(4 votes)
(4 votes)
Read 5940 times | Diposting pada

Jalanan: Parodi Satir Harapan dan Kenyataan

Jalanan: Parodi Satir Harapan dan Kenyataan Kredit foto: www.jalananmovie.com

 

Realitas 'jalan raya' hari ini adalah gambaran tentang hiruk pikuk kemacetan, akumulasi riuh umpatan, wajah-wajah tak ramah, serta medium persinggungan berseterunya anak manusia yang kadang menyebabkan darah dan nyawa melayang. Jalanan –tidak hanya bermakna konteks geografis aspal, atau trotoar untuk sekedar nama tempat ataupun dilewati, tapi sekaligus jadi ruang berjibakunya anak manusia untuk urusan-urusan perut dan keberlangsungan hidup dengan segala problematikanya.

Jalanan juga berkonotasi dengan ruang yang dipenuhi manusia-manusia marginal. Lewat riuh klakson dan knalpot motor, jalanan kita hari ini penuh dengan mobil pribadi dan bus kota, suara penjaja koran dan asongan, ataupun nyanyian dengan iringan alat musik seadanya yang kadang memaksa si musisi berteriak daripada bernyanyi untuk menyaingi berbagai suara riuh tadi. Untuk yang terakhir kita sering menyebutnya sebagai pengamen atau musisi jalanan.

Memang benar adanya bahwa jalanan menyimpan sebuah kenyataan yang getir nan keras, meski hal tersebut tidak seluruhnya benar. Coba saja tengok film karya Daniel Ziv berjudul “Jalanan” (2014). Film dokumenter yang proses pengerjaannya memakan waktu sampai tujuh tahun tersebut, berhasil memotret sisi-sisi lain dari kehidupan jalanan dari sudut pandang berbeda tentang bagaimana kenyataan hidup yang menyayat dibungkus dengan satir, haru dan bahkan kocak.

Berceritakan tiga musisi jalanan di Jakarta (Boni, Titi, Ho), memaknai jalanan bukan sebagai tempat eksistensi diri supaya mereka dikasihani. Mereka mewarnainya dengan karakteristik masing-masing seolah jalanan kemudian tidak hanya memiliki satu wajah.

Boni, Titi, dan Ho mengaduk perasaan tentang bagaimana kisah nyata mereka diceritakan dengan jujur. Bagaimana tentang stigma sosial yang mereka sandang  di satu sisi, saat di sisi lain sebagai anak manusia, mereka sekaligus merasakan rasa kesepian, duka tentang kematian orang terdekat, dorongan libido sexual, meriah pernikahan, perceraian, hura-hura politik, yang beberapanya juga tidak berbeda dengan keseharian kita, dan cukup bisa menampar tentang mereka yang masih mengeluh dengan segala ketercukupan.

Walaupun pada saat yang sama saya juga kurang setuju jika lantas film ini dikategorikan tayangan pemicu motivasi ala wejangan Mario Teguh, hal kompleks yang ditampilkan dalam film ini cukup membuat merenung, sedih, haru, tetapi sekaligus sebuah kritik yang paling nyata dari sebuah gambaran tentang kemakmuran Indonesia yang konon dicita-citakan untuk warganya.

Boni, Titi, Ho, seperti tidak sedang menggurui. Mereka hanya memaknai dengan segala keterbatasannya untuk sepenuhnya masih bisa menikmati hidup.

Film ini tayang pertama kali pada bulan Oktober 2013 di festival film terbesar di Asia, Busan International Film Festival di Korea-Selatan, dan sekaligus memenangkan kategori “Best Documentary”.

Adegan-adegan awal adalah saat Titi muda bercerita dirinya merantau ke Jakarta saat masih berumur 13 tahun dan tidak lama dari situ memutuskan untuk mengamen, dan menceritakan bahwa dalam mengamen-pun menurutnya diperlukan trik marketing supaya karyanya dihargai.

Dia bercerita jika dalam mengamen lagunya hanya biasa saja, kebanyakan mereka para perempuan yang berkerudung akan susah memberi uang, tetapi ketika lagu yang dibawakan sedikit bernuansa religi bahkan ada yang sampai pernah memberi pecahan 100 ribu.

Berbeda dengan Boni, yang terjun di jalanan Jakarta sejak usia delapan tahun, ketika memutuskan keluar sekolah dan mencari uang dengan cara mengamen, karena kasihan dengan ibunya yang hanya berprofesi sebagai buruh cuci.

Sementara Ho, telat dibanding dua kawannya tadi, umur 24 tahun baru memasuki dunia jalanan. Dibanding dengan dua orang sebelumnya Ho yang berambut gimbal, tergambarkan lebih urakan, dan ceplos ceplos apa adanya.

Ketiga karakter dalam film “Jalanan” tadi bukan tanpa alasan saat Daniel Ziv memutuskan mereka menjadi  representasi dari gambaran pengamen jalanan di Jakarta. Menurutnya karakter kuat yang dimiliki masing-masingnya membuat si sutradara yakin memilih setelah sebelumnya selama dua bulan Daniel Ziv naik turun kopaja dan bus kota hanya untuk “mengaudisi” secara acak dan rahasia siapa yang akan dilibatkan dalam proyek pembuatan film dokumenternya tersebut.

Alur cerita film ini pun tidak membosankan. Adakalanya ketiga tokoh tadi bermonolog tentang kisah mereka masing-masing, tetapi disaat yang lain juga seperti ada kaitan cerita di antara ketiganya.

Lompatan-lompatan kesedihan seperti saat Boni menceritakan masa kecilnya, tersambung dengan testimoni blak-blakan Ho yang berkelakar bersama tukang kopi yang sedang dia sambangi.

“..gue sih cinta Indonesia, tapi nggak tahu Indonesia cinta gue apa nggak..”

Sebuah ungkapan satir, dan terasa lucu tapi tidak lama ucapannya seperti menemukan alasan perbenturan dari ucapannya sendiri. Ketika tidak lama serombongan pasukan kantib datang dan Ho terjaring razia dan dibawa ke sebuah tempat yang konon disebut sebagai “ruangan rehabilitasi” dengan kondisi tak ubahnya seperti penjara.

Ruangan yang sebelum Ho masuk sudah berisi beberapa bapak-bapak, juga nenek-nenek bahkan juga anak usia sekolah lengkap dengan seragamnya, mereka hampir serempak mengemukakan alasan bahwa perlakuan tidak menyenangkan didapatkan hanya karena lusuh penampilan. Bahkan salah satu bapak dan anak yang ada disitu mengungkapkan mereka ditangkap saat mencegat bajaj, dan profesi mereka bukan pengemis atau juga pengamen.

Tersambung lagi dengan tayangan saat Boni mandi di bawah kolong jembatan  berendam dalam bathup bekas dari pembuangan di pelataran rumah mewah yang dipungutnya, dengan hasil air yang dimanfaatkannya dari tetesan bocoran pipa PDAM, adakalanya berendam sembari menaruh kopi dan rokok di samping bathup tadi, dan sesekali duduk bersandar menikmati rokok dan kopinya sebelum kemudian melanjutkan mandi.

Tak ubahnya film fiksi, “Jalanan” yang realistis-pun menyematkan kebahagiaan di akhir cerita dengan menampilkan Ho yang kemudian menemukan pasangan hidupnya bernama Nurlaela, dan Titi yang berhasil menamatkan ujian paket C dengan keharuan yang ia sampaikan.

Film “Jalanan”  tentang bagaimana memotret ruang urban lengkap dengan aktor kehidupannya yang diwakili tiga tokoh tadi sepertinya tidak sendiri, hampir serupa walaupun juga tentu tidak sama ketika kita meihat dokumenter “Denok dan Gareng” karya sutradara Dwi Sujanti Nugraheni. Jika dibanding dengan “Jalanan”, film “Denok dan Gareng” merekam tentang kehidupan sepasang suami istri yang dulunya tinggal di jalanan kota Jogjakarta. Di film dokumenter ini jalanan juga bukan perihal hanya mengamen, cerita tentang bagaimana Denok yang kabur dari rumah saat usia 14 tahun, dan menyambung hidup dengan berjualan narkoba. Hamil dengan pacarnya yang dirinya kemudian ditinggal pergi dan bertemu dengan Gareng sesama anak jalanan lantas menyepakati untuk berumah tangga dan tinggal di rumah orang tua Gareng dengan “hidup normal” berternak babi.

Jika dokumenter “Jalanan” memenangkan Busan International Film Festival, “Denok dan Gareng” meraih penghargaan sebagai juara ke II dalam Chop Shot International Documentary Film Festival 2012.

Jika dibandingkan lagi dengan satu film di era 90-an kita tentu mengingat “Daun di Atas Bantal” karya Garin Nugroho. Teringat karena ketiga film ini sejenis mengangkat ruang-ruang pinggiran jalanan sebagai seting cerita. “Daun di Atas Bantal” diproduksi oleh Christine Hakim, yang bercerita real anak jalanan Jogjakarta bernama Heru, Sugeng, dan Kancil. Walaupun jika dibandingkan dua dokumenter tadi “Daun di Atas Bantal” menyisipkan  skenario film terstruktur tetapi dengan satu perbedaan yang mendasar tentang kisah tragis di akhir cerita film.

Jika “Jalanan” juga “Denok dan Gareng” menyiratkan optimistik menjalani kepahitan hidup, “Daun di Atas Bantal” seperti menyiratkan hal yang lain yang lebih gelap dan suram.

Tetapi kelebihan  “Jalanan” dari dua film tadi adalah seperti meramu dari dua film sebelumnya yang berplot sama. Setidaknya secara teknis, “Jalanan” seperti memoles kesuraman “Daun di Atas Bantal” tetapi sekaligus menyuarakan ke khalayak lebih luas dibanding “Denok dan Gareng” yang hanya bisa ditonton di kalangan-kalangan tertentu seperti di Goethe ataupun Kineforum, atau ruang-ruang sejenis. “Jalanan” mulai 10 April 2014 kemarin dapat dinikmati di beberapa bioskop 21 dan Blitzmegaplex.

Tetapi dibanding “Denok dan Gareng” yang natural mendokumentasi kehidupan mereka yang notabene juga sama-sama terpinggirkan, “Jalanan” tampak lebih ambisius. Hal tadi sangat jelas tentang bagaimana penggambaran Ho mewakili bagaiamana isi film itu bercerita. Jika “Denok dan Gareng” tampak masa bodoh dengan kontribusi pemerintah ataupun apa namanya yang secara konstitusional juga berhak mereka gugat, toh mereka hidup mandiri tanpa keberadaan mereka. Ho terlihat berapi-api menyisipkan idealismenya misal dalam bus kota tentang bagaimana dia mengutuki koruptor.

Tokoh Ho dalam cerita “Jalanan” ini, satu saat dia seperti layaknya filsuf yang begitu arif melihat hidup dan kehidupan, tetapi pada saat yang lain dia juga bisa begitu beringas ketika bernyanyi semi berorasi di dalam bus kota, dan di saat yang lain dia juga jujur dan cenderung ketus saat berbincang dengan kawannya di handphone:

"..nggak usah insyaallah-insyallah lah, saya bukan orang arab, saya orang Indonesia, iya-iya, nggak-nggak.."

Di luar itu tadi, Daniel Ziv si sutradara dalam sebuah wawancaranya dengan Tempo-TV mengungkapkan bahwasannya film “Jalanan” ini menarik bukan hanya untuk ditonton orang-orang kaya sebagai sebuah “tamparan” tetapi juga tontonan untuk orang-orang miskin bahwa Jakarta itu tidak seperti yang tergambarkan dalam sinetron tentang mereka yang tinggal dalam rumah-rumah mewah di Pondok Indah, tetapi juga ada di pinggiran-pinggiran juga kolong jembatan seperti tergambarkan dalam “Jalanan”.

Di akhir-akhir bahkan mungkin sebagian anda akan terperanjat ketika Titi berujar kepada kawannya:

“..Negara mana tuh yang nggak ada orang miskin dan kaya, semuanya sama semua..??”

Untuk yang berkecimpung dengan teori-teori imu sosial tentunya akan lebih bisa memahami, ungkapan Titi tadi  mungkin sebuah mimpi dan harapan tentang tatanan dunia tanpa kelas. Ketika manusia-manusia bisa melakukan sesuatunya sesuai dengan kemampuannya dan mencukupi keperluan hidupnya sesuai dengan kebutuhannya. Tentu maksud tulisan ini juga bukan mengarah kepada perdebatan tentang utopis atau tidaknya isme-isme tadi. Juga jangan dulu anda langsung menyodorkan buku misal “Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik” nya Dr Mansour Fakih dengan membuka di halaman tentang bab “Kelas: Teori Yang Banyak Disalahpahami”

Tetapi sebuah ungkapan Titi sebagai jeritan hati yang hampir mirip dengan Boni yang mengaku bisa membaca tetapi kurang lancar menulis ini, tetap dengan gaya khasnya dalam membanyol, ada harapan tidak jauh beda tentang kesetaraan mungkin saat dia berucap sambil terkekeh:

“..macam-macam ada orang luar, orang Cina, orang Jepang, orang mana aja. Tainya mau gabung (di toilet) manusianya nggak mau gabung..” 

Last modified on: 19 April 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni