(4 votes)
(4 votes)
Read 3221 times | Diposting pada

Film Lemantun di XXI Short Film Festival 2015: Tentang Lemari dan Kritik Sosial di Dalamnya

Film Lemantun di XXI Short Film Festival 2015: Tentang Lemari dan Kritik Sosial di Dalamnya Kredit foto: Dok. XXI Short Film Festival 2015

 

Lewat 3 penghargaan yang diraih Lemantun (The Third Cupboard) dalam XXI Short Film Festival 2015, film karya sutradara Wregas Bhanuteja terbukti tak hanya mampu mencuri perhatian publik sebagai Film Pendek Favorit Pilihan Penonton, namun juga memikat juri sebagai Film Pendek Fiksi Naratif Terbaik (pilihan Juri Official), dan Film Pendek Fiksi Naratif Pilihan IMPAS. Juara kategori Film Pendek Fiksi Naratif Pilihan Media sendiri jatuh ke tangan salah satu penantang terkuatnya, 05:55 karya sutradara Tiara Kristiningtyas.

Film Lemantun dan 00:55 sama-sama berlatar di masyarakat Jawa Tengah-Yogyakarta, namun masing-masing mengambil potret yang berbeda. Jika 05:55 adalah permenungan mengenai rasa takut dan ketidakberdayaan manusia di hadapan kekuatan alam, maka Lemantun adalah studi tentang karakter manusia dan keluarga.

Lemari Sebagai Warisan yang Berharga

Dasar narasi Lemantun cukup sederhana. Kita diajak melihat sebuah keluarga di mana sang ibu (Tatik Wardiono) hendak membagikan warisan kepada lima orang anaknya: Eko, Dwi, Tri, Yuni dan Anto (diperankan oleh Den Baguse Ngarsa, Agoes Kencrot, Freddy Rotterdam, Titik Renggani, dan Triyanto Hapsoro). Warisan tersebut bukanlah tanah atau rumah seperti yang lazim diwariskan orang tua kepada anak-anaknya, melainkan lima buah lemari.

Sang ibu meminta Tri membuat undian untuk menentukan siapa yang dapat lemari yang mana. Setelah dibagi, lemari-lemari itu harus dibawa pulang hari itu juga ke rumah masing-masing, jika tak mau didenda oleh sang ibu.

Di sepertiga terakhir film kita melihat bagaimana mereka kebingungan mencari cara untuk membawa pulang lemari tersebut. Untunglah Tri, si anak ketiga, dengan rajin dan sigap membantu saudara-saudaranya.

Ironisnya, Tri adalah yang kehidupannya paling tidak sukses di antara mereka. Pekerjaannya “hanyalah” berjualan bensin. Ia pun secara implisit digambarkan tak memiliki gelar akademis seperti saudara-saudaranya yang lain (atau bila ada, gelar tersebut tidak memberinya sebuah pekerjaan tetap). Rumah sendiri pun ia tak punya.

Lalu apa motif sang ibu mewariskan lemari-lemari tersebut? Lemari-lemari tersebut bukanlah lemari sakti atau memiliki nilai jual tinggi. Mereka adalah kapsul-kapsul waktu, sebuah penanda sejarah dengan nilai sentimental yang kuat. Lemari yang diwariskan kepada Tri sering dipakai untuk tempat bersembunyi dulu ketika mereka masih bocah. Yuni, misalnya yang sekarang seorang dokter, dulunya adalah mahasiswi penggemar musik metal yang pecicilan ditandai dari stiker-stiker band yang tertempel di lemari bekasnya.

Namun tak hanya itu, Wregas sendiri, dalam wawancaranya di sebuah kanal berita, menggunakan lemari sebagai simbolisasi atas rahim. Rahim adalah “rumah” pertama setiap manusia yang lahir ke dunia. Memang, lemari-lemari tersebut pun dibeli oleh sang ibu dan suaminya masing-masing setiap kali anaknya lahir. Dengan membagikannya kembali ke anak-anaknya, ia mengingatkan anak-anaknya bahwa warisan yang lebih berharga justru bukanlah rumah sebagai harta dalam bentuknya yang fisikal, namun “rumah” dalam bentuknya yang metaforikal, yakni keluarga.

Lagi-lagi, ironisnya justru Tri lah yang paling apresiatif kepada warisan pemberian sang ibu. Di saat anak-anak yang lain malah menjual lemari warisannya atau membiarkannya teronggok tak terpakai, Tri menggunakannya untuk tempat berjualan bensin, tempat di mana ia bisa memperoleh penghidupan.

Kritik yang Subtil tentang Masyarakat

Drama keluarga bisa mengambil latar masyarakat manapun. Karena Lemantun mengambil latar masyarakat suku tertentu (Jawa), ia tidak dapat diceraikan begitu saja dari konteks budaya yang menyertainya. Oleh karena itu, cerita tentang keluarga bukanlah satu-satunya warna di film ini.

Dalam tulisan “Benarkah Film Indonesia Langka Akan Kritik Sosial?”, kritikus film Indonesia Ekky Imanjaya mengatakan:

“Banyak teori menyatakan bahwa film sebaiknya menjadi cerminan seluruh atau sebagian masyarakatnya, alias ada kritik sosial disana. Film sebaiknya mempresentasikan wajah masyarakatnya. Fungsinya sebagai arsip sosial yang menangkap Zeitgeist (jiwa zaman) saat itu. Dan penonton terasa dekat dengan tema yang hadir dan bahkan serasa melihat dirinya sendiri, bahkan diajak mentertawakan dirinya sendiri, mengkritik dirinya sendiri. Dengan menghadirkan wajah masyarakat yang sesungguhnya, maka film itu pelan-pelan akan memfungsikan dirinya menjadi sebuah kritik sosial.”

Lantas apa yang bisa kita baca dari Lemantun?

Di shot awal film, kita melihat Eko, Dwi, Yuni, Anto, dan ibu duduk di atas kursi. Sedangkan Tri, anak yang paling tidak sukses, duduk di bawah. Hal ini bisa kita telusuri pada budaya kraton, di mana Raja duduk di tahta sedangkan rakyat jelata duduk lesehan di bawah. Kemudian, budaya ini sampai sekarang masih terbawa di masyarakat modern kita, di mana pembantu rumah tangga dianggap kurang ajar jika ia duduk di kursi sama seperti majikannya. Posisi duduk di bawah ini dengan demikian menggambarkan status sosial Tri yang lebih rendah daripada saudara-saudaranya.

Di masyarakat Jawa (atau saya rasa di banyak masyarakat di Indonesia) memiliki pekerjaan tetap adalah sebuah simbol kesuksesan. Banyak cerita mengenai anak-anak yang dipaksa untuk bekerja kantoran atau menjadi PNS agar bisa dibanggakan oleh orang tuanya. Pernikahan juga bisa menjadi penentu sukses tidaknya seseorang di masyarakat. Kita tentu masih bisa menemui sampai sekarang cap “perawan tua” atau “perjaka tua” bagi mereka yang tak juga menikah setelah melewati umur tertentu. Setelah menikah pun, masih ada sindiran bagi suami-istri yang masih hidup menumpang di rumah orang tua.

Maka, Tri di film ini adalah ikon ketidaksuksesan nomor wahid: ia tak punya pekerjaan tetap, istri, maupun rumah. Ia menjadi lebih rendah dari saudara-saudaranya sendiri, padahal hanya dia yang dengan setia sehari-hari merawat ibunya yang sudah mengalami kemunduran kesehatan karena usia. Lemantun mengkritik praktik-praktik tidak egaliter dari masyarakat yang masih menilai kesuksesan-kesuksesan seperti ini sebagai kriteria yang artifisial bagi tinggi-rendahnya derajat seseorang.

Lemantun mengkritik pula fetisisme yang berlebihan kepada gelar akademik. Eko, Dwi, Yuni, dan Anto menempelkan label nama lengkap beserta titel akademik pada lemari-lemari yang diwarisinya. Hanya Tri yang labelnya cuma bertuliskan nama saja.

Di jaman penjajahan, pendidikan formal memang hanya didapat oleh orang-orang tertentu saja. Ia kemudian menjadi serupa dengan gelar aristokrasi, sebuah tanda penghormatan yang mengundang rasa segan dan hormat. Pendidikan formal kemudian seringkali melahirkan elit-elit baru dengan sikapnya yang arogan. Di sini Lemantun kemudian menyentil mentalitas yang rupanya masih ada sampai sekarang. Ini adalah kritik kepada masyarakat yang secara linguistik menyematkan privilese melalui gelar dan mempersetankan nilai-nilai utama dari pendidikan: kesederhanaan dan kerendahan hati, seperti padi yang makin berisi makin merunduk.

Film ini juga menggambarkan budaya masyarakat Jawa yang menjunjung ewuh-pekewuh (sungkan). Sebagai orang-orang berduit, Eko dan saudara-saudaranya (kecuali Tri) sadar betul bahwa lemari mereka tak lebih adalah barang rongsokan. Pun juga kita bisa saksikan bahwa mereka memang mengenyahkan lemari-lemari tersebut pada akhirnya. Akan tetapi, di adegan-adegan sebelumnya anak-anak ini beberapa kali mengatakan “Apik iki!” (“Bagus ini!”) saat melihat lemari-lemari tadi di rumah ibunya. Ini tentu wajah wong Jawa yang seringkali dianggap hipokrit, yang memuji sesuatu meskipun sebenarnya jelek, yang gampang merasa tak enakan (“Aduh malah ngrepoti” “Ndak, kok, ndak ngrepoti”), dan sebagainya.

Apakah ini stereotipikal? Tidak juga, karena film ini beserta keseluruhan tokoh dan latarnya adalah potret sebuah budaya yang masih jamak di masyarakat. Dengan meminjam kata-kata Ekky Imanjaya, Lemantun mengajak penonton melihat dirinya sendiri, mentertawakan dirinya sendiri, dan mengkritik dirinya sendiri: apakah kultur sadar kelas yang diturunkan dari jaman feodal masih relevan sampai sekarang? Apakah kesuksesan material dan edukasional adalah satu-satunya tolok ukur untuk menentukan nilai seseorang di masyarakat? Betulkah menjaga keharmonisan mensyaratkan seseorang untuk tidak mengatakan yang sebenarnya?

Meskipun demikian, Lemantun tak lantas terseret ke dalam pusaran melodrama. Jika melodrama bergantung pada karakter-karakter stereotipikal, musik yang menyayat hati, atau dialog yang muluk-muluk (stilted) dengan nuansa sentimentalitas yang berlebih (overwrought sentimentality), maka Lemantun terlihat lebih straightforward. Wregas dan timnya menggarap Lemantun dengan efisien. Tidak ada shot yang rasanya percuma sehingga perlu dibuang. Tidak ada musik yang menenggelamkan gambar, sehingga adegan di mana Tri merangkak masuk ke dalam lemari atau saat ia menggendong ibunya ke luar rumah memiliki emosi yang kuat alih-alih sekedar menjadi adegan-adegan cengeng.

Lemantun tidak lantas mendemonisasi saudara-saudara Tri dengan karikatur anak-anak durhaka. Sebaliknya, mereka adalah gambaran anak-anak kebanyakan, yang kadang-kadang egois, yang kadang-kadang lupa dengan keluarga jika sudah tersita pekerjaan dan rumah tangganya sendiri. Film ini juga pada akhirnya tidak menjadi sebuah hagiografi atas sosok Tri, betapapun kehidupannya nampak menyedihkan jika dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.

Walaupun tidak ada karakter yang berkembang (karena durasinya juga hanya 21 menit), semua karakternya believable serta dimainkan dengan pengendalian (restraint) akting yang konsisten. Hal ini mungkin terbantu oleh para pemerannya yang merupakan pemain-pemain teater dengan akting yang sudah terasah. Dialog-dialog di film ini merefleksikan reaksi-reaksi yang biasa dilakukan orang apabila ia dihadapkan pada situasi yang sama. Lelucon-lelucon yang menjadi momen-momen jenaka (comic relief) pun tak lalu dibuat-buat atau diminutif seperti di film-film Raditya Dika.

Lemantun bisa jadi awalnya hanya dibuat sebagai tugas akhir Wregas di Institut Kesenian Jakarta. Akan tetapi, ada keseriusan, ada sikap yang diambil sang sutradara mengenai keluarga dan kultur orang Jawa, serta ada eksekusi yang profesional di sana. Tidaklah berlebihan rasanya untuk menobatkan film ini menjadi juara XXI Short Film Festival tahun ini.

Judul: Lemantun (The Third Cupboard)
Sutradara: Wregas Bhanuteja
Produser: Nia Sari
Pemeran: Tatik Wardiono, Den Baguse Ngarsa, Agoes Kencrot, Freddy Rotterdam, Titik Renggani, Triyanto Hapsoro
Sinematografer: Leontius Tito
Durasi: 21 menit
Produksi: 2014

Last modified on: 25 Maret 2015

    Baca Juga

  • Gado-gado Rasa Banda


    Selalu ada yang pertama untuk setiap hal. Termasuk tertidur di tengah-tengah film saat di dalam bioskop. Pengalaman itulah yang saya alami ketika menonton Banda The Dark Forgotten Trail karya sutradara…

     

  • Video: Stranger Things dalam 8-bit


    Amerika menjadi negara besar karena arsip yang tersimpan baik, dan setiap generasi dibuat peka terhadap referensi-referensi kesejarahan mereka dengan banyaknya buku-buku yang harus dilahap bahkan oleh anak SD. Hipsterdom di…

     

  • Berhala (Baru) itu Bernama Wiji Thukul


    “Kau benci Soeharto?!” Tangan berbulu itu menempeleng kepala saya. Segalanya mendadak gelap. Ada ribuan kunang-kunang beterbangan. Sebelum mata sempat membuka, saya merasakan tangan itu menjambak rambut saya. Muka Sersan Kepala…

     

  • The Lennon Report: Kisah di Balik Kelambu


    Sutradara/cerita/skenario : Jeremy Profe/Walter VincentProduser : Gabriel FransiscoDurasi : 87 menitProduksi: Fransisco Films, 2016

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni