke bawah, sudut kamera dalam film ini justru dibuat sejajar dan amat berjarak, yang berarti bahwa film ini mengakui dan menghormati tubuh perempuan sebagai bagian dari subyek hidup yang memiliki hak sama dengan lelaki.

Sikap tegas dan berhati-hati yang juga ditunjukkan oleh Marlina dalam menghadapi hidupnya, sekilas tampak seperti sikap yang lazimnya dimiliki oleh lelaki. Sejak babak pertama sampai babak keempat yaitu Tangisan Bayi, Marlina memposisikan dirinya setara dengan lelaki. Dalam masyarakat adat Marapu, di Sumba Timur, perempuan tidak diperbolehkan masuk rumah sendirian. Namun, Marlina yang telah ditinggal mati oleh anak dan suaminya, tetap mampu hidup sendiri. Jika dalam film Novi digambarkan masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur tetapi Franz masuk melalui pintu depan, yang amat menunjukkan ketimpangan gender, sekembalinya dari polisi Marlina justru masuk dari pintu depan. Ia seolah tidak gentar saat harus menghadapi Franz yang menyandera Novi di rumah demi kepala jenazah Markus dikembalikan Marlina. Konsistensi sikap dan perjuangan Marlina ini adalah harga mati bagi para perempuan yang ingin lepas dari belenggu patriarki.

Representasi penolakan Marlina terhadap dominasi patriarki juga digambarkan melalui ia yang mendekonstruksi gambaran umum western cowboy. Marlina, seorang perempuan korban pemerkosaan, menunggangi kuda yang tadinya mau dijadikan mahar oleh seorang lelaki dan motor trail yang justru milik lelaki yang memerkosanya. Kuda dan motor trail merupakan simbol maskulinitas, yang keduanya berhasil ‘ditunggangi’ Marlina. Seperti kebanyakan cowboy, Marlina pun seolah menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri dan perempuan di sekitarnya, yaitu Novi, untuk mengupayakan keadilan di saat ia sudah tidak memiliki kekuatan apapun dalam hidupnya dan di saat semua orang tidak peduli dengan pemerkosaannya.

Jika dalam kebanyakan cerita detektif disebutkan bahwa racun sangat identik dengan perempuan yang cenderung takut dalam membalaskan dendam, dalam film ini racun yang diberikan Marlina kepada para pemerkosa adalah bentuk kecerdikannya dalam bersiasat. Dalam waktu sempit dan latar belakang pendidikan terbatas, ia mampu bersikap dan mengambil keputusan demi menyelamatkan dirinya. Kualitas tersebut mutlak dibutuhkan oleh para perempuan dan siapapun untuk melawan dominasi patriarki. Kualitas yang direpresi oleh budaya patriarki agar kuasanya tetap langgeng. Selain itu, bentuk perlawanan yang paling nyata tentu direpresentasikan melalui dibakarnya jungga milik Markus, seolah Marlina mampu mematikan ‘hasrat’ pelaku yang melecehkan perempuan, serta adegan kepala Markus dan Franz yang dipenggal dengan parang saat Marlina diperkosa. Para lelaki ditebas dengan parang – senjata yang mereka bawa mereka setiap hari, yang juga merupakan simbol dominasi dan penaklukkan.

Perlawanan korban budaya patriarki tidak mengajarkan perempuan mendominasi laki-laki dan tidak selalu laki-laki bersifat menyakiti. Terdapat sebuah adegan saat Ian, keponakan sang perempuan tua, menghajar Franz yang memfitnah Novi di depan suaminya. Dalam film ini pula, perempuan yang walaupun sedang dalam keadaan tidak menguntungkan, digambarkan memiliki belas kasih. Kita dapat melihatnya dalam adegan Novi yang tetap menyalakan tungku di dapur dan pelita di ruang tamu. Novi pun sempat batal membunuh Franz karena iba saat melihat Franz menangisi kepergian Markus. Begitu juga perempuan tua yang berkali-kali mengatakan bahwa perannya sangat penting untuk menikahkan keponakannya sehingga ia rela datang dari jauh untuk membawa kuda sebagai mahar. Ia juga yang menguatkan Novi untuk tidak mempercayai stigma tentang bayi sungsang. Selain itu, sosok Topan yang digambarkan melalui anak perempuan tanpa ibu, justru mengambil peran besar di kedai sate,  misalnya mengajak Marlina membeli, mencatat dan mengantarkan pesanan, serta mengurus pembayaran, sementara  ayah Topan hanya membakar sate. Belum lagi di sekitar kedai sate tersebut teman-teman lelaki seusia Topan tetap asyik bermain di lapangan, yang semakin memperkuat cerminanbahwa perempuan pun tetap berkomitmen pada fungsi dan perannya masing-masing. Para perempuan tersebut, termasuk Marlina, bukanlah perempuan dengan nurani yang mati. Mereka tetap menyimpan luka dan membagi tangis kepada orang-orang yang hadir tanpa syarat untuk mereka, yaitu sesama korban patriarki.

Adegan membunuh dalam film ini pun tidak hanya dilakukan oleh perempuan tetapi juga oleh salah satu perampok yang membajak supir truk. Yang membedakan adalah, perempuan membunuh atas dasar membela dirinya dari pemerkosaan, sedangkan lelaki membunuh atas dasar ketamakan dan kekuasaan. Begitu juga relasi yang dijalin antara Franz dan Markus serta Marlina dan Novi. Keduanya adalah koalisi tetapi beda motivasi. Franz merasa berhutang budi karena Markus menjadikannya perampok – relasi modal dan kuasa, sedangkan Marlina merasa berhutang budi karena Novi membantunya mengupayakan keadilan – relasi yang tulus.

 

Sebuah Refleksi

 Saya sempat bertanya-tanya apa makna yang coba disampaikan melalui sosok anjing dan jenazah suami Marlina, hadirnya Topan dalam sosok perempuan, serta siluet Novi saat mengganti bajunya di dapur. Imajinasi saya mendarat pada sebuah kesan bahwa anjing dan jenazah suami Marlina adalah gambaran sosok Sang Pencipta yang Maha Melihat – mereka dianggap tiada oleh para pemerkosa padahal menyaksikan semua yang terjadi di rumah itu, sekaligus yang Maha Adil – mereka dalam diamnya tidak sibuk memberi label pada Marlina tetapi justru setia menemaninya mengupayakan balasan yang setimpal bagi para pemerkosa. Yang juga membuat saya begitu mengapresiasi film ini adalah riset yang tidak main-main yang terlihat dari penggunaan ‘tanda’ khas masyarakat Sumba Timur, khususnya adat Marapu. Di depan rumah, terdapat kubur batu sebagai cara untuk selalu mengingat keluarga yang telah berpulang, sertarangkaian upacara adatnya yang menghabiskan banyak sekali biaya sampai Marlina dan suaminya pun harus berhutang ketika anak mereka meninggal. Selain itu, jenazah keluarga pun ada yang dibalut kain ikat dan diposisikan duduk seperti bayi dalam lindungan rahim ibu selagi biaya untuk upacara adat belum cukup dipenuhi, seperti yang dilakukan Marlina terhadap suaminya. P penggunaan nama Topan pada anak laki-laki Marlina yang telah meninggal dan anak perempuan yang menjadi pelipur Marlina pun memperlihatkan mitos masyarakat Marapu, yang mana apabila saat upacara adat dalam penguburan jenazah itu dihadiri oleh seseorang yang namanya sama dengan nama jenazah maka ia akan amat diistemewakan karena dianggap sebagai bentuk baru yang dihadirkan kembali oleh Tuhan. Topan perempuan dapat diibaratkan sebagai harapan baru bagi Marlina setelah Topan lelaki yaitu anaknya telah pergi. Begitu pula halnya babak terakhir dalam film ketika siluet Novi berganti baju di dapur pun seolah menyambut kelahiran baru dalam wujud anaknya yang telah lama ia nantikan, sama seperti keadilan yang telah lama Marlina perjuangkan.

Last modified on: 29 November 2017

    Baca Juga

  • Gado-gado Rasa Banda


    Selalu ada yang pertama untuk setiap hal. Termasuk tertidur di tengah-tengah film saat di dalam bioskop. Pengalaman itulah yang saya alami ketika menonton Banda The Dark Forgotten Trail karya sutradara…

     

  • Video: Stranger Things dalam 8-bit


    Amerika menjadi negara besar karena arsip yang tersimpan baik, dan setiap generasi dibuat peka terhadap referensi-referensi kesejarahan mereka dengan banyaknya buku-buku yang harus dilahap bahkan oleh anak SD. Hipsterdom di…

     

  • Berhala (Baru) itu Bernama Wiji Thukul


    “Kau benci Soeharto?!” Tangan berbulu itu menempeleng kepala saya. Segalanya mendadak gelap. Ada ribuan kunang-kunang beterbangan. Sebelum mata sempat membuka, saya merasakan tangan itu menjambak rambut saya. Muka Sersan Kepala…

     

  • The Lennon Report: Kisah di Balik Kelambu


    Sutradara/cerita/skenario : Jeremy Profe/Walter VincentProduser : Gabriel FransiscoDurasi : 87 menitProduksi: Fransisco Films, 2016

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni