(1 Vote)
(1 Vote)
Read 1740 times | Diposting pada

Mahamoelia: Indonesia dalam Kebisuan

Mahamoelia: Indonesia dalam Kebisuan Sumber Foto: Istimewa

 

Mengapa kita harus kembali menonton film bisu setelah susah payah memiliki teknologi suara? Salah satu alasan terbesarnya adalah untuk punya sejarah. Banyak film bagus dalam era film bisu yang sayang untuk dilewatkan. Loetoeng Kasarung, Terang Boelan dan beberapa film dokumenter masih bertahan dan telah di-remastered. Beberapa bahkan bisa kita nikmati di Youtube dan beberapa lain dalam berbagai event screening. Keindahan Indonesia di tahun 1920an, misalnya, dapat kita nikmati melalui film dokumenter bisu berjudul Mahamoelia.  

Film ini diputar dua kali pada Erasmus Film Festival 2015 bulan lalu, yaitu pada 12 dan 13 September 2015. Bertempat di pusat kebudayaan Belanda Erasmus Huis, film ini hadir dengan iringan musik hidup dari Trinity Youth Orchestra yang merupakan murid-murid dari Sekolah Musik Sjuman. Alunan musik mereka menandai dimulainya kisah perjalanan ke negeri selatan yang jauh. Ini bukan kali pertama film ini diputar dengan alunan orkestra. Tahun 2009, film ini pernah diputar di Netherland Film Festival dengan konsep live orchestra yang sama. Karena itu, menyaksikan film ini seperti menyaksikan sebuah ritual: sebuah perjalanan ke tempat-tempat eksotik di masa lalu.

Sutradara dan penata kamera kebangsaan Belanda, Isidor Arras Ochse memproduksi film tersebut di tahun 1929. Keseluruhan film sepenuhnya direkam di Dutch-East Indies atau yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia. Film ini memperkaya khasanah kita akan keadaan Indonesia di akhir tahun 1920an.  Film dibuka dengan menampilkan sebuah kapal besar melintasi wilayah perairan Kalimantan bernama Sungai Berau menuju pedalaman Kalimantan dan singgah di kota Banjarmasin. Penonton diajak berjalan-jalan di atas kereta api bermuatan batubara, ke sebuah pertambangan batubara, ke sebuah dermaga minyak bumi dan ke sebuah pabrik modern di tengah-tengah hutan. Dalam film tersebut, Ochse bahkan menyebutkan bahwa Banjarmasin pada masa itu telah menjadi kota petroleum  dengan pabrik yang merupakan “salah satu yang terbesar di dunia.” 

Tidak ada plot khusus yang ditampilkan dalam film dokumenter ini. Ocshe menampilkan perjalanannya dalam dua bagian, perjalanannya di Pulau Kalimantan dan perjalanannya di Pulau Sumatera. Dibalik keindahan alamnya, masyarakat Indonesia digambarkan begitu kaya dengan keberagaman tradisi yang tercermin dalam kebiasaan adat maupun arsitektur rumahnya. Di Kalimantan, penonton diperkenalkan kepada adat penguburan yang sakral dan ditutup dengan tarian tradisional. Sedangkan, di Padang upacara pernikahan disuguhi perhelatan adu cambuk sebagai bentuk penghormatan kepada kedua mempelai.

Film ini juga menunjukkan bahwa pada dekade tersebut keturunan asli Indonesia, warga Belanda dan keturunan Tionghoa telah hidup berdampingan walaupun masih ada relasi kuasa di sana. Relasi kuasa ini tampak tidak saja pada perbandingan kehidupan modern yang telah dibangun oleh warga Belanda dan kehidupan tradisional yang masih dianut oleh warga di desa-desa di Kalimantan dan Sumatera, namun juga pada deskripsi tertulis yang dibuat oleh Ocshe.

Sepanjang film yang berdurasi 94 menit ini, kamera Ochse secara subjektif merekam kebiasaan penduduk lokal tersebut. Menariknya, kamera Ochse terasa semakin lama semakin penuh dengan rasa penasaran. Film yang dibuka dengan adegan kedatangan Ocshe dengan kapal uap menuju jantung Pulau Kalimantan, perlahan-lahan semakin banyak menampilkan adegan penduduk lokal dan kebiasaan adat mereka. Film ini diakhiri dengan adegan situasi jual beli daging anjing di pasar Tapanuli.

Menonton film ini hampir dua abad kemudian seperti menjadi tamparan buat kita. Karena apa yang berubah 200 tahun belakangan ini selain warna kulit penjajah yang berubah menjadi sawo matang dan isu ras berubah menjadi kelas?

Last modified on: 13 Oktober 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni