(3 votes)
(3 votes)
Read 4362 times | Diposting pada

Tarian Bumi & Kritik Perlakuan Terhadap Perempuan di Masyarakat Bali

 

Dalam beberapa konteks, perkataan bahwa filsafat adalah milik kalangan masyarakat dengan status ekonomi A menjadi benar. Ketika kebutuhan pangan sudah terpenuhi betul-betul, barulah manusia mulai memikirkan hal-hal lain. Baru ia mulai berpikir sandang. Lalu papan. Lalu kebutuhan sekunder. Lalu tersier. Akhirnya, ketika satu demi satu kebutuhannya terpenuhi, menurut Maslow, pada puncaknya manusia akan mengalami bentuk satisfikasi yang paling besar; yaitu ketika ia mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang human being. Pencapaian aktualisasi diri ini terlihat ketika seseorang berhasil memaknai ia sebagai individu, dan memahami lingkup ruang tempat ia hidup setingkat lebih mendalam melalui filsafat, ekonomi, sosial, budaya.

Karenanya, tidak dibutuhkan buku sastra yang “berat” untuk mengangkat wacana mengenai suatu hal yang berat pula. Kritik terhadap budaya, misalnya. Tidak dibutuhkan novel-novel tebal dengan maksud filosofis implisit layaknya novel-novel Ayn Rand untuk mengajukan kritik terhadap budaya yang telah berhasil mengukukuhkan hegemoninya pada kita, manusia. Manusia yang jarang berfilsafat tidak suka yang berat-berat. Apalagi di Indonesia, ketika 28.280,01 penduduknya dinyatakan miskin oleh Badan Pusat Statistik. Bagaimana mungkin menyatakan kritik terhadap budaya, jika perut saja masih belum terisi benar?

Untuk membantu memahami budaya dan dampaknya pada fenomena sosial yang telah dikonstruksikan oleh pendahulu kita sejak lama—dibantu oleh media tentunya—diperlukan tools yang ringan, yang mampu mengajak kita berpikir ulang dan merefleksikan kembali budaya yang selama ini kita anut dan kita anggap paling benar. Disinilah sastra muncul. Nama-nama besar seperti Pramoedya Ananta Toer—dengan kritiknya terhadap budaya masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh kolonialisme dan imperalisme—juga seperti juga Mochtar Lubis dengan “Perempuan”-nya, dan yang lebih kontemporer seperti Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Oka Rusmini—dengan kritik dan pandangan feminisnya—banyak menjadi pilihan pembaca yang ingin mengerti realitas seperti apa sebetulnya yang terjadi di dunia nyaman yang ia tinggali ini.

Lihat saja cerita-cerita pendek milik Djenar Maesa Ayu dalam bukunya, “Mereka Bilang, Saya Monyet!” Ditulis dengan bahasa yang tidak rumit, langsung ke tujuan, lugas, dan berani. Buku ini berhasil membuat pembacanya bertanya-tanya, “Apa benar ini realitas yang terjadi di antara kita saat ini?”
Lihat juga novel-novel Ayu Utami, juga Fira Basuki. Kesemuanya seolah mengkritisi, menanyakan, mengapa perempuan takut meliberasi diri, takut meliberasi seksualitas sendiri?

Satu novel sastra yang baru saja selesai saya baca ialah Tarian Bumi, milik Oka Rusmini. Nama lengkapnya adalah Ida Ayu Oka Rusmini. Novel ini, menurut saya pribadi, berhasil menggambarkan dengan jelas mengenai budaya patriarki yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat Bali. Tidak hanya patriarki, novel ini juga berhasil menyusupkan segelintir gambaran mengenai pembagian kasta masyarakat Hindu di Bali. Ketimpangan di antara tiap kasta, terutama di kutub-kutubnya yang paling ekstrim (Brahmana dan Sudra) berhasil membuat yang membaca merasa miris dan terheran-heran. Yang lebih menarik lagi, ternyata budaya masyarakat Bali lebih kompleks daripada hanya sekadar patriarki dan kesenjangan antar kasta. Ternyata kasta jauh lebih dimuliakan daripada gender, karena masyarakat Bali juga bersentuhan dengan sistem matriarki. Ya, situasi dimana Ibu atau istri menjadi pemimpin dan suami menjadi submisif di dalam rumah ternyata juga terjadi pada masyarakat Bali. Ibu atau istri yang menjadi pemimpin itu biasanya adalah perempuan yang berasal dari kasta Brahmana, namun dengan suami yang berasal dari kasta Brahmana juga, hanya saja lebih miskin secara ekonomi daripada keluarga si perempuan. Karena  lebih miskin, akhirnya pihak perempuan melakukan nyentanain (pihak perempuan yang meminta pihak laki-laki, jadi pihak perempuan dipandang sebagai laki-laki, dan sebaliknya). Karena pihak perempuan sudah nyentanain, ia jadi merasa memiliki kuasa terhadap suaminya.

Segi pernikahan menarik sekali untuk dibahas. Ketika seorang perempuan Brahmana menikah dengan laki-laki Sudra, perempuan tersebut akan dianggap sebagai pembawa sial dan biang segala kejadian buruk di rumah barunya bersama dengan suami dan mertuanya. Meskipun pernikahan terjadi bukan karena paksaan, apalagi perjodohan—tidak mungkin orangtua seorang gadis Brahmana menjodohkan anaknya dengan seorang lelaki Sudra—namun karena cinta. Di dalam novel ini, digambarkan sosok seorang perempuan Brahmana bernama Telaga yang menikah dengan lelaki Sudra, Wayan, dituduh sebagai penyebab sial oleh mertuanya ketika akhirnya Wayan meninggal karena sakit jantung.

Kemudian, jika seorang perempuan Brahmana menikah dengan lelaki Sudra, ia harus melakukan upacara patiwangi (pati = mati, wangi = harum) yang maknanya adalah keharuman yang selama ini ia miliki sebagai seorang perempuan Brahmana telah hilang. Seorang perempuan yang menikah dengan lelaki Sudra tidak lagi dianggap seorang Brahmana namun sudah menjadi Sudra. Ia tidak boleh menginjakkan kaki di rumah tempat ia lahir, dan ia tidak boleh bercakap-cakap dengan keluarganya yang lama atau orang Brahmana lainnya.

Ibu Telaga, yang awalnya adalah perempuan Sudra dengan nama Luh Sekar, adalah seorang penari yang terkenal di daerahnya. Cita-citanya adalah menikah dengan seorang Brahmana, karena ia tidak mau lagi hidup miskin. Ia marah dengan semua orang yang tidak menghargai ia sebagai seorang Sudra, bahkan statusnya sebagai Sudra menghambat karir tarinya. Akhirnya, ia menikah dengan seorang Ida Bagus (Brahmana) yang tidak sungguh-sungguh mencintai dan menghormatinya. Ia pun berganti nama menjadi Jero Kenanga, nama seorang Brahmana. Karena menikah dengan seorang Brahmana, ia dianggap bukan lagi seorang Sudra. Statusnya seketika naik. Ia jadi berstatus lebih tinggi daripada Ibunya sendiri, yang selama ini merawatnya. Ibunya, yang pada awalnya sangat menginginkan Sekar menjadi seorang Brahmana, ikut menjadi getir ketika keinginannya benar-benar terkabul. Ia bahkan melarang Sekar untuk banyak bicara dan bertemu dengannya, karena derajatnya yang sekarang lebih tinggi dari Sekar. Ketika Ibunya meninggal, bahkan Sekar tidak diijinkan memegang jenazah Ibunya karena dianggap tidak pantas bagi seorang Brahmana.

Di dalam novel dengan hanya 175 halaman ini, begitu banyak perspektif dan kritik yang dimasukkan oleh Oka Rusmini. Tentang percintaan sesama gender, misalnya. Sekar mempunyai seorang teman perempuan bernama Kenten, yang sangat membenci laki-laki. Ia memandang bahwa laki-laki Bali banyak yang hanya duduk-duduk saja, menggodai perempuan dan berselingkuh, sementara istrinya sibuk membanting tulang dengan mengerjakan ini dan itu agar anak dan suaminya bisa hidup. Diam-diam, Kenten mencintai Sekar. Ia ingin menyentuh Sekar. Namun, ia takut. Kenten seringkali harus menahan hasratnya ketika ia hanya berduaan dengan Sekar. Ketika Sekar akan menikah, hanya satu permintaan terakhir dari Kenten. Ia ingin di malam sebelum pernikahan Sekar, ia tidur berdua dengan Sekar.

Ternyata pernikahan Sekar tidak bahagia. Suaminya sering berselingkuh, bahkan suaminya juga tidur dengan kedua adik tirinya (didapat oleh Ibu Sekar karena pemerkosaan kepadanya), Kerta dan Kerti. Suaminya, suatu hari, ditemukan meninggal dengan sekujur tubuh luka di rumah pelacuran.

Sekar sangat ingin Telaga menjadi anak perempuan yang sepantasnya, yang cita-citanya adalah menikah dengan seorang Ida Bagus. Namun Telaga memilih Wayan, dan sejak itu Sekar berhenti menganggap Telaga sebagai anaknya.

Dari cerita ini, saya jadi bertanya-tanya. Apakah perempuan-perempuan yang bekerja keras di Bali dapat dianggap sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki, atau ini adalah salah satu bentuk budaya patriarki model lain? Laki-laki tidak bekerja, sementara perempuan yang bekerja. Pusat pekerjaan yang menghasilkan nafkah dan melelahkan diberikan kepada perempuan, sementara laki-laki praktis tidak mengurusi apa-apa. Mungkinkah ini juga salah satu bentuk dari marginalisasi perempuan, bahwa mereka yang sesungguhnya berperan dalam ekonomi keluarga justru tidak punya banyak ruang untuk mengekspresikan diri dan berbuat sesuai kesenangan hati, apalagi memprotes suami?

Kisah lain yang cukup mengenaskan dari buku ini adalah kisah mengenai seorang perempuan penari terkenal bernama Luh Kambren. Ia penari luar biasa di Bali, dan ia sering dicari oleh orang-orang dari luar negeri untuk diwawancarai mengenai kisah hidupnya. Namun semua orang yang pernah mewawancarainya, tidak pernah kembali. Ia seringkali mendengar, buku-buku mengenai biografi dirinya sebagai perempuan Bali sangat laris dan berhasil membuat si penulis hidup mapan. Namun ia, sebagai sumber, tidak pernah didatangi dan diucapkan terimakasih. Ia bahkan tidak tahu seperti apa ia digambarkan dalam buku tersebut.

Jika memang cerita ini berangkat dari fakta, jika memang cerita ini memiliki sekian persen saja probabilitas benar, lalu selama ini, benarkah propaganda yang didengung-dengungkan oleh pemerintah bahwa “Orang luar saja menghargai budaya kita, lalu kenapa kita tidak menghargai budaya kita sendiri?” Benarkah bahwa orang luar menghargai budaya kita—sebagai suatu sistem budaya dimana yang terlibat didalamnya bukan hanya apa yang nampak oleh mata, namun juga manusia Indonesia sebagai pelengkap, perantara, dan aspek utama dalam budaya—atau mereka hanya mampu menangkap keindahan estetis yang tertangkap oleh mata mereka, melupakan aspek manusianya, dan mengadopsi budaya kita demi keuntungan semata?

Ada pula cerita mengenai Luh Dampar, seorang perempuan penari yang merupakan teman Luh Kambren. Ia jatuh cinta pada seorang laki-laki Jerman yang sudah sepuluh tahun hidup di Bali sebagai pelukis. Luh Kambren bisa melihat bahwa laki-laki itu tidak menghormati perempuan, dan dikatakan bahwa matanya adalah “Mata yang amat tajam dan siap menguliti bagian-bagian tertentu tubuh perempuan. Setiap lekuk pasti menjadi santapan lezat baginya.” Namun Luh Dampar tetap jatuh cinta, bahkan akhirnya ia menikah dengan laki-laki Jerman itu. Laki-laki Jerman itu membuat sebuah galeri yang bernama Galeri Dampar. Tujuan dibuatnya Galeri itu dengan nama Luh Dampar adalah agar suaminya tak kena pajak terlalu tinggi dan demi kemudahan segala urusan administrasi. Beberapa saat kemudian, Luh Dampar ditemukan mati gantung diri di studio lukis suaminya. Saat ditemukan, ruangan itu penuh foto-foto, slide, dan rekaman Luh Dampar dalam keadaan telanjang. Ada juga video Luh Dampar yang tubuhnya sedang diikat dan dijilati oleh lima laki-laki. Sampai hari ini, lukisan-lukisan tubuh Luh Dampar dianggap “memiliki keindahan universal, keindahan yang melampaui batas-batas estetika itu sendiri”. Tubuh perempuan Bali, yang dianggap eksotis oleh orang-orang dari luar negeri, dipakai sesukanya dan dijadikan obyek secara semena-mena oleh para pelukis, dan belum tentu atas persetujuan perempuan yang menjadi obyek lukisan mereka. Semakin minim bungkus, semakin mendekati telanjang, maka semakin indah, semakin estetis. Seringkali tubuh mereka dilukis tanpa izin, dan tujuannya untuk dijual kembali oleh pelukisnya. Layakkah kita sebut hal ini sebagai bentuk obyektifikasi? Karena tubuh perempuan, pada akhirnya, dijadikan suatu obyek yang parsial, dipisahkan dari obyek yang utuh, yaitu proses seorang perempuan menjadi seorang perempuan, terlebih lagi menjadi manusia, yang pada akhirnya demi kepentingan profit orang lain?

Karya sastra yang tidak sarat akan pemahaman nalar yang sulit, yang berbahasa ringan saja, yang hanya menceritakan, ternyata mampu menambah wawasan dan pandangan seseorang mengenai suatu fenomena. Kita, pembaca, jadi banyak bertanya-tanya. Sastra ringan yang menonjolkan dengan deskripsi unik mengenai suatu budaya kemudian membuat kita mengerti tentang suatu budaya, apa yang terjadi di dalamnya, dan pada akhirnya membuat kita mengerutkan kening. Sedih, kesal, marah, dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul mengiringi. Tidak dibutuhkan sastra berat. Tidak dibutuhkan kata-kata besar untuk mengajukan kritik terhadap budaya. Dalam hal ini, budaya yang tidak banyak berpihak pada perempuan. Entah patriarki atau bukan namanya, jika si perempuan sendiri tidak tahu apakah ia sedang didominasi oleh patriarki atau tidak. Entah patriarki atau bukan namanya, jika seringkali justru perempuan yang mendominasi dan mensubordinasi perempuan lain, terserah dari kasta yang mana saja.

Pada akhirnya, novel ini tidak menggurui. Tidak mengajarkan, hanya memaparkan. Bukan ide yang jadi pemaksaan, namun kisah yang hanya diceritakan. Saya membaca tanpa merasa diarahkan, namun hanya menerima penggambaran dari pemikiran. Pemikiran seorang perempuan keturunan Bali, yang memandang asal-usulnya dengan perspektif perempuan, terlebih lagi mungkin seorang perempuan feminis, dan pada akhirnya, sebagai seorang manusia.

Judul Buku: Tarian Bumi
Pengarang: Oka Rusmini
Isi: 175 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Juli 2007 & Juni 2013

Last modified on: 11 Maret 2015

    Baca Juga

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni