(0 votes)
(0 votes)
Read 4102 times | Diposting pada
Si Janggut Mengencingi Herucakra

Yang Bergentayangan di Sepanjang Cerpen-cerpen A.S. Laksana

Yang Bergentayangan di Sepanjang Cerpen-cerpen A.S. Laksana Sumber Foto: @Kineruku

 

Judul: Si Janggut Mengencingi Herucakra: Kumpulan Cerita
Pengarang: A.S. Laksana
Cetakan: Oktober 2015
Tebal: 133 hlm
Penerbit: Marjin Kiri


Apakah anda percaya hantu? “Hantu ada, kau tahu, karena kita memikirkannya.” Demikian tulis A.S. Laksana pada salah satu kisah dalam kumpulan cerita pendek Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu (2013). Dua tahun setelah terbitnya Murjangkung, A.S. Laksana tampaknya masih bergumul memikirkan hal ihwal dunia perhantuan. 

Buku kumpulan cerpennya yang ketiga, Si Janggut Mengencingi Herucakra (2015), kembali menjelajahi persinggungan antara keberadaan hantu-hantu yang gamang dan misterius dengan potret kehidupan sehari-hari orang biasa berurusan dengan nasib yang tak kalah misteriusnya. Mulai dari pemuda yang batal menyatakan cinta gara-gara ada seekor cicak tiba-tiba menclok di kepala gadis idamannya, penyanyi dangdut yang kebetulan bertemu cinta monyet dari masa lalu sampai seorang buruh pabrik yang berapi-api ingin menjalankan revolusi tapi kehilangan fokus gara-gara jatuh cinta pada seorang gadis bisu tuli. Kebetulan-kebetulan naas yang menimpa tokoh-tokoh dalam cerpen A.S. Laksana selintas terdengar absurd, tapi seluruh keganjilannya tetap berada dalam semesta logika sebab-akibat yang konkret meskipun terasa tidak sepenuhnya rasional.

Fiksi memberinya ruang untuk mengeksplorasi hal-hal yang tak terjelaskan akal seperti hantu, tapi hak istimewa yang dimiliki fiksi tidak membuat A.S. Laksana bablas meninggalkan nalar sama sekali. Dunia yang ia bangun menempatkan hantu, nasib dan segala kebetulannya sebagai bagian dari realitas objektif yang tidak dapat dikendalikan seutuhnya. 

Soal ada-tidaknya hantu ini penting dibicarakan sebab jika tidak maka kita hanya akan memperlakukan hantu dalam cerpen-cerpen A.S. Laksana sebagai fantasi atau halusinasi belaka. Pikiran dan kemampuan kita untuk menalar bukanlah wangsit yang tiba-tiba turun dari langit lalu menclok di kepala. Pikiran berhubungan secara dialektis dengan kondisi-kondisi material alias realitas di sekitar kita, sehingga dengan demikian gagasan atau kepercayaan tentang hantu selalu bersifat kultural. Untuk itulah sulit bagi seorang pocong untuk membuat seorang bule ketakutan sampai terberak-berak sebab sosok pocong memang tidak begitu akrab dalam kamus visual si bule. 

Kepercayaan tentang hantu berhubungan dengan pandangan dunia yang spesifik mengenai konsep kehidupan dan kematian. Antropolog James Siegel (2006: 114) mengemukakan impresinya bahwa Jawa memiliki populasi hantu. mahluk halus dan roh supranatural yang padat, sebab kepercayaan lokal beranggapan bahwa kematian tidak selalu memisahkan dunia orang hidup dan orang mati. Kesadaran ini meyakini bahwa manusia memiliki hubungan yang intim dengan dunia transenden dan kehadiran mahluk halus tidak selalu dianggap sebagai ancaman bagi orang yang masih hidup. Meski demikian, kepercayaan atas hantu tidak khas milik Indonesia atau dunia “Timur.” Kisah hantu hidup dengan kadar yang berbeda dalam berbagai kebudayaan. Hamlet-nya Shakespeare, misalnya, juga mengandung sosok hantu dan itu berarti bahwa meski sosok hantu bersifat lokal, rasa takut bersifat universal. 

Hantu-hantu yang bergentayangan di cerpen-cerpen A.S. Laksana tidak mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh horror lokal seperti genderuwo, tuyul, kuntilanak atau pocong. Wujud hantu tidak ia deskripsikan sebagai sosok yang mengerikan, mereka digambarkan sebagai arwah orang mati yang terasing, linglung dan kerap kali kesepian sebab masih harus luntang-lantung di dunia orang hidup. Kisah-kisah yang dituturkannya juga tidak menimbulkan rasa seram atau kaget seperti halnya niat film atau novel bergenre horror. Ia juga tidak sibuk dengan pesan moral seperti banyak kisah horror yang diakhiri dengan petuah-petuah dari para kiai. 

Jika ada kesamaan dengan kisah-kisah horror pada umumnya, hantu-hantu yang dikisahkan A.S. Laksana juga mengada sebagai arwah penasaran. Hantu ada (meski ia tak tampak nyata), sebab kehadirannya merupakan ekses dari yang riil yang ideal. Biasanya arwah gentayangan nyangkut di dunia karena ia masih penasaran, entah karena penyebab kematian yang tidak jelas atau karena urusan di dunia yang belum selesai. Hasrat yang terpendam, kisah yang terlupakan (atau ingin dilupakan) serta kata-kata yang tak dapat direpresentasikan oleh bahasa adalah unsur-unsur yang membentuk sosok hantu dalam cerpen-cerpen A.S. Laksana. 

Dengan memanfaatkan hantu untuk membicarakan kisah kehidupan sehari-hari, A.S. Laksana menyasar kompleksitas persoalan mengingat dan mengetahui serta memproblematisir relasi antara konstruksi kesadaran dan pikiran manusia dengan realitas.

Hantu dan Ingatan

Cerpen “Orang Ketiga di Malam Hari” menceritakan seorang suami yang ingin mengakhiri mahligai rumah tangganya sebab setiap malam istrinya terus memimpikan orang lain, yang ternyata sudah mati secara tiba-tiba, dan ternyata lagi pernah memiliki percikan asmara dengan istrinya. Sang istri tidak pernah memikirkan orang yang sudah mati itu, akan tetapi karena ada sesuatu yang masih mengambang di antara mereka dan cerita di antara mereka berdua tidak pernah selesai dengan jelas maka si orang mati pun selalu hadir menghantui mimpinya setiap malam--mengganggu seperti sisa tai mengambang yang keras kepala tak mau ikut rombongan ke dalam lubang kakus. 

Manusia dipisahkan oleh kematian (ingat janji pernikahan yang nyaris klise: ”til death do us apart”). Tapi kehadiran arwah gentayangan menyambung kembali dunia orang hidup dan orang mati. Kehadiran hantu mengusik batas yang rigid antara kehidupan dan kematian. Dalam hal hubungan asmara, pemutusan hubungan juga merupakan sebuah kematian kecil sebab ia memisahkan dua insan yang pernah bersama. Cerpen “Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya” menceritakan biduk rumah tangga sepasang suami istri yang tengah berada di ujung tanduk. Hantu dalam kisah cinta mereka bukanlah arwah gentayangan melainkan sekelebatan fragmen-fragmen masa lalu yang timbul tenggelam dalam pikiran sebagai ingatan yang datang tak diundang dan pulang tak diantar. 

Begitu pula dengan cerpen “Perpisahan Baik-Baik,” meski sepasang kekasih menginginkan sebuah perpisahan yang baik-baik, penyesalan dan harapan akan sebuah kemungkinan tetap menghantui sebab pada dasarnya, tidak ada perpisahan yang baik-baik.1 Untuk itu, seperti istilah “baper” yang sedang gemar-gemarnya digunakan, kisah yang dapat membuat bulu kuduk merinding memang tidak perlu selalu mengandung unsur cekikik suara kuntilanak. Kenangan, baik yang indah maupun yang memedihkan tentang mantan pacar, cem-ceman atau teman tapi mesra, juga bisa jadi bahan yang baik untuk sebuah kisah horor.

Pembicaraan mengenai hantu berkaitan dengan bagaimana pemahaman kita atas struktur mengingat dan mengetahui bekerja dalam pikiran manusia, dan di sinilah cerpen-cerpen A.S. Laksana menjadi lebih seru, kalau bukan lebih penting untuk dibaca. “Lelaki Merah di Kaca Jendela” mengisahkan seorang perempuan bernama Nita yang sudah menolak lamaran dari sembilan laki-laki untuk meminangnya. Usut punya usut, hati Nita tertambat pada sesosok hantu laki-laki yang dari dahinya mengucurkan darah. Sang lelaki merah, begitu ia menyebutnya, menampakkan diri di balik kaca jendela kamar Nita sembari komat-kamit seperti ingin mengatakan sesuatu meski Nita tidak pernah bisa mendengar apa-apa. Akhir cerita menyibak misteri bahwa sang lelaki merah adalah Santoso, teman SMA-nya yang berprofesi sebagai satpam dan kebetulan tewas terbunuh dalam gelombang pertikaian antara mahasiswa demonstran yang diberondong peluru senapan rombongan tentara. 

Santoso bukan pahlawan reformasi, ia hanya seorang satpam yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah. Demonstrasi memang sekedar latar belakang yang samar dalam rasa penasaran Nita atas sosok lelaki merah yang bergentayangan di depan kaca jendela kamarnya. Akan tetapi hantu Santoso yang berkomat-kamit tanpa pernah bisa didengar adalah potret tragis kematian seorang sosok terpinggirkan yang mati dalam sebuah peristiwa sejarah tapi namanya tak pernah tercatat dalam sejarah —seperti korban-korban yang terseret dalam arus pembantaian massal 1965 atau perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa pada Mei 1998. Jika sejarah ditulis oleh pemenang, maka orang-orang kalah ini adalah hantu penasaran yang menolak untuk dilupakan dan menggentayangi tiap-tiap lubang kosong dalam tatanan institusi sejarah. Meski tidak terlihat, mereka akan terus hadir menghantui ingatan kita sebab bagaimanapun; mereka pernah ada. 

Hantu dan Pengetahuan

Ilmu pengetahuan modern menekankan pada asas empirisme menuntut bukti yang dapat diverifikasi dan dikonfirmasi kebenarannya. Oleh karena itu kepercayaan pada hal-hal mistis kerap dianggap sebagai keterbelakangan dan tidak menunjukkan sikap hidup orang modern. Akan tetapi, cerita hantu nyatanya terus mengusik modernisme yang serba ingin mengukur dan mengetahui segala sesuatu dengan penuh kepastian. Berbagai penemuan teknologi seperti kamera, telepon atau televisi selalu dibuntuti kisah mistis. Penampakan hantu yang tak sengaja tertangkap kamera, telepon misterius dari kubur atau mbak-mbak berambut panjang yang keluar dari layar televisi adalah beberapa contoh kisah hantu yang tak mau ketinggalan dengan penemuan termutakhir. Hantu terus berinovasi untuk mengada dan kurang tepat kalau menganggap fenomena ini sekedar mengada-ada. Cerpen-cerpen A.S. Laksana menggambarkan bagaimana paradigma modern yang serba rasional tumpang tindih dengan keyakinan ideologi, agama maupun kepercayaan supranatural. 

“Cerita Ababil” adalah kisah Maliki, arwah gentayangan yang mati penasaran karena sepanjang sembilan puluh enam tahun hidupnya telah tiga kali gagal menggulingkan kekuasaan. Gemas dengan ketimpangan sosial dan kebejatan sistem pemerintahan, Maliki berinisiatif melakukan “upaya-upaya ilmiah untuk membersihkan negeri dari iblis dan kotoran.”(Menarik bahwa di Indonesia orang yang memiliki kekuatan supranatural disebut sebagai “orang pintar”). Maliki mempelajari buku Seribu Satu Keajaiban Metafisik dengan tekun untuk mendapatkan ilmu yang menurutnya dapat digunakan untuk merebut kekuasaan. Cara konyol ini barangkali akan membuat hantu Marx ngamuk dan bangkit dari kubur, tapi kukuhnya semangat revolusioner Maliki bisa jadi dapat membuat hantu Marx menangis terharu. 

Sementara itu, si Janggut, buruh pabrik bohlam yang gemar berorasi dalam cerpen “Si Janggut Mengencingi Herucakra” dibuat gusar oleh selebaran dan surat berantai yang disebarkan oleh seseorang berpakaian jubah putih dan turban seperti Pangeran Diponegoro dan mengaku bernama Herucakra. Si Janggut dongkol dengan janji-janji palsu kuasa ramalan Ratu Adil yang diumbar Herucakra sebab menurutnya akan melemahkan gerakan sosial dan membuat orang malas untuk melakukan tindakan nyata. Katanya: “Kautahu, hai penyembah Ratu Adil, bahwa kaum pemalas yang hanya mengharapkan datangnya ratu khayalan adalah sama belaka dengan cacing kremi merindukan bulan.” Tapi rasionalitas si Janggut yang telah melandasi perjuangannya membela kaum buruh sayang sekali ambrol ketika ia jatuh ke dalam lubang misterius bernama cinta. Cinta memang bisa membuat orang bertingkah irasional meski bukan berarti cinta tidak rasional. Seperti hantu, kehadiran cinta juga menciptakan relasi tarik menarik antara yang rasional dan irasional. 

Baik Maliki maupun si Janggut sebetulnya sama-sama menolak pasrah pada nasib dan ingin mengubah realitas —selaras dengan tesis ke sebelas Marx dalam Tesis tentang Feurbach: “Para filsuf hanya menginterpretasi dunia secara berbeda, yang perlu ialah mengubahnya.” Namun interpretasi atas dunia secara objektif, bagaimanapun tetap penting. Objektivitas bisa dan harus dipertanyakan tapi bukan berarti tidak ada yang objektif. Interpretasi Maliki atas dunia membuatnya dengan sangat niat mengorganisir sepasukan anak yatim piatu dan mempersenjatai mereka dengan aji-ajian sakti mandraguna demi cita-cita mulia menggulingkan kekuasaan. Usahanya menjadi sia-sia belaka sebab ia gagal paham dan tidak yakin pada daya tranformasi tindakan rasional sehingga terjerembab dalam dunia supranatural dan memilih untuk setia pada jalur irasional yang ekstrim. Tindakannya bukan tidak nyata, tapi jalur yang Maliki pilih untuk menginterpretasi kenyataan membuatnya tidak dapat mengubah kenyataan. 

Kenyataan bersifat kompleks, berantakan dan cepat berubah. Dunia tidak sepenuhnya irasional tapi tidak semuanya juga dapat diketahui, diukur dan diprediksi dengan rasional. Banyak hal di dunia memang dapat dihitung dengan pasti: ketimpangan distribusi pendapatan, harga cabe dari masa ke masa, presentase suara pendukung Prabowo pada pemilu 2014. Namun ada juga hal-hal yang tidak dapat diukur dengan pasti: kebahagiaan, penderitaan, hasrat, trauma, rasa takut —semua hal ini bagaimanapun juga merupakan bagian dari realitas objektif yang tidak dapat seutuhnya dikendalikan akal manusia. Celah inilah yang memberi ruang untuk imajinasi dan rasa simpati pada pengalaman menubuh yang berbeda-beda. Ilmu pengetahuan modern ingin mengetahui segalanya dengan kepastian penuh sebab pengetahuan adalah kekuasaan. Kekuasaan dapat digunakan untuk mengatur dan menyeragamkan apa yang patut diingat dan dilupakan, apa yang diakui ada dan tidak ada serta apa yang dianggap benar dan yang salah. 

Cerpen “Rashida Chairani” menunjukkan bagaimana pemegang kekuasaan mengatur apa yang dapat dianggap pengetahuan dan bukan pengetahuan. Rashida Chairani dikisahkan sebagai siswi SMA yang diperkosa oleh tiga orang teman sebayanya. Simak penggalan di bawah ini: 

“Bagaimana kau akan membuktikan bahwa mereka memerkosamu?” tanyanya.
“Saya mengatakan yang sebenarnya.” kataku.
“Dan setiap orang akan mempercayaimu karena kau bilang saya mengatakan yang sebenarnya?”
. . .
“Kau tahu, Rashida, jika setiap pernyataan tak perlu dibuktikan, nanti akan ada gadis lain datang ke sekolah ini dan mengaku ia diperkosa oleh anak walikota dan kami harus mempercayainya karena ia bilang saya menyampaikan yang sebenarnya.” 

Banyak kasus perkosaan dan delik susila yang tidak bisa diproses secara hukum karena sistem peradilan kita menuntut alat bukti yang sah untuk menjerat pelaku tindak pidana. Apakah kita harus melihat sebelum tahu dan percaya? Bagaimana cara agar kita dapat benar-benar yakin bahwa kita tahu? Di sinilah sosok hantu dalam cerpen-cerpen A.S. Laksana hadir untuk mempertanyakan batas antara mengetahui dan mempercayai. 

Jika cerpen A.S. Laksana berhasil menimbulkan sedikit rasa takut bagi pembaca, itu karena ia menunjukkan kerapuhan akal manusia ketika berurusan dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan dalam hidup. Kita bisa saja berseberangan pendapat mengenai ada atau tidaknya hantu, tapi bahwa manusia tidak digdaya sebab ada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh akal semata tidak dapat dipungkiri sebagai sebuah kenyataan. 

Tokoh Seto dalam cerpen “Sumur Keseribu Tiga” ingin mengubah garis telapak tangannya karena takut dengan suratan buruk yang mungkin menimpanya. Rasa takutlah yang membuatnya ingin mengendalikan dan melawan takdir meski sayang dengan cara instan. Dan bukankah para penguasa juga menggunakan politik rasa takut untuk mengendalikan kekuatan massa? Ketakutan terhadap hal-hal yang tidak dapat dikendalikan dapat menjuruskan tindakan manusia pada beberapa kemungkinan: sekedar pasrah, keinginan untuk mengekang atau justru keberanian untuk melawan. 

Sebagai sarana untuk menginterpretasi kenyataan, fiksi A.S. Laksana menawarkan perbincangan yang apik tentang bagaimana manusia bergumul dengan ingatan, keyakinan, pengetahuan dan rasa takut dalam kehidupan sehari-hari. 

***

Catatan Belakang:

1) Omong-omong, cerpen ini telah dialihwahanakan menjadi lagu “Kepada Ratna” oleh grup musik asal Yogyakarta, Jalan Pulang yang membuat kisah “Perpisahan Baik-Baik” semakin menyayat-nyayat kalbu. Vokalis band Jalan Pulang konon telah berhasil menghantui lebih dari 243 perempuan dari berbagai usia dan kalangan hanya dengan pesona tatanan kumis tipisnya.

Last modified on: 24 Mei 2016

    Baca Juga

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

  • Siska Nirmala Luncurkan Debut Buku 'Zero Waste Adventure'


    Siska Nirmala baru-baru ini telah meluncurkan buku pertamanya, Zero Waste Adventure. Buku ini bercerita mengenai ekspedisi nol sampah ke lima gunung di Indonesia. Ide akan ekspedisi ini terlahir dari kegelisahannya…

     

  • Vladimir Hussein


    “Haram jadah,” si lelaki gendut mengomel dan meninju bangku perhentian bus. Vladimir tetap memandangi foto-foto di surat kabar, tidak mengacuhkan keterangan beritanya. Waktu bergerak lambat. Vladimir tak suka menunggu bus.…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni