(1 Vote)
(1 Vote)
Read 1073 times | Diposting pada

212: The Power of Love, Film Religi Yang (Lagi-lagi) Menafikan Ideologi

212: The Power of Love, Film Religi Yang (Lagi-lagi) Menafikan Ideologi repro Jakartabeat

 

Jika film Rampage arahan Brad Peyton memajukan waktu tayang karena enggan berkonfrontasi langsung dengan gempuran Thanos dalam Avengers: Infinity War, beberapa film Indonesia justru nekat dengan merilis filmnya berdekatan dengan 'the most ambitious crossover event' tersebut. Raffi Ahmad lewat The Secret - Suster Ngesot Urban Legend memang bisa saja sengaja berniat menghamburkan uangnya lagi setelah Rafathar dengan sukses merugi dan menjadi bahan olokan warganet. Tapi apa yang sebenarnya ada di pikiran produser 212: The Power of Love? Menuturkan cerita yang diangkat dari kisah nyata dan menyasar 7 juta alumni Aksi ‘Super Damai’ 212 mungkin bisa dianggap menjadi modal yang kuat, namun apa yang terjadi ialah keterulangan peminggiran konteks dan ideologi yang sudah terjadi berkali-kali pada film Indonesia bertema politis. Padahal kita semua tahu bagaimana masifnya latar belakang dan peranan politik menuju pilkada di peristiwa itu. Tapi, alih-alih memilih menjadi film ideologis dengan potensi yang kuat untuk didiskusikan, 212: The Power of Love justru menjadi sebuah sinetron drama ayah-anak dengan dubbing, akting, dan cerita sangat mengganggu yang dipaksa untuk diangkat ke layar lebar.

Rahmat (Fauzi Baadila), seorang jurnalis majalah bernama Republik, adalah tokoh sekaligus sumber utama konflik di film ini. Ia kerap menulis apa yang tidak disukai oleh semua orang yang ada di film ini: kritik terhadap Islam. Ini pula yang kemudian menjadi penentu cerita di film ini, yaitu konflik antara Rachmad dan ayahnya, Zainal (Humaidi Abbas) seorang Kyai asal Ciamis yang berkeinginan mengikuti aksi 212 dengan berjalan kaki dari rumahnya. Keinginannya yang kuat untuk mengikuti aksi tersebut walau sudah sakit-sakitan lah yang kemudian dicoba untuk digagalkan Rahmat. Film ini sendiri diawali dengan adegan di mana teman dekat sekaligus rekan kerjanya, pria gondrong bernama Adhi (Adhin Abdul Hakim), mendatangi Rahmat di meja kerjanya. Ia bermaksud untuk menasihati temannya tersebut perihal tulisannya yang menuding Aksi 212 ditunggangi pemain politik. Rahmat mengindahkan teman satu-satunya tersebut dengan menanggapi secara dingin dan sekaku kanebo kering—yang disimpan dalam freezer—bahwa ia tidak akan menomorduakan ideologinya ketika menulis. Tidak jelas apa ideologi seperti apa yang ia maksud, tetapi kemudian seiring berjalannya film kita akan mengetahui bahwa ia adalah seorang Marxis dengan diperlihatkan bagaimana ia kerap mengutip—selalu dengan kaku—Karl Marx dalam dialog-dialognya, serta pada satu adegan di mana layar komputernya yang memperlihatkan ia tengah mencari gambar Marx di google images. Peristiwa itu berlanjut pada satu kesempatan pertemuan redaksi dalam majalah tersebut. Kali ini tidak hanya Adhi, rekan kerja yang lain dan juga pemimpin redaksi juga menyoalkan tulisannya tersebut. Mempersoalkan tulisan yang sudah terlanjur dicetak di majalah saja sudah terasa janggal, ditambah pula dengan respon nirlogis Rahmat “Pergi dari kantor ini telah saya bayangkan sejak masuk kantor ini.” Banyak adegan-adegan serupa yang akan membuat kita menyangsikan Rahmat adalah lulusan terbaik dari Harvard—yang dengan konsisten ia ingatkan sepanjang film. Bahkan dalam satu adegan, kamera menyorot foto kelulusan Rahmat di Harvard, yang dengan jelas memperlihatkan suntingan yang buruk. Benar bahwa itu merupakan wajah Rahmat, namun dia ditempelkan pada tubuh orang lain. Teknis pembuatan film ini pun juga tak lepas dari kecacatan yang terlihat pada dubbing yang bocor dan tidak selaras, adegan yang memuat green screen yang tidak rapi, pengambilan gambar menggunakan drone yang berlebihan, ditambah akting dari semua aktor yang berada pada tingkatan sinema layar kaca.

Selain permukaan atau “kulit” film yang mengecewakan, “tubuh” dan “jantung” seperti konsep dan konteks film 212: The Power of Love juga terlalu menarik untuk diurai—atau mungkin ditertawakan. Padahal, produser film ini, Asma Nadia, mengatakan bahwa film ini adalah bentuk otokritik umat Islam. Penghilangan konteks seperti mengapa kemudian aksi 411, 212 dan aksi dengan nomor togel cantik lainnya dilancarkan, tudingan penistaan agama terhadap Ahok, Pilkada DKI Jakarta yang berdekatan, atau dugaan adanya makar malah dipinggirkan, dijadikan tempelan, atau malah dihilangkan. Ini mengingatkan kita dengan film arahan Lukman Sardi, Di Balik 98 (2015), yang juga mengenyampingkan konteks peristiwa di masa tersebut, dan lebih mengangkat cerita pinggir, yang lagi-lagi berkaitan dengan cinta, dan mengesampingkan ideologinya.

Penolakan dari sebagian masyarakat terhadap film yang berkehendak ‘memutihkan’ bioskop ini, yang bisa kita lihat di berita yang terjadi di Manado dan Palangkaraya, menjadi tambah sangat disayangkan. Menolak tanpa mengetahui apa yang ditolak menjadi milik semua kubu. Padahal—dan sayangnya, 212: The Power of Love benar-benar apolitis, persis seperti yang dikatakan sang sutradara, Jastis Arimba. Sentral film ini memang bukan kejadian Monas yang kemudian berujung pada kekalahan Ahok, melainkan hubungan emosional ayah dengan anaknya yang “durhaka”—yang mempunyai ideologi berbeda dengan semua orang di semesta film tersebut.

Mungkin 212: The Power of Love memang bermaksud melestarikan tradisi film di negeri ini, di mana ada citra suatu subgenre bernama film religi, yang berputar pada suatu permasalahan—seringkali cinta—yang kemudian pada akhir cerita diselesaikan dengan cara Islami. Entah tokoh utama yang mendapatkan hikmah dari pendekatannya terhadap agama, atau karena ujaran pamungkas dari pemuka agama. Formula ini terus dilangsungkan dari dulu hingga sekarang, mengingat kesuksesan yang dihasilkan Ayat-ayat Cinta (2008) arahan Hanung Bramantyo yang kemudian menjadi salah satu film paling laris di negeri ini. Yang mereka lupa, Ayat-ayat Cinta garapan Hanung sesungguhnya memilki ideologi inklusifitas Islam dan spiritualisme kristen berbalut hijab Islami, seperti yang dianalisis oleh kritikus/penulis Intan Paramaditha dalam eseinya, “Passing and Conversion Narratives: Ayat-ayat Cinta and Muslim Performativity in Contemporary Indonesia. Adegan perempuan mualaf berdoa dengan salib adalah salah satu statement ideologi yang Hanung coba negosiasikan ketika membuat film ini.

Genre Islami film Indonesia pasca Ayat-ayat Cinta seperti gagal mengambil semangat ideologi Islamisme—ideologi apapun di luar kapitalisme (baca: cari untung sebanyak-banyaknya.) Judul yang memasukkan unsur agama, keberadaan beberapa tokoh utama beragama Islam, dan atribut keislaman yang biasanya ditonjolkan dalam poster adalah ciri khas genre ini. Namun, ujung-ujungnya, filmnya cenderung takut untuk menjadi kontroversial ke arah konservatif atau progresif. Apakah ini menyangkut selera pasar dan pendapatan? Sepertinya tidak juga, karena pasar belum tentu tidak menyukai film yang mengambil kisah nyata cum ideologis. Sehingga permasalahannya mungkin karena memang perfilman kita memang masih hanya mampu sampai di taraf ini, taraf sinetron yang kemudian diangkat ke layar lebar yang ideologis tidak, untungpun wallahualam.

Last modified on: 1 Juni 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni