(6 votes)
(6 votes)
Read 6077 times | Diposting pada

Tanggapan Untuk 'Lima Buku Tak Layak Terbit' Arman Dhani

 

Suatu pagi saya membuka halaman situs ini dan menemukan tulisan berjudul “Lima Buku Tak Layak Terbit 2012” yang ditulis oleh Arman Dhani. Membuat daftar buku terbaik, bagi saya, terdengar jauh lebih mudah dan aman. Sebagaimana cantik itu relatif, orang-orang yang tidak sepandangan akan lebih mengamini perbedaan pendapat. Tetapi, Dhani memilih yang lebih menantang. Tak sabar, saya pun segera mencermati tulisan tersebut.

Tapi setelah membaca tulisannya utuh, saya merasa tulisan ini tidak matang. Bukan karena berbeda pendapat dengannya. Bukan juga karena gaya tulisan Dhani yang selalu enak dibaca. Tetapi, lebih karena pendapatnya rapuh. Tidak tuntas.

Dengan harga buku yang semakin mahal, pemuatan daftar Buku 'Tak Layak Terbit' sebagai kritik memang sangat baik dan perlu, juga akan membuat kita lebih bijak dalam membeli buku. Tetapi untuk menuliskan daftar itu, dibutuhkan bukan saja keberanian, tapi juga kecermatan. Berikut ini adalah tanggapan saya atas tulisan tersebut.

- Dhani menyatakan kesimpulan, tetapi lupa menyertakan argumennya

Dengan menggunakan metafora tokoh-tokoh pewayangan, Agus Hadi Sudjiwo -nama asli Sujiwo Tejo, berusaha menuturkan isu aktual dengan gaya bercanda. Namun sayangnya ia gagal. Ngawur Karena Benar barangkali hanya sebuah buku kejar setoran, karena mbah Dalang tak lagi mampu melahirkan konsep orisinil paska negeri imajiner #Jancukers. (Paragraf 17)

Apa yang membuat Sujiwo Tejo gagal? Apakah karena Sujiwo Tejo gagal bercanda lalu jadi jayus? Atau kebercandaannya membuat isu aktual terasa tidak aktual? Dalam kritik Dhani atas buku Sujiwo Tejo, tidak ada argumen yang menjelaskan penobatan kegagalan Sujiwo Tejo, kecuali isi buku yang tidak selaras dengan ekspektasi pribadinya.

Hal yang sama saya rasakan ketika Dhani menjelaskan soal buku Chaerul Tandjung. Ia menyatakan buku ini sebagai: “semacam kronik megalomaniak Chaerul Tandjung atas glorifikasi hidupnya... lagi-lagi motivasional menawarkan mimpi semu... bukti bahwa narsisisme adalah penyakit akut yang banyak diderita oleh orang kaya... puncak dari sebuah kedegilan literasi Indonesia.” (Par. 18 - 20)

Empat vonis yang sangat keras, tanpa penjelasan diagnosa. Penulis buku Chaerul Tandjung bisa mati seketika.

- Dhani salah sasaran

Saya ambil istilah dan definisi berikut dari situs Wikipedia Indonesia. Kesesatan relevansi adalah “sesat pikir yang terjadi karena argumentasi yang diberikan tidak tertuju kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi terarah kepada kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang (lawan bicara) yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.”

Contoh paling kentara ada pada argumen Dhani dalam memvonis buku jilid 9 seri Caping karya Goenawan Mohamad sebagai tak layak terbit. Kritik Dhani lebih ditujukan kepada Tempo yang tidak pernah melakukan pergantian penulis Catatan Pinggir. Tetapi, apakah kegagalan Majalah Tempo “melahirkan kolumnis, atau katakanlah, esais baru untuk mengasuh rubrik legendaris ini” relevan dalam menguji kelayakan terbit sebuah buku?

Kritik Dhani terhadap buku ini tidak menyentuh substansi buku. Kecuali satu. Di akhir, Dhani menjelaskan bahwa “GM bahkan masih menulis dengan gaya yang sama… Kebosanan yang saya rasakan sudah mencapai titik kulminasi dan memutuskan berhenti membaca ulang Caping untuk seterusnya.” Sebuah kebosanan pribadi atas kemonotonan karakter penulis. Kesesatan relevansi lagi?

- Dhani terburu-buru dalam menggeneralisasi

Walau sempat menjadi perbincangan akibat isu murahan gugatan dari sang ghost writer, buku ini hampir membuat pembacanya menarik kesimpulan yang sama, "Iye elu hebat. Terus?”

Saya tidak pernah membaca buku Chaerul Tandjung. Saya turut muak dengan segala promosi buku ini dari berbagai orang terkenal yang terdengar senada, sampai-sampai saya yakin bisa memberikan testimoni untuk buku tersebut tanpa perlu membaca bukunya.

Tetapi, rating 3.80 di Goodreads bukanlah angka buruk. Dan banyak juga komentar pembaca yang mengatakan buku ini inspiratif, sekalipun kenarsisannya juga tidak dipungkiri.  Setiap orang rupanya membaca dengan tingkat sinisme yang berbeda. Ini yang luput dari pernyataannya.

elain soal pandangan pembaca, Dhani melakukan generalisasi juga soal penobatan segala buku twitter sebagai tidak layak terbit. “Buku ini adalah budaya dadakan yang hanya akan bernasib sebagai tren semu,” kata Dhani.

Saya sependapat. Buku twitter adalah budaya dadakan yang semu. Seperti kultwit yang kini makin jarang kelihatan. Tetapi, apa yang menjadikan semua buku twitter tidak layak terbit?

Di titik inilah, generalisasi Dhani membuatnya jatuh pada lubang yang sama. Kritik Dhani lagi-lagi mengarah pada sasaran yang salah. Ia mengkritik keterbatasan twitter dan kemunculan para selebtwit yang prematur. Ia juga mengkritik orang-orang kredibel yang kemudian turut terseret pada fenomena itu. Bukan perkara buku twitter itu sendiri.

Sebetulnya ada juga sisi positif dari buku twitter. Buku semacam itu memilah dan memilih twit-twit terbaik dari seseorang. Tidak semua orang pembaca punya akun atau aktif di twitter. Akan lebih mudah untuk membeli buku ketimbang menelusuri linimasayang derasnya minta ampun sambil berharap ada yang mengkompilasi di situs Chirpstory. Oleh karenanya, perlu penilaian yang lebih substansial atas isi buku itu sendiri.

Saya punya seorang teman yang tidak ngetwit dan membeli buku kumpulan twit Pidi Baiq. Di sana dia mengenal kejenakaan dan kebajikan tersembunyi dari Pidi Baiq. 140 karakter memang tidak mengatakan apa-apa. Tetapi ratusan 140 karakter bisa berkata banyak.

Last modified on: 30 Desember 2013

    Baca Juga

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

  • Siska Nirmala Luncurkan Debut Buku 'Zero Waste Adventure'


    Siska Nirmala baru-baru ini telah meluncurkan buku pertamanya, Zero Waste Adventure. Buku ini bercerita mengenai ekspedisi nol sampah ke lima gunung di Indonesia. Ide akan ekspedisi ini terlahir dari kegelisahannya…

     

  • Vladimir Hussein


    “Haram jadah,” si lelaki gendut mengomel dan meninju bangku perhentian bus. Vladimir tetap memandangi foto-foto di surat kabar, tidak mengacuhkan keterangan beritanya. Waktu bergerak lambat. Vladimir tak suka menunggu bus.…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni